Luna Maya dalam film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur.
Luna Maya dalam film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur. Soraya Intercine Films / doc
FILM INDONESIA

Menginkarnasi sosok ikonis dalam film Indonesia

Hanung Bramantyo menyebut mengikarnasi sosok fiktif dalam film sebagai genre baru di Indonesia.

Mengenakan kemeja lengan panjang biru yang digulung menyentuh siku dan celana denim berwarna senada, John De Rantau berdiri menyandar ke pilar di depan lobi kantor pusat TVRI Jakarta, Senayan, Jakarta Selatan (6/12/2018).

Tak lama kemudian ia merogoh saku celana dan mengeluarkan sebungkus rokok, mengambil sebatang, lalu menyalakannya dengan korek yang tergenggam di tangan kirinya.

Saya yang sudah tiba sekitar 30 menit lebih awal menghampirinya demi mencari teman mengobrol.

Kedatangan sutradara dan penulis skenario berusia 49 itu karena dirinya satu dari enam juri dalam lomba penulisan kritik film yang diadakan Pusbang Film Kemdikbud.

Lima orang lainnya adalah Maman Wijaya, Wina Armada, Bre Redana, Remy Sylado, dan Ekky Imanjaya.

Selagi kami asyik mengobrol soal dunia kritik film di Indonesia pada masa kiwari, John lantas menyinggung perkembangan tren perfilman di Indonesia beberapa tahun belakangan ini, terutama sejak film Warkop DKI Reborn (2016) menuai sukses karena meraup lebih dari 6,8 juta penonton.

Hingga sekarang film produksi Falcon Pictures itu masih tercatat sebagai film Indonesia terlaris dalam sejarah.

"Fenomena ini kayaknya cuma terjadi di Indonesia dan kemudian menjadi ladang baru," ujar John yang sebelumnya menyutradarai film Wage (2017), Semesta Mendukung (2011), dan Denias, Senandung di Atas Awan (2006).

Perkataan John tampaknya benar. Hingga saat ini, Hollywood yang dianggap pusaran industri perfilman dunia, bahkan belum terpikirkan untuk menginkarnasi sosok semacam Bing Crosby, Frank Sinatra, atau Charlie Chaplin dalam film laiknya pendekatan Benyamin Biang Kerok yang diperankan Reza Rahadian.

Artinya ada aktor lain memerankan Chaplin seperti yang selama ini kita kenal dalam film, bukan keseharian hidupnya yang tidak diketahui publik alias biografi drama.

Film tentang Chaplin memang sudah pernah diproduksi lebih dari satu dekade silam. Pemerannya kala itu adalah Robert Downey Jr. yang penggaliannya berdasarkan buku My Autobiography dan Chaplin: His Life and Art.

Berhubung ladang baru tersebut menuai hasil panen yang melimpah, tak heran jika muncul usaha yang sama.

Produser atau rumah produksi kemudian menghadirkan penjelmaan Benyamin (tayang 1/3/2018), Suzzanna (15/11/2018), Ateng dan Iskak (10/1/2019), kemudian Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks (disingkat OM PSP) yang akan rilis pada 31 Januari 2019.

"Mungkin nanti giliran Sys NS dengan Sersan Prambors-nya, Bing Slamet, atau siapa pun ikon masa lalu kita yang kembali dibangkitkan," ujar John.

Mengikuti film atau genre yang banyak peminat merupakan pakem yang selama ini terjadi di industri perfilman, di negara mana pun.

Atas dasar itu pula John tidak sepenuhnya menyalahkan jika para produser berlomba menghadirkan film berisi inkarnasi dari para seniman ikonis dalam film.

Hanya saja John mencermati tren itu tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan sinema Indonesia.

Pasalnya semua seolah hanya mengikuti apa yang sebelumnya telah ada. Formulaik. Tidak ada upaya pencarian atau terobosan baru.

"Sama dengan tren daur ulang film-film yang pernah sukses pada masa lalu. Ketika Joko Anwar sukses dengan Pengabdi Setan, semua yang bikin film horor berlomba mengikuti formulanya Joko. Akhirnya hanya Joko yang punya nama di festival luar negeri," tambah John.

Warkop DKI Reborn menjadi pembuka gerbang bagi hadirnya film-film inkarnasi sosok ikonis dalam film Indonesia
Warkop DKI Reborn menjadi pembuka gerbang bagi hadirnya film-film inkarnasi sosok ikonis dalam film Indonesia | Falcon Pictures /doc

Menginkarnasi sosok fiktif dalam film yang diperankan oleh seniman-seniman jempolan pada masa lalu sejauh ini memang hanya berlaku dalam perfilman Indonesia. Hanung Bramantyo mengamininya, bahkan berani menyebutnya sebagai genre baru.

"Boleh dong negara ini menciptakan genre sendiri. Tidak harus selalu mengikuti pakem dari Amerika atau Prancis," ujar Hanung dalam jumpa pers peluncuran film Benyamin Biang Kerok yang disutradarainya di studio Karnos Film, Cibubur, Jakarta Timur (24/1/2018).

Penyebab mengapa film-film semodel Warkop DKI Reborn, Benyamin Biang Kerok, atau Lagi-Lagi Ateng adalah genre baru sangat jelas terlihat.

Ketiga film tersebut tidak mengikuti pakem sebagaimana biografi drama alias biopic.

Sosok Dono-Kasino-Indro, Benyamin Sueb, atau duo Ateng dan Iskak tidak tampil laiknya sosok asli mereka di dunia nyata yang ditransformasikan ke dalam film oleh aktor yang memerankannya.

Perhatikan bagaimana Ateng atau Andreas Leo Ateng Suripto selalu kekanak-kanakan dalam hampir semua film yang dibintanginya. Sementara Iskak sebagai pendamping kerap jadi pelayan bagi Ateng atau objek derita.

Dalam kesehariannya, mendiang Ateng dan Iskak jelas tidak seperti yang kita lihat dalam sejumlah film yang mereka bintangi.

Benyamin atawa Bang Ben setali tiga uang. Menurut penuturan Bianca Belladina, putri Benyamin dari Alfiah, seniman kebanggaan orang Betawi itu adalah tipikal bapak yang serius dan tegas. Bukan sosok yang selalu melucu dan senantiasa tengil.

Mereka bahkan memanggil Bang Ben dengan sapaan bapak alih-alih babe seperti yang dilakukan Doel (Rano Karno) kala menyapa Benyamin dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan.

Cerita dalam film-film inkarnasi tersebut juga tidak menghadirkan perjalanan sang tokoh utama sesuai kisah nyata perjalanan hidupnya, plus beberapa bumbu fiktif untuk mendramatisir cerita tentu saja. Keseluruhan isi film merupakan fiktif belaka.

Untuk film Lagi-Lagi Ateng, sutradara Monty Tiwa sejak awal dapat mandat dari produser Anup D. Mirchandani untuk menghadirkan dua sosok Ateng alias menjadikannya saudara kembar. Kisah ini untuk membedakannya dengan film-film inkarnasi lainnya yang duluan rilis.

Untuk meramu cerita tentang dua sosok Ateng yang terpisah sejak kecil itu, Monty tak lupa memasukkan banyak unsur yang asalnya dari film-film Ateng terdahulu.

Dari segi penampilan dan perwatakan, Ateng yang dalam film ini diperankan Augie Fantinus mengambil inspirasi dari film Ateng Bikin Pusing (1977).

Sementara karakter Agung, saudara kembar Ateng yang juga dimainkan Augie, berasal dari Ateng the Godfather (1976).

"Ini sebenarnya mix and match dari film-film Ateng terdahulu. Bahkan nama tokoh Sutinah yang diperankan Mbak Rohana asalnya dari Wolly Sutinah, nama asli Mak Wok yang banyak membintangi film-film Ateng," ungkap Monty.

Saat menggarap Benyamin Biang Kerok, Hanung mencoba hal baru agar ada pembeda dengan Warkop DKI Reborn.

Hanung meminta Reza menghidupkan dua sosok sekaligus. Pasalnya, walaupun film-film Benyamin melekatkan namanya sebagai judul, Bang Ben tidak pernah memakai namanya itu dalam setiap film yang dibintanginya. "Adanya nama tokoh Pengki, Tarzan, atau Sabeni," ujar Hanung.

Praktik tersebut sebenarnya merupakan cara produser pada masa itu untuk memanfaatkan nama besar dari sang pemeran utama.

Imbasnya agar film tersebut dengan cepat bisa teridentifikasi dan setelahnya bisa mendorong para penggemar berbondong ke bioskop.

Beberapa nama seniman tenar Indonesia lainnya yang namanya dibubuhkan sebagai judul film antara lain Bing Slamet, Djalal, S. Bagio, Rhoma Irama, dan Dorce Gamalama.

Duet Reza Rahadian dan Delia Husein saat gala premiere film Benyamin Biang Kerok di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat (24/2/2018)
Duet Reza Rahadian dan Delia Husein saat gala premiere film Benyamin Biang Kerok di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat (24/2/2018) | Andi Baso Djaya /Beritagar.id

Merebaknya tren menghidupkan kembali seniman ikonis Indonesia yang punya penggemar fanatik oleh sebagian kalangan dianggap hanya jualan nostalgia semata.

Ekky Imanjaya, kritikus film sekaligus dosen Jurusan Film Universitas Bina Nusantara, dalam kolomnya di Koran Tempo (30/11/2018) menyebut tren seperti ini tidak akan bertahan lama.

Faktor utama karena terbatasnya sosok ikonis yang masuk kategori cult alias memiliki basis penggemar fanatik dengan jumlah besar.

"Dalam 15 tahun ke depan, apakah kita masih punya nostalgia autentik dari nostalgia akan nostalgia?" tanya Ekky.

Pembelaan dari para pembuatnya, genre ini merupakan ikhtiar memperkenalkan para seniman jempolan tadi kepada generasi muda dengan mengemasnya dengan cerita kekinian.

Hal tersebut sempat diucapkan Soleh Solihun pemeran Iskak dalam film Lagi-Lagi Ateng.

"Film ini untuk memperkenalkan sosok Ateng dan Iskak kepada generasi sekarang. Ibaratnya menjadi jembatan. Idenya bahkan menurut produser sudah ada sebelum film Warkop DKI Reborn rilis." tutur Soleh.

Indrodjojo Kusumonegoro, satu-satunya anggota Warkop DKI tersisa, juga berpikiran sama. Baginya menghidupkan kembali sosok dua sahabatnya yang lain dalam film bukan sekadar kepentingan bisnis, tapi ingin melestarikan grupnya.

"Saya malah ingin Wakop DKI bisa langgeng seperti James Bond. Bisa diperankan oleh siapa saja, tapi yang melekat tetap brand James Bond-nya," kata Indro.

Jika tujuannya untuk memperkenalkan sosok legendaris tadi secara lebih luas, terutama untuk generasi muda, maka film Lagi-Lagi Ateng mungkin tidak terlalu menuai hasil maksimal.

Situs filmindonesia.or.id terakhir mencatat film produksi 13 Entertainment, Dirgahayu Productions, dan Ideosource Entertainment itu hanya mendapatkan 24.051 penonton.

Pada sisi lain, Benyamin Biang Kerok sekalipun menuai sekitar 740 ribu penonton tetap dianggap gagal karena tidak mampu menutupi besarnya ongkos produksi dan promosi yang mencapai puluhan miliar rupiah.

Alhasil Falcon terpaksa menyusun ulang strategi yang awalnya ingin menjadikan film Benyamin sebagai trilogi dan merilisnya dalam waktu berdekatan.

Film Benyamin Biang Kerok Beruntung yang dijadwalkan sebagai sekuel urung tayang akhir 2018. Padahal syuting film tersebut sudah rampung karena syuting dilakukan bersamaan dengan prekuelnya.

Nasib film Benyamin Tarzan Kota yang menjadi bagian pamungkas trilogi tersebut juga sama terkatungnya.

Jika memasukkan semua film inkarnasi tadi dan membandingkannya berdasarkan animo penonton di bioskop, mungkin hanya Warkop DKI Reborn dan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur yang berhasil meraup jutaan penonton.

Film Suzzanna yang mendapatkan total 3,3 juta penonton, selain karena menjual sosok ikonis dan nostalgia, juga mendapat angin karena genre horor sedang menjadi primadona sejak dua tahun terakhir.

Jika film tentang OM PSP yang menghadirkan sosok gabungan antara para komedian tunggal dan pembawa cara televisi sebagai pemeran utama juga anjlok, bisa jadi ramalan Ekky akan lebih cepat terjadi.

Karena biar bagaimanapun produksi sebuah film butuh dana yang tidak sedikit. Ada uang milik investor yang harus dikembalikan atau dipertanggungjawabkan. Jika genre inkarnasi ini ternyata sepi peminat, maka besar kemungkinan trennya tidak berumur panjang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR