Seorang perempuan berlari santai sambil mengitari trek mengelilingi lokasi sepanjang 5 kilometer dengan melewati lima zona tempat menghamburkan warna-warni kuning, hijau, biru, oranye, dan merah di garis akhir di ajang The Color Run yang diselenggarakan PT Bank CIMB Niaga di Parkir Timur Senayan Jakarta, Agustus 2016.
Seorang perempuan berlari santai sambil mengitari trek mengelilingi lokasi sepanjang 5 kilometer dengan melewati lima zona tempat menghamburkan warna-warni kuning, hijau, biru, oranye, dan merah di garis akhir di ajang The Color Run yang diselenggarakan PT Bank CIMB Niaga di Parkir Timur Senayan Jakarta, Agustus 2016. Dita Alangkara / AP Photo

Mengapa mereka kecanduan lari

Selain membuat tubuh bugar, lari kini juga menjadi bagian dari gaya hidup. Gaya hidup yang seperti apa?

Sekarang masyarakat sedang keranjingan olahraga lari. Nyaris tiada hari akhir pekan tanpa perlombaan lari di kota-kota besar. Pada Minggu, 23 Oktober 2016 ini digelar Jakarta Marathon 2016 yang disponsori oleh bank pemerintah, perusahaan minuman, produsen sepatu, maskapai penerbangan, produsen buah-buahan dan lain-lain.

Banyaknya penyandang dana dari berbagai perusahaan besar membuat hadiah yang disediakan para sponsor itu menggelembung. Juara pertama full marathon putra dan putri, misalnya, diganjar hadiah masing-masing Rp42 juta. Sementara itu, juara lomba jarak terpendek, 5 kilometer, bisa membawa uang masing-masing Rp1,5 juta untuk pemenang putra dan putri.

Kegairahan masyarakat terhadap olahraga lari tidak bisa dilepaskan dari peran Si Raja Kayu pada masa orde baru, Bob Hasan. Dialah yang menjadi ketua PB PASI (Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) sejak 1976 sampai 2008. Pada 1987 dan 1988 Bob menggelar Bali 10K, lomba lari kelas dunia pertama yang digelar di Indonesia dengan hadiah yang sangat besar pada masa itu. Pelari Kenya, John Ngugi, tampil dalam lomba lari ini.

Keterlibatan The Kian Seng, nama asli Bob, dalam atletik bermula dari rasa sakit pada bagian belakang lehernya ketika tangannya digerakkan keluar. Atas anjuran seorang teman, Bob melakukan olah raga lari dan senam. Ternyata, manjur, belakangan dia berlari paling sedikit 5 kilometer sehari. Kalau tidak lari, badannya merasa sakit.

Lewat dukungan dana dari belasan perusahaan, Bob menghabiskan miliaran Rupiah untuk pembinaan olah raga, khususnya atletik, induknya segala macam olahraga.

Bob benar-benar tergila-gila pada lari. Selama belasan tahun setiap hari dia berlari mengelilingi Stadion Utama Senayan, Jakarta, atau naik turun bukit kecil di dalam kompleks olahraga terbesar di Jakarta itu.

Ketika berlari, Bob tidak memilih waktu, tidak peduli dengan derasnya hujan atau teriknya mentari di siang bolong. Saat sedang berada di luar negeri, dan menginap di hotel bertingkat, ia mengharamkan penggunaan lift untuk menuju kamar. Pria kelahiran Semarang pada 1931 ini lebih suka mendaki dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya.

Demikianlah, lewat lari Bob Hasan mendapatkan ketenaran dan kesehatan. Kurang lebih seperti itulah juga motivasi orang-orang yang kecanduan olahraga mengayunkan kaki ini sekarang. Namun berbeda dengan Bob, para maniak lari kini menganggap lari bukan sekadar aktivitas fisik untuk membuat tubuh bugar. Lari kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban.

Salah satu alasan yang menyebutkan lari sebagai olahraga yang paling digemari adalah karena olahraga ini bisa dilakukan bersama-sama orang lain.
Salah satu alasan yang menyebutkan lari sebagai olahraga yang paling digemari adalah karena olahraga ini bisa dilakukan bersama-sama orang lain. | Stuart Jenner /Shutterstock

Bergaya sambil berlari

Sekilas olahraga lari tampak sebagai olahraga yang murah meriah dan mudah dilakukan. Berlari tidak memerlukan peralatan khusus, bahkan bisa dilakukan dengan bertelanjang kaki. Lari juga tidak memerlukan tempat tertentu. Sepanjang bisa melangkahkan kaki, olahraga ini dapat dilakukan oleh siapapun.

Itulah sebabnya, menurut jajak pendapat KOMPAS yang dilakukan pada Oktober 2016 terungkap bahwa lebih dari separuh responden, nyaris 59 persen, menyebutkan lari sebagai olahraga favorit.

Salah satu alasan yang menyebutkan lari sebagai olahraga yang paling digemari adalah karena olahraga ini bisa dilakukan bersama-sama orang lain. Lebih dari tiga perempat responden dalam jajak pendapat koran itu mengatakan berolahraga di dalam kelompok bisa menambah semangat. Maka, bergabung di komunitas olahraga yang disukai bisa menjadi pilihan bagi mereka yang gemar berolahraga dalam kelompok atau komunitas.

Salah satu komunitas lari sangat aktif adalah Indo Runners yang berdiri sejak 2009. Komunitas yang sudah berada di lima kota besar di Indonesia ini berawal dari mereka yang gemar berlari di seputar Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Mereka kemudian rutin berlari setiap Kamis malam.

Tidak hanya itu, berbagai acara lari telah mereka selenggarakan. Tema-tema unik dipilih agar menarik minat orang untuk berolahraga. Colour Run, lari dengan zombie, bahkan lari menggunakan sepatu hak tinggi adalah contohnya. Olahraga bersama-sama dianggap lebih bergaya.

"Kita lebih mementingkan gaya dalam berlari. Jalan adalah sebuah catwalk sebagai tempat aktualisasi diri supaya orang lain tertarik dengan kegiatan lari," ujar Youmi, aktivis lari dari Indo Runners dalam acara Sarah Sechan di televisi .NET.

Biasanya, untuk tampil lebih bergaya, para penyuka lari tidak akan lepas dari gawai mereka, yaitu smartphone. Indra Bruggman, seorang selebriti yang menggemari lari, mengatakan kepada KOMPAS TV bahwa dia selalu membawa smartphone saat berlari agar bisa sewaktu-waktu melakukan swafoto. Foto itu kemudian diunggah ke akun media sosial seperti Instagram, Path, Twitter atau Facebook.

"Aktivitas apapun, apalagi sesuatu yang bagus dan bermanfaat seperti berlari, pasti akan saya upload ke medsos," ujar Indra yang datang bersama komunitas lari Oneng Blarian dan Run for Indonesia.

Selain untuk bergaya di media sosial, ada pula komunitas lari yang menjadikan olahraga ini sebagai ajang persaudaraan. Menurut Andre Ismangun, koordinator Run for Indonesia, berlari dengan seorang sahabat akan jauh lebih menyenangkan.

"Kami mempunyai program setiap Sabtu dengan nama 'jemput kawan lari'. Konsepnya berbeda dengan komunitas lain, setiap Sabtu kami berlari di tempat-tempat baru," kata Andre seperti dilansir detikSport.

"Kami mempunyai prinsip untuk mendatangi komunitas lain karena untuk membangun budaya lari dengan menggandeng seluruh komunitas," tambah Andre tentang komunitas lari yang berdiri pada 7 Desember 2014 di Singapura.

Andre yang pernah mengikuti Tokyo Marathon mengisahkan orang-orang Jepang mengenalnya lewat kaos bertuliskan Run for Indonesia di bagian punggung dan bendera merah putih yang ada di bagian dada. "Seragam kami mengandung makna yang dalam yaitu nasionalisme," ujar seorang aktivis Run for Indonesia dalam acara Sapa Indonesia di KOMPAS TV.

Selain alasan-alasan kesehatan dan gaya, lari juga bisa dimanfaatkan sebagai ajang amal. Indo Runners pernah menggelar acara Lari untuk Amal Sosial (LUAS) untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat Indonesia di bidang pendidikan.

Dengan dukungan dari para sponsor, komunitas lari ini menyebarkan "virus lari" sekaligus beramal dengan cara yang kreatif dan inovatif. Uang yang terkumpul dalam acara ini disumbangkan untuk anak-anak yang putus sekolah di Provinsi Jawa Tengah.

Selain untuk bergaya di media sosial, ada pula komunitas lari yang menjadikan olahraga ini sebagai ajang persaudaraan.

Program LUAS yang dijalankan komunitas Indo Runners dilakukan lewat sistem konversi yang menggunakan aplikasi Endomondo., yaitu aplikasi tracker yang dapat merekam segala kegiatan berolahraga penggunanya karena mampu merekam rute yang dilalui melalui peta.

Seperti diwartakan BeritaSatu.com, program LUAS mengajak masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi, setiap satu kilometer yang tercapai akan dihargai Rp 10.000 dari total target 1 juta kilometer jarak kumulatif yang dicapai selama kurun waktu tiga tahun oleh pelari amal.

Urusan solidaritas ternyata bukan hanya motivasi para pelari sipil. Olahraga ini pun ternyata yang dapat mempererat solidaritas antarsatuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) secara perorangan dan kesatuan. Tidak tanggung-tanggung, komunitas lari Garuda Finisher dibentuk untuk mempererat hubungan TNI dengan masyarakat sipil.

Pemrakarsa komunitas ini adalah anak mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono, MSc, MPA. Bersama Garuda Finisher, Agus yang waktu itu masih menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia secara konsisten menyebarkan semangat kebersamaan dan sportivitas di berbagai elemen masyarakat dengan ikut berpartisipasi dan menginisiasi kegiatan lari.

Garuda Finisher sendiri didirikan pada tanggal 20 Mei 2013 bersamaan dengan peringatan Hari Jadi Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad. Prinsip komunitas ini adalah: "It doesn't matter how fast or how slow you are, just RUN and FINISH what you have started".

Selain untuk tampil bergaya, beramal dan solidaritas, lari juga dirasakan manfaatnya sebagai sarana untuk memperluas jaringan. Itulah yang diceritakan oleh Siska Baroto, Division Head Product Project Management Indosat Ooredoo, kepada Beritagar,id saat berbincang-bincang di kantornya pekan lalu.

"Sejak sering mengikuti race, saya menjadi bertambah teman di mana-mana. Networking menjadi luas," ujar Siska yang telah menekuni lari selama empat tahun terakhir.

Biasanya orang-orang yang menyukai lari menyebutnya sebagai "sweatworking" yaitu berbincang bisnis sambil berkeringat di lintasan lari. Sweatworking telah merambah dunia sepeda dan kini orang mulai keluar dari lingkungan kantor yang kaku dan menikmati lari yang menyenangkan sambil merencanakan proyek-proyek masa depan.

Konon cara ini terbukti menghasilkan keputusan bisnis yang lebih matang karena bebas dari perasaan tegang dan stres.

Dengan terlibat dalam aktivitas fisik yang menyenangkan, Siska mengatakan dia dapat membangun hubungan yang lebih alami dengan rekan kerjanya karena suasananya tidak formal, selain dari fakta bahwa lari memang baik untuk kesehatan tubuh.

Kini orang dengan tujuan agar lebih sehat dan gaya. Mereka berlari karena secara ilmiah para ahli kesehatan mengatakan bahwa lari memang mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan.
Kini orang dengan tujuan agar lebih sehat dan gaya. Mereka berlari karena secara ilmiah para ahli kesehatan mengatakan bahwa lari memang mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan. | Daxiao Productions /Shutterstock

Tidak sekadar membuat tubuh bugar

Berbicara mengenai lari tidak elok rasanya tanpa bercerita tentang Pheidippides. Dalam mitologi Yunani, dia dikenal sebagai pembawa pesan dalam Perang Marathon (490 SM) antara Yunani melawan Persia.

Pheidippides berlari sejauh 42 kilometer dari Teluk Marathon menuju Athena untuk mengabarkan kemenangan tentara Yunani. Demi menghormati Pheidippides, ditetapkanlah lari sebagai salah satu cabang Olimpiade dengan nama lari marathon. Jaraknya pun sama dengan jarak yang ditempuh Pheidippides, yaitu 42 kilometer.

Kini zaman telah berganti. Pheidippides-Pheidippides masa kini berlari bukan untuk mengabarkan kemenangan perang. Mereka berlari dengan tujuan agar lebih sehat dan gaya. Mereka berlari karena secara ilmiah para ahli kesehatan mengatakan bahwa lari memang mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan.

Lari membantu menurunkan berat badan

Alasan ini mungkin merupakan alasan yang paling jamak bagi orang yang baru pertama kali berolahraga lari. Lari memang bisa membantu mengurangi kelebihan lemak yang bergelambir di beberapa bagian tubuh. Menurut riset, orang yang beratnya sekitar 100 kilogram bisa membakar 900 kalori saat dia berlari selama 60 menit.

Selain itu, riset juga mengungkapkan bahwa lari bisa meningkatkan EPOC (excess post oxygen consumption), yaitu jumlah kalori yang dibakar setelah berlari.

Berlari juga merupakan bentuk latihan kardio yang terbaik untuk menurunkan berat badan. Menurut riset Medical College of Wisconsin, orang yang berlari dengan mengeluarkan semua kemampuannya rata-rata akan membakar 800 kalori per jam.

Jumlah kalori yang dibakar itu lebih banyak daripada jika orang berlatih sepeda statis, naik tangga, atau dayung. Namun harus diingat bahwa orang hanya bisa menurunkan berat badan lewat olahraga lari jika kalori yang dibakar lebih banyak daripada kalori yang diasup. Artinya, agar berat badan berkurang, orang juga harus melakukan diet dengan benar.

Lari membuat bahagia

Studi yang dilakukan oleh University of Montreal Hospital Research Centre mengungkapkan bahwa latihan fisik merupakan cara untuk menyembuhkan depresi dan kegelisahan tingkat ringan sampai sedang. Menurut riset, lari bisa membantu Anda melepaskan rasa gelisah, stres dan depresi. Dengan berlari, lepaslah hormon endorfin.

Hormon ini bertugas membuat seseorang merasa senang dan memiliki kekebalan tubuh. Senyawa kimia ini diproduksi oleh tubuh saat Anda merasa bahagia, juga cukup istirahat. Zat ini bekerja layaknya morfin, bahkan dikatakan 200 kali lebih kuat dari morfin.

Memiliki endorfin dalam kadar normal menimbulkan perasaan senang dan nyaman hingga membuat seseorang berenergi. Endorfin juga dapat merangsang timbulnya zat imunitas.

Lari melepaskan stres

Stres selama ini merupakan kambing hitam untuk berbagai masalah, misalnya obesitas, depresi, penyakit kardiovaskular, kanker dan lain sebagainya. Jadi, apapun yang bisa mengenyahkan stres tentu akan disambut dengan baik.

Inilah salah satu manfaat lari untuk meredakan stres. Menurut ilmuwan dari University of Georgia, berlari setidaknya selama 60 menit ternyata lebih baik daripada sekadar bersantai di atas sofa.

Ketika berlari, tubuh melepaskan hormon endorfin. Detak jantung juga meningkat sehingga otak terjaga dari kerusakan akibat pengalaman yang membuat stress.

Selain itu berlari juga bisa memangkas risiko berkembangnya sakit kepala dan migrain. Tidak itu saja manfaatnya. Berlari juga memberi kesempatan Anda untuk pergi ke luar ruangan, menghirup udara segar, bernapas, menjernihkan pikiran dan merasakan tubuh yang sehat. Jadi daripada berleha-leha di atas kursi malas, ada baiknya Anda bangkit dan berlari sekarang juga.

Lari baik untuk sendi dan tulang

Berlari memang merupakan olahraga yang mensyaratkan kebugaran kardiovaskular. Namun menurut penelitian ilmiah, berlari juga akan menguatkan sendi dan tulang, terutama pada bagian lutut.

Bagaimana itu terjadi? Lari akan memicu banyak darah segar yang menuju persendian. Darah segar yang banyak mengandung oksigen kemudian dikirimkan ke seluruh tubuh ini. Racun-racun yang berada dalam tubuh pun lenyap.

Berlari juga akan menguatkan ligamen yang membungkus persendian. Dan jika Anda sekarang masih percaya bahwa "berlari buruk bagi lutut", Anda harus menyadari bahwa riset terbaru membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara berlari dan artritis. Artritis adalah peradangan pada satu atau lebih persendian, yang disertai dengan rasa sakit, bengkak, kaku, dan sulit bergerak.

Faktanya, menurut ilmuwan Stanford University yang menerbitkan penelitian mereka dalam Archives of Internal Medicine pada 2008, berlari justru membantu melindungi persendian saat umur Anda bertambah.

Berlari baik untuk mental Anda

Dengan berlari, Anda akan terhindar dari penyakit Alzheimer dan gangguan otak lainnya. Menurut studi yang diterbitkan dalam Psychonomic Bulletin & Review, ada bukti yang tak terbantahkan bahwa berlari akan membantu mencegah penyakit mental yang disebabkan umur yang menua.

Sementara itu studi yang diterbitkan dalam Perceptual and Motor Skills mengungkapkan bahwa orang yang menjalani uji ingatan menunjukkan kinerja yang meningkat 20 persen setelah dia menyelesaikan sesi latihan lari. Selain itu, kemampuan mereka menyelesaikan masalah yang rumit juga naik 20 persen.

Tidak berhenti sampai di situ. Riset juga mengungkapkan bahwa lari juga membantu proses neurogenesis, yaitu tumbuhnya sel saraf baru.

Berlari menurunkan risiko kanker

Ingat, berlari memang tidak menyembuhkan kanker. Namun, berlari menurunkan risiko terserang kanker. Berdasarkan ulasan terhadap lebih dari 170 studi epidemiologi yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition terungkap bahwa latihan lari secara teratur menurunkan risiko terjangkit kanker.

Menurut studi itu, aktivitas jalan selama tujuh jam dalam sepekan bisa menurunkan risiko kanker payudara pada perempuan sampai 14 persen dibandingkan perempuan yang memilih untuk duduk santai di kursi goyang.

Sementara itu berlari kencang selama enam jam dalam sepekan bisa menurunkan risiko kanker hingga 25 persen.

Lari membuat tidur lebih nyenyak

Anda kesulitan tidur? Menurut riset yang diterbitkan dalam Journal of Adolescent Health, orang-orang yang secara teratur berlari pada pagi hari ternyata mengalami perbaikan kualitas tidur.

Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di Stanford University School of Medicine menyimpulkan bahwa orang yang mengalami gangguan tidur ternyata bisa meningkatkan kualitas tidur mereka setelah secara teratur berlari.

Berlari melindungi Anda dari penyakit jantung

Penyakit jantung adalah pembunuh nomor satu di dunia menurut WHO. Untunglah sebenarnya penyakit ini bisa dicegah dengan cara yang mudah, yaitu berlari.

Menurut studi yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology, orang yang secara teratur berlari mempunyai risiko 45 persen lebih rendah meninggal akibat penyakit kardiovaskular. Bahkan, berlari hanya lima menit pun bisa memangkas risiko terjangkit penyakit kardiovaskular hingga nyaris setengahnya.

Mengapa demikian? Ternyata berlari akan memacu kadar HDL (kolesterol baik), meningkatkan fungsi paru-paru, menurunkan tekanan darah, dan memperbaiki sensitivitas gula darah,

Berlari akan memperpanjang umur

Menurut studi jangka panjang yang dilakukan oleh peneliti dari Stanford University School of Medicine, terungkap bahwa kebiasaan berlari akan menurunkan tingkat kematian hingga 80 persen. Studi itu menyebutkan bahwa para pelari biasanya menikmati umur yang lebih panjang sekitar 3 tahun daripada orang-oarang yang tidak berlari.

Berbicara tentang umur, mungkin banyak pelari yang tidak mengetahui nasib Pheidippides setelah berlari menempuh jarak 42 kilometer. Setelah mengucapkan "Nenikekamen,.... Nenikekamen" yang berarti "Kita menang,.... Kita menang", dia tewas mengenaskan karena kelelahan dan dehidrasi.

Kini Pheidippides-pheidippides urban justru terus bersemangat menyampaikan berita tentang gaya hidup sehat yang mereka tawarkan. Sambil terus berlari.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR