Memiliki produk kosmetik kini jauh lebih mudah
Memiliki produk kosmetik kini jauh lebih mudah Artmim / Shutterstock

Menyelisik lipstik buatan anak negeri

Kisah di balik produk lipstik dalam negeri menarik untuk disimak. Mulai dari banyaknya jenama hingga kiprah maklon yang serba bisa.

Beberapa tahun lalu, lipstik cair mulai populer di kalangan para pegiat kecantikan. Boleh jadi Anda pun punya beberapa warna di tas kosmetik.

Ada banyak alasan mengapa lipstik ini begitu digemari. Pertama, teksturnya yang lembut, juga hasil akhirnya yang bisa membuat bibir terlihat kering. Lipstik jenis ini dapat membuat bibir terlihat seolah lebih tebal dan penuh, macam bibir yang jadi impian kebanyakan perempuan.

Formula lipstik cair tentu jauh berbeda dengan lipstik zaman Mesir Kuno yang menggunakan hewan, bunga atau lilin yang dihancurkan untuk mendapatkan warnanya.

Berbagai merek lipstik yang dikenal dengan istilah matte liquid lipstick ini pun mulai muncul di pasaran. Jenama berkelas internasional pun berlomba-lomba menciptakan formula lipstik cair terbaik menurut mereka.

Hal ini juga memacu beberapa merek lipstik indie untuk membuat lipstik cair dengan hasil akhir matte tersebut. Jenama lipstik yang tak bernaung di bawah nama perusahaan kosmetik besar ini pun mendadak populer berkat mewabahnya belanja daring yang juga mulai marak kala itu.

Ide ini tampaknya turut menggelitik sejumlah nama pesohor untuk ikut berkecimpung sebagai kreator lipstik. Sebut saja Kylie Jenner hingga pegiat kecantikan Huda Beauty.

Di Indonesia juga ada beberapa jenama yang namanya cukup populer di kalangan para pecinta kosmetik. BLP, Rollover Reaction, Esqa hingga produk milik para pesohor seperti Aurel Hermansyah, Inul Daratista dan Valerie Thomas adalah beberapa di antaranya.

Jenama lipstik ini tak hanya mengekor lipstik terdahulu. Masing-masing pun menjanjikan formula hingga warna yang tak serupa dengan pesaingnya.

Bahan lipstik zaman dahulu jauh berbeda dengan lipstik masa kini.
Bahan lipstik zaman dahulu jauh berbeda dengan lipstik masa kini. | Almaje /Shutterstock

Lipstik di zaman puteri kerajaan

Ya, formula yang melembapkan bibir hingga yang bisa membuatnya ternutrisi marak dijanjikan oleh para produsen. Sama seperti dahulu, saat lipstik tak sekadar sebagai riasan tetapi juga bagian dari ritual atau upacara keagamaan. Beberapa bahkan menggunakan lipstik sebagai obat. Karenanya, pemakai lipstik tak hanya perempuan, melainkan juga kaum lelaki.

Awalnya lipstik mulai muncul dalam peradaban di Timur Tengah, Afrika Utara, dan India. Perempuan Mesopotamia yang pertama kali mulai memperkenalkan lipstik untuk menghias bibir mereka dengan bubuk berkilau yang berasal dari hasil gilingan batu permata. Di zaman sekarang, bisa disetarakan dengan kilau glitter/shimmer yang biasa terdapat pada lipstik.

Dalam ulasan Elle Indonesia, juga dijelaskan bahwa lipstik yang digunakan saat itu dibuat dari anggur dan rumput laut untuk mewarnai bibir mereka. Ada juga yang menggunakan batu besi hingga jeruk keprok untuk mendapatkan warna kemerahan.

Berabad kemudian, lipstik mengalami masa kejayaan. Perempuan mulai menggunakan lipstik sebagai kosmetik.

Dari bentuknya yang tak beraturan karena penggunaan bahan-bahan alami, sekitar tahun 1000 Masehi seorang pegiat kecantikan bernama Abulcais Moor akhirnya menciptakan lipstik padat pertama kali dengan menggunakan sebuah cetakan.

Setelah itu lipstik sempat mengalami pasang surut pada sekitar tahun 1700-an. Kala itu perempuan yang belum menikah tetapi mengenakan lipstik beserta kosmetik lain akan disamakan dengan mereka yang menjalani praktik prostitusi. Pada masa itu, sekuat itulah gambaran yang tercipta dari lipstik dan kosmetik.

Namun, akhirnya lipstik kembali digunakan. Bahkan pada sekitar 1920-an, Helena Rubenstein, seorang pengusaha kosmetik jadi salah satu orang yang memopulerkan dan memproduksi lipstik dengan kandungan SPF (Sun Protection Factor) yang berfungsi untuk melindungi kulit dari bahaya matahari.

Dari sana lipstik yang diciptakan pun mulai berkembang. Apalagi setelah Mesir dengan sukses menyebarluaskan penemuan mereka ke seluruh wilayah Eropa.

Lalu, menurut Stylecraze, pada tahun 1884 lipstik modern pertama pun dikenalkan oleh salah satu perusahaan produsen parfum dan kosmetik ternama di Paris, Guerlain. Kemasan lipstik berbahan kertas sutera, sementara lipstiknya terbuat dari lemak rusa betina, minyak kastor serta lilin lebah. Saat itu, lipstik masih belum berbentuk tabung, tapi dipoleskan ke bibir dengan kuas.

Pada 1915, lipstik yang dicetak, dikemas dalam tabung marak menyebar di berbagai penjuru dunia, termasuk Asia. Berpuluh tahun setelahnya, industri lipstik berkembang dengan begitu pesat.

Pesatnya perkembangan industri lipstik dan kosmetik saat itu rupanya belum membuat jenama lokal Indonesia untung besar.

Martha Tilaar menuturkan pada Top Career, rendahnya harga tukar Dolar Amerika di tahun 90-an membuat para pegiat kecantikan tak mereken kearifan lokal yang dijual dengan harga murah. Mereka lebih bangga memakai produk buatan luar negeri yang dianggap lebih berkelas.

Perusahaannya serta beberapa perusahaan kosmetik lokal lain pun sempat merugi. Hingga akhirnya krisis ekonomi melanda, harga tukar Dolar Amerika menembus Rp17 ribu, gincu impor akhirnya dianggap terlalu mahal.

Saat itulah industri kosmetik lokal mulai terlihat penampakannya. Pemain lama mulai menggeliat, para pemain baru pun ingin ikut pamer produk.

Jenama lipstik lokal memproduksi berbagai warna lipstik.
Jenama lipstik lokal memproduksi berbagai warna lipstik. | LADO /Shutterstock

Menjamurnya lipstik lokal

Maraknya permintaan lipstik produk dalam negeri membawa angin segar bagi beberapa pemain lama. Contohnya Purbasari, yang sempat membuat heboh karena formulanya yang dicap tidak baik karena harganya yang murah. Padahal, lipstik batang dengan hasil akhir matte tersebut dibanderol harga yang terjangkau karena diproduksi di dalam negeri dengan bahan-bahan yang aman untuk kulit.

Pemain baru pun tak mau kalah unjuk kebolehan. Seperti jenama lipstik yang baru-baru ini diluncurkan, Goban (baca: Gobang). Lipstik cair dengan hasil akhir matte ini menawarkan warna kekinian yang cukup beragam. Mulai dari warna bibir hingga merah yang tegas.

Warna-warna yang kekinian diakui Marsha Karta Swadharma, salah satu narablog kecantikan Indonesia kepada Beritagar.id, jadi salah satu kelebihan lipstik ini.

Ada juga Esqa yang lebih menonjolkan warna-warna bibir yang mengarah ke merah muda hingga cokelat yang cantik.

Lalu yang sempat membuat heboh pegiat kecantikan tahun lalu, ada Rollover Reaction. Kemunculannya pertama kali tepat setahun yang lalu langsung mencuri perhatian. Terbukti sebelum produknya resmi dirilis, pengikut Instagram @rollover.reaction itu sudah mencapai lima ribu akun.

Tak lama setelah rilis produk lipstik cair yang digagas oleh Dinar Amanda, Tinanda Nabila, Sarah, dan Novi ini pun laris manis di pasaran.

Padahal, kepada Wolipop, Dinar menceritakan bagaimana ia dan ketiga temannya baru saja lulus kuliah sekitar akhir 2014, dan mulai memikirkan bisnis apa yang cocok untuk mereka. Karena keempat perempuan tersebut menyukai kosmetik terutama lipstik, mereka memantapkan diri untuk terjun ke dunia lipstik. Mereka memulai segala sesuatunya dari dasar dengan melakukan riset dan pengembangan produk.

Formula lipstik, warna hingga desain wadah hingga kemasan pun diakui Dinar yang merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung ini dikreasikan oleh mereka sendiri. Kepada Beritagar.id ia juga menuturkan, kesuksesan bisnis yang dijalaninya juga didukung dengan mudahnya mencari manufaktur dalam negeri yang sanggup penyokong segala keperluan mereka berkreasi dengan produknya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Lizzie Parra ketika membuat jenama lipstik miliknya, Lip Coat By Lizzie Parra. Jenama lipstiknya, BLP juga tak kalah menarik. Saat pertama kali diluncurkan 16 Juni 2016, Lizzie Parra menceritakan rasa penasarannya akan produk dalam negeri.

Banyaknya produk dalam negeri berkualitas baik telah menggelitiknya untuk turut menciptakan kosmetik buatannya. Tak hanya memikirkan warna yang mengetren namun tetap serasi dikenakan perempuan Indonesia, perempuan yang akrab disapa Icil ini juga meracik formula terbaik untuk lipstiknya.

Ya, kelebihan BLP diakuinya ada pada kandungan pelembap yang tinggi. Selain mempercantik pemakainya, ia pun ingin agar para pemakai BLP merasa nyaman ketika mengenakan produknya. Lipstik ini pun sudah resmi terdaftar di BPOM (Badan pengawas Obat dan Makanan).

Untuk urusan distribusi juga cukup mudah. Tak seperti zaman dahulu, kini mayoritas produsen tentu saja memanfaatkan media sosial dan situs resminya secara maksimal untuk memudahkan pembeli berbelanja secara daring.

Kiprah maklon di balik lipstik lokal

Meskipun tampak mudah, bisnis kosmetik rupanya memiliki sejumlah kendala dalam proses produksi. Misalnya saja urusan perizinan, baik dari segi kesehatan maupun badan hukum. Apalagi kini masyarakat Indonesia sudah terbilang cukup kritis dalam pemakaian kosmetik dan hubungannya dengan kesehatan dirinya.

Tiwi salah satu maklon--atau jasa perantara--kosmetik sempat menjabarkan dalam wawancaranya dengan Beritagar.id. Ia membenarkan bahwa kini berbisnis kosmetik di Indonesia merupakan hal yang sedang sangat menjanjikan.

Tak banyak yang tahu bahwa jasa maklon ini sedang melambung di dunia industri kosmetik. Maklon akan memudahkan Anda yang berminat memiliki jenama kosmetik pribadi tanpa harus bersusah payah mengurus segala sesuatunya sendiri.

Misalnya seperti yang Tiwi lakukan. Ia menceritakan kepada Beritagar.id, bahwa maklon biasanya memiliki paket yang membuat segala urusan menjadi mudah. Mulai dari memberikan pilihan produk, contohnya.

Bila Anda telah memutuskan akan menjual lipstik cair, maklon pun akan memberikan beberapa pilihan lipstik yang Anda inginkan. Mulai dari lipstik batang atau cair kualitas terbaik hingga yang sedang-sedang saja.

Produk pun bisa dibuat di pabrik lokal atau diimpor dari luar negeri. Tiwi sendiri memiliki hubungan yang baik dengan manufaktur lokal dan Tiongkok yang memiliki harga relatif lebih murah.

Biasanya, ia juga membebaskan pembeli untuk memilih sendiri formula yang telah disertakan hasil riset atau membawa sendiri formulanya yang dipercaya. Ia juga menyediakan pilihan wadah, hingga kemasan akhir. Untuk urusan desain, lagi-lagi pembeli bebas memilih atau mendesain sendiri logo hingga kemasan.

Tak sampai di situ, Tiwi dan timnya ini juga bahkan dapat membantu Anda untuk mengurus izin resmi BPOM hingga sertifikat halal dari MUI. Ketika ditanya siapa saja kliennya, perempuan 34 tahun ini hanya tertawa sambil menjawab, "Yang pasti, merek-merek terkenal lah, punya artis juga ada kok." ujarnya menutup pembicaraan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR