Warga dan tokoh adat mengantar Punggawa Torosiaje Jaya, Fadil Pakaja, menggunakan ketinting.
Warga dan tokoh adat mengantar Punggawa Torosiaje Jaya, Fadil Pakaja, menggunakan ketinting. Franco Dengo / Beritagar.id
SUKU BAJO

Mengarak Punggawa baru di tiga serumpun Suku Bajo

Punggawa posisi berharga di Torosiaje. Warga rela tak bekerja untuk mengantarnya bertugas.

Senin pagi. Pekan terakhir Desember. Sehari sebelum Natal. Saya menuju pesisir. Ke Torosiaje.

Kala memintas Desa Bumi Bahari, waktu masih pukul 06.30 WITA. Hidung menyergap bau laut. Kulit menangkap desis angin dari segara. Mata menjerat hamparan tambak.

Bumi Bahari desa nelayan di Provinsi Gorontalo. Hampir 250 kilometer dari Kota Gorontalo. Desa pertama setelah pengunjung melewati gerbang bertulis “Selamat Datang di Desa Wisata Torosiaje”.

Kebanyakan rumahnya berbahan kayu. Perkakas berburu ikan tergantung di rata-rata dindingnya.

Berselang tak lama dari situ, ada Torosiaje Jaya. Desa kedua dalam rantai Desa Wisata Torosiaje. Di satu titik di sana, saya melihat orang berkerumun. Mereka berhimpun di tenda berisi bangku-bangku. Berhadap-hadapan dengan hutan bakau.

Umar Pasandre, seorang warga setempat, bilang ramai orang menunggu acara. “Sebentar akan ada prosesi penyambutan Punggawa,” ujarnya, Senin (24/12/2018).

Tetapi, hari itu isi desa bukan cuma mereka. Tak hanya penduduk lokal. Banyak pendatang lalu-lalang. Turis asing atau domestik. Bertas punggung atau berkoper. Itu kondisi lumrah menjelang ganti tahun. Pun pada liburan panjang.

Kemudian seorang pria mendekati saya. Seperti undian. Mencoba peruntungan. Dia menawarkan jasa angkutan ketinting. Atau perahu kecil. Itu kendaraan wajib untuk bisa tiba di Torosiaje Laut. Desa terhilir di kawasan Torosiaje. Dari Torosiaje Jaya, jaraknya setengah kilometer.

"Mari, Rp.5000 saja," ujarnya mengumpan dengan nominal ongkos.

Saya meluluskan tanda sepakat. Dia langsung memandu saya. Menyusuri dermaga. Platform panjang. Sekitar 100 meter. Di ujung sana, ketinting diparkir.

Sampan itu sederhana saja. Berbahan kayu pohon nangka. Dan kini penumpang penuh. Tali penambat dilepas. Mesin dinyalakan. Perahu lalu mengalun. Perlahan.

Di sisi kanan dan kiri, hamparan hijau tanaman mangrove. Asri. Sehat terawat. Laut hanya biru. Tapi langit sedikit mendung. Abu-abu.

Sekarang barisan rumah kayu tampak. Berjejer. Kaki-kakinya tertancap di Teluk Tomini. Dari ketinting itu pula gemuruh sayup terdengar. Dibawa angin sampai ke kuping. Sekilas seperti suara gendang musik koplo.

Kian dekat ke tujuan, suara itu kedengaran kian kuat.

Setelah ketinting bersandar, sumber bunyi terkuak. Asalnya dari rebana. Tanpa henti ditepuk delapan pria dewasa. Warga setempat dan para wisatawan berbaur dengan para lelaki itu.

Di tengah riuh, seorang pria melangkah dari selasar bangunan berlantai papan. Dia mengenakan seragam putih-putih. Kepalanya bertutup topi beremblem Garuda Pancasila.

Dia Fadil Pakaja. Baru saja terpilih sebagai Punggawa (Kepala Desa) Torosiaje Jaya. Sebagai seorang Punggawa yang lahir di Torosiaje Laut, ia akan diantar oleh tokoh adat maupun masyarakat ke tempatnya bertugas. Untuk menghargainya, hampir tak ada aktivitas melaut saat itu.

Enam ketinting telah tersedia. Buat rombongan pengantar. Beriring lagu ikiko (khas Suku Bajo), Punggawa naik diikuti sekitar 40 orang. Ada keluarga, tokoh adat, dan masyarakat. Rebana masih bertalu-talu.

Ketinting lantas berlayar. Satu per satu. Pelan-pelan. Formasi itu tak hanya diiringi nyanyian ikiko. Selawat juga ikut dilantunkan. Di bawah lambung perahu, ikan-ikan menari.

Dua lelaki beradu gaya pencak silat khas Suku Bajo sebagai serangkai tradisi menyambut Punggawa, Senin (24/12/2018).
Dua lelaki beradu gaya pencak silat khas Suku Bajo sebagai serangkai tradisi menyambut Punggawa, Senin (24/12/2018). | Franco Dengo /Beritagar.id

Sesampainya di dermaga, sang Punggawa memimpin warganya menuju Torosiaje Jaya. Ikiko terus didendangkan. Tangan-tangan kekar masih menghantam rebana.

Hingga akhirnya kubu Torosiaje Laut berhadap-hadapan dengan masyarakat Torosiaje Jaya. Musik makin kencang. Bersambut musik dari kubu Torosiaje Laut yang sedari tadi menanti.

Dua pria berpakaian serba putih mulai lenggak-lenggok mengikuti irama. Sesekali mereka saling menyerang. Juga mengelak. Persis seperti orang menari. Peragaan itu bernama Panca. Pencak silat khas Suku Bajo.

Lalu musik tidak berlanjut. Suasana sontak hening. Ketua adat dari masing-masing desa serumpun bertemu. Berhadapan. Keduanya bersahutan melontarkan bahasa Bajo.

Sang Punggawa maju ke muka masing-masing Ketua Adat. Lalu, sekujur tubuhnya ditaburi beras oleh Ketua Adat Torosiaje Jaya. Itu pertanda dia telah diterima masyarakatnya.

Musik kembali menggalak. Dengan beat lebih cepat. Turis dan penduduk lokal yang hadir cepat melarut. Menari bersama-sama. Memamerkan wajah sukacita.

Usai berpesta, sang Punggawa digiring ke tempat kerjanya. Kantor Desa Torosiaje Jaya. Jaraknya sekitar 300 meter dari lokasi upacara.

Rombongan berjalan kaki. Beriring musik. Tiap kali mereka melewati rumah-rumah, para penghuninya menyambut dengan senyum. Dan tak satu pun warga berdiam di dalam rumah. Semua menyongsong sang Punggawa.

"Saya akan mengemban amanah ini dengan penuh syukur, dengan hati yang tulus. Perjuangan ini tidak akan sampai di sini," ujar sang Punggawa terpilih, di kantornya. "Meski kita sempat bersilang pendapat maupun pilihan, sejatinya, tujuan kita tetap satu, yaitu memajukan dan memakmurkan Desa Torosiaje Jaya khususnya, dan tiga serumpun Suku Bajo pada umumnya."

Tiga Serumpun

Torosiaje berakar pada kata Torosiaji. Gabungan kata Toro dan Si Aji. Kata pertama berarti rumah. Si Aji menunjukkan pemiliknya.

Secara harfiah, Torosiaje atau Torosiaji berarti rumah milik si Aji (nama orang). Konon, Aji adalah warga Suku Bajo yang pertama kali menginjakkan kaki di tanah Gorontalo. Rujukan bagi warga Bajo lain untuk menetap bersama.

Suku Bajo beken sebagai penjelajah air. Ahli menyelam. Sanggup lama menahan nafas di dalam air. Beratus tahun jadi nomad. Biasa ditemui di perairan Filipina, Malaysia, dan Indonesia. Tapi tak semua mengembara. Ada pula menetap.

Saya menyambangi Kamarudin Pakaja, 51, di rumahnya. Dia tokoh Adat Suku Bajo. Dia bilang, Suku Bajo yang ada di Gorontalo--khususnya yang berada di pesisir laut Kecamatan Pohuwato--datang dari semenanjung Malaka.

“Awal mula kakek buyut saya datang ke sini sekitar tahun 1901. Dipimpin oleh seorang Punggawa. Tinggalnya masih di perahu-perahu. Karena waktu itu hidupnya masih berpindah-pindah, tidak langsung menetap di sini,” katanya. “Ketika bosan di Gorontalo, pindah lagi ke laut Sulawesi Utara. Di Sulawesi Utara ikannya sudah tidak melimpah lagi, pindah lagi ke Sulawesi Selatan. Pokoknya berpindah-pindah terus.”

Akhirnya, di tahun yang sama, mereka memutuskan untuk balik ke Gorontalo. Lalu mengajak warga Bajo lain yang cerai-berai untuk berkumpul dan menetap. Gorontalo menjadi pilihan utama karena lokasinya strategis. Baik dari sisi ekologis maupun ekonomis (sumber ikan melimpah).

Namun, ketika itu gerilya ke daerah-daerah lain masih rutin dilaksanakan.

Punggawa diarak warga tiga serumpun Suku Bajo menuju tempat kerja, Senin (24/12/2018)
Punggawa diarak warga tiga serumpun Suku Bajo menuju tempat kerja, Senin (24/12/2018) | Franco Dengo /Beritagar.id

Dari tinggal di perahu-perahu, Suku Bajo bergerak membangun rumah panggung. Pada 1962. Di momen ini, mereka memutuskan untuk menetap secara permanen. Untuk membayar pajak mereka harus berlayar ke Bone, Sulawesi Selatan. Jadi, Suku Bajo sejak dulu sudah taat membayar pajak.

Waktu demi waktu, jumlah penduduk tumbuh. Anggota Suku Bajo lain berdatangan. Berkampung di Torosiaje. Punggawa serta tokoh-tokoh masyarakat di sana mulai berpikir memperluas ruang tinggal hingga ke daratan.

"Sekitar tahun 1983 kita coba melakukan perluasan ke darat. Waktu itu kita mencoba melakukan bakti sosial. Merintis sendiri secara swadaya. Tapi tidak berhasil," kata Kamarudin.

Cara lain diulik. Pemerintah didatangi. Dimintai bantuan. Ketika itu Gorontalo belum mandiri. Masih menempel dengan Sulawesi Utara.

Akhirnya, "permintaan direspons. Gubernur Sulawesi Utara saat itu langsung datang mendatangi kami. Gubernur menanyakan apa Suku Bajo benar-benar ingin ke darat?" ujarnya.

Sebagian besarnya menyatakan keinginan untuk tinggal di darat. Meski mereka sebenarnya identik dengan laut. Tapi kala itu banyak muncul pertimbangan. Mereka memilih untuk mencoba berumah di darat. Kesepakatan pun terjalin.

Pada akhir 1984, permukiman mulai dibangun. Lewat program Pembinaan Kesejahteraan Sosial Masyarakat Terasing (PKMST). Diprakarsai Departemen Sosial. Saat itu, sekitar 125 keluarga yang dimukimkan di darat. Sisanya masih bertahan di rumah apung atau perahu-perahu.

Di masa transisi dari laut ke darat itu, warga yang memilih bermukim di darat tidak serta merta sanggup beradaptasi. Kehidupan darat punya kaidah berbeda. Karena bergantung dengan laut, mereka sering meninggalkan permukiman. Problem lain mengemuka pula. Air bersih sulit diperoleh.

Sekitar 1998, pertumbuhan penduduk darat makin pesat. Ketambahan lebih dari 100 keluarga. Apalagi ditambah kawin silang antara Suku Bajo dengan suku lain.

Area permukiman jelas meluas. Satu wujudnya, Bumi Bahari. Desa pertama yang terbentuk tersebab perpindahan anggota Suku Bajo dari laut ke darat.

Efek pembengkakan jumlah penduduk semakin gamblang. Puncaknya 2004. Wilayah pemekaran baru terbentuk. Kini menjadi Desa Torosiaje Jaya.

Namun, di sisi lain, mereka yang bertahan di laut juga berkembang. Rumah-rumah panggung bertambah. Sampai tercipta Desa Torosiaje Laut.

“Jadi, tiga serumpun ini adalah Bumi Bahari, Torosiaje Jaya dan Torosiaje Laut. Tiga Desa yang merupakan saksi proses peradaban Suku Bajo,” kata Kamarudin.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR