Ilustrasi tentang ikhtiar sejumlah sineas menampilkan beragam wajah Indonesia dalam medium film
Ilustrasi tentang ikhtiar sejumlah sineas menampilkan beragam wajah Indonesia dalam medium film Beritagar.id / Salni Setyadi

Menghadirkan wajah Indonesia dalam bingkai sinema

Para sineas di luar Jawa berlomba menghasilkan film panjang dengan artikulasi masing-masing yang khas. Pola distribusi tiap daerah juga beragam.

Melihat wajah Indonesia lewat medium film memang tidak cukup sekadar direpresentasikan dari sudut pandang Jakarta.

Sebab Indonesia yang terbentang dari Sabang hingga Merauke punya beragam suku, budaya, dan bahasa daerah. Pun tingkah dan laku yang khas.

Fakta itu seharusnya bisa dimanfaatkan sineas atau rumah produksi sebagai kelebihan. Menghadirkan ragam sajian dengan pendekatan regional yang spesifik akan membuat penonton punya lebih banyak pilihan.

Semakin banyak produksi film yang mengangkat daerah lain, bisa mengurangi anggapan bahwa Indonesia hanya Jakarta. Hal tersebut bukannya tiada menyadarkan sineas.

Produser Mira Lesmana menyebutkan bahwa keberagaman harus dirayakan di sinema Indonesia.

"Itu sebabnya kami senang bikin film yang mengangkat berbagai daerah. Jadi tidak terpaku pada satu tempat," ujarnya (September 2016).

Beberapa ikhtiar Mira bersama Miles Films dalam rangka merayakan keberagaman film Indonesia tersaji dalam Atambua 39 Celsius (2012), Sokola Rimba (2013), dan Athirah (2016).

Perihal bentuk penyajiannya pop atau tidak, semua tergantung sineas masing-masing. "Tidak menjadi masalah," sambung Mira.

Sejumlah sineas melalui komunitas film di daerah masing-masing juga melakukan hal serupa.

Bikin film yang mencerminan kejadian yang biasa dialami orang-orang tempat film itu berasal. Mulai dari plot, karakter tokoh, hingga penyelesaian masalah. Tidak mengherankan jika penonton seolah melakukan identifikasi diri mereka.

Hanya saja kebanyakan film tersebut berdurasi pendek (kurang dari 40 menit). Adapun prinsip pembuatannya mengusung semangat independen tanpa melibatkan investor yang menggelontorkan dana besar.

Alhasil film-film panjang produksi regional dengan konten yang mengedepankan khazanah kearifan lokal belum terlalu melimpah dan bisa dinikmati khalayak.

Dalil yang paling sering menjadi kendala perihal ketersediaan dana.

Film Lowanga produksi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Boalemo, Gorontalo, bisa menjadi contoh.

Meski telah menyelesaikan proses syuting sejak pertengahan 2017, film itu masih membutuhkan dana sekira Rp300 juta untuk ongkos pascaproduksi.

Komunitas Film Indie Pesawaran dari Way Lima, Lampung, juga terbentur modal saat hendak memproduksi Mustofa: Labuhan Cinta Bersyarat. Mereka jadi korban penipuan sehingga proses syuting fase awal yang semula berjalan lancar seketika mandek.

Upaya penggalangan dana melalui situs web kitabisa.com hanya menghasilkan sekitar Rp500 ribu dari target Rp50 juta.

Beruntung bantuan kemudian datang dari banyak pihak. Salah satunya Warna Pictures asal Jakarta yang meminjamkan sejumlah peralatan syuting secara gratis. Kelar syuting, tim masih harus mencari dana untuk kepentingan promosi film.

Andi Syahwal Mattuju (memegang toa) saat berada di tengah set film Kaili: Karena Aku Ingin Kembali
Andi Syahwal Mattuju (memegang toa) saat berada di tengah set film Kaili: Karena Aku Ingin Kembali | Mattuju Pictures

Dari beberapa film regional yang akhirnya sukses menembus jaringan bioskop nasional adalah Uang Panai'.

Awalnya diprediksi hanya akan berbicara terbatas di wilayah Makassar, ternyata peminatnya melimpah sehingga ditayangkan hingga ke luar Pulau Sulawesi. Penontonnya sebagian besar suku Bugis-Makassar yang berdiaspora ke daerah lain.

Berdasarkan catatan filmindonesia.or.id, tiket menonton film arahan Asril Sani dan Halim Gani Safia itu terjual 521.028 lembar.

Menyitir Kompas cetak edisi 7 Maret 2017, anggaran pembuatan film Uang Panai' sekitar Rp500 juta. Sementara pendapatannya mencapai Rp7 miliar, setelah dipotong pajak.

Sejauh ini sejumlah catatan menyebut Uang Panai' sebagai film daerah pertama yang berhasil menembus box office nasional. Dalam acara Indonesian Box Office Movie Awards 2017, film tersebut ditahbiskan sebagai "Film Daerah Terlaris Sepanjang Masa".

Pun dalam ajang penghargaan Piala Maya 2016, film ini mendapat gelar "Film Daerah Terpilih".

Pencapaian tersebut memacu optimisme di kalangan pembuat film.

"Jika sebelumnya sineas banyak mengandalkan adaptasi novel sebagai upaya melariskan film, maka tren ke depan sepertinya akan makin banyak sineas, terutama sineas lokal, yang menggarap tema-tema yang dekat dengan lingkungan mereka sendiri," tutur produser dan sutradara Ichwan Persada kepada JawaPos.com (29/6).

Ichwan, kelahiran Makassar 1978, sedang tidak membual. Khusus di Makassar, telah antre beberapa film panjang yang telah tuntas dan akan diproduksi.

Ada Suhu Beku besutan Rusmin Nuryadin yang siap tayang 28 September 2017, Cinta Sama dengan Cindolo Na Tape arahan Andi Burhamzah, dan Pamanca garapan Rapindo Galesong Films.

PT Yuzal Production juga sedang memproduksi film Cenning Rara, semacam mantra pemikat lawan jenis yang terkenal dalam khazanah kebudayaan Bugis-Makassar.

Ichwan tak mau kalah. Menurut rencana, ia akan meluncurkan Silariang: Cinta yang (Tak) Direstui dengan Bisma Karisma dan Andania Suri sebagai pemeran utama pada penghujung 2017. Ini film yang berbeda dengan Silariang: Menggapai Keabadian Cinta (tayang 2/3).

Selain itu, Ichwan akan memproduksi film komedi bertajuk Coto Daeng Ucu mulai awal 2018.

Sebelumnya dua film produksi Makassar juga telah tayang tahun ini, yaitu Parakang: Manusia Jadi-jadian (18/5) dan The Real Parakang: Warisan Berdarah (24/8).

Itu baru dari Makassar. Gairah dari sineas di kota-kota lain juga sama bergelora. Menurut Riri Riza, sineas asal Makassar, daerah lain juga sangat berpotensi menciptakan karya film populer. Yang dibutuhkan hanya kemauan, ide brilian atau inovasi, kreativitas, dan kerja keras.

Kemauan itu juga yang dimiliki sineas-sineas asal Sumatera Utara (Sumut) dan Banda Aceh. Walaupun film-film produksi mereka tidak menembus layar bioskop, bukan berarti produktivitas dalam menghasilkan karya jadi melempem.

Distribusi film-film panjang di sana yang keseluruhan menggunakan dialog bahasa daerah beredar luas di lapak pasar-pasar tradisional.

Sumut merupakan daerah asal sineas Bachtiar Siagian, peraih Piala Citra 1960 lewat film Turang. Di daerah ini tercatat pernah menghasilkan film-film berbagai varian bahasa daerah, mulai dari Batak (film Berlinangan Air Mata), Karo (Bahing Jadi Juara), hingga Simalungun (Inang Pangguruan).

Perfilman di Aceh yang notabene belum punya gedung bioskop lagi sejak gelombang tsunami menghantam pada 2004 tidak kalah semarak.

Kebanyakan film yang dihasilkan bercerita tentang problem kehidupan sehari-hari masyarakat di sana dengan kemasan komedi.

Sebutlah misalnya Meudabel Cinta, Kaya Meudadak, Ka Meu Asoe Loem, dan Eumpang Breuh yang saking larisnya hingga dibuatkan beberapa seri. Secara teknis, film-film tersebut memang tak ubahnya produksi sinetron di televisi.

Kompleks Masjid Raya Baiturrahman yang ramai pengunjung adalah salah satu titik penjualan kepingan-kepingan VCD/DVD film produksi Aceh itu. Kami sempat membeli satu keping seri Meudabel Cinta episode Aseulang Bari. Banderol setiap keping Rp20 ribu.

Dari keterangan Azhari Meugit, salah satu penggagas Aceh Film Festival, yang kami temui di kedai kopi Black Jack, Jalan Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh (14/8), banyaknya jumlah film fiksi panjang bergenre komedi di Aceh karena merespons permintaan pasar.

"Saat masih era konflik antara GAM dan TNI di Aceh pada awal 2000-an, film-film komedi yang diproduksi masih punya muatan kritis. Kalau yang sekarang marak beredar murni untuk hiburan dan bisnis," kata sutradara film dokumenter Garamku Tak Asin Lagi (Finalis Eagle Awards 2011) ini sembari sesekali menyesap kopi sanger.

Ditambahkan Ayi, sapaan Azhari, saking digilainya film-film komedi tersebut oleh masyarakat, satu judul film bisa menembus angka penjualan 100 ribu keping dalam sehari.

Produksi film di Sambas, Kalimantan Barat, juga mengaplikasikan pola distribusi serupa. Ribuan keping judul film dalam format VCD dan DVD bisa ludes terjual di pasar-pasar tradisional. Contohnya Tullah (2015) dan Pedaraan Leh Butte (2017).

Seorang pedagang di depan Masjid Raya Baiturrahman memperlihatkan beberapa keping DVD film panjang produksi Aceh. Setiap keping seharga Rp20 ribu
Seorang pedagang di depan Masjid Raya Baiturrahman memperlihatkan beberapa keping DVD film panjang produksi Aceh. Setiap keping seharga Rp20 ribu | Andi Baso Djaya /Beritagar.id

Pada Sabtu (12/8) sore yang bising oleh lalu-lalang kendaraan bercampur debu jalanan di kawasan Kwitang Raya, Jakarta Pusat, Beritagar.id menemui Adrian Jonathan Pasaribu. Ketua Apresiasi, Literasi, dan Pengarsipan di Badan Perfilman Indonesia periode 2017-2020 itu sedang asyik menempati salah satu sudut ruangan di Kwitang14.

Tempat yang belum lagi genap setahun ini merupakan ruang baca dan belajar bersama tentang film, budaya visual, serta bidang-bidang yang dipengaruhi dan memengaruhinya.

Mulai maraknya film-film panjang daerah yang tayang di bioskop menurutnya bukan semata terpicu kesuksesan Uang Panai' (2016) dari Makassar, Sulawesi Selatan.

"Praktik produksi film panjang di masing-masing daerah sebenarnya sudah berlangsung sebelum Uang Panai' muncul. Hanya saja dalam skala yang kecil dan tidak konsisten. Tahun ini mereka bikin, tahun depannya lagi tidak," ungkap Adrian.

Walaupun demikian, pencapaian Uang Panai' tetap saja spesial karena berhasil membuka mata banyak pihak.

"Ternyata film dengan konten daerah yang kental juga bisa mengecap sukses komersial. Film itu memberikan petunjuk vital bahwa film dari kawan-kawan komunitas punya nilai ekonomi yang selama ini tidak pernah kita ukur," ujar Adrian.

Hanya saja Adrian kurang setuju dengan pelabelan "film daerah" atau "film lokal" untuk menyebut film-film panjang produksi sineas dari luar Jakarta atau Jawa.

"Soalnya itu istilah dari orang pusat membahasakan perkembangan di luar wilayahnya. Saya lebih mengamini istilah film berdasarkan mediumnya, film pendek atau panjang," tegas Adrian.

Fenomena maraknya film-film panjang yang berasal dari penjuru daerah merupakan buntut dari semakin menyebarnya pusat produksi dan pembuat film. Umumnya mereka dari kalangan pelajar, mahasiswa, seniman teater, atau pengusaha yang menghimpun diri dalam komunitas film.

Dicontohkan Adrian, sineas Makassar sebenarnya telah meloloskan beberapa film panjang mereka untuk ditayangkan bioskop Cinema 21 di kawasan tersebut.

Bermula kehadiran Bombe' produksi bareng Art2tonic dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Makassar pada 2014.

Dua tahun kemudian menyusul sekuelnya, Dumba'-Dumba'. Pada 2015, Art2tonic juga sempat memproduksi film horor yang diangkat dari kisah urban legend masyarakat Makassar bertajuk Sumiati.

Jika ingin mundur lebih jauh. Makassar, atau Sulawesi Selatan (Sulsel) secara lebih luas, sejatinya telah punya sejarah lumayan panjang dalam peta produksi film di Tanah Air.

Kurun 1963-1990, tercatat 11 film lahir di Makassar. Enam film di antaranya diproduksi oleh perusahaan film yang berdomisili di Makassar. Sementara empat film hasil kolaborasi perusahaan film asal Jawa dengan Kodam XIV Hasanuddin dan pemerintah Provinsi Sulsel.

Beberapa film itu, antara lain Pradjurit Teladan (1959), Teror di Sulawesi Selatan (1964), Di Udjung Badik (1971), Senja di Pantai Losari (1975), dan Jangan Renggut Cintaku (1990).

Dikisahkan Riri Riza (46), sutradara Petualangan Sherina (2000) dan Ada Apa dengan Cinta? 2 (2016), sebelum tahun 1998 sudah mulai banyak film Bugis-Makassar bergerilya melakukan pemutaran di gedung kesenian atau sekolah-sekolah di Makassar menggunakan tiket tanda masuk.

"Filmnya masih seperti sinetron panjang dengan teknik sinematografi yang masih terbatas, tapi penggemarnya banyak. Satu film bisa diputar tiga kali sehari," kenang Riri dilansir harian Kompas (5/3).

Medio 2008, sekitar 20 komunitas film di wilayah tersebut sepakat membentuk Forum Film (For Film) Makassar. Setahun kemudian mereka menyelenggarakan "Antologi Film Pendek untuk Makassar" yang menghasilkan enam film pendek (empat fiksi dan dua dokumenter).

For Film kemudian melahirkan Aliguka pada 2010 yang diklaim sebagai film panjang pertama yang seluruh pengerjaannya dilakukan oleh anak-anak Makassar.

Seturut kehadiran Institut Kesenian Makassar (IKM) pada 2008 yang membuka program studi Film dan Televisi, juga Makassar SEAscreen Academy yang rutin berlangsung sejak 2012, sineas-sineas Makassar mulai mengalami kemajuan dalam aspek teknis.

Rumah produksi tumbuh bak cendawan saat musim hujan. Banyaknya film yang diproduksi berbanding lurus dengan antusiasme warga dalam menonton.

Seolah ada semacam kesepakatan tak tertulis dari filmmaker dan masyarakat untuk mendorong industri film di Makassar semakin bermekaran.

Sese Lawing (kanan), aktor asal Makassar, berkesempatan beradu peran dengan Dewi Irawan berkat film Silariang: Mengejar Cinta Abadi
Sese Lawing (kanan), aktor asal Makassar, berkesempatan beradu peran dengan Dewi Irawan berkat film Silariang: Mengejar Cinta Abadi | Inipasti Communika & Indonesia Sinema Persada

Beralih ke Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), ikhtiar melakukan penafsiran identitas dan budaya daerah lewat medium film juga sudah tergagas.

Pola tumbuh kembang para pembuat film di daerah ini mirip yang terjadi di Makassar. Bermula dari pembuatan film pendek, kemudian beralih memproduksi film panjang. Yusuf Radjamuda (39) adalah segelintir nama.

Sukses menyutradarai lima film pendek, salah satunya Halaman Belakang (2013) yang menuai banyak prestasi, Ucup --sapaan akrab Yusuf-- kini bersiap meluncurkan film panjang perdana berjudul Mountain Song lewat rumah produksi Halaman Belakang Films miliknya.

Proyek film yang terpilih sebagai "The Most Promising Project" di Makassar SEAscreen Academy 2016 itu menggandeng FourColours Films dan Kedai Films sebagai investor.

Ceritanya tentang hubungan ibu dan anak dalam diri Ina dan Gimba yang mendiami sebuah pegunungan indah namun sulit terjangkau.

Alasan Ucup mengangkat tema ini dalam film pertamanya karena merasa tergugah dengan kebiasaan warga Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulteng.

"Mereka senantiasa bersyukur, apa pun kondisinya. Saat panen berhasil atau gagal mereka tetap mengadakan raego (tarian). Artinya mereka tidak pernah mengeluh walaupun sedang kesusahan," jelas Ucup.

Ada dua ragam dialog yang digunakan dalam film ini; Bahasa Indonesia dengan intonasi lokal dan Uma, bahasa daerah Pipikoro.

Ucup mengajak Beritagar.id melongok proses rough cut film panjang perdananya yang telah berjalan selama satu pekan itu di Rumah Juice & Momoyo Art Venture, Jalan D.I. Pandjaitan, Palu Timur (27/7).

Tempat semacam kedai itu sebenarnya kediaman produser Rahmadiyah Tria Gayathri bersama suaminya, Mohammad Yamin. Segala proses kreatif Mountain Song berlangsung di tempat tersebut. Siang dan malam.

Saat melongok ke ruangan tengah, tampak Taufiqurrahman alias Ufik sedang serius menyunting beberapa potongan adegan di depan layar komputer. Satu kipas angin diletakkan di sampingnya untuk mengusir gerah sang editor.

Beberapa kali Ufik terlibat diskusi dengan Ucup. Sementara Ama, sapaan Rahmadiyah, berselonjor di lantai bersama Kukuh Ramadhan sang penata artistik sambil mengunyah kudapan.

Ini kali pertama Ufik menyunting film panjang. Sebelumnya ia menjadi penata kamera dalam film Halaman Belakang. "Saya belajar menyunting gambar secara autodidak," katanya.

Ketika Mountain Song rampung awal 2018, Ucup bersama FourColours sebagai distributor akan berusaha menembus jaringan bioskop, minimal yang ada di Palu.

Ucup mengaku tidak pernah memaknai kehadirannya dengan film ini sebagai upaya menunjukkan ciri bahwa seperti inilah wajah sinema dari Palu.

"Rasanya tidak perlu mengusung misi seperti demikian. Karena di antara karya-karya yang muncul dalam tingkat regional ini, misal di Makassar, Medan, dan Yogyakarta, masing-masing punya artikulasi, orientasi, dan tempat sendiri," terangnya.

Ucup hanya berusaha bercerita dengan cara yang tidak sama dengan film-film yang selama ini ditayangkan pemilik jaringan bioskop.

"Saya mencoba memberikan tawaran alternatif untuk penonton Indonesia. Khususnya penonton di sekitar Sulawesi atau bagian timur Indonesia," pungkas Ucup.

Yusuf Radjamuda (berdiri kelima dari kiri) bersama kru dan pemain film Mountain Song
Yusuf Radjamuda (berdiri kelima dari kiri) bersama kru dan pemain film Mountain Song | Yusuf Radjamuda /Halaman Belakang Films

Satu film panjang lain yang diproduksi di Palu adalah Kaili: Karena Aku Ingin Kembali garapan Mattuju Pictures, rumah produksi asal Makassar.

Andi Syahwal Mattuju, sutradara dan produser Kaili, melibatkan total 59 orang kru dan 29 pemain (selain cameo). Sebagian besar dari mereka adalah orang Palu.

"Ini adalah panggung untuk teman-teman di Palu. Sebagai batu loncatan untuk membuktikan bahwa mereka juga bisa berkarya. Menghilangkan pesimistis bahwa kita yang di regional hanya sekadar menjadi penonton," tulis pria berusia 30 itu via surat elektronik (14/8).

Andi berharap gairah membuat film dengan muatan kearifan lokal yang terjadi di Makassar --dan kini Palu-- juga menjalar ke daerah lain. Jika hal itu terjadi, semua akan diuntungkan. Mulai dari masyarakat, sineas, dan pihak bioskop.

"Dalam setiap kesempatan selalu saya sampaikan, misi utama saya dalam berkarya adalah ingin mewujudkan bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta saja," tegas Andi yang sebelumnya tercatat sebagai salah satu produser Uang Panai'.

Andi juga berencana membuat album soundtrack film tersebut yang menampilkan band-band independen Palu. "Saat ini kami masih mencari investor untuk mewujudkan rencana tersebut," ungkapnya.

Pemeran Senja dalam film Kaili, Shella Silvany Kambay (18), menyambut gembira langkah Mattuju Pictures membuat produksi film panjang di kota kelahirannya ini. Pasalnya ia berharap kehadiran film tersebut bisa membuat orang semakin mengenali Palu.

"Lewat film ini saya juga bisa menggali banyak pelajaran dan menambah pengalaman," ujar Shella dalam wawancara bersama kepada Beritagar.id di Wee & Co Cafe, Palu Timur (29/7).

Semangat melakukan transfer pengetahuan dengan pencampuran kru dan pemain, terkadang join produksi dengan perusahaan atau investor setempat, juga tersaji dalam film Boven Digoel produksi Foromoko Matoa Indah Film asal Papua. Film Silariang yang disutradarai Ichwan Persada juga menerapkan pola identik.

Dituturkan Ichwan, melibatkan kru dan pemain lokal merupakan cara paling mudah agar standar produksi berlaku sama di mana saja.

"Pemain saya yang baru pertama kali dapat kesempatan tampil di layar lebar seperti Sese Lawing bisa dapat kesempatan berharga beradu akting dengan aktris sekaliber Dewi Irawan misalnya," jelas Ichwan kepada Beritagar.id (22/8).

Adrian menyebut bahwa transfer ilmu dengan mengajak talenta lokal bergabung dalam sebuah produksi film merupakan cara belajar paling efektif. Pasalnya orang-orang yang dilibatkan bisa langsung mengaplikasikan teori yang selama ini mereka dapat dengan praktik.

Salah satu pendiri situs web Cinema Poetica itu berharap kolaborasi dan eksperimen antardaerah lebih sering terjadi. Selain transfer pengetahuan, manfaat lain yang didapatkan adalah membuka jaringan atau koneksi lebih luas.

Gairah sineas di berbagai daerah sudah meningkat, produksi film panjang juga semakin banyak, beberapa bahkan menuai sukses. Pun demikian, Adrian berpesan agar para pegiat film di masing-masing daerah tetap konsisten berkarya dengan tetap teguh pada gaya penceritaan mereka yang khas.

Jangan sampai keunikan bercerita jadi terkebiri karena terus menerus bernegosiasi dengan pasar. Dalam artian, sineas terjebak mereplikasi premis cerita dalam film Jakarta yang sudah banyak dihadirkan melalui layar bioskop.

"Sebab kita butuh sinema yang memberikan warna lain dan relevan dengan kehidupan masyarakat tempat film itu ditayangkan. Bukan sekadar bagus dari segi produksi atau pemain-pemain yang terlibat," tambahnya.

Adrian juga mengharapkan film-film panjang yang diproduksi tadi tidak berhenti ketika telah turun dari layar bioskop, tapi terus bergerilya menemui lebih banyak penonton lewat berbagai inisiatif pemutaran.

Mediumnya bisa lewat festival-festival seperti yang dilakoni Surau dan Silek asal Padang, atau tayang di stasiun televisi dan berbagai layanan pengaliran video digital. Tambah bagus lagi jika film-film tersebut bisa memancing diskusi berkelanjutan.

Saat hendak menutup perbincangan dengan Beritagar.id, Adrian mengaku optimistis para sineas di berbagai daerah bisa terus meramaikan perfilman Indonesia dengan identitas masing-masing.

BACA JUGA