Para kreator di balik drama siniar Bridezilla bersama penggawa JOOX Indonesia dan Gen FM di The Goods Dinner, Kawasan SCBD, Jakarta Selatan (30/4/2019)
Para kreator di balik drama siniar Bridezilla bersama penggawa JOOX Indonesia dan Gen FM di The Goods Dinner, Kawasan SCBD, Jakarta Selatan (30/4/2019) Visinema Pictures
INDUSTRI HIBURAN

Mengabuburit sambil mendengarkan podcast

Ramai orang memproduksi siniar alias podcast menghadirkan lebih banyak pilihan untuk mengabuburit.

Bulan Ramadan tahun ini layanan pengaliran musik JOOX menghadirkan suatu hiburan berbeda dari apa yang telah mereka sajikan sebelumnya.

Ragam hiburan tersebut adalah drama dalam bentuk podcast alias siniar. Sejak pertama kali diperkenalkan lebih dari satu dekade silam di Amerika Serikat (AS), popularitas siniar terus menanjak, termasuk di Indonesia.

Dalam jumpa pers yang berlangsung di The Goods Dinner, Kawasan SCBD, Jakarta Selatan (30/4/2019), Peter May selaku Head of JOOX Indonesia menyitir hasil survei Jakpat 2018 yang menyebut bahwa lebih dari 40% pendengar siniar di Indonesia berasal dari generasi milenial.

Melihat tren yang ada tersebut, Joox bersama Radio Gen FM menghadirkan tiga seri drama dengan genre berbeda yang melibatkan para sineas. Tajuknya JOOX the Series yang hadir saban hari selama Ramadan.

Gina S. Noer bersama Salman Aristo menyutradarai Klub Kecanduan Mantan yang sarat nuansa komedi. Angga Dwimas Sasongko dan Anggia Kharisma menghadirkan Bridezilla dari genre drama. Sementara Anggy Umbara mempersembahkan cerita horor lewat Mata dan Mantra.

Setiap episode dari masing-masing seri berdurasi sekitar 10 menit. Ini yang membedakannya dengan sandiwara radio yang panjangnya bisa mencapai 30 menit bahkan lebih.

Pembeda lainnya, setelah tayang perdana menjelang waktu buka puasa, pendengar atau pengguna JOOX bisa mendengarkan siniar drama ini kapan saja. Tidak seperti sandiwara radio yang memiliki jam pemutaran tertentu.

Cerita drama dalam format audio seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru di telinga orang Indonesia. Sudah ada sejak beberapa dekade silam. Mencapai puncaknya pada era 80an dan 90an. Kala itu orang-orang mengistilahkannya dengan sandiwara radio.

Selain mengudara di stasiun radio, episode-episode sandiwara radio dipasarkan pula dalam bentuk pita kaset.

Beberapa seri sandiwara radio yang sempat menjadi favorit, antara lain Ibuku Malang Ibuku Tersayang, Catatan si Boy, Butir-Butir Pasir di Laut, Saur Sepuh, Tutur Tinular, dan Misteri dari Gunung Merapi.

Saking populernya judul-judul sandiwara radio tadi kemudian diadaptasi menjadi film dan sinetron.

“Kalau gue bilang podcast merupakan bentuk baru dari program radio yang dulu gue dengar,” ujar Salman Aristo (43) usai konferensi pers.

Bagi Aris, memproduksi sandiwara atau drama dalam bentuk audio bukan sesuatu yang asing. Beberapa tahun silam ia pernah menyutradarai seri Ramadan di Atas Awan yang disiarkan Radio Gen FM.

Siniar juga telah menjadi medium favorit Aris dan Gina sejak beberapa tahun silam. Favorit mereka adalah Serial, sebuah seri siniar investigasi jurnalistik yang dibawakan oleh Sarah Koenig, jurnalis, penyiar, dan produser program televisi dan radio.

Mulai hadir sejak 2014, Serial dalam setiap musim menampilkan satu kisah nyata terkait dunia kriminal yang terdiri dari 9 hingga 12 episode.

Hingga sekarang Serial sudah merampungkan musim ketiga. Melansir Variety (5/9/2018), dua musim pertama siniar tersebut diunduh lebih dari 340 juta kali.

Infografik popularitas podcast di Indonesia
Infografik popularitas podcast di Indonesia | Teks dan Olah data: Aghnia Adzkia / Desain: Danil Aufa

Lanskap siniar di Indonesia lambat tapi pasti semakin berkembang pesat. Faktor penunjangnya adalah kecepatan internet dan kuota bandwith di negeri ini yang juga semakin meningkat.

Bandingkan saat Boy Avianto, seorang pekerja media digital, yang diyakini sebagai siniarwan pertama Indonesia memulainya dengan “Apasaja Podcast” pada 2005.

Penetrasi internet dengan bandwidth yang memadai untuk mengunduh berkas audio saat itu belum seperti sekarang. Imbasnya medium baru ini minim peminat.

Bahkan hingga dua tahun lalu masih sangat sulit menemukan siniar produksi lokal khususnya di layanan pengaliran musik Spotify.

Jika merunut “Podcast Chart Spotify” khusus wilayah Indonesia, sekarang sudah ada 200 siniar yang nangkring di sana.

Tema atau topik obrolannya juga beraneka ragam, mulai dari edukasi, religi, gaya hidup, kesehatan, seni dan hiburan, bisnis, teknologi, politik, olahraga, keluarga, hingga komedi.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan DailySocial bersama Jajak Pendapat (Jakpat) pada medio 2018, dari 1.372 responden pengguna ponsel pintar yang mengenal siniar, sekitar 80,82% mengaku mendengarkan siniar kurun enam bulan terakhir.

Konten atau topik yang menarik jadi alasan utama mendengarkan siniar. Ini sejalan dengan yang diungkapkan Gina dan Aris. Pilihan mendengarkan siniar disesuaikan dengan kebutuhan pribadi.

“Biasanya gue dengar podcast yang sesuai dengan ketertarikan gue. Misal yang membahas tentang politik, sosial, mengelola sumber daya manusia, bahkan gue belajar bisnis juga dari podcast,” kata Aris.

“Kalau gue belajar esai film awalnya dari YouTube. Setelah gue perhatikan beberapa tayangan video itu justru sumber kutipannya dari podcast. Makanya akhirnya gue mendengarkan podcast. Ibarat buku, catatan kakinya dari podcast. Akhirnya podcast jadi sumber belajar,” Gina menimpali.

Hal senada diungkapkan Kemal Mochtar (38). Minatnya terhadap sesuatu yang berhubungan dengan teknologi dan dunia keluarga mendorong penyiar Radio Gen FM itu memilih siniar yang membahas dua topik tersebut.

Berdasarkan hasil survei seperti terpampang dalam infografik di atas, topik yang membahas soal teknologi menempati lima besar isi konten yang dianggap paling menarik oleh responden. Empat sisanya adalah hiburan, gaya hidup, pendidikan, dan bisnis.

“Alasan gue suka mendengarkan podcast karena jauh lebih segmented. Mau podcast soal otomotif ada. Dunia masak juga tersedia podcast-nya,” sambung Kemal yang menyebut siniar Sheggario milik Ario Pratomo sebagai salah satu favoritnya.

Walaupun sifatnya bisa didengarkan kapan saja, para responden mengaku lebih senang mendengarkan siniar di atas pukul 21.00.

Perihal intensitas mendengarkan sebuah siniar, Aris dan Gina, juga Kemal, punya ketahanan berbeda.

“Kami tahan dengan podcast yang durasinya satu jam. Sebenarnya durasi bukan masalah, asal topiknya menarik,” ujar Gina yang diamini Aris.

Sementara Kemal mengaku bukan tipikal orang yang betah mendengarkan podcast yang durasinya berjam-jam.

Menyinggung soal dampak durasi terhadap minat orang dalam mendengarkan siniar, Lisa Siregar yang mengampu program “Show Box” produksi Box2Box Media Network percaya pada satu faktor utama.

“Pada akhirnya kalau konten lo bagus orang akan dengerin sampai habis kok. Mungkin tidak sekali dengar, tapi bisa stop dan disambung pada kesempatan lain. Soalnya gue tipikal seperti itu. Betah mendengarkan podcast yang berdurasi lebih dari satu jam,” ujar Lisa yang sudah mendengarkan siniar sejak satu dekade lalu.

Lisa (kanan) ditemani Amy (kiri) dan Angga merekam episode siniar Show Box yang membahas serial Game of Thrones di CoHive Space, lantai 10 Plaza Kuningan Menara Selatan, Jakarta Selatan (6/5/2019)
Lisa (kanan) ditemani Amy (kiri) dan Angga merekam episode siniar Show Box yang membahas serial Game of Thrones di CoHive Space, lantai 10 Plaza Kuningan Menara Selatan, Jakarta Selatan (6/5/2019) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Saya menemui Lisa usai beduk maghrib di CoHive Space yang menempati lantai 10 Plaza Kuningan Menara Selatan, Jakarta Selatan (6/5).

Ada satu ruangan di sana yang kemudian difungsikan menjadi studio.

Semua proses rekaman siniar milik Box2Box Media Network, seperti “Box2Box Indonesia”, “Box Out”, “Retropus”, “Umpan Tarik”, “Asumsi Berbicara”, “Obrolan BaBiBu”, termasuk “Show Box”, berlangsung dalam ruangan ini.

Berhubung malam itu topiknya tentang serial Game of Thrones, Lisa sengaja mengundang Amanda Aayusya yang lebih akrab disapa Amy sebagai host tamu.

Pasalnya Angga Rulianto yang selama ini jadi tandem Lisa mengaku bukan pemirsa setia serial produksi HBO tersebut.

Selama lebih dari 30 menit, Lisa dan Amy asyik membahas episode The Last of the Starks yang ditayangkan beberapa jam sebelumnya.

Edisi perdana “Show Box” yang berisi ulasan tentang film Aruna & Lidahnya dan The Night Comes for Us tayang pada 23 Oktober 2018.

Lisa waktu itu masih siaran ditemani Pangeran Siahaan, salah satu pendiri Box2Box Media Network selain Tio Prasetyo Utomo.

Edisi tersebut juga baru tersedia Soundcloud, tidak seperti sekarang yang sudah hadir di berbagai layanan pengaliran musik semisal Spotify, Apple Podcast, Anchor FM, Google Podcast, dan beberapa platform lainnya.

Sementara episode perdana siniar Box2Box Indonesia pertama kali meluncur pada 15 Agustus 2018.

Kala itu mereka belum menggunakan peralatan mumpuni sehingga beberapa testimoni pendengar mengeluhkan kualitas audio yang dihasilkan.

Kini di studio sudah tersedia empat mikrofon. Pada tiap-tiap stan mikrofon tergantung penyuara jemala alias headphone. Sebagai pelengkap, nangkring sebuah Tascam DR-70D. Alat ini berfungsi merekam secara digital segala percakapan yang berlangsung.

Tak hanya infrastruktur, Box2Box Media Network dalam perjalanannya juga mengakuisisi beberapa siniar lain. Siniar "Retropus", misalnya, diumumkan bergabung dalam keluarga besar Box2Box pada September 2018.

“Ada banyak gairah dalam mengerjakan ini karena menurut gue podcast bakal menjanjikan. Box2Box juga sudah ngobrol dengan beberapa klien yang mau beriklan dengan sistem bundel. Itu alasan kenapa konten kami banyak,” ungkap Lisa.

Bukan hanya Box2Box yang menjalankan siniar dengan sistem jaringan atau kolaborasi. Sejak November 2018, forum daring Kaskus resmi meluncurkan layanan baru bernama Kaskus Podcast.

Sajiannya berisi konten orisinal, seperti "Jas Merah", "Kemal" alias Kepo Maksimal, "Kamis Misteri", "Parabola" (Parodi & Informasi Sepakbola), "Leh Uga", dan "SKJ" (Seputar Kesehatan Jasmani).

Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan beberapa kreator siniar, antara lain Box2Box Indonesia, Lambe Malam, Caffe del Calcio, Zodiak Cinta, atau Opini Tengah Malam.

“Kehadiran Kaskus Podcast merupakan salah satu bentuk apresiasi kami kepada para Kaskuser yang produktif menghasilkan konten-konten unik dan menarik. Harapannya Kaskus Podcast dapat lebih mempopulerkan karya Kaskuser dalam format audio dan sekaligus memberikan ruang berkreasi dan membuka peluang usaha,” imbuh CEO Kaskus Edi Taslim.

Menurut Iqbal Hariadi yang konsisten menjadi siniarwan sejak 2015 melalui “Podcast Subjective”, siniar yang awalnya sekadar hobi punya potensi untuk menghasilkan uang.

Caranya bisa seperti radio konvensional yang memutar iklan berdurasi 60 atau 30 detik. Bisa juga berbentuk adlips alias iklan baca.

Selain itu, bisa juga dengan cara bertukar. “Misalnya gue kerja sama dengan penulis yang sedang promosi peluncuran bukunya. Gue minta tiga bukunya untuk dijadikan hadiah kepada pendengar gue,” tambah Iqbal dalam Kelas Podcast bertajuk "How to monetize an build your podcast's brand” yang diselenggarakan Kaskus (13/4).

Di luar itu, siniarwan bisa mendapatkan uang dari hasil berjualan merchandise, menyelenggarakan acara berbayar, menjadi pembicara, atau cara-cara lainnya.

Iqbal memprediksi bahwa tahun ini dan tahun depan akan menjadi kebangkitan podcast di Indonesia berkat kehadiran figur-figur tenar.

“Raditya Dika sudah mulai main podcast. Sementara Box2Box sudah mulai menggurita. Gue bersyukur banget dengan kehadiran mereka karena itu membantu mengangkat industri podcast ini di Indonesia,” pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR