Sebagian tim yang berada di balik produksi ekranisasi film Aruna & Lidahnya produksi Palari Films. Dijadwalkan tayang September 2018
Sebagian tim yang berada di balik produksi ekranisasi film Aruna & Lidahnya produksi Palari Films. Dijadwalkan tayang September 2018
FILM INDONESIA

Menyatukan perbedaan Indonesia dengan makanan

Makna yang terkandung dalam novel Aruna & Lidahnya bukan melulu tentang kekayaan makanan di Indonesia, tapi juga ajakan untuk saling menghargai keberagaman

Pakar kuliner William Wongso (71) pernah mengatakan bahwa tidak ada negara yang makanannya sangat beragam seperti Indonesia.

Setiap daerah punya ciri khas. Semisal makanan di Jawa sebagian besar terasa manis, sementara di Pulau Sulawesi, seperti Manado, tak afdal jika masakan tanpa dabu-dabu yang pedas lagi panas itu.

Lain lagi di kawasan Indonesia bagian timur. Walaupun jadi tempat bertumbuhnya aneka rempah dapur, masakan khas di sana justru tak terlalu banyak campuran bumbu.

Di Sumatera, hampir setiap masakan bercampur banyak bumbu, bahkan hingga puluhan. Salah satu faktornya akibat persentuhan dengan masakan India yang memang dikenal kaya bumbu.

Keberagaman tersebut jadi salah satu kekayaan tak ternilai yang dimiliki negeri ini. Dan untuk setiap perbedaan rasa yang tersaji, kita bersuka cita merayakannya dengan cara melahapnya hingga tetes kuah terakhir. Sampai tandas.

"Dengan 13.000 pulau, Indonesia adalah sebuah gagasan besar. Bagaimana mempersatukan itu? Ya, dengan makanan," tutur Laksmi Pamuntjak soal alasan memilih tema kuliner sebagai penggerak cerita dalam novel Aruna & Lidahnya.

Aruna & Lidahnya diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU) pada 24 November 2014. Boleh dibilang novel kuliner pertama di Indonesia. Sebagian menyebutnya sastra kuliner.

Laksmi, kini 46 tahun, menyebut novel keduanya itu berisi kisah hidup yang diawali dengan makanan.

"Saat kita bertemu orang dan ngomong soal makanan, tiba tiba saja obrolan jadi cair. Itu saya temukan di mana-mana," ujar penulis yang sebelumnya menerbitkan lima buku The Jakarta Good Food Guide.

Novel Aruna & Lidahnya yang menghabiskan 1,5 tahun untuk riset mengisahkan empat sahabat, yaitu Aruna Rai, Nadezhda Azhari, Johannes Bonafide alias Bono, dan Farish.

Kecuali nama yang dituliskan terakhir, semuanya tergila-gila dengan makanan. Laksmi menegaskan hal tersebut sejak lembaran sinopsis.

"Aruna, 35 tahun, belum menikah. Pekerjaan; Epidemiologist (Ahli Wabah). Spesialisasi; Flu Unggas. Obsesi; Makanan.

Bono, 30 tahun, terlalu sibuk untuk menikah. Pekerjaan; Chef. Spesialisasi; Nouvelle Cuisine. Obsesi; Makanan.

Nadezhda, 33 tahun, emoh menikah. Pekerjaan; Penulis. Spesialisasi; Perjalanan dan Makanan. Obsesi; Makanan."

Secara garis besar, novel ini bercerita tentang Aruna yang mendapat tugas dari Kementerian Kemakmuran dan Kebugaran Rakyat menyelidiki kasus flu unggas yang terjadi serentak di beberapa daerah.

Tugas tersebut sekaligus ia digunakan untuk mencicipi kekayaan kuliner Indonesia bersama kedua karibnya, Nad dan Bono. Belakangan rekan sekantor Aruna yang bernama Farish ikut bergabung.

Beragam tema penceritaan sudah dituangkan oleh para novelis kita.

Namun entah mengapa, sebagai negara yang terkenal dengan cita rasa kulinernya, jarang muncul novel yang spesifik menceritakan tentang makanan-makanan khas di Indonesia.

Keputusan Laksmi menulis Aruna & Lidahnya mendapat respons positif karena terbukti laris dan telah beberapa kali cetak ulang.

"Sebuah novel yang ditulis dengan indah; manusiawi, rendah hati, penuh gairah, dan matang dengan interaksi kuliner... Persembahan terbaik dari penulis panduan makanan independen pertama di Indonesia," puji William Wongso.

Dian Sastrowardoyo kembali dipertemukan dengan Nicholas Saputra dalam film Aruna & Lidahnya yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak
Dian Sastrowardoyo kembali dipertemukan dengan Nicholas Saputra dalam film Aruna & Lidahnya yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Empat tahun berselang perilisannya dalam bentuk novel, Aruna & Lidahnya kini diadaptasi secara bebas dalam medium audio visual oleh Palari Films.

Diumumkannya Aruna & Lidahnya sebagai proyek kedua Palari setelah Posesif (2017) sebenarnya cukup mengejutkan.

Menuju penghujung 2016, mereka sempat mengumumkan telah mengantongi hak adaptasi novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan keluaran 2014.

Dalam perjalanannya, ternyata butuh waktu lebih banyak untuk mengeksekusi novel tersebut menjadi film.

Sembari terus mempersiapkan ekranisasi Seperti Dendam, Edwin mengajukan novel Aruna kepada Palari Films untuk terlebih dahulu diproduksi.

Kebetulan rumah produksi di Indonesia sangat jarang merilis film bioskop yang fokus membicarakan tentang makanan. Terakhir adalah Tabula Rasa produksi Lifelike Pictures yang tayang 2014.

Walaupun baru berdiri pada 2016, Palari Films berkomitmen selalu memberikan kepada penonton suguhan yang berbeda tanpa harus mengikuti tren yang sedang berlaku.

"Kalau dalam Posesif menceritakan hubungan anak SMA. Film kedua ini coba menelaah hubungan empat orang sahabat yang berumur 30an," kata Muhammad Zaidy, duet Dede di kursi produser, dalam konferensi pers di Ecology Bistro and Lounge, Kemang, Jakarta Selatan (31/6/2018).

Edwin mengaku terpincut novel karya Laksmi itu jauh sebelum membaca Seperti Dendam.

Awal 2015, ia sempat bertemu Laksmi untuk membicarakan kemungkinan mengadaptasi novel Aruna & Lidahnya. Hanya saja niatan tersebut tidak bisa cepat terlaksana karena beragam sebab.

Edwin mengaku selalu tertarik melihat orang-orang yang mengobrol di meja makan. Sebuah kebiasaan yang jamak kita lihat terjadi.

"Ada banyak momen seperti itu saya temukan dalam novel ini. Membicarakan apa saja di depan makanan, mulai dari gosip sampai hal-hal pribadi. Bagi saya sebagai pembuat film, itu materi yang bagus," kata Edwin kepada Beritagar.id usai konferensi pers.

Selain itu, Edwin juga mengaku senang menonton film yang banyak adegan mengobrolnya. Ia sejak lama mendamba ingin membuat situasi film seperti itu, hanya saja kesempatan tersebut belum ada.

"Ketika membaca Aruna, saya langsung membayangkan kalau novel ini difilmkan dan tokoh-tokohnya diperankan oleh orang yang tepat, kita bisa tersedot dalam percakapan mereka," tambahnya.

Pelan tapi pasti, Palari Films mulai menyusun rencana. Setelah Posesif rilis, penulisan draft skenario dimulai.

"Waktu awal ketemu Laksmi dan bilang kami ingin mengadaptasi bebas novelnya, dia sama sekali tidak keberatan. Bahkan tak terlalu ikut ikut campur," ungkap produser Mieske Taurisia.

Pun demikian, sepanjang proses pembuatan film ini, Laksmi bukannya tidak terlibat sama sekali.

"Dia terkadang suka mengingatkan beberapa petikan dialog antara empat karakter utama dalam novel, namun luput terangkut dalam lembaran skenario. Kita kan biasanya begitu, saking banyaknya yang harus dikerjakan, kadang suka siwer. Untung ada Laksmi yang mengingatkan," terang Dede, panggilan akrab Mieske.

Saat syuting berlangsung di Jakarta, cucu Kesoema Soetan Pamoentjak itu menyempatkan waktunya untuk datang.

Terpilihnya Dian Sastrowardoyo (sebagai Aruna), Nicholas Saputra (Bono), Hannah Al Rashid (Nadezdha), dan Oka Antara (Farish) tanpa melalui proses casting.

Sejak penulisan skenario, keempat orang itu langsung dirasakan cocok dengan peran yang hendak ditawarkan.

Harapan Palari ternyata tak meninju angin. Semua pemain mengaku tertarik. Jadwal pun cocok. "Tadinya saya khawatir ditolak sama Hannah," kelakar Dede.

Bagi Dian, ini tipe film yang dia idamkan sejak lama. "Belakangan film saya serius terus, pengin main yang mendekati drama komedi modern. Saya juga sudah lama ingin bekerja sama dengan Edwin. Ingin tahu bagaimana caranya bekerja," katanya.

Pemeran Cinta dalam film Ada Apa dengan Cinta? itu juga dipertemukan lagi dengan Nico. Hanya saja kali ini mereka tidak dipasangkan sebagai kekasih laiknya film-film mereka terdahulu.

"Film ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan hubungan asli saya dengan Nico di dunia nyata. Karena sebenarnya kami temenan seru dan geblek. Sesuatu yang jarang diekspos. Dalam film ini, Aruna dan Bono juga teman dekat. I have to say we're doing a pretty good job," jelas Dian.

Hannah Al Rashid menyimak dengan saksama acara televisi Anthony Bourdain demi perannya sebagai kritikus kuliner bernama Nadezhta
Hannah Al Rashid menyimak dengan saksama acara televisi Anthony Bourdain demi perannya sebagai kritikus kuliner bernama Nadezhta | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Produksi film Aruna & Lidahnya mendapat sokongan dari GO-STUDIO Original, CJ Entertainment, Phoenix Films, dan Ideosource Entertainment sebagai produser eksekutif.

Kepada para penggemar Laksmi, Dede memberi garansi bahwa film yang dijadwalkan tayang September 2018 ini tetap bersetia dengan novel.

"Tema obrolan penting dalam novel tetap kami ambil, bahkan kami push lagi dalam lembaran skenario yang ditulis Titien Wattimena," urai Dede.

Sungguhpun terinspirasi dengan novel dan karakter-karakter yang ada di dalamnya, pada saat bersamaan tetap muncul interpretasi sendiri yang bisa saja berbeda dengan milik masing-masing pembaca.

Tafsiran tersebut bukan hanya mewujud dalam penambahan konflik baru yang sebelumnya tidak ada dalam novel, tapi juga dalam karakterisasi pemain.

Hannah mengaku ada beberapa hal dalam diri tokoh Nadezdha yang diubah sedikit. "Supaya lebih relatable untuk orang awam," ujarnya.

Ada beberapa persiapan yang dilakukan perempuan yang mengawali karier sebagai model videoklip musik ini. Salah satunya dengan banyak menonton acara kuliner.

"Terutama acaranya Anthony Bourdain. Karena gue merasa dia seorang presenter yang cukup kritis terhadap makanan yang dia makan. Dan yang gue lihat dari Anthony Bourdain, dia tidak hanya melihat makanannya saja, tapi juga budaya dan sejarah dari negara yang dia kunjungi. Gue pengin Nadezhta seperti itu. Selalu melihat cerita di balik sebuah makanan," jelas Hannah (32).

Pembuatan film ini juga dirasakannya sebagai proyek kolektif dan kolaboratif. Tidak ada yang berusaha ingin lebih menonjol mengungguli satu sama lain.

Sejak mulai proses reading yang berlangsung sebulan menjelang syuting, sesama pemain kerap berdiskusi. Termasuk memberi masukan kepada Edwin. Sebaliknya, sang sutradara juga setia mendengarkan masukan dari para pemainnya.

"Dia tipe sutradara yang pendengar. Saat saya dan Nico memberi masukan tentang scene yang kami mainkan, besoknya Edwin memberikan skrip terbaru berdasarkan masukan tersebut. Jujur gue sudah lama tidak bekerja sama dengan sutradara yang seperti itu. Rasanya sangat diapresiasi," tambah Hannah.

Syuting film Aruna & Lidahnya berlangsung sejak April 2018 itu total menghabiskan waktu 25 hari.

Tidak semua daerah yang dikunjungi Aruna dan kawan-kawannya dalam versi novel bisa diwujudkan melalui film. Penyebabnya tentu karena benturan teknis, waktu, dan bujet.

Perjalanan dari Aceh, Medan, Palembang, Lombok, Surabaya, Pamekasan, Pontianak, Singkawang, dan Jakarta dalam novel, Edwin hanya memasukkan lima kota terakhir.

Itu saja sudah membuat tim produksi kelimpungan karena harus membawa peralatan sendiri, salah satunya genset, dari Jakarta menuju Pontianak.

"Di sana hanya ada genset yang ukurannya lebih kecil. Akhirnya kami putuskan bawa sendiri. Berangkat naik kapal, lewat tol laut. Butuh waktu empat hari untuk sampai di Pontianak," terang Dede.

Sebagai menu penutup, kami ingin menukil pernyataan Edwin, sang penerima gelar sutradara terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia ke-37.

"Teks luar yang ingin kami sampaikan lewat film ini yaitu jangan takut dengan keberagaman dan jangan takut mencoba. Karena dengan mencoba kita bisa kenal, berteman, berbagi, dan dari situ kita bisa menghargai satu sama lain."

BACA JUGA