Buah manggis dalam World Mangosteen Fiesta (WMF) di Bali,  Sabtu (23/3/2019).
Buah manggis dalam World Mangosteen Fiesta (WMF) di Bali, Sabtu (23/3/2019).
BUAH-BUAHAN

Mengenalkan potensi si Ratu Buah

World Mangosteen Fiesta (WMF) digelar pertama kali di Bali. Berdasarkan data BPS yang diolah Beritagar.id, manggis termasuk 10 komoditas ekspor andalan.

Gede Suparman tak lagi hanya memegang sabit dan cangkul seperti petani umumnya. Pada Sabtu (23/3/2019) kemarin, petani dari Desa Sekumpul, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali itu juga memegang pena, buku, dan pisau pemotong (cutter).

Suparman mengiris kulit buah manggis di bagian tengahnya dari ujung ke ujung. Kulit kecoklatan itu pun terkelupas separuhnya. Terlihat buah manggis berwarna putih salju di dalamnya. Namun, ada bercak-bercak kuning pula di bagian ujungnya.

"Ini contoh buah manggis yang kurang bagus. Putihnya tidak merata. Biasanya yang begini karena kurang kalsium dan kalium," Suparman menerangkan layaknya ahli buah.

Pagi itu, selama sekitar satu jam Suparman memang melakukan pekerjaan, menjadi salah satu juri lomba manggis di Festival Manggis. Festival si Ratu Buah ini diadakan di Galungan, desa tetangganya. Juri lain dari Dinas Pertanian Provinsi Bali dan Kabupaten Buleleng.

Sebagai juri, Suparman menilai empat hal untuk menentukan kualitas buah manggis: penampilan luar, penampilan dalam, sponge, dan rasa. Pada buah manggis dengan bercak kuning, misalnya, dia memberi nilai 6 karena menurutnya kurang bagus.

"Buah manggis yang bagus akan terlihat putih bersih semua sponge-nya. Teksturnya juga lembut," kata Suparman.

Juri lain, I Gusti Ayu Maya Kurnia dari Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng menambahkan, ciri-ciri manggis yang bagus adalah kulit luarnya halus mulus. Tidak boleh ada bekas-bekas getah atau luka.

Jumlah dan tekstur sponge, daging putih lembut manggis, juga menentukan kualitas. Makin banyak makin bagus. "Apalagi jika teksturnya lembut dan rasanya manis. Itu nilainya tinggi," ujar Maya.

Lomba Manggis diikuti 39 peserta dari kelompok petani seluruh Bali. Tidak hanya Buleleng, tetapi juga Karangasem, Tabanan, dan Bangli. Mereka turut meramaikan stan-stan Festival Manggis dengan memamerkan aneka produk pertanian dari bibit hingga produk olahan manggis, seperti dodol dan wine.

Peserta World Mangosteen Fiesta (WMF) yang digelar pertama kali di Bali, Sabtu (23/3/2019).
Peserta World Mangosteen Fiesta (WMF) yang digelar pertama kali di Bali, Sabtu (23/3/2019). | Anton Muhajir /Beritagar

Festival manggis bertajuk World Mangosteen Fiesta (WMF) digelar pertama kali di Bali. Lokasinya di Desa Galungan, berjarak sekitar 75 kilometer dari Denpasar.

Kawasan di sekitar desa ini merupakan pusat penghasil manggis dan durian. Lokasinya berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Dari Denpasar ke lokasi ini perlu waktu sekitar 2,5 jam dengan jalan berkelok-kelok naik turun di antara pohon-pohon komoditas pertanian umur panjang, seperti durian, cengkeh, kopi, dan manggis.

Secara turun-temurun, petani di kawasan itu membudidayakan buah-buahan lokal. Selain durian dan manggis juga ada duku dan pisang.

Anggota Kelompok Tani Mekarsari Desa Puncak Sari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Nyoman Bakti mengatakan, setiap pohon menghasilkan sekitar 40 kilogram. Dua tahun terakhir, Bakti melanjutkan, petani mulai mendapatkan harga lebih layak.

Secara umum ada empat tingkat kualitas. Kualitas terbaik khusus ekspor, harganya Rp30 ribu per kilogram. Kualitas nomor dua seharga Rp20 ribu dan kualitas tiga harganya Rp16 ribu. Sisanya kualitas paling rendah yang dijual di pasar-pasar lokal. Harganya hanya Rp6.000 per kilogram.

"Sekarang kami mendapatkan harga yang lebih baik. Penjualannya pun lebih mudah karena pembeli yang datang ke desa-desa kami. Kalau dulu kami yang menjual ke kota. Itupun harganya murah," kata Bakti.

Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng Made Sumiarta mengatakan membaiknya bisnis manggis menjadi latar belakang pelaksanaan WMF. Festival ini tak hanya untuk mengenalkan potensi buah-buahan setempat, tetapi juga mempertemukan petani dengan para pengekspor buah.

"Kami juga ingin mengenalkan Desa Galungan dan sekitarnya sebagai sentra produksi manggis maupun tujuan pariwisata," kata Sumiarta.

Selama dua hari pelaksanaan WMF, panitia menggelar aneka kegiatan di antaranya lomba gebogan --bahan persembahan umat Hindu Bali saat sembahyang, terbuat dari buah manggis.

Pada umumnya umat Hindu Bali mempersembahkan buah-buahan impor di gebogan sebagai bentuk penghargaan tertinggi saat sembahyang. Dalam WMF, mereka mengganti semua buah di gebogan seperti apel dan jeruk impor itu dengan manggis semuanya.

WMF juga menggelar sarasehan pengolahan manggis dan cerdas-cermat tentang manggis untuk kelompok tani. Panitia bahkan menyediakan buah-buahan manggis sepanjang pelaksanaan. Pengunjung bebas dan gratis menyantapnya.

Festival Manggis diadakan di lapangan desa. Puluhan stan pameran memenuhi lapangan dengan aneka produk buah-buahan segar dan olahannya, termasuk Nyoman Bakti dan teman-temannya. "Ini peluang bagus untuk mengangkat citra buah manggis yang selama ini kurang diperhatikan," ujar Bakti.

Festival manggis merupakan upaya mengangkat potensi hasil perkebunan di Buleleng. Wilayah di bagian utara Bali ini, terkenal juga sebagai pusat produksi buah anggur dan kopi.

Buah manggis Buleleng, kini mulai masuk komoditas ekspor di China dan negara lain. "Tinggal sekarang bagaimana kita melakukan quality control. Hasil akhirnya untuk mengurangi manggis yang tidak berkualitas," kata Bupati Buleleng, Agus Suradnyana.

Agus mengatakan buah durian dan manggis merupakan buah sejoli yang berpasangan. Jika dimakan bersamaan, keduanya saling melengkapi. Kalau hanya salah satu bisa bikin sakit, tetapi keduanya bikin sehat.

"Durian adalah king of fruit, sedangkan manggis adalah queen of fruit. Sehingga nanti habis makan durian harus makan manggis juga," kata Agus.

Menurut Agus, Festival Manggis sejalan dengan program Gubernur Bali I Wayan Koster yang akan mengutamakan buah-buahan lokal dalam konsumsi utama di Bali baik bagi turis ataupun warga lokal.

Koster telah membuat Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan, dan Industri Lokal Bali. Salah satu aturan dalam Pergub yang disahkan akhir tahun lalu ini mengatakan bahwa hotel dan restoran di Bali wajib menggunakan minimal 60 persen produk lokal.

"Harga pembelian juga minimum 20 persen di atas biaya produksi dan harus dibayar cash. Kalau tidak mau bayar cash, nanti kami yang menangani lewat Perusda," kata Koster yang juga hadir di Festival Manggis.

Menurut Koster, kebijakan itu sebagai upaya menjawab persoalan pemasaran produk pertanian yang selama puluhan tahun terjadi di Bali. "Kebijakan kita belum bisa menangani masalah dengan tuntas. Maka, Peraturan Gubernur ini untuk melaksanakan mulai dari hulu sampai hilir," kata Koster.

Upaya peningkatan lain, lanjut Koster, adalah dengan meningkatkan nilai tambah produk pertanian melalui industri pengolahan. "Industrinya harus skala rumah tangga, agar tidak tergantung pada investor dari mana-mana. Kami akan fasilitasi permodalan melalui Perusda atau program CSR-CSR perusahaan," ujarnya.

Koster menambahkan Festival Manggis merupakan program peningkatan kualitas produk pertanian di hilir. Selama ini program pertanian lebih banyak di sisi hulu, seperti subsidi bibit dan pupuk maupun penyediaan lahan.

Indonesia merupakan negara eksportir manggis dunia. Indonesia menempati peringkat ke-5 dunia sebagai negara produsen manggis, setelah India, China, Kenya, dan Thailand.

Sekitar 25 persen produksi manggis diekspor ke beberapa negara seperti ke China, Hongkong, Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia, Arab Saudi, Kuwait, Oman, Qatar, Amerika, Australia, Prancis, Belanda dan lainnya.

Melansir data BPS, volume ekspor manggis pada 2018 sebesar 38.830 ton, naik 324 persen dibandingkan 2017 yang hanya 9.167 ton. Sedangkan nilai ekspor 2018 tersebut mencapai Rp474 miliar naik 778 persen dibandingkan 2017 Rp54 miliar.

Di Bali pun, manggis saat ini termasuk buah favorit untuk diekspor. Pada Kamis (21/3/2019), Gubernur Bali melepaskan ekspor komoditas pertanian Bali ke beberapa negara seperti termasuk China, Timor Leste, Thailand, dan Jerman.

Menurut data dari Kementerian Pertanian selama tahun 2017 Bali menghasilkan buah manggis sebanyak 1.662 ton. Secara keseluruhan, pada tahun yang sama Indonesia memproduksi 161.758 ton buah manggis.

Meskipun potensi ekspor sangat besar, buah manggis dari Bali yang layak ekspor hanya sekitar 30 persen. Pada musim panen, jumlah ekspor manggis dari Bali ke China mencapai 80 ton per hari dari 50 ton pada musim biasa.

Menurut Ketua Program Pembangunan Komunitas Universitas Udayanan (UCDP) I Made Supartha Utama, peningkatan ekspor manggis perlu didukung dengan penggunaan teknologi pengolahan pascapanen.

Supartha yang juga Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana ini memberi contoh mulai dari pendaftaran lahan, teknologi penyimpanan dan pengepakan (packing house).

Sejak keran ekspor dibuka kembali oleh China pada Desember 2017, menurut Supartha, semangat petani dan eksportir untuk mengekspor buah manggis ke negeri Tirai Bambu itu sangat tinggi. "Cuma (semangat itu) belum diimbangi kemampuan untuk memenuhi kebutuhan ekspor," kata Supartha.

Pembeli China, misalnya, menuntut agar kebun dan rumah pengepakan harus teregistrasi, sementara di Bali belum banyak kebunnya teregistrasi. Petani masih susah mengelola urusan administrasi seperti registrasi.

Menurut Supartha, eksportir di Bali juga harus menempatkan diri sebagai pelaku ekobisnis, tak hanya sebagai pengusaha. "Harus memerhatikan aspek sosial juga tidak hanya bisnis. Membantu petani bagaimana mendapatkan nilai tambah tanpa merusak lingkungan," kata Supartha.

Kepedulian itu dilakukan, misalnya, dengan membantu petani dalam mengurus registrasi atau menyediakan teknologi penyimpanan.

Dalam hal penyimpanan, buah manggis yang diekspor harus memenuhi standar tertentu. Misalnya, warna harus merah keunguan karena masa simpannya akan lebih panjang.

Kalau warnanya lebih hitam, masa simpannya lebih pendek. Untuk itu, Supartha menegaskan pentingnya teknologi penyimpanan agar masa simpan manggis lebih lama untuk diekspor.

Manggis dalam perjudian hingga kesehatan.
Manggis dalam perjudian hingga kesehatan. | Antyo /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR