Serat Damarwulan, salah satu naskah kuno yang didigitalisasi oleh tim DREAMSEA 20 Maret 2019.
Serat Damarwulan, salah satu naskah kuno yang didigitalisasi oleh tim DREAMSEA 20 Maret 2019. Ika Ningtyas / Beritagar.id
WARISAN BUDAYA NUSANTARA

Menyelamatkan naskah peninggalan moyang

Indonesia kaya manuskrip kuno. Proyek DREAMSEA berupaya menyelamatkan naskah warisan moyang, salah satunya di Banyuwangi, Jawa Timur.

Tedy Permadi dan Satrio Widiananto sibuk menata lembaran naskah tua beraksara Arab di satu rumah warga, Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Dengan jari-jari yang terbungkus sarung tangan, mereka meletakkan lembaran kitab lawas itu di atas bantalan hitam. Pun, tiap gerak tubuh di sekitar manuskrip serba perlahan lagi hati-hati, seolah takut bikin jejak kerusakan di kertas-kertas kuno itu.

Sejurus kemudian sesi penjepretan dimulai. Sepersekian detik lampu kilat menyala, seiring penekanan tombol rana pada kamera. Seketika pula manuskrip tersalin jadi foto digital, dan tersimpan dalam cakram keras komputer jinjing.

Tedy dan Satrio mengulang pekerjaan itu nyaris sepanjang hari. Berganti-ganti lembaran naskah .

Manuskrip berukuran 16 kali 22 sentimeter itu termuat di atas kertas Eropa. Warnanya kecokelatan, tampak usang, serta menguarkan aroma khas kertas tua.

Kitab 24 halaman tersebut merupakan karya ulama Nahdlatul Ulama, Kyai Saleh Syamsudin, pendiri pesantren di Lateng, Banyuwangi, yang hidup pada awal abad 19.

Itu satu dari 21 naskah kuno Banyuwangi yang didigitalisasi Digital Repository of Endangered and Effected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA)--tempat bernaung Tedy dan Satrio.

Proses digitalisasi makan waktu 10 hari (19-28 Maret 2019) untuk 4.900 halaman naskah kuno. "Kalau tidak ada halangan, sehari bisa selesai 400-an halaman," tutur Tedy, filolog asal Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Selasa (19/3/2019).

DREAMSEA merupakan proyek penyelamatan (digitalisasi) naskah kuno di Asia Tenggara, yang dirintis lewat kerja sama Pusat Studi Islam dan Masyarakat, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, dengan University of Hamburg, Jerman.

Proyek itu berjalan sejak akhir 2017. Rencananya bakal rampung pada 2022.

Sepanjang 2018, DREAMSEA telah mengawetkan 570 naskah (dari 28 pemilik) di Palembang, Malang, Lasem, Bali, Ambon, dan Makassar.

Pada 2019, Banyuwangi jadi salah satu tujuan proyek DREAMSEA. Manuskrip yang didigitalisasi antara lain Lontar Yusuf, Lontar Juwarsah, Kitab An'biya, Serat Damarwulan, Kisah Nabi Muhammad, dan Surat Ulama Mekkah.

Naskah-naskah itu milik 11 orang berlatar belakang petani dan lingkungan pesantren.

Tujuh naskah dari pesantren kaya aspek teologi serta tasawuf, berbentuk prosa, serta berbahasa Arab dan Jawa. Sedangkan yang dimiliki warga memuat cerita para nabi dalam bentuk puisi.

DREAMSEA menyambangi Banyuwangi setelah menerima pengajuan digitalisasi 22 naskah dari komunitas lokal. Selama ini, berbagai manuskrip itu belum banyak diteliti filolog.

Mula-mula, manuskrip diperiksa kelayakan fisiknya. Bila rusak berat, maka harus disisihkan dari proses didigitalisasi. Sebaliknya, bila manuskrip punya fisik cukup baik, tiap lembarannya segera dibersihkan dari debu dan jamur sebelum proses pemotretan.

Setelah digitalisasi rampung, naskah-naskah dikembalikan ke pemiliknya. Tim DREAMSEA juga mengajarkan cara menyimpan nan tepat.

Kelak, fail digital dari naskah-naskah lawas itu bakal dipublikasikan. Publik pun bisa menggunakannya untuk berbagai kebutuhan, seperti penelitian dan media pembelajaran. "Dua tahun lagi seluruh naskah bisa diakses online," kata Tedy.

Tedy Permadi dan Satrio Widiananto dari DREAMSEA saat proses digitalisasi naskah kuno di Banyuwangi, 20 Maret 2019.
Tedy Permadi dan Satrio Widiananto dari DREAMSEA saat proses digitalisasi naskah kuno di Banyuwangi, 20 Maret 2019. | Ika Ningtyas /Beritagar.id

Inisiatif penggiat budaya lokal

Digitalisasi manuskrip di Banyuwangi tak lepas dari peran peneliti dan penggiat budaya lokal, Wiwin Indiarti.

Setahun terakhir, Wiwin aktif meneliti dan melakukan transliterasi manuskrip Banyuwangi, seperti Serat Sritanjung, Babad Tawang Alun, dan Lontar Yusuf.

Pengajar di Fakultas Bahasa Universitas PGRI Banyuwangi itu juga menginisiasi terbentuknya Mocoan Lontar Yusup Milenial (Mlymilenial) pada 2018. Komunitas yang beranggotakan belasan orang itu punya agenda rutin membaca Lontar Yusuf.

Adapun Lontar Yusuf merupakan manuskrip Arab-Pegon yang menceritakan kehidupan Nabi Yusuf dengan seluruh aspek petunjuk kehidupan. Sebelum ditemukan kertas, cerita itu ditulis di daun-daun lontar.

Hingga kini, di Banyuwangi, tradisi membaca naskah kuno masih hidup--dikenal dengan istilah mocoan. Mocoan Lontar Yusuf, misalnya, jadi bagian dalam hajatan pernikahan dan khitanan di sejumlah kampung. Namun kebanyakan pelakunya dari generasi tua.

Cara berbeda dilakukan Wiwin dan Komunitas Mlymilenial. Tak hanya membaca, mereka kerap mencuplik Lontar Yusuf, mengemas kembali dalam tampilan visual kekinian, dan memublikasikannya lewat Instagram.

Cara itu diharapkan bisa menjangkau generasi muda.

Menurut Wiwin, meski Banyuwangi punya kekayaan naskah kuno, kebanyakan pemegang manuskrip tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan perawatan serta penyimpanan. Alhasil, naskah-naskah sarat ilmu itu terancam punah.

Situasi itulah yang melatarinya mengajukan digitalisasi ke DREAMSEA.

Proyek itu bermula saat Wiwin jumpa Dick van der Meij, filolog naskah Nusantara dari Universitas Leiden-Belanda sekaligus profesor tamu UIN Syarif Hidayatullah, dalam Simposium Pernaskahan Nusantara di Riau, November 2018.

Lepas perjumpaan itu, van der Meij membantu Wiwin mengajukan permintaan digitalisasi naskah kuno di Banyuwangi. Van der Meij pula yang jadi supervisor proyek DREAMSEA di Banyuwangi.

"Prosesnya memang cepat dan harapan saya agar naskah-naskah Banyuwangi terdigitalisasi bisa terwujud," kata Wiwin, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Banyuwangi itu.

Wiwin menghabiskan waktu dua bulan guna mengumpulkan naskah-naskah kuno. Dia blusukan ke kampung-kampung yang masih menghidupkan tradisi mocoan, seperti Desa Kemiren, Cungking, Mondoluko, Jambesari, dan Glagah.

Di kampung-kampung itu, naskah kuno disimpan oleh juru kunci atau anggota keluarga yang diwariskan turun-temurun.

"Lontar Ahmad, misalnya, dibaca dan disimpan oleh satu keluarga yang beranggotakan empat orang," kata magister lulusan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada itu.

Naskah-naskah kuno juga datang dari lingkungan pesantren. Ihwal yang terakhir, kredit harus diberikan kepada Komunitas Pegon, yang sejak Agustus 2017 bergiat mengumpulkan manuskrip berlatar Islam.

Inisiator Komunitas Pegon, Ayung Notonegoro, menjelaskan bahwa pihaknya mula-mula dapat hibah naskah pada 2017-2018.

Hibah datang dari pesantren tua, seperti Pesantren Lateng Banyuwangi, Pesantren Cemoro, Kecamatan Songgon, dan Pesantren Minhajut Thullab, Kecamatan Muncar.

"Kebanyakan naskah tak terawat dengan baik. Teronggok di lemari atau kardus. Ada yang masih utuh, ada pula yang rusak dimakan ngengat," kata Ayunk.

Kini, Komunitas Pegon menyimpan naskah-naskah itu dalam almari kaca yang ditaburi cengkeh guna mengusir ngengat.

Persebaran manuskrip di Indonesia.
Persebaran manuskrip di Indonesia. | Danil Aufa /Beritagar.id

Kekayaan yang terancam

Koordinator Tim digitalisasi Banyuwangi, Ahmad Ginanjar Sya'ban, menjelaskan bahwa program DREAMSEA dilakukan karena Asia Tenggara kaya manuskrip kuno.

Lebih-lebih, di Indonesia, kekayaan tak sekadar berbilang jumlah, tapi meliputi aneka bahan, bahasa, aksara, dan isi.

Manuskrip Nusantara memang ditulis dalam berbagai media, seperti bambu, lontar, kulit binatang, daluang, gading, tulang, dan kertas. Bahasanya macam-macam, misal Jawa Kuno, Sunda Kuno, Batak, Melayu Kuno, Madura, Arab dan Belanda.

Aksaranya beragam jua, dari Hanacaraka, Pegon, Kaganga, hingga Latin. "Dari segi isi, naskah-naskah kuno menjadi sumber pengetahuan karena memuat kearifan lokal, astronomi, astrologi, sejarah, pertanian, dan keagamaan," ujar Ginanjar.

Sayangnya, kekayaan manuskrip Nusantara itu terancam rusak dan hilang.

Konon, rendahnya kesadaran masyarakat bikin banyak naskah Nusantara kerap jatuh ke tangan kolektor, bahkan dijual hingga ke luar negeri. Pun, kebanyakan pewaris naskah belum punya kesadaran perihal nilai penting manuskrip.

Ginanjar berbagi pengalamannya saat menjumpai beberapa naskah di Palembang yang dibuang dan dijual. Ringkasnya, diperlakukan seperti rongsokan. "Padahal setelah saya teliti, naskah-naskah itu ditulis dengan tinta emas," kata Direktur Islam Nusantara Center itu.

Iklim tropis Indonesia--panas dan lembab--juga bikin naskah lekas lapuk. Belum lagi konflik sosial, politik, dan bencana alam, yang bikin warisan budaya rawan rusak.

Lima tahun terakhir, kata Ginanjar, pemerintah lewat Perpustakaan Nasional sebenarnya mulai memerhatikan manuskrip Nusantara. Baik melalui penyediaan dana untuk membeli naskah dari masyarakat, digitalisasi, hingga pameran.

Selain itu, Kementerian Agama juga kerap melakukan digitalisasi manuskrip agama Islam. Itu belum menghitung upaya pengawetan manuskrip yang dilakukan perpustakaan milik perguruan tinggi dan museum pemerintah daerah.

Akan tetapi, upaya lembaga-lembaga itu belum bisa menjangkau seluruh naskah, terutama yang disimpan masyarakat.

Kemampuan filolog terbatas jua. Apalagi kerja digitalisasi butuh modal lebih dari Rp50 juta untuk membeli peralatan berstandar tinggi seperti kamera, lensa, dan lampu.

Situasi itu, kata Ginanjar, membuat DREAMSEA ikut bergerak menjemput bola untuk menyelamatkan manuskrip-manuskrip di masyarakat dan lembaga adat.

Betapa pun inisiatif itu sudah berjalan, tak berarti kerja pelestarian sudah sempurna. Taksirannya, ada ribuan manuskrip Nusantara yang harus dijangkau.

"Sampai sekarang, kami belum tahu berapa banyak naskah di Indonesia, karena belum terkoneksi satu sama lain. Masih banyak juga naskah di masyarakat dan belum masuk katalog," ujar Ginanjar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR