Selain membuat cangklong, Artkie Pipes milik Tommy Suparman Adikusumah Raden juga memproduksi aksesoris berupa dompet.
Selain membuat cangklong, Artkie Pipes milik Tommy Suparman Adikusumah Raden juga memproduksi aksesoris berupa dompet.

Mengintip produksi cangklong yang langka dari Bandung

Bahan baku cangklong berasal dari Eropa. Kayu Briar yang menjadi bahan dasar cangklong, lebih tahan terhadap bara api.

Pipa tembakau atau cangklong pernah menjadi salah satu primadona di Indonesia. Jika dulu kegiatan mencangklong dinikmati kalangan masyarakat pribumi dari kalangan atas, kini cangklong merembet ke generasi muda.

Penggunaan pipa cangklong sudah dikenal sejak tahun 1600-an di Eropa, meski warga asli benua Amerika Utara sudah menggunakannya sejak 1500 tahun Sebelum Masehi. Benda ini turut dipopulerkan tokoh fiksi seperti, Sherlock Holmes, dan Popeye The Sailor Man.

Tokoh politik Indonesia seperti Amir Sjarifoeddin--Perdana Menteri yang kemudian diburu karena dianggap terlibat pemberontakan Madiun 1948--juga dikenal lekat dengan pipa cangklongnya. Pelukis besar Affandi, pernah pula mengekspresikan dirinya dalam sebuah lukisan bertema cangklong.

Cangklong menjadi barang mewah karena bahan dasarnya berasal dari luar negeri. Hal itu pula yang membuat benda untuk menghisap tembakau murni itu menjadi langka. Namun, bukan berarti kini hilang begitu saja karena di Indonesia sudah cukup banyak yang membuatnya dengan tangan sendiri.

Seperti yang digeluti Tommy Suparman Adikusumah Raden (44). Pria asal Bandung ini memproduksi cangklong yang diberi nama Artkie Pipes. Berawal dari kegemarannya mencangklong yang juga sudah turun-temurun dari orang tuanya, Tommy memproduksi langsung cangklong di kediamannya.

Rumah milik Tommy di bilangan Cijerah, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, menjadi tempat produksi cangklong yang tidak biasa ditemukan di tempat lain.

"Saya nggak pernah bikin dua cangklong. Jadi benar-benar seorang pemesan itu punya satu karya saya, nggak ada di tempat lain. Kan kalau dia (pemilik) punya benda satu-satunya, punya kebanggaan sendiri," ujar mantan karyawan di salah satu perusahaan sportwear dan prudict equipment di Bandung itu kepada Beritagar.id, Rabu (18/11/2015).

Untuk pengerjaan satu buah cangklong, ayah dua anak ini membutuhkan waktu tiga hari. Barang yang sudah jadi biasanya langsung dikirim ke kota tujuan. Para pemesan cangklong dari berbagai kota di Indonesia, kata Tommy, sudah pernah memesan produknya. Bahkan hingga ke luar negeri.

"Semua provinsi sudah pernah. Ke Amerika juga ada yang pesan," ucap arsitan cangklong tersebut. Ia juga menambahkan, respon pemesan dari luar negeri cukup baik kepadanya.

Cangklong bermerek Artkie buatan Tommy beragam harganya. Mulai dari Rp. 1,5 juta yang bentuknya standar hingga di atas Rp. 3 juta. Mahalnya harga tergantung pada teknik pengerjaan dan model yang diinginkan calon pembeli.

Pada umumnya, lanjut Tommy, calon pembeli cangklong yang datang tidak pernah meminta model. "Jadi, yang datang ke sini nggak pernah minta model. Bagaimana (tergantung) saya. Saya kasih tau seperti ini konsepnya dan bakal begini barangnya, dan mereka mau," imbuhnya.

Untuk model cangklong yang ia ciptakan cukup beragam. Mulai dari bentuk standar semisal biliar, band atau poker. Tak sampai di situ, cangklong yang ia hasilkan terus dikembangkan dari bentuk dasarnya hingga ke bentuk yang lain.

"Yang paling rumit yang pernah saya kerjakan motif gelung. Bentuknya melilit. Seolah kayu yang dililit padahal nggak. Harganya Rp. 2,5 juta," kata Tommy yang sudah membuka usaha cangklong sejak 2012 itu.

Cangklong Bima Pipes milik Edy Diyana, harganya berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2,2 juta.
Cangklong Bima Pipes milik Edy Diyana, harganya berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2,2 juta. | Huyogo Simbolon

Bahan baku cangklong diakui Tommy berasal dari Eropa. Ia mengimpor langsung kayu Briar yang menjadi bahan dasar cangklong.

"Bahan impor ada yang dari Italia dan Spanyol. Di sana sudah berbentuk untuk satu pipa. Ukuran bloknya kurang lebih 4,5 cm tinggi 5 cm dan panjang 10 cm," paparnya.

Menurut Tommy, kayu dari luar negeri memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap bara api. Selain itu, kayu tersebut memiliki serat yang lebih halus. "Kalau Briar solid seratnya," tukasnya.

Berdasarkan anatominya, cangklong atau pipa lengkung untuk menghisap tembakau sekurangnya terdiri dari empat bagian. Ada yang disebut dengan bowl (tempat tembakau), stem atau bagian ujung dari cangklong tempat menempelkan mulut, shank, dan tenon.

Untuk keempat bagian tersebut memiliki bahan berbeda-beda. Cangklong Artkie Tommie misalnya, bahan dasarnya berasal dari kayu Briar. Sedangkan stem dari ebonit atau chamberlain. Untuk membedakan rasa, pada umumnya terdapat pada bagian stem.

"Beda stem, beda rasa. Gading gajah itu lebih enak. Namun, biasanya gading yang sudah bersertifikat, mesti ada surat-suratnya. Saya sendiri belum pernah bikin. Hanya pernah bikin dari ebonit dan chamberlain," aku Tommy.

Saat disinggung bagaimana membedakan cara menikmati nyangklong, Tommy mengatakan hal itu terletak pada after taste. "Dari cara dipakainya serta segi kualitas bahan jelas berbeda," ujarnya.

Meski baru beberapa tahun merintis usaha cangklong hasil ciptaan tangan sendiri, Tommy mendapatkan "warisan" turun temurun dari orang tuanya yang hobi mencangklong.

"Saya nyangklong dari SMA. Almarhum orang tua saya sering nyangklong sehingga saya pun tertarik, jadinya nyangklong. Sudah dari generasi orang tua, turun ke saya," ungkapnya sambil tersenyum.

Diakui Tommy, dirinya tak lantas memproduksi cangklong karena ia pun mempelajari dari cangklong yang ada di rumahnya.

"Cangklong bekas dari orang tua saya lihat potongannya bagaimana, namanya apa, jenis-jenis pipanya seperti apa. Lalu saya belajar bikin sendiri hingga saat ini diproduksi," katanya.

Lalu, dalam satu bulan berapa cangklong yang Tommy buat? Ia menjawab, jika hal itu tidak pernah ditentukan. Tergantung suasana hati. "Sebenarnya saya juga banyak permintaan. Cuma kalau lagi nggak mood nggak dikerjain dulu sebab kita basic-nya bukan penjual cangklong. Kita jualnya art," urainya.

Selain membuat pipa tembakau, Tommy juga melakukan restorasi cangklong dan menjual aksesoris seperti dompet cangklong. Biaya restorasi cangklong bergantung pada tingkat kerusakan. Sedangkan harga dompet berkisar Rp500.000.

Permintaan cangklong meningkat

Meningkatnya pemipa atau pecangklong dalam negeri secara langsung mendorong permintaan terhadap cangklong maupun tembakau. Hal itu dirasakan oleh pemilik pipe maker Edy Diyana (41) yang membuka usaha pembuatan cangklong yang diberi nama Bima Pipes.

Edy mengatakan, meningkatnya peminat cangklong disebabkan karena semakin bertambahnya komunitas nyangklong di berbagai kota di Indonesia.

"Di kita kan sudah banyak komunitas. Bahkan di dunia seperti Jepang, Singapura, Korea dan Malaysia sudah ramai lagi. Di luar negeri, pipe maker baru banyak bermunculan. Pipe smoking ramai lagi seperti jaman kakek-kakek dulu," ungkap Edy.

Untuk promosi, ayah dua anak ini kerap menggunakan media sosial seperti facebook dan instagram. Facebook, menurutnya media promosi yang paling ampuh untuk memperkenalkan cangklong buatannya.

"Perkenalan bisa lewat Facebook dan segala macam. Tidak harus punya website, cukup berteman di facebook. Nanti saling mengontak kemudian jika ada yang tertarik langsung deal," kata pria lulusan sastra Inggris di Sekolah Tinggi Bahasa Asing itu.

Menurutnya, order cangklong terus berdatangan dari berbagai penjuru kota maupun dari negara luar. Dalam sebulan Edy bisa menerima order 10-15 cangklong. Namun waktu penyelesaian cangklong tergantung pada tingkat kesulitan benda yang juga disebut padud dalam bahasa Sunda tersebut.

"Yang sampai berbulan-bulan juga ada. Kebanyakan custom. Kita buat keluar dari pakem yang sudah ada dari jaman dulu. Saya cenderung membuat bentuk baru dan itu sekarang populer. Pemipa sekarang ini juga banyak dari kalangan anak muda," kata pemilik usaha pembuatan cangklong di Kelurahan Isola, Kecamatan Sukasari itu.

Pelaku usaha cangklong sejak 2012 ini mengaku kerap mendapat pesanan pipa dari semua kota di Indonesia. Menjamurnya komunitas pipe smoker di setiap kota seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya turut mengangkat jumlah pemesanan pipa BP mereknya.

Untuk memesan cangklong BP buatan Edy, pemesan wajib membayar uang muka. Hal itu dilakukan untuk menghindari pemesan yang tidak serius.

"Saya pernah punya pengalaman membuatkan tanpa DP. Sudah jadi barangnya ngga diambil. Saya kan kasihan sama yang lain yang ngantri sudah lama. Jadi, akhirnya pakai sistem DP dulu 50 persen dari harga pipa. Setelah barang jadi dilunasi. Itu untuk kepastian aja," kata Edy saat mengenang awal ia membuka usaha cangklong.

Cangklong BP dibanderol Rp1,5 juta hingga yang termahal Rp2,2 juta. Untuk harga cangklong di atas Rp2 juta ke atas biasanya memiliki desain khusus dan pengerjannya cukup rumit. Pemesanan cangklong BP secara online melalui akun Facebook Bima Pipes Indonesia.

Usaha yang dirintis Edy memang cukup menjanjikan. Ia pun berharap produknya dapat diterima masyarakat lokal dan luar negeri. "Saya juga sebenarnya punya target (ekspor) ke luar negeri. Hanya saja sekarang ini dari dalam negeri permintaannya banyak terus," tutur pria yang kerap mengimpor bahan dasar cangklong dari Amerika ini.

Meski masih bergantung impor bahan baku luar negeri, Edy mengatakan tidak menutup kemungkinan bila suatu saat kayu lokal menjadi andalan. "Dulu, saya buat bahan dasar dari kayu lokal karena sifatnya membaca situasi dulu. Di Indonesia memang ada tapi tidak kuat saat dibakar. Saya sudah menemukan bahan di Indonesia tapi belum digodok. Makanya saya belum tawarkan ke pasar," timpalnya.

Kiat singkat merawat cangklong

Cangklong tidak bisa lepas dari perawatan secara teratur agar residu pembakaran yang sudah lama tidak memengaruhi rasa dari produk yang anda miliki. Untuk membersihkan cangklong ada berbagai macam cara.

Artisan Tommy Suparman Adikusumah Raden mengatakan, saat membersihkan bowl dirinya menggunakan garam. Garam dimasukkan ke lubang pipa lalu diteteskan alkohol dengan kadar 90 persen. Diamkan selama satu hari.

"Nanti nikotin di dalam bowl terangkat atau terserap. Buang garam terus dibilas lagi dengan alkohol," paparnya.

Selain bowl, bagian cangklong lainnya yang dibersihkan ialah stem dengan menggunakan pipe cleaner. "Stemnya dibersihkan dengan pipe cleaner. Seorang pipe smoker diwajibkan punya pipe cleaner yang berguna untuk membersihkan lubang air hole-nya," bebernya.

Sedangkan alat lain yang selalu dimiliki pemipa ialah temper. Masing-masing temper berfungsi untuk menekan kepadatan tembakau untuk mengatur udara di bowl, membersihkan kerak tembakau yang menempel di dinding bowl dan alat untuk menusuk-nusuk jika terjadi mampet.

Tembakau, persiapan nyangklong

Nyangklong berbeda dengan menghisap rokok bungkusan. Cangklong yang menjadi tren di Eropa abad ke-17 memang memerlukan banyak persiapan sebelum melakukan ritual nyangklong. Otomatis, bahan yang dipakai ialah tembakau murni.

Pecangklong asal Bandung lainnya, Rochsan Rudianto Alibasyah (56) menuturkan, tembakau cangklong terdapat dua jenis, aromatik dan non-aromatik. Tembakau jenis aromatik pada umumnya mengalami proses blending atau pencampuran dengan wangi-wangian alami seperti vanilla, oranye serta beraneka aroma buah-buahan. Sehingga pada saat tembakau cangklong dibakar mengeluarkan harum yang dapat dinikmati orang sekeliling.

Sedangkan tembakau non aromatik memiliki jenis Latatia dan Virginia. Lalu, bagaimana membedakan kedua jenis tersebut? Menurut Rochsan, Latakia yang merupakan tembakau 'kecelakaan' berasal dari Siria mengalami proses pengeringan dengan membakar daun jati. Akibatnya, uap dari pembakaran berpengaruh pada bakau.

"Tembakau itu rata-rata jenisnya Virginia tapi dinamakan berbeda-beda tergantung tempat dia tumbuh. Akhirnya, tanah itu berpengaruh pada hasil. Rasa yang dihasilkan pun jadi berbeda," jelasnya.

Para pencaklong baru pada umumnya diberikan tembakau jenis aromatik kemudian meningkat ke jenis lainnya. "Karenanya ada istilah perjalanan rasa. Tapi, ada juga orang yang sudah klop dengan satu jenis saja," sambungnya.

Bima Pipes yang didirikan Edy Diyana memproduksi cangklong sejak 2012. Harga cangklong berkisar Rp. 1,5 juta hingga Rp 2,2 juta.
Bima Pipes yang didirikan Edy Diyana memproduksi cangklong sejak 2012. Harga cangklong berkisar Rp. 1,5 juta hingga Rp 2,2 juta. | Huyogo Simbolon

Pria yang akrab disapa Apuy ini melayani para pemilik pipa yang ingin membeli tembakau. Bersama rekannya, Apuy membuka usaha impor CV Putra Pratama Vakti yang telah mengantongi izin resmi dari pemerintah sejak 2012.

"Kita pasok tembakau Irish. Kita daftarkan ke bea cukai. Mulai dari mereknya, kemudian dilihat bea masuk. Semua dibayar resmi termasuk cukainya," ungkapnya.

Apuy yang juga bekerja di bidang event management di Bandung mengatakan, target sebagai importir tembakau minimal 6000 kaleng per tahun. Pajak yang perusahaan bayarkan sebesar 27 persen dari harga beli dan ongkos kirim ditambah cukai sekitar 10 persen. "Satu kaleng ada yang 50-100 gram. Itu saya harus memenuhi kuota itu. Cukai dibayar di muka," ujarnya.

Tembakau impor kemudian disebar ke beberapa reseller di berbagai kota seperti Bandung, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Malang dan Surabaya.

"Kita ini ada komunitas. Kita menjual tembakau cangklong itu tidak sama dengan rokok biasa. Karena di situ dibutuhkan informasi dan edukasi kepada pembeli. Cost promosi saya tidaka ada, hanya di komunitas," jelasnya.

Meski tanpa promosi, Apuy mengaku harus tetap memenuhi target penjualan. "Justru itu, tahun ini saja belum habis karena pada saat kurs kita naik itu kan celaka buat kita. Mau tidak mau harga naik karena ongkos kirim saja naik," katanya.

Konsumen tembakau membeli tembakau yang berkisar dari harga Rp150 ribu - Rp350 ribu untuk berat 100 gram.

Disinggung mengapa pecangklong tidak memakai tembakau lokal, Apuy mengatakan hal itu tergantung pada selera masing-masing pecangklong.

"Ada sebenarnya tembakau lokal yang enak. Hanya, blender kita tidak ada yang konsisten. Cara dia mencampur berbeda dengan dari luar. Prosesnya itu yang nggak ada di kita. Resep-resep untuk mencampur tembakau," jelasnya.

Apa alasan pencangklong mengambil tembakau impor? "Pertama karena khsusus dibuat untuk cangklong. Kedua, rasa lebih enak. Selain itu banyak jenis atau merek dan tentunya balik lagi ke selera masing-masing," pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR