Kondisi jalanan di Tanjakan Emen saat hujan akan semakin berbahaya jika pengendara tak berhati-hati
Kondisi jalanan di Tanjakan Emen saat hujan akan semakin berbahaya jika pengendara tak berhati-hati Aditya Herlambang Putra / Beritagar.id
KESELAMATAN TRANSPORTASI

Manajemen abai, sopir pun bersiasat

Karena kerap terjadi kecelakaan di tanjakan Emen, Polda Jabar mengusulkan agar jalan dilebarkan atau menambah jalur.

Pengurus dan anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Permata di Kelurahan Pisangan, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, punya hajatan menggelar Rapat Akhir Tahun (RAT).

Mereka memutuskan menggelar RAT di kawasan wisata Gunung Tangkuban Parahu, Jawa Barat. Maksud hati sekalian berpelesir.

Tak hanya pengurus, warga sekitar yang tak menjadi anggota KSP berbondong-bondong ikut serta. Nonanggota tentu saja harus membayar. Terkumpul beberapa anggota PKK, Posyandu, dan ibu-ibu pengajian. Total yang ikut 151 orang.

Mengenakan seragam hitam-jingga, mereka pun berangkat menggunakan tiga bus pariwisata sekitar pukul 06.00 pada Sabtu (10/2/2018) pagi.

Sepulangnya sore hari, salah satu bus rombongan bernomor polisi F 7959 AA gagal sampai ke Ciputat.

Rute kembali ke Ciputat melewati jalan tol Cikopo-Palimanan yang bisa diakses dari Gerbang Tol Subang Kota. Lepas dari gerbang Tangkuban Parahu, bus harus melewati turunan panjang sekitar 2,4 kilometer yang penuh kelokan curam. Penduduk sekitar menyebutnya Tanjakan Emen.

Turunan curam tersebut dimulai dari gerbang masuk Tangkuban Parahu hingga kawasan wisata kolam renang Gracia di Ciater. Sepanjang turunan yang berada di tengah perkebunan teh dan hutan pinus berjejer pedagang makanan di pinggir jalan.

Tepat di jalan raya yang menurun di daerah Kampung Cicenang, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, bus pariwisata jetbus high deck milik pabrikan Mercedes Benz dengan tipe big coach itu mendadak hilang kendali.

Pengendara sepeda motor Honda Beat yang berada di depan bus ikut menjadi korban karena tak dapat menghindari terjangan bus yang melaju kencang. Beberapa saksi mata menyebut bus sempat menabrak beberapa rambu lalu lintas sebelum menerjang motor di depannya.

Angkutan sewaan milik Perusahaan Otobus Premium Passion baru berhenti setelah menghantam tebing di sebelah kiri jalan, lalu terbalik. Posisi bodi mobil rebah ke samping dengan roda menghadap ke jalan raya.

Para korban bergelimpangan di sisi jalan dekat bus. Total ada 46 orang penumpang. Beberapa orang tewas di tempat. Sisanya mengembuskan napas terakhir saat di rumah sakit.

Data terakhir menyebutkan 27 orang meninggal, 22 korban luka berat, dan 7 orang luka ringan. Kecelakaan sekitar pukul 17.00 WIB itu menambah panjang kasus serupa di lokasi yang sama.

Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Jawa Barat Komisaris Besar Polisi Prahoro Tri Wahyono mengatakan, pada 2012 terjadi dua kali kecelakaan di Tanjakan Emen yang memakan korban tujuh orang meninggal.

Dua tahun kemudian, kecelakaan bus pariwisata di lokasi serupa juga merenggut nyawa 14 orang. "Semuanya melibatkan angka tujuh, entahlah mungkin kebetulan saja," lanjut Prahoro, Senin (19/2).

Setelah melakukan penyidikan lapangan menerapkan sistem Traffic Accident Analysis (TAA), polisi mengatakan bahwa penyebab kecelakaan bus Premium Passion karena kelalaian sopir.

"Dia (sopir) mengerti rem mobilnya blong. Artinya ada unsur bahaya, tetapi kenapa tetap saja jalan," ujar Dirlantas Polda Jabar Kombes Prahoro Tri Wahyono.

Kepolisian lalu menetapkan Amiruddin (32), warga Desa Pagelaran, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, sebagai tersangka. Belakangan sang mekanik bernama Saif Rudi (46) yang sempat hanya menjadi saksi dinaikkan statusnya menjadi tersangka pula.

"Yang bersangkutan mengarahkan sopir dan kondektur untuk memotong selang dan menambal dengan baut. Akibatnya fatal, rem bus tak berfungsi baik sehingga terjadi kecelakaan yang menewaskan puluhan penumpang bus dan satu pengendara motor," kata Kapolres Subang AKBP Muhammad Joni dilansir sindonews.com (22/2).

Berkas kasus kecelakaan yang terjadi di Tanjakan Emen sedang disiapkan untuk dibawa ke pengadilan. "Kecelakaan di Tanjakan Emen ini faktor utamanya karena kondisi kendaraan," ujar Prahoro.

Sebelum kecelakaan, kata dia, bus sempat bermasalah pada sistem pengereman. Sopir melaporkan gangguan itu ke manajemen dan minta bus pengganti.

"Pihak manajemen minta bus dijalankan kembali," kata Prahoro. Ketika berhenti di Lembang, sopir memeriksa sekaligus berkonsultasi dengan mekanik untuk mencari solusi.

Dari hasil pemeriksaan kepolisian, hanya satu dari dua selang rem di roda kanan belakang yang berfungsi. "Satu lagi dipotong sehingga tidak berfungsi. Itu tidak boleh," ujar Prahoro.

Di daerah Tanjakan Emen, masalah rem itu mencapai puncaknya. "Pengemudi bus sudah berupaya untuk menghindari kecelakaan. Dia berusaha memilih persneling rendah. "Masuk ke gigi tiga, tapi tetap tidak bisa," kata Prahoro.

Sopir lantas mengarahkan bus ke tebing agar lajunya berkurang. Namun dengan kecepatan di jalan menurun, bus ikut terguling.

Padahal menurut Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, masa berlaku uji KIR mobil tersebut hingga April 2018.

Reporter Beritagar.id sempat mendatangi kantor PO Premium Passion di Jl. K.H. Soleh Iskandar No. 80, Tanah Sareal, Bogor Barat (22/2).

Namun yang kami dapati hanya suasana sepi. Kontras dengan jalanan di sekitar lokasi yang ramai lalu-lalang kendaraan.

Gerbang kantor tertutup rapat. Tampak hanya seorang satpam berjaga. Dari luar terlihat beberapa bus yang diparkir berjejer dengan dinding.

Terlihat juga beberapa motor yang terparkir di depan bagian informasi (semacam rumah kecil untuk tempat pemesanan dan informasi).

Markah peringatan yang diletakkan pinggir jalan berfungsi memperingatkan pengendara untuk mawas diri
Markah peringatan yang diletakkan pinggir jalan berfungsi memperingatkan pengendara untuk mawas diri | Aditya Herlambang Putra /Beritagar.id

Agar tanjakan Emen jadi aman

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas, mulai dari kondisi kendaraan yang tak laik jalan, hingga kelalaian pengemudi.

Di Tanjakan Emen, aspek bertambah karena geometri lokasi yang terdiri dari turunan, tanjakan, dan tikungan tajam di lokasi perbukitan membuat jarak pandang terbatas.

Kepolisian Daerah Jawa Barat telah mengusulkan kepada Pemerintah Daerah untuk menekan risiko kecelakaan di Tanjakan Emen.

Usulan kepolisian seperti melebarkan atau menambah lajur jalan raya yang kini terdiri dari tiga lajur.

Satu lajur dari atas atau dari arah Gunung Tangkuban Parahu yang menurun, dan dua lajur dari arah Subang yang menanjak.

Penambahan lajur itu untuk mengurangi risiko bagi kendaraan yang bermasalah. Selain itu, perlu dibuat jalur penyelamatan di sisi jalan Tanjakan Emen.

"Seperti di Selarong, Bogor, yang juga sering terjadi rem blong," kata Prahoro. Di Selarong, tepatnya Jalan Raya Puncak, Kecamatan Megamendung, terpasang plang pemberitahuan merujuk pada jarak jalur penyelamatan dari lokasi kendaraan yang melintas.

Posisi plang mulai dipasang sejak jarak 500 meter dari arah Puncak menuju Jakarta. Setelah melewati papan nama pertama tersebut, pengendara akan menemukan lebih dari tiga rambu peringatan lain beserta lampu kuning dan yang lainnya di sepanjang pinggir jalan.

Tiba pada titik jalur penyelamatan yang dimaksud, terlihat bentuk jalurnya melengkung menanjak dan di atasnya terdapat tumpukan ban bekas yang berfungsi sebagai penahan.

Menurut rencana, jalur penyelamatan di Tanjakan Emen nantinya berisi pasir dan kerikil untuk meredam laju kendaraan yang mengalami rem blong.

"Alat 'mata kucing' di separator jalan juga perlu ditambah," cetus Prahoro. "Mata Kucing" adalah perlengkapan jalan yang bisa memantulkan cahaya reflektor berwarna putih, kuning, merah, biru.

Kehadiran "mata kucing" sangat berguna sebagai pemantul cahaya khususnya pada cuaca gelap atau malam hari. Benda ini juga berfungsi dalam kondisi permukaan jalan kering ataupun basah.

Budi Setiyadi selaku Direktur Jenderal Perhubungan Darat berjanji akan secepatnya memasang rambu-rambu pemberitahuan pada pengendara agar berhati-hati karena banyaknya tanjakan dan tikungan tajam di jalur ini.

Fasilitas keselamatan jalan lain yang akan dipasang adalah rambu chevron dan pita penggaduh atau rumble strips.

"Rambu chevron biasa disebut sebagai rambu pengarah tikungan karena memang memiliki fungsi untuk memperingatkan pengendara bahwa jalan di depannya merupakan jalan yang menikung," kata Budi, Kamis (15/2).

Dengan adanya rambu tersebut pengendara di jalan raya, terutama kendaraan bermotor roda dua atau lebih, dapat mengatur kecepatannya.

Sementara pita penggaduh berupa garis-garis setebal 10 sampai 40 milimeter dengan ketinggian antara 10-13 milimeter.

Sengaja dipasang melintang atau di tengah jalan pada jarak yang berdekatan. Tujuannya agar pengendara yang melintasinya mengurangi kecepatan.

Pita penggaduh biasanya ditempatkan menjelang perlintasan sebidang, menjelang sekolah, menjelang pintu tol, atau tempat-tempat yang berbahaya bila berjalan terlalu cepat.

Janji serupa juga didengungkan Dinas Pekerjaan Umum Jawa Barat yang ingin membangun jalur penyelamatan (escape road). Fungsinya untuk mengalihkan kendaraan apabila remnya mendadak blong.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono segendang-sepenarian.

Selain membangun jalur penyelamatan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan Persatuan Hotel Republik Indonesia (PHRI) agar tempat wisata atau hotel menyediakan fasilitas tempat peristirahatan bagi pengemudi.

Geometri di Tanjakan Emen juga akan diubah. Basuki menegaskan bahwa rencana tersebut akan dikerjakan tahun ini.

Setelah mengecek langsung ke lokasi kejadian, ia memperkirakan perbaikan selesai dalam hitungan bulan. Waktu penyelesaian tergantung berat ringannya geometri di sana.

Jika segala alat atau sarana prasarana keselamatan nanti sudah dipasang, masyarakat sekitar bersama aparat kepolisian diharapkan bisa menjaga dan memelihara.

Belajar dari pengalaman selama ini, alat-alat yang telah dipasang seperti baterei penerangan jalan umum (PJU) dan lampu jalan sering raib.

Adanya segala fasilitas keselamatan tersebut diharapakan bisa membuat para pengemudi semakin mawas diri.

Buntutnya tingkat kecelakaan lalu lintas semakin menurun sehingga citra Tanjakan Emen berubah menjadi Tanjakan Aman seperti namanya sekarang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR