Guru Besar Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Sarwidi, di Museum Gempa Profesor Sarwidi di Kaliurang, Sleman, 8 November 2018
Guru Besar Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Sarwidi, di Museum Gempa Profesor Sarwidi di Kaliurang, Sleman, 8 November 2018 Beritagar.id / Pito Agustin Rudiana
MITIGASI BENCANA

Menyulap rumah biasa menjadi tahan gempa

Pada 2006, rumah yang menerapkan konsep Barrataga tetap berdiri menentang Gempa Yogyakarta. Kualitas bangunannya bersandar pada kecakapan mandor.

Sabtu, 27 Mei 2006, pukul 05.53 WIB. Terang di angkasa belum lagi sempurna. Lantai sebuah rumah mendadak berderak. Bergoyang.

Ismawan, pemilik rumah dimaksud, masih berdiam di dalam. Dia mesti menunggu beberapa saat untuk menyadari guncangan tersebut gempa.

Pada saat bersamaan, anaknya terperangkap di kamar mandi. Tak bisa membuka pintu. Berulang terjatuh karena goyangan bumi.

“Allahu akbar! Allahu akbar!” Ismawan berteriak. Kepanikan menguasainya.

Tak sampai semenit, gempa berkekuatan 6,2 dalam skala Richter tersebut berhenti. Syukur anaknya, yang sempat terjebak di kamar kecil, bisa dikeluarkan. Lalu, sembari memeluk sang buah hati, Ismawan berlari ke luar rumah.

Pemandangan menggetarkan menyambut mereka di luar. Yang kentara terlihat, rumah-rumah tetangga telah ambruk. Belakangan, Ismawan jadi tahu gempa hanya menyisakan tiga rumah di kampungnya, Dusun Jejeran 1, Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul. Rumah-rumah tersisa itu tangguh. Cuma mengalami retak di sudut antara tiang dan balok.

“Tiga rumah itu yang saya bangun 2004-2005 dengan konsep konstruksi tahan gempa,” ujar Ismawan kepada saya pada 7 November 2018 di kediamannya.

Ismawan lantas menunjukkan salah satu produk dimaksud. Sebuah rumah bercat hijau muda. Terletak di muka rumahnya. Dibangun pada 2004.

Dia juga mengajak saya berkeliling untuk menengok rumah-rumah yang didirikan dengan konsep Barrataga, akronim untuk bangunan rumah rakyat tahan gempa. Sejujurnya, sulit membedakan apakah satu rumah dibangun dengan konsep tersebut atau tidak.

Memasyaratkan Barrataga

Ismawan mandor bangunan. Usianya 54 . Dia berkenalan dengan konsep konstruksi Barrataga--yang dicetuskan Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Profesor Sarwidi--pada 2004.

Tahun itu dia angkatan pertama. Bersamanya, 30 mandor bangunan lain asal Bantul. Mereka berhimpun untuk beroleh pengetahuan dan pelatihan dari Sarwidi tentang pembangunan rumah menerapkan konsep Barrataga.

Usai kegiatan, para mandor dari berbagai daerah di Indonesia yang telah dilatih tetap terhubung. Mereka bernaung pada sebuah perkumpulan bernama Paguyuban Mandor Bangunan Tahan Gempa (Paman Bataga). Jumlah anggotanya 400. Paling banyak berasal dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Contoh ring balk yang dipasang di sisi atas dinding rumah pada bangunan tahan gempa Barrataga di Dusun Jejeran 1, Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, 7 November 2018
Contoh ring balk yang dipasang di sisi atas dinding rumah pada bangunan tahan gempa Barrataga di Dusun Jejeran 1, Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, 7 November 2018 | Pito Agustin Rudiana /Beritagar.id

Sebenarnya, Barrataga tak hanya dikenalkan kepada para mandor. Tapi, juga kantor-kantor kepala desa. Sialnya, masyarakat acuh tak acuh.

“Banyak yang nyinyir. Wong enggak ada apa-apa, kok bikin rumah kayak gitu. Jadi kesannya kami datang untuk mendoakan yang jelek-jelek (agar terjadi gempa),” kata Ismawan.

Sikap tak mau tahu itu kian tebal setelah ketahuan bahwa biaya untuk membuat Barrataga lebih mahal 10-15 persen ketimbang rumah biasa. Ongkos membengkak karena rangka besi yang diperlukan lebih banyak. Sebaliknya, warga desa cenderung membangun rumah dengan biaya seirit mungkin.

“Kalau Barrataga itu rumah rakyat yang dibangun sehemat mungkin dan mampu menahan gempa sampai skala 8. Retak boleh, tapi jangan sampai roboh,” ujarnya sambil menjelaskan prinsip rumah tahan gempa.

Metode dan aplikasi

Bangunan tahan gempa tak boleh mengabaikan fondasi. Itu pula sasaran utama Barrataga. Pembangunannya memprioritaskan penguatan fondasi. Tanah paling bawah diisi pasir setebal 30-40 sentimeter, lalu batuan kosong, sebelum kemudian diuruk pasir lagi. Sementara, kebanyakan bangunan rumah langsung menggunakan batu sebagai fondasi.

“Pasir itu untuk meredam kejutan hingga skala delapan. Seperti per. Kalau ada energi dari bawah bisa ditahan sehingga tak langsung menghantam bangunan,” kata Ismawan.

Kemudian, rangka besi ditanam dalam fondasi dengan kedalaman sekitar 30 sentimeter. Ia juga dipasang secara horizontal di atas jendela dan pintu. Ring balk atau balok beton pada sisi-sisi dinding paling atas. Rangka-rangka besi itu kemudian dicor semen. Fungsinya sebagai sabuk penguat rangka.

“Biasanya rumah enggak ada sabuk untuk memperkuat rangka. Dampaknya, meski enggak ada gempa sering muncul retak-retak pada bagian sudut jendela,” kata Ismawan.

Tiga rumah di dusunnya dibuat dengan meniru cara itu. Saat Ismawan membangunnya, para pemilik rumah tak paham bahwa dia tengah menerapkan konstruksi tersebut. Sebab, semuanya menyerahkan kepada Ismawan, mulai dari membuat desain bangunan dan tata ruang. Tak ada permintaan khusus.

“Dengan ketidaktahuan mereka, beban moral bagi saya. Setelah diserahkan, kan saya harus menjalankan amanat sebaiknya,” kata Ismawan yang kemudian memilih Barrataga.

Hasilnya, ketiga rumah disebut di muka tak runtuh dihantam gempa. Dia pun lanjut membangun satu rumah Barrataga di dusunnya usai lindu 2006. Selebihnya, Ismawan lebih banyak menangani pendirian bangunan-bangunan umum seperti pasar, rumah sakit, atau sekolah.

Namun, dalam sejumlah kesempatan, Ismawan beberapa kali diminta mewakili Sarwidi untuk memberikan penjelasan tentang Barrataga di beberapa daerah yang dilanda gempa. Usai gempa Lombok beberapa bulan lalu, Ismawan menjadi instruktur Barrataga bagi para mandor bangunan.

“Tapi pemerintah provinsi di sana menginginkan Risha (rumah instan sederhana sehat). Mungkin lebih praktis. Tapi mandornya kesulitan. Kalau enggak presisi kan sulit pasangnya,” kata Ismawan.

Menunggu bukti

Dua per tiga wilayah Indonesia terbukti rawan gempa. Kalau penduduknya ingin selamat, bangunan rumah harus aman dari guncangan. Bangunan yang mudah roboh ketika terjadi gempa mengakibatkan korban jiwa dan kerugian lebih besar. Tapi, tak mudah mengajak masyarakat mengubah cara pandang.

“Kecuali sudah terjadi gempa. Mereka terpaksa menyadari kesalahannya. Mengubah cara berpikir. Tukang-tukang bangunan mulai tahu kelemahannya,” kata Sarwidi, Guru Besar Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, saat saya temui di Museum Gempa Profesor Sarwidi di kawasan wisata Kaliurang, Sleman, 8 November 2018.

Warga dan pemerintah hanya ramai membangun rumah tahan gempa setelah kejadian. Praktik sebegitu hanya bertahan sesaat. Tujuh-delapan tahun kemudian, konsep dimaksud mulai dilupakan. Orang kembali pada pola pikir lama: yang penting rumah enak dilihat, dan murah.

Padahal, gempa tak cuma terjadi di satu tempat dan waktu. Kedatangannya tak sanggup ditebak pula. Pada suatu daerah yang pernah terkena gempa hebat dan mungkin mengalaminya lagi, generasi teranyarnya mungkin sudah melupakan sejarah gempanya.

“Mereka anggap gempa itu tak pernah ada. Hiduplah mereka sebagai orang yang seolah bukan di daerah rawan gempa,” kata Sarwidi yang juga Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Secara umum, Sarwidi mengelaskan bangunan menjadi tiga.

Pertama, bangunan teknis atau bangunan modern yang sudah menggunakan beton bertulang, dengan baja, termasuk bangunan-bangunan bertingkat tinggi yang kekuatannya dijamin oleh ahli bersertifikat insinyur profesional utama.

Kedua, bangunan nonteknis yang diadaptasi dari bangunan tradisional. Rata-rata bangunan itu tahan gempa karena telah ratusan atau ribuan tahun diadaptasi oleh warga setempat.

Ketiga, bangunan semiteknis yang tak tergolong bangunan modern atau tradisional. Ia dibikin orang jamak dengan aneka inovasi yang ketahannya terhadap gempa belum teruji. Bangunan sedemikian lumrah dianggap bermasalah.

“Karena bangunannya tembokan. Pakai beton tanpa tulangan yang mencukupi,” kata Sarwidi. Saat gempa tiba, "bangunan akan pecah. Kekuatan bangunan tak begitu tinggi, tapi berat".

Replika miniatur struktur bangunan tahan gempa Barrataga di Museum Gempa Profesor Sarwidi di Kaliurang, Sleman, 8 November 2018
Replika miniatur struktur bangunan tahan gempa Barrataga di Museum Gempa Profesor Sarwidi di Kaliurang, Sleman, 8 November 2018 | Pito Agustin Rudiana /Beritagar.id

Meski bermasalah dan berbahaya, bangunan tembokan lebih menarik hati khalayak luas karena dianggap memiliki sejumlah kelebihan. Di antara faedah itu adalah peningkatan status sosial sang pemilik. Sebab, rumah tembokan diimpor dari dari budaya Eropa dan Timur Tengah. Bentuknya megah dengan desain indah. Orang pun berlomba-lomba membangunnya.

Lalu, perawatannya murah serta lebih tahan api dan angin. Selain itu, bangunan tembokan dipandang lebih aman dari aksi kriminal ketimbang rumah bambu atau kayu.

“Orang mengambil estetikanya, bukan kuatnya. Itu kesalahan paradigma berpikir,” kata Sarwidi.

Selama menimba ilmu program doktoral di Rensselaer Polytechnic Institute (RPI) di New York, Amerika Serikat, Sarwidi lebih kerap terlibat kajian mengenai bangunan tinggi. Bukan bangunan semiteknis. Kondisi yang sama juga terjadi di kampus Indonesia.

“Yang sulit diperhitungkan itu bangunan rakyat yang sederhana ini, baik kontrol kualitas maupun penegakan hukumnya. Ahlinya sedikit di Indonesia,” kata Sarwidi.

Membidani kelahiran rumah rakyat tahan gempa

Sepulang Sarwidi dari Amerika pada 1998, kajian tentang bangunan semiteknis digelar. Apalagi pada tahun itu terjadi gempa di Blitar yang merohkan banyak rumah. Kemudian berlanjut gempa di daerah lain, seperti Pandeglang, Majalengka, Bengkulu, Padang, dan Tasikmalaya.

Kerusakan banyak terjadi pada rumah tembok yang tak dibuat dengan cara aman. Sarwidi pun lantas berpikir, bagaimana cara membuat rumah tembokan tahan gempa tanpa mengubah bentuk dan bahan.

Berbekal pertanyaan itu, dia dan teman-temannya di Center for Earthquake Engineering, Dynamic Effects and Disaster Studies (CEEDEDS) atau Pusat Studi Rekayasa Kegempaan, Efek Dinamika dan Kebencanaan UII memusatkan perhatian pada rumah semiteknis yang tahan gempa.

Mereka menyandarkan kerja pada bentuk, bahan, dan metode yang sudah tersedia dan tak sulit dicari. Ramuan akademik pun diracik. Mereka juga menentukan rumus yang dipakai dan mengujinya lewat simulasi komputer. Usai tes laboratorium, konsep bangunan rumah rakyat tahan gempa lahir pada 2003. Nama Barrataga sendiri baru disematkan pada 2006.

Beriring itu, Sarwidi dan tim mulai melakukan sosialisasi dan pelatihan untuk mandor bangunan. Mandor dipilih karena membawahi tukang yang jumlahnya lebih banyak. Ilmu yang diberikan kepada mandor diharapkan menular kepada tukang sehingga transfer ilmu lebih efektif, pun efisien dana.

Dari sekitar 70 ribu mandor di Indonesia, hanya 400 yang sudah mendapatkan pelatihan. Mayoritas berasal dari wilayah DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat. CEEDEDS juga bekerja sama dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat dari Jerman dan Amerika Serikat.

“Karena yang care itu luar negeri. Kalau dalam negeri masih sulit,” kata Sarwidi.

Selain mengajarkan urusan teknis pembuatan konstruksi bangunan kepada para mandor, mereka menekankan pembangunan rumah rakyat dengan prinsip 'BMW': Biaya bisa ditekan, mutu kekuatannya tinggi, waktu pembuatan cepat.

Kini, Barrataga sudah mencapai versi 8 (Barrataga VP 08/2018) alias sudah mengalami delapan kali inovasi sejak 2000 dengan prinsip optimalisasi BMW.

Pada 2018, Sarwidi tengah menyiapkan konsep Barralaga atau bangunan rumah rakyat lebih aman gempa. Disebut juga Barrataga Versi 09 (atau VB 09/2018).

Barralaga diciptakan bersesuaian dengan zaman dan teknologi yang berubah. Kebutuhan tukang kian kini sulit dipenuhi mengingat banyak anak tukang tak lagi mau meneruskan keahlian orang tuanya. Jumlah mandor yang dilatih pun menyusut menjadi 300-an orang karena ada yang sudah meninggal.

Sedangkan, Barralaga menyimpan sejumlah detail sulit. Karena itu, ada upaya membuat sebagian komponen dan dinding secara pabrikan.

“Tapi tetap bagaimana menekan biaya, meningkatkan mutu, dan mempercepat waktu pembuatan,” ujar Ketua CEEDEDS itu.

Walau Barralaga menjelang, delapan versi Barrataga tetap digunakan. Perbedaan utama Barrataga dengan bangunan tahan gempa lainnya adalah dari proses kelahiran dan pengembangannya.

Barrataga lahir dari masyarakat, yaitu bangunan rumah berdinding tembok yang paling disukai masyarakat, tetapi tidak tahan guncangan. Barrataga hadir memperbaiki bangunan rumah semacam itu agar menjadi lebih tahan gempa melalui pemberian bumbu akademik dengan proses bertahap.

“Ibarat kaos, kalau bangunan tahan gempa lain ukurannya all size, satu untuk semua usia. Barrataga ada S, M, L, XL, bisa memilih sesuai kebutuhan,” kata Sarwidi seraya memperkirakan bahwa sekitar 30 persen rumah masyarakat di wilayah DI Yogyakarta menggunakan konsep Barrataga.

Kini merek dagang Barrataga dan Barralaga telah keluar. Barrataga tanpa paten karena dianggap milik masyarakat. Sedangkan Barralaga tengah didaftarkan patennya. Dengan segudang pengalaman dan produk yang dihasilkan, kini Sarwidi bertahap mengubah strateginya dengan menyasar sosialisasi kepada pengambil kebijakan dan pengusaha material bangunan. Dulu kerap di-bully, sekarang Sarwidi sudah lebih percaya diri.

"Orang kan baru percaya setelah lihat bukti. Masak kami harus manggil gempa untuk membuktikan. Itu urusan Tuhan,” ujarnya.

BACA JUGA