Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari saat gala premier film My Stupid Boss 2 di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat (23/3/2019)
Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari saat gala premier film My Stupid Boss 2 di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat (23/3/2019) Andi Baso Djaya/Beritagar.id
FILM INDONESIA

Menentukan honor pemain film di Indonesia

Pernah ada pemain film Indonesia yang mengantongi honor Rp1 miliar dalam sebuah film.

Reza Rahadian seketika membelalakkan mata. Mulutnya mengatup. Dalam hitungan sepersekian detik ia terpaku. Dia tak siap ketika para wartawan menodongkan pertanyaan tentang dirinya sebagai aktor dengan bayaran termahal di Indonesia.

Bunga Citra Lestari yang mendampingi di samping terbahak melihat reaksi rekan mainnya dalam film My Stupid Boss 2. Mereka berdua sedang aktif berkeliling dari satu media ke media lain untuk mempromosikan film arahan Upi tersebut.

Setelah bisa menenangkan diri dan menguasai keadaan, Reza yang mengenakan polo shirt berwarna putih menjungkit beberapa saat memperbaiki posisi duduknya.

“Reza termahal memang. Ha-ha-ha,” kelakar Unge, sapaan Bunga, sambil terus menggoda rekannya. “Enggak, ah,” timpal Reza.

“Langsung panik nih. Saya enggak tahu dari mana datangnya kabar itu. Soalnya saya kan enggak tahu aktor-aktor lain dapat bayaran berapa. Jadi saya tidak bisa menjawab kalau dibilang termahal," sambungnya menjelaskan.

Membicarakan topik soal jumlah honor artis memang bukanlah sebuah hal lazim di Indonesia.

“Karena buat orang Indonesia itu kayaknya masih tabu dibicarakan. Lagi pula menurut gue, untuk saat ini kita masih punya hal yang lebih fundamental untuk dibicarakan,” ujar Ernest Prakasa, sutradara merangkap penulis naskah dan pemain film.

Saya menemui Ernest di Ruang Seduh Coffee Shop, Kemang, Jakarta Selatan (5/3/2019). Sambil menyeruput kopi panas, kami berbincang perihal honor dan faktor-faktor apa saja yang digunakan untuk menentukan upah para pemain film.

Dari pandangan Ernest, selain karena memang bukan tabiat mayoritas orang kita untuk mengumbar pendapatannya kepada publik, industri perfilman di Indonesia juga masih sangat muda dibandingkan, katakanlah Hollywood di Amerika Serikat (AS), untuk membicarakan hal demikian.

Ramainya pembicaraan soal besaran honor yang diterima para pekerja film, terutama pemain, memang mengemuka kurun beberapa tahun terakhir seiring desakan kaum feminisme di Negeri Paman Sam.

Salah satu tuntutan mereka adalah perihal kesetaraan gaji antara pemain film perempuan dan laki-laki. Jangan ada disparitas lantaran perbedaan gender.

Bukan rahasia lagi jika sejumlah aktris kerap mendapat upah jauh lebih kecil dibandingkan rekan mainnya, para aktor, dalam sebuah film. Padahal porsi kerja mereka sama atau bahkan jauh lebih besar.

Adalah Brie Larson yang menjadi pembawa kabar baik. Bukan hanya karena terpilih memerankan Captain Marvel, tapi juga karena besaran honor yang didapatkannya dari film tersebut.

Honorarium yang dikantongi aktris pemenang Piala Oscar 2016 itu sebesar $5 juta atau sekitar Rp70,8 miliar.

Upah Brie membintangi film superhero pertamanya bahkan mengungguli rekan-rekannya yang notabene laki-laki, sesama tokoh utama dalam film Marvel, saat pertama kali gabung dalam keluarga besar Marvel Cinematic Universe.

Ambil contoh Robert Downey Jr. (menerima $500 ribu untuk Iron Man), Chris Evans ($300 ribu - Captain America: The First Avenger), Chris Hemsworth ($150 ribu - Thor), atau Chadwick Boseman ($2 juta - Black Panther).

Film Wiro Sableng (2018) merupakan salah satu film yang melibatkan jajaran pemain kelas atas.
Film Wiro Sableng (2018) merupakan salah satu film yang melibatkan jajaran pemain kelas atas. | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Bagaimana di Indonesia, apakah terjadi kejomplangan honor lantaran perbedaan gender?

Dalam sesi bincang-bincang dengan siniar (podcast) Showbox, aktris Dian Sastrowardoyo menyebut belum pernah mengalami atau mendengar keluhan tersebut.

Pemeran Cinta dalam film Ada Apa dengan Cinta? itu bahkan pernah mendengar dalam sebuah proyek film bayaran terbesar justru diberikan kepada pemain perempuan.

Ody Mulya Hidayat, produser dari Max Pictures, saat saya temui di kantornya, mintakat Godangdia, Jakarta Pusat (4/3), menyiratkan hal serupa.

Dari pengalamannya memproduseri film sejak 2006 hingga sekarang, rentang honor pemain film Indonesia terbagi dalam beberapa kategori.

Pemain kelas satu biasanya mematok honor sekitar Rp250 juta hingga Rp500 juta. Kategori berikutnya ada pada kisaran Rp100 juta - Rp200 juta. Sementara pemain-pemain baru rerata nilai kontraknya di bawah angka Rp100 juta.

Kategorisasi ini juga berlaku di negara lain. Contohnya di AS. Ada tiga klasifikasi pemain berdasarkan besaran upah yang mereka terima, dimulai dari penerima honor tinggi ($15 juta - $20 juta), menengah ($10 juta - $14 juta), dan bawah (kurang dari $10 juta).

Selain tiga kelas tersebut, ada pula yang masuk kategori pengecualian. Nilai honor pemain yang masuk kategori ini biasanya sangat luar biasa jika hanya melihat nilai nominalnya.

Ody enggan menyebut nama, tapi mengiyakan ada aktris yang honornya pernah menembus Rp1 miliar. “Orangnya sih sekarang sudah jarang main film,” ucapnya.

Tentu saja tidak sembarangan pemain bisa mencapai taraf tersebut. Juga tak setiap proyek bisa mengakomodir besaran honor sebesar itu. Pasalnya setiap nilai yang dikeluarkan telah melalui hitung-hitungan nan cermat.

Ukuran penentu pertama yang banyak dipahami awam adalah status kebintangan pemain bersangkutan. Padahal ada banyak variabel lain.

Dituturkan Angga Dwimas Sasongko, produser cum sutradara, menentukan honor pemain harus disertai pemahaman struktur nilai ekonomi yang tajam.

Alasannya karena ada banyak hal yang harus dinilai, mulai dari pre-sale impact, commercial potential, time consume, dan lain-lain.

“Semua itu masuk kategori intangible,” lanjut CEO Visinema Pictures itu saat dihubungi melalui layanan pengiriman pesan (22/2).

Hal lain yang tidak boleh absen dijadikan parameter adalah melihat dari perspektif skala proyek, keunikan, potensi distribusi, dan lain sebagainya.

“Kalau ngomongin harga kan tentu ada strukturnya. Sama seperti burger atau kopi. Ada capital expenditures, operating expenses, tax, marketing cost, dan lain-lain. Semua itu masuk ke struktur harga,” jelas Angga.

Memenangi Piala Citra diakui Gading Marten turut mendongkrak nilai honornya
Memenangi Piala Citra diakui Gading Marten turut mendongkrak nilai honornya | Andi Baso Djaya

Ernest yang tergabung dalam sebuah manajemen dengan beberapa komika lainnya punya hitung-hitungan juga.

“Misal manajemen gue pegang Arie Kriting dan Ardit Erwandha, tentu enggak bisa kita menyamakan honor mereka. Arie sudah lama, sementara Ardit masih baru,” ungkapnya.

Perkara lain yang ikut memengaruhi tarif honor seseorang adalah soal alokasi waktu dan berapa banyak tenaga yang dikeluarkan mengerjakan sebuah film.

“Contoh, scene dia cuma sehari, tapi adegannya dance yang butuh latihan berhari-hari. Jadi hitungan setiap proyek itu beda-beda,” lanjut Ernest.

Pun demikian, aktor kita bisa sangat fleksibel menetapkan honor. Hal tersebut diungkapkan Gading Marten (36).

Usai memenangi Piala Citra sebagai aktor pemeran utama terbaik dalam Festival Film Indonesia 2018, Gading mengaku banjir tawaran bermain.

“Sampai gue bingung. Bentrok semua jadwalnya. Ha-ha-ha,” tulisnya membalas pesan saya (22/3). Keuntungan lain yang didapatkannya pasca Piala Citra adalah posisi tawarnya soal honor juga meningkat.

Kendatipun masih ada beberapa tawaran yang menggunakan istilah “you bantu ai produksi lah”. Artinya produser meminta sang pemain menurunkan tarif honornya atas nama pertemanan atau relasi.

Istilah ini sudah berlaku sejak ayah Gading, Roy Marten (67), mengawali karier sebagai aktor. “Kadang kalau gue suka cerita filmnya, harga bisa diobrolin kok,” ungkapnya.

Reza sekalipun yang kabarnya mendapat honor Rp700 juta usai kesuksesan Rudy Habibie (2016) rela dibayar “miring” asal tawaran main film yang datang sangat memikat hatinya.

Seberapa miring yang dimaksudkannya bisa sangat relatif.

Ada produser yang rela merogoh kocek sangat dalam demi mendapatkan tanda tangan pemain incarannya.

Alasannya bisa jadi karena dua hal. Pertama karena menghadirkan peluang film tersebut sukses komersial. Alasan kedua sebagai jualan menggaet sejumlah investor agar bersedia ikut membantu biaya produksi.

Memasangkan Reza dan Unge dalam sebuah film diyakini lebih menarik oleh para investor ketimbang memasang duet pemain baru yang belum punya rekam jejak.

Ini bisa menjadi semacam amunisi untuk meyakinkan para pemodal bahwa investasi mereka tidak terlalu berisiko.

Jika produser tak punya cukup dana untuk memenuhi nilai kontrak sang pemain, biasanya sistem back end menjadi opsi yang ditawarkan. Rumah produksi di Hollywood lazim menggunakan ini.

Dituturkan Ody Mulya Hidayat, di Indonesia juga ada yang beberapa pemain yang meminta demikian. Rela honornya dikurangi asal dapat bagi hasil dari setiap nilai ekonomis yang diterima film tersebut dalam jangka waktu tertentu.

“Saya pribadi lebih suka menggunakan sistem kontrak putus. Soalnya ribet kalau mau pakai model seperti itu. Kalau enggak bisa nego, saya cari pemain lain,” pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR