Konferensi pers pembukaan Lomba Cipta Lagu Anak di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat (16/4/2018)
Konferensi pers pembukaan Lomba Cipta Lagu Anak di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat (16/4/2018) Andi Baso Djaya/Beritagar.id
LAGU ANAK

Mengembalikan kejayaan lagu anak

Beragam ikhtiar dilakukan agar produksi lagu-lagu --dan film-- anak terus berlangsung. Salah satunya Lomba Cipta Lagu Anak 2018.

Publik terhenyak. Perempuan berumur 12 tahun dengan gamblang menyanyikan lagu berjudul "Lelaki Kardus" yang liriknya tentang perselingkuhan. Lagu itu menjadi viral di jagat maya.

Kali lain, sejumlah anak berseragam Sekolah Dasar dengan suka cita bergoyang ala orang dewasa sambil menyanyikan lagu "Sambalado" milik Ayu Ting-Ting. Video sejenis bisa dengan mudah kita temukan di YouTube. Jumlahnya bejibun.

Warganet tak pelak mengapungkan respons. Ada yang mengatakan imbas dari semakin berkurangnya lagu-lagu untuk anak. Sebagian menyesalkan longgarnya peran orang tua yang tak kuasa memilihkan hiburan, berupa lagu dan film, sesuai umur sang anak.

Merasa gundah melihat kenyataan tersebut, Presiden Joko Widodo meminta Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf dan sineas Mira Lesmana hadir ke Istana Merdeka, Jl. Medan Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat (23/3/2018).

Sebelumnya, Triawan mengaku dua kali mendapat telepon dari Jokowi, sapaan akrab Presiden RI ke-7.

"Intinya beliau gelisah karena sekarang kok enggak ada film anak, padahal film nasional sedang berkembang pesat. Begitu juga lagu anak. Akibatnya sekarang yang dikonsumsi oleh anak adalah lagu-lagu dewasa," ujar Triawan dalam jumpa pers pengumuman Lomba Cipta Lagu Anak (LCLA) 2018 di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat (16/4).

Jika mengambil perbandingan dekade 90an hingga awal 2000an, industri lagu-lagu anak saat ini seolah kurang muncul di permukaan.

Salah satu sebabnya karena tidak lagi mendapat banyak ruang ekspos dari media arus utama seperti stasiun televisi, radio, atau media cetak.

Posisi ini berbeda ketika Enno Lerian, Trio Kwek-Kwek, Joshua Suherman, Ria Enes bersama boneka Susan, Saskia dan Geoffani, Melissa, Chiquita Meidy, atau deretan penyanyi cilik lain yang lagu-lagunya rajin wira-wiri di layar kaca dan gelombang radio kurun era 90an.

Aneka tulisan tentang kehidupan atau karya terbaru mereka juga kerap jadi pembahasan oleh tabloid Fantasi, Hoplaa, Bianglala, tambah lagi majalah seperti Bobo.

Iklim media yang kala itu tidak memberikan banyak pilihan dan medium membuat perhatian publik jadi mengerucut.

Seturut perubahan tren dan teknologi yang terjadi saat ini, penyanyi dan lagu-lagu anak seolah beredar secara senyap karena dukungan berbagai media tadi jauh berkurang.

Berbagai kontes menyanyi untuk anak yang diselenggarakan beberapa stasiun televisi juga tak memberikan sumbangsih berarti.

Para pesertanya memang bocah nan bersuara merdu, tapi lagu-lagu yang mereka bawakan justru hit milik penyanyi dewasa. Tentu saja liriknya berisi persoalan-persoalan yang jauh dari realita anak-anak.

Mereka sumringah ketika selesai menyanyi dapat pujian dari dewan juri yang terdiri dari penyanyi dewasa.

Beberapa album anak-anak produksi Gema Nada Pertiwi (GNP)
Beberapa album anak-anak produksi Gema Nada Pertiwi (GNP) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Kekhawatiran ketika anak mengonsumsi hiburan, semisal lagu dan film, yang tidak sesuai usianya sangat beralasan. Terlebih ketika orang tua absen mendampingi, anak-anak bisa salah mempersepsikan isi konten tersebut.

Saat menghadiri ramah tamah yang dihadiri sekitar 3000 guru di Deli Serdang, Sumatera Utara (26/1), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengimbau agar para orang tua dan guru mengajarkan berbagai hal bermanfaat untuk anak sesuai umurnya.

“Terutama lagu yang mereka nyanyikan, jangan sampai lagu orang dewasa. Setiap bertemu musikus, saya selalu meminta mereka menciptakan lagu untuk anak anak,” ujar Puan.

Beda misalnya ketika lagu-lagu anak yang dijadikan konsumsi sebab bisa memberikan banyak manfaat. Bukan semata untuk media hiburan, lagu juga efektif sebagai media untuk pendidikan dan komunikasi.

Lewat untaian irama, anak bisa mendapat pelajaran tentang banyak hal, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, rajin belajar, tenggang hati, menghargai perbedaan, tolong menolong, dan sebagainya dengan riang gembira. Anak merasa seperti tidak diajari.

Berkurangnya lagu anak berakibat redupnya hiburan dan pendidikan yang layak bagi anak. Oleh karena itu, menurut Seto Mulyadi, psikolog dan pemerhati anak, ketersediaan lagu-lagu anak harus terus ditingkatkan.

Atas dasar itu, Bekraf menyelenggarakan LCLA 2018 yang berbarengan dengan produksi film Kulari ke Pantai garapan Miles Films.

Mira Lesmana bersama tandemnya, Riri Riza (sutradara), dari Miles sebelumnya telah menghasilkan film Petualangan Sherina dengan album lagu tema berjudul sama. Album tersebut ludes lebih dari 500 ribu keping. Sebuah angka penjualan fantastis untuk ukuran album anak pada masa itu.

Dalam kapasitasnya sebagai sineas, Mira mengaku ketersediaan film yang dibarengi lagu untuk anak memang sangat kurang.

“Berdasarkan data yang kami dapat, sebanyak 500 film nasional yang diproduksi lima tahun terakhir, hanya 15 film anak-anak yang ada. Untuk itu kami berpikir sudah saatnya kembali membuat film untuk anak,” ujar Mira.

Hasil olah data yang dilakukan Lokadata Beritagar.id dari situs filmindonesia.or.id menemukan betapa sedikitnya produksi film anak-anak. Selama periode 66 tahun, sejak 1951 hingga 2017, total hanya ada 84 film. Berarti rerata hanya ada 1-2 judul yang muncul setiap tahun.

Untuk film Kulari ke Pantai yang dibintangi Maisha Kanna (sebagai Sam) dan Lil'li Latisha (Happy), Miles menggandeng Trinity Optima Production memproduksi album soundtrack berjudul sama.

Kali ini pengisi album tersebut berasal dari lima karya terbaik hasil seleksi dewan juri dalam ajang LCLA. Tambahan tiga lagu lain datang dari kelompok RAN.

Dijelaskan Mira, album soundtrack tersebut nantinya akan beredar dalam dua medium, digital dan fisik dalam bentuk compact disc yang jumlahnya sekitar 10 ribu keping. "Semuanya akan kami bagikan gratis," lanjutnya.

Praktik serupa juga dilakukan Sekolah Gemala Ananda. Melalui kampanye Bangkitkan Lagu Anak Indonesia, mereka membagikan 1000 compact disc berisi 10 lagu orisinal yang diciptakan guru seni musik sekolah Gemala Ananda.

Joshua Suherman dengan beberapa mantan penyanyi cilik juga menginisiasi kampanye #SaveLaguAnak yang menghasilkan lagu “Selamatkan Lagu Anak” ciptaan Papa T. Bob.

Aneka perlombaan atau kegiatan juga terus diadakan. Semisal ikhitar Yayasan Lentera Anak Bangsa cerdas dan Jaringan Peduli Anak Bangsa yang menyelenggarakan LCLA bertema "Aku Cerdas dan Berkarakter" pada medio 2017.

Kompas Gramedia melalui Bentara Budaya sejak tahun lalu juga menghidupkan lagi program Dendang Kencana yang sempat rutin berlangsung kurun 1990-1996. Kegiatannya berupa lokakarya cipta lagu anak, lomba cipta lagu anak, lokakarya musik dan vokal, serta lomba paduan suara anak yang berlangsung di Jakarta, Yogyakarta, Solo, dan Bali.

Berbagai upaya seperti ini bukan hanya bentuk keprihatinan, tapi untuk memantik lebih banyak kemunculan lagu-lagu anak.

Harus diakui, anak Indonesia butuh kehadiran idola-idola baru sepantaran agar tak melulu menjadikan penyanyi dewasa sebagai role model. Semakin banyak idola cilik yang hadir ke permukaan tentu lebih baik.

Ada beberapa penyanyi cilik yang telah merilis single dan album. Misalnya Callista Amadea (12) yang meluncurkan album ketiganya berjudul Gembira pada April 2018.

Aurellia Ayura Ezanny (7) atau akrab disapa Aurel tidak ketinggalan ikut merilis dua single berjudul “Jangan Malas Belajar” dan “Untuk Ayah dan Ibu”.

"Aku menyanyi sejak umur lima tahun. Semoga lagu-lagu ini bisa menghibur teman-teman seusiaku," ujar Aurel (8/4).

Salah satu penyanyi cilik yang turut mencuri perhatian adalah Saga. Umurnya masih 4 tahun, tapi ia sudah mencipta sendiri lagu “Telur Dadar” yang dinyanyikannya. Alhasil Museum Rekor Indonesia mendaulatnya sebagai pencipta lagu termuda di Indonesia.

Direktur Gema Nada Pertiwi Djakawinata Susilo saat ditemui Beritagar.id di kantornya, kawasan Ruko Mega Grosir, Kemayoran, Jakarta Pusat  (27/4/2018)
Direktur Gema Nada Pertiwi Djakawinata Susilo saat ditemui Beritagar.id di kantornya, kawasan Ruko Mega Grosir, Kemayoran, Jakarta Pusat (27/4/2018) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Menyebut lagu-lagu anak, tak lengkap rasanya tanpa menyertakan Gema Nada Pertiwi (GNP). Pasalnya label rekaman yang eksis sejak 1970 itu konsisten merilis album untuk anak-anak walaupun kata sebagian orang niche market.

“Kami mulai memproduksi album-album untuk anak awal tahun 2000an. Saat itu sudah mulai era sinetron remaja dan dewasa di berbagai stasiun televisi. Anak-anak banyak yang ikut-ikutan nonton. Bukan salah sinetronnya sih,” ungkap Direktur GNP Djakawinata Susilo kepada Beritagar.id di kantornya yang berlokasi di Ruko Mega Grosir, Kemayoran, Jakarta Pusat (27/4).

Sebagai orang tua, Djaka --sapaan akrab Djakawinata-- merasa sedih melihat fenomena banyak anak menyanyikan lagu yang tidak sesuai usianya.

“Mereka kalau menyanyi di kelas, bawainnya lagu cinta. Ada lomba menyanyi di mal, juga menyanyikan lagu cinta. Padahal anaknya berumur tujuh tahun,” tambahnya.

GNP kemudian bertemu musikus pencipta banyak lagu anak yang punya kekhawatiran serupa. Orang itu bernama Nugroho Setiadi alias Kak Nunuk.

“Akhirnya kami sepakat memproduksi lagu dan album anak-anak lagi. Awalnya mendaur ulang lagu-lagu lama dengan pembaruan aransemen. Setelah merilis dua album, kami mulai mencoba memasukkan beberapa lagu baru,” ungkap Djaka.

Dalam setahun, GNP yang juga tetap setia merilis lagu-lagu daerah, tradisional, dan keroncong minimal memproduksi satu album anak. Formatnya dalam bentuk CD, VCD, dan DVD (karaoke dan dolanan tradisional untuk anak).

Setiap akan merilis album, GNP bersama Kak Nunuk mengadakan audisi mencari penyanyi cilik baru. Pesertanya datang dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang dari Bogor, Surabaya, Lampung, hingga Kepulauan Riau.

Salah satu penyanyi baru yang bergabung dalam label ini adalah Clarice Darmoko alias Clarice Cutie, 11 tahun.

“Dia cukup aktif sebagai youtuber dan eksis di Instagram. Orang tua Clarice juga sepahaman dengan kami bahwa putrinya harus menyanyikan lagu-lagu yang sesuai umurnya. Begitu juga konten-konten yang dia produksi di YouTube.”

Kolaborasi perdana GNP dan Clarice mewujud dalam lagu berjudul “Don’t Worry Sahabatku”.

Menggaet penyanyi yang aktif mengunggah konten di dunia maya adalah salah satu cara GNP bisa relevan dengan industri musik terkini.

Selain itu, rantai distribusi GNP tak lagi menyasar toko-toko musik konvensional, tapi juga merambah market place online, dan platform musik digital. Pun membuka kanal di YouTube.

Laiknya bisnis yang lain, GNP tak selalu meraup untung dari setiap album anak yang mereka rilis. Terkadang album yang awalnya diprediksi sukses di pasaran malah melempem. Begitu juga sebaliknya.

“Faktornya macam-macam, sulit ditebak. Yang jelas untuk satu produksi album minimal kami cetak 1000 keping. Memang tidak terlalu meledak, tapi bisa menyokong roda produksi untuk merilis album-album berikutnya,” pungkas Djaka.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR