Sudirman, namanya diabadikan untuk kejuaraan dunia beregu campuran.
Sudirman, namanya diabadikan untuk kejuaraan dunia beregu campuran. Repro buku Sejarah Bulu Tangkis Indonesia / PBSI

Mengenang sosok di balik Piala Sudirman

Sikap Sudirman pada era 1970-an menjadi titik penting bersatunya dua wadah bulu tangkis dunia. Tidak terhitung jasanya bagi Indonesia. Kini ia mulai terlupakan.

"Jarang mas orang yang ziarah." Begitu Yusuf berkata sembari menunjuk salah satu makam di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Ya, meski rapi, tetapi kuburan tersebut terlihat jarang ditengok.

Berkelir abu-abu, pusara itu terlihat kusam. Tanahnya pun amblas beberapa sentimeter. "Saya sudah menghubungi keluarganya, tetapi belum ada yang datang," kata Yusuf, salah satu pengurus TPU Tanah Kusir, kepada Beritagar, Jumat (12/5).

Meski terlihat sedikit menyedihkan, namun sosok yang terbaring di sana bukan orang sembarang. Bahkan mungkin, bisa jadi jenazah yang bersemayam tersebut adalah salah satu sosok yang cukup dikenal masyarakat Indonesia maupun dunia.

"DRS. SUDIRMAN Bin SUMONO dan Hj. MARIANI Binti MA'ARUF" tertulis di nisan makam.

Apakah anda tahu kejuaraan bulu tangkis Piala Sudirman? Ya, gundukan tanah yang ditunjuk Yusuf itu adalah makam Sudirman, tokoh yang namanya dijadikan titel kejuaraan dunia bulu tangkis beregu campuran, yang tahun ini akan berlangsung di Gold Coast, Australia, 21-28 Mei.

Siapakah sebenarnya Sudirman?

Masa Awal Sudirman

Sudirman lahir di Pemantang Siantar, Sumatera Utara, pada 19 April 1922. Ia tumbuh di tengah keluarga yang gemar bulu tangkis. Sudirman kecil sudah tergila-gila olah raga tepok bulu sedari bocah.

Untuk mengakomodir hobinya itu, sang Ayah, M. Soemono, membuat lapangan kecil di halaman rumahnya. Di tempat itulah Sudirman mulai bermain bulu tangkis.

Ketika duduk di bangku H.I.S. (saat ini SD), Sudirman sudah berulang kali menjuarai berbagai kejuaraan di kota kelahirannya. Hal yang sama terjadi di AMS (setingkat SMU saat ini), kala dia di Yogyakarta.

Saat Jepang menduduki Indonesia, suami Mariani itu hijrah ke Jakarta. Di kota ini, ia kembali mengulangi kesuksesan di bulu tangkis dengan menjuarai Kejuaraan Meiji Setau.

Selain piawai di lapangan, Sudirman juga ahli di organisasi. Ia mendirikan klub Bakti di daerah Petojo dekade 1940-an. Selain itu, ia juga merupakan pengurus organisasi bulu tangkis se-Djakarta. Pada 15 Juli 1950, ia dipercaya menjadi Ketua Persatuan Bulutangkis Djakarta (Perabad).

Jejak Nasional

Setahun setelah menjabat sebagai Ketua Perabad, Sudirman bersama tokoh bulu tangkis saat itu: D. Rameli Rikin, E. Soemantri, Liem Soei Liong, dan Tong Seng Tiang, berinisiatif mendirikan organisasi bulu tangkis berskala international.

Gagasan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai daerah. Pada 5 Mei 1951, para aktivis sepakat mendirikan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia.

Hanya setahun menjabat sebagai Wakil Ketua Umum, pada 1952 Sudirman naik menjadi Ketua Umum melalui kongres PBSI ke 2 pada 1953. Sesuai amanat kongres, PBSI harus masuk menjadi anggota IBF, federasi bulu tangkis internasional saat itu.

Setahun berselang, amanat itu ditunaikan. Indonesia berhasil masuk IBF dan mendaftarkan diri untuk ikut Piala Thomas pada 1957. Inilah pertama kali Indonesia ambil bagian di kejuaraan bulu tangkis beregu campuran tertua itu.

Sayang, Karena baru saja dibentuk, PBSI tak memiliki dana untuk mengirim para atlet berlaga di ajang Piala Thomas. Melihat kondisi itu, Sudirman bergerak cepat.

Tanpa segan-segan ia menjual mobil kesayangannya, Chevrolet, untuk membiayai tim berlaga di Piala Thomas. Pengorbanannya tak sia-sia.

Tim Indonesia berjaya dengan memukul Malaya (sekarang Malaysia) di putaran final 1958. Empat tahun berselang, Indonesia juga berhasil mempertahankan Piala Thomas pada 1961 di Jakarta dan 1964 di Tokyo.

Pada Kongres PBSI 1963, Sudirman menyatakan mundur dari dunia bulu tangkis. Hal ini mengejutkan banyak pihak. "Dia ingin memusatkan diri ke dunia bisnis dan juga memberi kesempatan bagi generasi penerusnya," tulis buku Sejarah Bulutangkis Indonesia.

Tapi toh nyatanya itu cuma sekejap. Hanya empat tahun (1963-1967) Sudirman berhasil "vakum" di dunia bulu tangkis. Dalam Kongres Purwekerto 1967, ia kembali menjadi Ketum periode 1967-1971.

Jabatan tersebut kembali berlanjut hingga 1981. Artinya, kiprah Sudirman sebagai pucuk PBSI berlangsung hingga tiga dasawarsa.

Di periode ke-"dua" inilah, masa keemasan Indonesia di ajang bulu tangkis terjadi. Berbagai prestasi berhasil Indonesia bawa. Di antaranya adalah membawa Rudy Hartono menjuarai All England 8 kali rentang 1968-1976, dan mengawinkan Thomas-Uber pada 1975.

Arak-arakan Piala Thomas pada tahun 1970.
Arak-arakan Piala Thomas pada tahun 1970. | Repro buku Sejarah Bulutangkis Indonesia /PB PBSI

"Keberhasilan itu berkat bantuan dan dukungan rekan seperjuangan serta seluruh insan bulu tangkis Indonesia," kata Sudirman seperti yang disadur dari buku Sejarah Bulutangkis Indonesia.

Menyatukan IBF dan WBF

Dekade 1970-an, dunia bulu tangkis internasional pecah. Hal ini dikarenakan keinginan Tiongkok untuk masuk IBF disertai satu syarat: Taiwan harus keluar.

Apa pasal? Menurut catatan buku Sejarah Bulutangkis Indonesia, Tiongkok tidak ingin ada negara lain yang menggunakan nama China di keanggotaan IBF, selain karena masalah bilateral.

Maklum, kala itu Taiwan menggunakan nama Republic of China sebagai keanggotaan. Sedangkan nama resmi Tiongkok adalah People's Republic of China. Karuan, permintaan itu ditolak negara anggota.

Putusan itu tak membuat Negeri Tirai Bambu surut. Mereka justru membuat wadah tandingan yakni Asian Badminton Confederation, cikal bakal World Badminton Federation (WBF).

Kampanye yang digalakkan Tiongkok untuk menjaring negara lain masuk ke WBF adalah menyebut IBF sebagai representasi blok barat. Sebagai catatan, kala itu suasana dunia tengah diselimuti perang dingin blok barat dan timur.

Kehadiran WBF ini menjadi dilema bagi Indonesia. Bila ikut-ikutan keluar IBF, Indonesia tak bisa mengikuti kejuaraan internasional, seperti Thomas Cup atau All England. Tapi, bila ikut IBF, Indonesia terkucilkan di kejuaraan kawasan, seperti Asian Games.

Melihat hal itu, sebagai Ketum PBSI, Sudirman tak tinggal diam. Bersama Suharso Suhandinata, dia membuat pertemuan di Bandung, Jawa Barat dengan 11 tokoh utama di kedua wadah tersebut.

Setelah pertemuan tersebut, para tokoh bulu tangkis pun mulai melakukan pertemuan rutin. Salah satu yang terpenting terjadi di Kopenhagen, Denmark, untuk menentukan nilai suara tiap anggota.

Tiongkok dengan WBF-nya ingin tiap anggota punya nilai yang sama. Sedangkan IBF ingin negara tradisi bulu tangkis panjang punya suara yang lebih besar, yakni 6.

Melihat alotnya kondisi itu, Indonesia memberikan jalan keluar, yakni mendistribusikan suara menjadi empat. Begitu dituturkan Suharso dalam buku berjudul "Suharso Suhandinata: Diplomat Bulu Tangkis".

Ide tersebut diterima semua pihak dengan beberapa syarat, yakni menambah posisi Wakil Presiden dari 6 menjadi 7 dan anggota council (dewan) dari 10 menjadi 12. Terhadap Taiwan, namanya ditambahi Chinese Taipei.

Sejak saat itu, tak ada lagi dua wadah bulu tangkis internasional. Unifikasi kedua lembaga itu dilakukan di Keio Plaza Hotel, Tokyo, Jepang. Tepatnya pada Final PIala Uber ke-9, 1981.

WBF masuk ke dalam IBF, yang kemudian pada 2006 berubah nama menjadi Badminton World Federation (BWF).

Dengan bersatunya dua lembaga tersebut, artinya olah raga bulu tangkis diakui Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan dapat bertanding di ajang Olimpiade 1992. Di tahun itu Indonesia menorehkan sejarah dengan merebut dua medali emas pertama di Olimpiade dari Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma.

Atas jasanya tersebut, Sudirman ditawari menjadi salah satu ketua di IBF. Namun ia menolak.

Di mata legenda Indonesia

Kesan begitu mendalam dirasakan Christian Hadinata terhadap sosok Sudirman. "Dia orangnya sangat tegas," kata legenda ganda putra Indonesia itu kepada Beritagar.id, Kamis (11/5).

Sebagai pemain yang telah malang melintang di dunia bulu tangkis Indonesia sejak 1970-an, Christian kerap kali bersinggungan dengan Sudirman.

Menurut tandem Ade Chandra tersebut, Sudirman selalu "memaksa" tim Indonesia untuk ikut berbagai kejuaraan internasional meski PBSI tidak ada uang. Cara yang dilakukan Sudirman saat itu adalah memilih pemain-pemainnya melalui kompetisi internal.

"Jadi, hanya beberapa orang saja yang berangkat. Kalau dibandingkan tim Eropa, jumlah kita kalah jauh," katanya sembari tertawa. Tapi toh nyatanya kengototan Sudirman itu terbukti benar.

Era 1970 hingga 1980an, bisa dibilang menjadi salah satu masa keemasan Indonesia di ajang bulu tangkis. Hampir semua trofi kejuaraan disikat Indonesia. Thomas, Uber hingga All England pada periode 1970an, mayoritas direbut pebulu tangkis Indonesia.

Meski "egois", namun Sudirman memiliki sisi "kebapakan" yang tak dapat dilupakan Chirstian. Kejadiannya berlangsung pada 1980.

Saat itu, ia tengah melakukan persiapan untuk mengikuti Kejuaraan Dunia di Jakarta. Di tengah latihan, ia mendapat kabar buruk, istrinya jatuh saat tengah hamil 9 bulan.

Kejadian itu membuat ia menghadap Sudirman dan meminta undur diri dari Kejuaraan Dunia. Sudirman pun memberikan jalan keluar; ia dan sang istri disediakan mobil beserta supir sepanjang waktu.

"Jadi betul, sopir dan mobil stand by saat saya sedang bertanding. Sifat kebapakannya itu yang tak bisa saya lupakan," kata peraih tiga gelar juara All England itu.

Memasuki usia 60 tahun, kondisi Sudirman tak lagi sesehat sebelumnya. Pada 1981, ia pun tidak lagi menjadi pengurus PBSI. Lima tahun kemudian, karena penyakitnya (darah tinggi dan gagal ginjal), ia pun menghembuskan nafas terakhir.

Adalah Suharso sosok yang paling sibuk kala itu. "Pak Sudirman, Pak Suharso dan Pak Titus (Kurniadi) itu trio yang tak dapat dipisahkan," kata Christian.

Ya, Suharso-lah orang yang woro-woro ke semua tokoh bulu tangkis dunia mengenai berpulangnya Sudirman.

Suharso juga sosok yang mengupayakan Sudirman menjadi nama kejuaraan beregu campuran. Meski dengan perjuangan yang sulit, usahanya tersebut berhasil diwujudkan pada 1988.

Sejak 1989, Piala Sudirman pun menjadi kejuaraan beregu campuran yang kini saban dua tahun dilaksanakan BWF, serupa dengan Thomas dan Uber Cup.

Sayang, sejak lebih dari dua dekade, Indonesia baru sekali menjadi juara Piala Sudirman, yakni pada turnamen perdana tahun 1989 di Jakarta.

Kini, pusaranya menjadi penanda pernah hadirnya salah satu anak bangsa terbaik yang mengangkat nama Indonesia di tingkat dunia.

Satu yang Yusuf harapkan adalah perhatian dari banyak kalangan terhadap makam tersebut. "Sekarang, sudah jarang atlet yang berkunjung ke sini. Sayang sekali," pungkas sang penjaga makam itu dengan nada pelan.

Nisan makam Sudirman beserta istri beliau.
Nisan makam Sudirman beserta istri beliau. | Andya Dhyaksa /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR