Oyon (55) petani di Kampung Sukasirna, Dusun Cireundeu, Desa Manggungsari, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, sedang merapikan bebatuan yang membendung aliran air untuk menggerakan kincir air, Senin (7/10/2019).
Oyon (55) petani di Kampung Sukasirna, Dusun Cireundeu, Desa Manggungsari, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, sedang merapikan bebatuan yang membendung aliran air untuk menggerakan kincir air, Senin (7/10/2019). Rommy Roosyana / Beritagar.id
INDUSTRI PERTANIAN

Mengatasi kekeringan dengan kincir air warisan nenek moyang

Warga Kampung Sukasirna, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, telah 70 tahun lebih memanfaatkan teknologi sederhana itu setiap memasuki musim kemarau.

Tiupan angin sepoi-sepoi mengiringi langkah Oyon (55) selama berjalan menyusuri pematang di tengah persawahan di Kampung Sukasirna, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Sambil menghela napas, tangan kanan Oyon mengangkat topi hitam yang warnanya nyaris pudar, kemudian menyeka keringat yang membasahi keningnya. Napas panjang terdengar diembuskan saat kedua kakinya menginjak sisi Sungai Citanduy.

Mata lelaki tua itu tertuju pada barisan benda berbentuk roda besar yang berputar perlahan. Benda berbentuk roda besar itu, Oyon dan warga sekitar menyebutnya kincir air yang selama ini menjadi penyelamat para petani dari dampak kemarau panjang.

"Unggal usum halodo urang dieu mah ngadamel kincir, supados sawah teu kagaringan (Setiap musim kemarau warga di sini membuat kincir (air) supaya sawah tidak kekeringan)," ungkapnya kepada Beritagar.id, Senin (7/10/2019) siang.

Dengan bahasa Sunda yang kental, Oyon menjelaskan kincir air tersebut hanya terbuat dari bambu, kayu, dan papan. Dengan cara swadaya, para petani di kampungnya membuat kincir air ketika memasuki musim kemarau.

"Setiap musim kemarau, yang punya sawah, masing-masing menyediakan bahan. Yang bikin (kincir) Bapak Iyat, mertua saya ahlinya," terangnya.

Setiap kincir, jelasnya, dibuat dengan rata-rata diameter 5-5,5 meter. Menghabiskan 6 hingga 8 batang bambu, sebatang kayu balok untuk poros atau sumbu kincir, dan 5 lembar papan untuk nampan penampung air serta baling-baling pendorong kincir.

Pembuatan satu unit kincir air, lanjut Oyon, hanya memerlukan waktu sekitar dua hari, dikerjakan sekitar 15 orang. Para petani bergotong-royong dari membuat hingga memasangnya. Biaya pembuatan satu unit kincir air bisa mencapai Rp1 juta lebih.

Namun, sambung Oyon, biaya pembuatan kincir air dinilai lebih murah dibandingkan menggunakan pompa berbahan bakar minyak, apalagi listrik.

"Kalau mesin kan harus pakai bahan bakar, biayanya bisa lebih mahal. Apalagi kalau pakai listrik, bisa bobol atuh. Kincir mah enggak pernah berhenti, kerja siang-malam. Kita paling cuma ngecek (memeriksa) tiap pagi," jelasnya.

Engkos (67) membersihkan sampah-sampah yang tersangkut di kincir air milik para petani di Kampung Sukasirna, Dusun Cireundeu, Desa Manggungsari, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (7/10/2019).
Engkos (67) membersihkan sampah-sampah yang tersangkut di kincir air milik para petani di Kampung Sukasirna, Dusun Cireundeu, Desa Manggungsari, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (7/10/2019). | Rommy Roosyana /Beritagar.id

Selain Oyon; siang itu terlihat warga lainnya, Engkos (67), yang bertelanjang dada. Ia berdiri di tengah aliran Sungai Citanduy untuk membersihkan kincir air dari sampah dan batu yang tersangkut.

Dengan telaten Engkos memunguti sampah dedaunan dan plastik yang tersangkut di beberapa bagian kincir air. Ia juga memeriksa ketahanan tiang-tiang penyangga kincir air dengan cara menggoyang-goyangkannya.

"Upami teu dikontrol, runtah anu nyarelap ngamacetkeun. Karunya, engke caina moal ngocor (Kalau tidak dikontrol, sampah-sampah yang tersangkut membuat macet. Kasihan, nanti airnya tidak mengalir)," terang Engkos.

Lelaki berambut putih itu mengungkapkan, di kampungnya tersebut terdapat kelompok tani. Kelompok tani itu sebenarnya mendapatkan bantuan mesin pompa air dari Dinas Pertanian setempat untuk mengatasi kekeringan.

Tapi kata dia, tak ada seorang pun petani yang menggunakannya lantaran mesti mengeluarkan modal untuk membeli bahan bakar. Bahkan, para petani yang menggunakan pompa harus menanggung biaya jika terjadi kerusakan.

Para petani, sambungnya, memilih menggunakan teknologi warisan nenek moyang mereka berupa pemanfaatan kincir air. Hal itu didukung juga oleh aliran air Sungai Citanduy yang sepanjang sejarah tak pernah mengering.

"Air (sungai) Citanduy mah enggak pernah kering. Kalau pakai kincir cukup sekali keluar biayanya, kalau pakai pompa harus tiap hari keluar biaya. (Kincir) paling perawatan saja, harus dikontrol sehari sekali, takut ada batu atau sampah nyangkut yang bisa bikin kincir macet," jelasnya.

Sudah puluhan tahun

Warga pemilik lahan persawahan di Kampung Sukasirna, Dusun Cireundeu, Desa Manggungsari, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, bukan baru kali ini membuat kincir air. Mereka mewarisi teknologi sederhana ini dari nenek moyangnya sejak puluhan tahun silam.

Pemanfaatan kincir air, jelas Oyon (55), sudah dikenal para petani di kampungnya lebih dari 70 tahun. "Ti jaman aki, bapakna mertua tos ngadamelan. Bapak oge tos tujuh puluh taunan (Dari jaman kakek, bapaknya mertua (saya) sudah membuat (kincir air). Bapak juga sudah tujuh puluh tahun)," terang Oyon.

Kini, sambung Oyon, sudah beberapa generasi yang meneruskan teknologi sederhana itu untuk mengantisipasi kekeringan. Tahun ini, warga membuat kincir hingga delapan unit lantaran musim kemarau cukup panjang. "Makin panjang musim kemarau, semakin banyak kincir yang dibuat," jelasnya.

Cara kerja kincir air juga terbilang sederhana, tanpa menggunakan alat mekanik dan sumber energi dari bahan bakar minyak atau listrik. Kincir-kincir air tersebut hanya memanfaatkan daya dorong aliran air Sungai Citanduy.

Para petani sengaja membendung aliran Sungai Citanduy menggunakan batu kali agar arus air terarah dan melintasi kincir. Arus air kemudian mendorong papan-papan yang dipasang di sejumlah titik di ujung kincir.

Selain papan, terdapat juga bambu-bambu yang dipasang dengan kemiringan tertentu agar bisa menciduk air dari aliran sungai dan tumpah di nampan penampung. Dari nampan yang dipasang di samping kincir itu, air Sungai Citanduy disalurkan melalui pipa bambu dan selang ke area persawahan.

Empat kincir air dipasang warga dan petani di aliran Sungai Citanduy di Kampung Sukasirna, Dusun Cireundeu, Desa Manggungsari, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (7/10/2019).
Empat kincir air dipasang warga dan petani di aliran Sungai Citanduy di Kampung Sukasirna, Dusun Cireundeu, Desa Manggungsari, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (7/10/2019). | Rommy Roosyana /Beritagar.id

Lokasi pemasangan kincir air, terang Oyon, tidak tetap setiap tahunnya. Lokasi pemasangan disesuaikan aliran air Sungai Citanduy dan lahan yang mengalami krisis air.

"Tahun ini delapan kincir (air) yang dipasang. Tahun-tahun lalu pernah sampai 11 karena kemaraunya panjang sekali," ungkap Oyon.

Kekuatan kincir air berbahan bambu dan kayu itu, sambungnya, bisa mencapai enam bulan lebih --selama musim kemarau. Namun saat memasuki musim hujan, kincir-kincir air dibiarkan para petani hanyut terbawa arus Sungai Citanduy.

"Baru dua kali hujan juga air (sungai) Citanduy meluap. Tinggi air bisa merendam kincir-kincir air yang akhirnya (dibiarkan) terbawa hanyut. Diikat juga gak kuat karena arusnya deras sekali," terangnya.

Tak ada sawah puso

Menilik data Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Tasikmalaya, tahun 2019 ini terdapat 2.510 hektare sawah yang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang.

Terdapat beberapa tingkatan kekeringan. Di antaranya rusak berat sebanyak 430 hektare, rusak sedang 502 hektare dan rusak ringan 566 hektare. Bahkan 1.012 hektare persawahan mengalami puso yang tersebar di hampir 37 Kecamatan.

Namun hal itu tak terjadi di Kampung Sukasirna, Kecamatan Rajapolah. Kincir air sederhana yang dibuat secara gotong-royong oleh para petani di sana mampu menyelamatkan lahan sawah dan kebun dari ancaman puso alias gagal panen.

Satu kincir air, ungkap Ketua Kelompok Tani Sari Mukti Odo Hadori (65), mampu mengairi lahan persawahan sekitar setengah hektare. Namun perhitungan tersebut tidak baku karena semakin lama kincir air beroperasi, lahan persawahan yang terairi juga semakin banyak.

"Dari kincir mengalir ke sawah-sawah. Karena kincir kerjanya siang malam, airnya bisa meluber ke sawah-sawah lain di sekitarnya," sebutnya.

Jika menilik luas area persawahan di Kampung Sukasirna, sebut Odo, terdapat sekitar 25 hektare. Namun, ada beberapa area yang berada di aliran irigasi. Sekitar 8 hektare area persawahan tak terjangkau aliran irigasi dan terancam kering saat musim kemarau.

"Nah, (area) yang terancam kering ini setiap tahun selalu memanfaatkan kincir. Alhamdulillah, selama (memanfaatkan kincir air) ini tidak pernah ada yang puso (gagal panen)," ujarnya.

Cucu Cumirah (50) menjemur padi hasil panen yang ditanam di area persawahan Kampung Sukasirna, Dusun Cireundeu, Desa Manggungsari, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (7/10/2019).
Cucu Cumirah (50) menjemur padi hasil panen yang ditanam di area persawahan Kampung Sukasirna, Dusun Cireundeu, Desa Manggungsari, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (7/10/2019). | Rommy Roosyana /Beritagar.id

Oyon mengungkapkan, berkat kincir air, petani di daerahnya tak pernah mengalami paceklik meski dilanda kemarau panjang. "Kalaupun kemarau panjang, orang sini masih tetap panen. Hasilnya juga lebih bagus kalau airnya dari Citanduy, dari sawah 300 bata (1 bata = 14 meter) biasanya 16 karung (1 karung = 35-40 kilogram)," jelasnya.

Di area persawahan, Beritagar.id menghampiri Cucu Cumirah (50) yang sedang menjemur padi hasil panennya. Perempuan paruh baya itu mengatakan, kincir air membuat warga petani tidak mengalami kesulitan untuk mengairi sawahnya.

Selama puluhan tahun menggarap sawah, kata Cucu, petani di Kampung Sukasirna tak pernah ada yang mengalami gagal panen. "Tetap bisa panen 3 kali tiap tahun. Meskipun kemarau panjang, air Citanduy tidak pernah kering, tetap mengalir. Makanya tidak ada puso atau gagal panen, berkat kincir," ucapnya.

Mengairi sawah dengan kincir air, sambung Cucu, memiliki kelebihan. Air dari Sungai Citanduy yang tercium sedikit anyir membuat padi tumbuh subur dan hasilnya bagus saat dipanen.

Petani penggarap lainnya, Jojoh Juariah (55), nampak bersemangat menampi gabah di tengah terik matahari. Jojoh yang mengenakan baju atasan warna hijau dipadu celana panjang warna merah, lengkap dengan tutup kepala terlihat serius membuangi batang dan dedaunan padi yang terselip di gabah hasil panen di lahannya.

Jojoh Juariah (55) menampi padi hasil panen di persawahan yang diairi kincir air di Kampung Sukasirna, Dusun Cireundeu, Desa Manggungsari, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (7/10/2019).
Jojoh Juariah (55) menampi padi hasil panen di persawahan yang diairi kincir air di Kampung Sukasirna, Dusun Cireundeu, Desa Manggungsari, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (7/10/2019). | Rommy Roosyana /Beritagar.id

Dengan teliti, Jojoh juga menampi gabah-gabah kopong alias kosong dengan menggunakan nyiru --alat rumah tangga, berbentuk bundar, terbuat dari bambu yang dianyam. "Alhamdulillah, ku cai Citanduy mah anu kopongna henteu seueur. Hasil panen oge langkung sae (Alhamdulillah, dengan air Citanduy gabah kopongnya tidak banyak. Hasil panen juga lebih bagus)," ungkapnya.

Di lahannya yang hanya 90 bata atau sekitar 1.260 meter persegi, ia bisa menghasilkan 6 karung (1 karung = 35-40 kilogram) gabah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR