Para pemilik proposal proyek produksi dan nonproduks film yang berhasil mendapatkan investor dalam ajang Akatara (20/9/2018)
Para pemilik proposal proyek produksi dan nonproduks film yang berhasil mendapatkan investor dalam ajang Akatara (20/9/2018) Andi Baso Djaya/Beritagar.id
AKATARA 2018

Menjodohkan pembuat film dengan investor dalam Akatara

Melalui Akatara yang berlangsung tiga hari (18-20/9/2018), Bekraf dan BPI berusaha menjodohkan para sineas dengan sejumlah calon investor. Lengkap dengan sesi kencan.

“Esensi dari kegiatan ini kami adalah mak comblang. Mempertemukan orang yang butuh pendanaan dengan orang yang ingin berinvestasi,” kata Triawan Munaf selaku Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) saat ditemui dalam acara pembukaan Akatara di XXI Djakarta Theater, Jakarta Pusat (18/9/2018).

Kalau suka, lanjut Triawan, silakan mengatur janji ketemuan di luar, lalu pacaran. Kalau cocok silakan menikah. Kalau enggak cocok, boleh cari pacar lain. Demikian analoginya.

Proses saling mencari kecocokan antara investor dengan sineas terlihat jelas ketika kaki memasuki area berlangsungnya acara. Di bagian lobi yang menjadi sentral mini expo, telah berjejer sejumlah stan partisipan terkait film, mulai Pusbang Film, ViddSee, Komisi Film Daerah, hingga ADM Technology.

Sementara di bagian ballroom yang mampu menampung 1000 orang, kegiatan di panggung utama pada hari pertama menjadi kesempatan para sineas melakukan presentasi berbagai proposal produksi film yang terbagi dalam beberapa kategori, yaitu film panjang fiksi (16 proyek), anak dan keluarga (6), pendek fiksi (4), panjang dokumenter (8), pendek dokumenter (6), panjang animasi (2), pendek animasi (2), webseries (1), Torino Film Festival (4), dan Asian Animation Summit (6).

Pemilik proyek dari beberapa kategori itu bergantian presentasi menjelaskan bentuk proyeknya, progresnya, dan berbagai keperluan yang dibutuhkan dalam rangka merampungkannya.

Investor duduk dan menyimak dengan saksama tiap-tiap pemaparan dari proyek tersebut. Beberapa tampak mencatat bagian-bagian pemaparan tersebut.

Keesokan harinya (19/9), Akatara menghadirkan sesi kencan cepat alias speed dating. Sesi ini biasanya momen awal untuk mengenal lebih jauh satu sama lain dan mengeksplorasi kerjasama yang mungkin dilakukan.

Jika investor tertarik maka akan ada rangkaian pertemuan lanjutan untuk membahas kesepakatan atas dukungan yang diberikan.

Meskipun speed dating umumnya masih benih awal dan belum tentu menciptakan kesepakatan, namun sineas akan berusaha merayu calon investor dengan kelebihan karya yang dimiliki.

Menurut Agung Sentausa sebagai Ketua Bidang Fasilitasi Pembiayaan Film Badan Perfilman Indonesia (BPI), inti dari penyelenggaraan Akatara adalah speed dating dan matchmaking. Menjembatani pembuat karya bertemu dengan pemodal agar bisa semakin banyak karya yang diproduksi

“Tahun lalu peserta yang hadir dalam acara ini karena kami undang dan fasilitasi. Tahun ini terbuka untuk umum. Makanya masuk lebih dari 300 proposal. Tahun lalu hanya 40 proposal,” ujar Agung kepada Beritagar.id.

Waktu penyelenggaraan edisi kedua ini juga lebih panjang sehari dari sebelumnya. Selain itu, Akatara untuk pertama kalinya membuka kesempatan bagi proyek nonproduksi film untuk berpartisipasi. Tujuannya mendorong kewirausahaan perfilman lebih berkembang.

Beberapa proyek yang lolos pada kategori tersebut adalah Infoscreening, Jogja-NETPAC Asian Film Festival, Layar Belia, M-DOCS Channel, PassikolaFilm, Online Learning by Hellomotion Academy, Pendekar Creative Center, dan Solo Documentary Film Festival.

Dalam pemaparannya saat pembukaan Akatara, Triawan menyebutkan bahwa industri perfilman Indonesia terus menunjukkan progres. Misalnya dari segi jumlah penjualan tiket dari 76 juta pada 2014 menjadi 80 juta tiket setahun berikutnya.

Pada 2018, penjualan tiket mencapai 105 juta tiket sampai Agustus dan diestimasikan mencapai 157 juta tiket hingga Desember.

Jumlah layar bioskop juga terus meningkat dari 1.100 layar pada 2015 menjadi 1.681 layar pada 2018.

Penyelenggaraan Akatara Film Financing Forum yang diinisiasi Bekraf dan BPI diharapkan bisa semakin menggenjot sektor perfilman.

“Kami di Bekraf menyadari akses permodalan penting dalam perkembangan perfilman Indonesia. Akatara digelar untuk mempertemukan para pembuat film, tetapi juga menimba ilmu untuk menarik minat investasi,” kata Fadjar Hutomo selaku Deputi Akses Permodalan Bekraf.

Suasana stan para pemilik proposal proyek film di Akatara (19/9/2018)
Suasana stan para pemilik proposal proyek film di Akatara (19/9/2018) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Skema mempertemukan sineas dengan calon investor yang memodali biaya pembuatan produksi film sebenarnya bukan praktik baru.

Banyak festival film di luar negeri telah menghadirkan skema pendanaan model ini dengan menyertakannya dalam film market.

Sebelum kehadiran Akatara, beberapa sineas kita rajin mencari sokongan dana di luar negeri. Salah satunya dengan mengikuti seleksi berbagai pitching forum.

Ambil misal film Wasted Land karya Eddie Cahyono yang mendapat sokongan dana sebesar EUR6000 dari Asian Project Market 2015.

Sineas Indonesia termasuk akrab mendaftarkan proposal proyek filmnya dalam ajang yang merupakan sempalan Busan International Film Festival ini. Sebut saja A Copy of My Mind (arahan Joko Anwar), Killers (Mo Brothers), Postcards from the Zoo (Edwin), dan 3 Hari Untuk Selamanya (Riri Riza).

Satu program pendanaan lain yang juga kerap diikuti para sineas kita adalah Hubert Bals Fund (HBF) yang merupakan bagian dari International Film Festival Rotterdam, Belanda.

Program tersebut menyediakan sokongan dana untuk pengembangan naskah, produksi digital, pascaproduksi, lokakarya, dan distribusi kepada sineas di negara-negara berkembang.

Beberapa film Indonesia yang mengantongi bantuan dari program ini, antara lain Jermal (2005), Babi Buta yang Ingin Terbang (2008), Sekala Niskala (2011), dan Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (2012).

Di dalam negeri, medio 2000-an, ketika Jakarta International Film Festival (JiFFest) masih eksis, bantuan pendanaan kepada sineas mewujud dengan nama Script Development Competition.

Setiap finalis akan mengikuti lokakarya untuk mengembangkan ide cerita. Lalu yang terpilih sebagai pemenang mendapatkan dana bantuan sebesar EUR10 ribu untuk menyelesaikan penulisan naskahnya dari The Hubert Bals Foundation dan Jan Vrijman Fund.

Ada lagi Good Pitch2 Southeast Asia yang diinisiasi In-Docs bersama Jia Foundation Singapore yang lebih fokus pada proyek film dokumenter.

Perihal pendanaan memang krusial untuk menyelesaikan eksekusi sebuah proyek film. Aneka pos yang menguras anggaran dibutuhkan sejak dari fase praproduksi hingga pascaproduksi. Sebutlah misalnya bayar sewa peralatan syuting, sewa lokasi, honor pemain beserta kru, konsumsi, promosi, dan sebagainya.

Mohammad Ifdhal, misalnya. Sutradara film pendek Kabar dari Amal asal Palu itu mengaku butuh biaya sekitar Rp180 juta untuk menyelesaikan film pendeknya.

Salah satu pemicu munculnya estimasi anggaran tersebut karena syuting berlangsung di pedalaman Desa Ape Maliko, Toaya, Sulawesi Tengah.

“Akses naik ke atas gunungnya yang susah. Tidak ada listrik juga. Harus pakai genset dan kabel yang panjang biar suara berisiknya enggak mengganggu,” kata Idhfal yang mengaku baru kali ini mengikuti pitching forum untuk film.

Ditambahkan Rian Mahid selaku produser, mereka bersikeras syuting harus di tempat tersebut karena film yang sedang mereka garap ini berasal dari kisah nyata seorang warga setempat.

“Para pemain film ini juga merupakan warga asli Suku Topevuni di sana. Agar otentik,” tambah Rian yang juga tak sempat membekali diri dengan informasi tentang bagaimana tata cara speed dating dalam sebuah film pitching forum.

“Kami daftarkan film ini sekitar Juli 2018. Pengumuman masuk final sekitar tanggal 5 atau 6 September. Jadi tidak sempat lagi tanya-tanya sama filmmaker di Palu yang punya pengalaman pernah ikut pitching forum. Ini saja baru sekarang cetak kartu nama sama bikin selebaran untuk sinopsis film. Kemarin belum ada,” tambah Rian yang kami wawancarai saat penyelenggaraan hari kedua (19/7).

Seleksi proposal proyek yang masuk di Akatara 2018 dilakukan tim kurator yang beranggotakan sineas Nia Dinata, Ninuk Prambudy dari Kompas mewakili media, Andy F. Noya sebagai tokoh publik, Triawan Munaf (Bekraf), Hilman Farid (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), Wishnutama (CEO NET TV), dan Agung Sentausa (BPI).

“Penilaian pertama terkait profesionalisme yang terlihat dari lembar pengisian formulir dan tawaran konsep. Poin kedua adalah relevansi. Sejauh apa proyek mereka relevan dengan Indonesia. Kemudian urgensi. Kenapa proyek tersebut harus kami dukung sekarang? Kenapa enggak tahun depan? Faktor terakhir adalah visibilitas. Kami lihat total angka yang mereka ajukan beserta bentuk model bisnisnya serealistis apa,” jelas Agung.

Suasana speed dating antara sineas dengan investor di Akatara (19/9/2018)
Suasana speed dating antara sineas dengan investor di Akatara (19/9/2018) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Berkembangnya industri perfilman dari skala kuantitas jumlah produksi dan penonton setiap tahun membuat banyak pihak melirik.

Selama penyelenggaraan Akatara 2018, Agung Sentausa mencatat kehadiran investor juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Tahun ini platform OTT dalam dan luar negeri masuk secara agresif karena ingin mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Perbankan juga mulai melirik perfilman. Mereka mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan bentuk permodalan yang bisa mereka berikan untuk mendukung perfilman,” terang Agung.

Beberapa platform Over-The-Top alias penyedia konten via streaming yang berburu proyek di Akatara adalah Viddsee, iFlix, Buttonijo, dan Go-Studio yang merupakan pengembangan unit bisnis Go-Jek.

Sebagai alternatif distribusi dan pembiayaan film, Buttonijo yang berdiri sejak 2010 bergerilya mencari konten-konten untuk mengisi etalase mereka.

“Untuk pertama kalinya kami berpartisipasi karena tertarik ingin melihat seperti apa film market yang ada di Akatara dan ide-ide baru apa lagi yang coba disampaikan para sineas ini. Harapannya bisa kami kurasi atau sponsori ke depannya,” kata Myrna Paramita Pohan selaku pendiri Buttonijo.

Visinema Pictures yang tahun lalu hadir sebagai peserta yang mengajukan proposal proyek film Keluarga Cemara, salah satu yang mendapatkan pembiayaan produksi di Akatara 2017 selain Darah Biru Arema 2, kini berganti menjadi investor.

“Kehadiran kami di Akatara sebagai investor untuk menyerap berbagai aspirasi dan ide baru seputar cerita film. Kebetulan pula, penyelenggaraan Akatara ini bersamaan dengan perayaan 10 tahun Visinema sehingga kami merasa ini saat yang tepat untuk berkontribusi lebih bagi perfilman Indonesia,” ungkap Anggia Kharisma, Chief Content and Strategy Visinema.

Saat pengumuman hasil speed dating pada hari penutupan (20/9), Visinema akan menyokong produksi dua film panjang; Sayembara (karya Paul Agusta) dan Lelaki dalam Lemari (BW Purbanegara), film panjang animasi; Tura (Bahauddin), serta proposal proyek nonproduksi film; Layar Belia.

Menurut keterangan Vivian Idris sebagai Program Director Akatara 2018, beberapa investor masih terus menjajaki kemungkinan bentuk kerja sama dengan pemilik proposal sehingga belum bisa diumumkan saat penutupan.

“Pastinya kami akan terus mengawal hasil Akatara ini. Akhir Oktober 2018 kami akan mengundang kembali teman-teman untuk datang ke Jakarta. Sama-sama kita mengevaluasi dan menindaklanjuti progres yang sudah terjadi sebulan setelah penyelenggaraan acara ini,” pungkas Vivian.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR