Para pemain PSM Makassar menjalani latihan perdana di Stadion Andi Matalatta, Makassar, Sulawesi Selatan (15/1/2019)
Para pemain PSM Makassar menjalani latihan perdana di Stadion Andi Matalatta, Makassar, Sulawesi Selatan (15/1/2019) Abriawan Abhe/Antarafoto

Merajut PSM dari dalam

Anekdot Italia berkata seseorang baru benar-benar disebut kaya kalau memiliki klub bola. PSM adalah wajahnya di Indonesia.

Langit sedang mendung, Selasa (29/1/2019), saat beberapa orang sibuk mengangkat gawang. Jika biasanya hanya ada dua yang dipasang, kali ini mereka mengatur empat. Dua di utara, dua di selatan. Di setiap sisi lapangan mereka juga menaruh tumpukan bola.

Tepat Pukul 16.00 WITA, Ferdinand Sinaga dan kawan-kawan keluar dari pintu utara di bawah bangku VIP Stadion Andi Mattalatta Makassar. Pemain PSM saat itu menggelar latihan rutin.

Tak ada Robert Rene Alberts yang menunggangi latihan. Setelah ditinggal pelatih asal Belanda itu, Sabtu (12/1/2019), PSM cukup lama menentukan pengganti. Hingga akhirnya Darije Kalezic diumumkan sebagai suksesor, Sabtu (2/2).

Hari ketika Beritagar.id berkunjung, yang memandu jalannya latihan adalah asisten pelatih Syamsuddin Batola.

Syamsuddin Batola bersama Hendro Kartiko, Bima Sakti, Aji Santosa, Miro Baldo Bento, dan Kurniawan Dwi Yulianto dulunya skuad PSM ketika menjadi juara Liga Indonesia musim kompetisi tahun 2000. Sejak saat itu, belum pernah lagi tropi juara kembali ke Makassar.

Manajemen PSM kala itu diapuh dua bersaudara Nurdin Halid dan Kadir Halid. Amunisi "Juku Eja" musim tersebut terbilang moncer. Padahal saat yang sama, PSBL Bandar Lampung harus mundur bertarung di Liga Indonesia karena tak cukup dana.

Kesuksesan Nurdin Halid mengantar PSM juara yang juga mengantarnya menjadi Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Ia menggantikan Agum Gumelar pada 2003.

Meskipun berjalan mulus, Nurdin dinobatkan sebagai Ketua PSSI paling kontroversial. Pasalnya ia memimpin organisasi induk sepak bola ini dari bilik penjara.

Pasang surut menanti perjalanan PSM setelahnya. Sepeninggal Nurdin, pengelolaan PSM berganti-ganti orang.

Musim 2001-2003, PSM dikelola Reza Ali, seorang pengusaha minyak dan hotel yang kemudian jadi anggota DPR RI.

Memasuki musim 2003-2005, tampuk manajerial dikelola dua bersaudara; Erwin dan Sadikin Aksa. Sempat hengkang, kakak beradik ini menangani PSM lagi dengan status pemilik saham mayoritas klub.

Rully Habibie juga sempat masuk tepat saat kondisi finansial klub tidak pada kondisi terbaiknya pada 2015. Keputusan PSM hengkang dari Liga Indonesia dan bergabung ke Liga Primer Indonesia tidak semulus yang diharapkan. Dualisme kompetisi mempersulit keuangan klub-klub tanah air, termasuk PSM.

Angin segar berembus ketika Bosowa Corporation yang menguasai lini bisnis semen hingga dealer mobil kembali ke PSM musim 2016.

Mereka menguasai 51 persen saham dan Sadikin Aksa menduduki Direktur Utama dengan komisaris Sjahrullah Habibie, Solihin Kalla, dan Andi Suruji.

PSM yang sebelumnya bernaung dibawah PT Pagolona Sulawesi Mandiri pun kemudian diganti jadi PT Persaudaraan Sepakbola Makassar. Menantu Aksa, Munafri Arifuddin, ditunjuk sebagai Chief Executive Officer.

Perjalanan Munafri mengurus PSM pun tidak mudah. Saat awal kepemimpinannya, ia sempat didemo seluruh kelompok suporter. Lalu pelan-pelan membangun jati diri dan hingga sekarang menempatkan PSM sebagai salah satu klub elite di Indonesia.

CEO PSM Makassar Munafri Arifuddin (tengah) memperkenalkan dua pemain asing mereka, Eero Markkanen (kiri) dan Aaron Evans (kanan) saat konferensi pers di Makassar (14/1/2019)
CEO PSM Makassar Munafri Arifuddin (tengah) memperkenalkan dua pemain asing mereka, Eero Markkanen (kiri) dan Aaron Evans (kanan) saat konferensi pers di Makassar (14/1/2019) | Abriawan Abhe/Antarafoto

Memakai sneakers hitam, Appi --sapaan akrab Munafri Arifuddin-- berjalan ke tepi lapangan lewat terowongan utama Stadion Andi Mattalatta.

Ia menyapa beberapa pemain dan memperhatikan sejenak Wiljan Pluim beradu bola dengan pemain lainnya, termasuk Aaron Evans yang baru saja didatangkan ke Makassar dengan harga Rp4,76 miliar.

Pada laman TransferMarkt, PSM menjadi klub dengan pembelian terbesar ketiga di Liga 1 Indonesia 2019. Total belanjanya mencapai Rp65 miliar. Posisi pertama ditempati Bali United FC, disusul Madura United FC.

“Tidak apa bujetnya besar, tapi bisa mendatangkan input yang signifikan,” kata Appi menjelaskan strategi transfer pemain yang ia gunakan.

Sejak mengendalikan PSM pada 2016, skema yang sama selalu dipakai Appi. Ia bercerita bagaimana orang-orang awalnya tidak senang dengan yang dilakukannya. Memangkas hampir semua pemain, asisten pelatih, bahkan pelatih saat itu.

Ia lalu mencari pelatih yang punya karakter. Pilihannya jatuh pada sosok Robert Rene Alberts. Keyakinan Appi kian kuat setelah bercerita panjang lebar dengan pelatih asal Belanda tersebut. Keduanya sama-sama ingin membangun sistem sepakbola yang berkarakter.

“Kuncinya bagaimana menentukan pelatih yang tepat untuk bisa menentukan standar permainan,” ujarnya.

Karakter yang dimaksud Appi adalah kemampuan untuk menakar kekuatan yang ada di timnya. Menurutnya seorang pelatih juga harus paham dan belajar tentang filosofi sepakbola.

“Tidak semata mengasah kemampuan teknik di lapangan, tapi juga jadi pelatih psikologis untuk pemain,” idealnya.

Sebelum ia menangani PSM, tim dianggapnya tidak punya kemampuan atraktif sebagai klub sepakbola. Oleh karena itu, ketika masuk ia melakukan perombakan penuh. Setelah pelatih yang tepat berhasil didapatkan, pemain berkarakter pun diburu. Mereka mengutamakan pemain lokal dengan kemampuan di atas rata-rata.

Karakteristik ini sudah ada sejak lama, bahkan ketika masih bernama Makassar Voetbal Bond (MVB) tahun 1915. Embrio Persatuan Sepak Bola Makassar atau PSM selalu menampilkan orang-orang bumi putera sebagai promotor.

Kita mengenal banyak pemain hebat dari Makassar. Salah satunya Ramang. Laman situs web resmi Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) pada 2012 pernah menulis, Ramang adalah penyerang yang sangat cepat dengan kontrol bola akurat.

Meski memiliki banyak talenta terbaik, tidak gampang bagi manajemen PSM menemukan dan membesarkan mereka. Alhasil klub sempat keteteran saat fase awal perombakan. Seluruh suporter memprotes kepemimpinan Munafri.

“Saya hanya minta diberi waktu untuk membuktikan. Saya yakin, filosofi sepakbola itu harus punya dasar permainan yang standar. Dengan dasar yang kuat, segala hal yang diinginkan akan gampang kita bentuk,” katanya.

Ia juga menolak segala rupa kemenangan-kemenangan instan. Komunikasi dengan seluruh kelompok suporter mulai ia bangun. Karena sepakbola, kata dia, bukan milik manajemen semata. Semua elemen harus membentuk atmosfir yang sama.

Para pemain PSM Makassar menjalani latihan perdana di Stadion Andi Matalatta, Makassar, Sulawesi Selatan (15/1/2019)
Para pemain PSM Makassar menjalani latihan perdana di Stadion Andi Matalatta, Makassar, Sulawesi Selatan (15/1/2019) | Abriawan Abhe/Antarafoto

Dalam buku Brazillian Football and Their Enemies yang diterbitkan Pandit Football Indonesia menulis, sepakbola awalnya permainan orang-orang kelas bawah, namun Inggris mengubahnya jadi permainan yang berorientasi pasar dan ramah sponsor.

Ketika sebuah klub bermain dengan baik dan punya prestasi, maka nilai sahamnya akan naik. Manajemen PSM saat ini meyakini hal tersebut. “Sepakbola adalah bisnis yang dijalankan secara profesional,” kata Munafri.

Sepakbola saat ini bukan lagi soal menang, kalah, atau imbang. Ia telah merambah pada urusan-urusan yang lebih jauh ke ranah sosial, ekonomi bahkan lingkungan. Meski industri sepakbola Indonesia masih meraba model bisnisnya, namun siklus pendapatan masih tetap sama; sponsor, hak siar, dan penjualan tiket.

Sumber pendanaan terbesar PSM masih lebih dominan dari sponsorship. Bosowa Semen masih yang paling dominan menyokong dana disusul Honda, Go-jek, Umbro, dan Kuku Bima Ener-G!.

Meski begitu, ada perubahan pendapatan dari hasil penjualan tiket. Manajemen pada 2017 lalu mengeluarkan dana untuk memperbaiki infrastruktur penonton lalu menaikkan harga tiket. Mereka bisa mengantongi Rp700 juta dalam satu musim liga.

Menggandeng kelompok suporter untuk terlibat lebih jauh menggarap merchandise juga ditempuh manajemen. Dengan memberi ruang yang besar untuk suporter secara tidak langsung membangun rasa memiliki yang tinggi.

Saya masih ingat kata-kata Uki Nugraha alias Daeng Uki, pentolan kelompok suporter Laskar Ayam Jantan, sepekan setelah PSM dinobatkan sebagai runner up Liga 1 musim 2018. Ia mengatakan komunikasi manajemen saat ini dengan kelompok suporter memang intens.

“Pak Appi tidak sungkan untuk datang ke markas hanya sekadar cerita-cerita,” ujar Daeng Uki.

Kelompok suporter pun diberi jatah khusus untuk menjual tiket kepada anggotanya. Ini ditempuh guna memerangi calo penjualan tiket. Manajemen PSM juga mempersiapkan sistem penjualan tiket online dan kartu keanggotaan.

Meski terlihat sudah cukup ideal, pada kenyataannya masih banyak masalah yang dihadapi manajemen PSM saat ini.

Infrastruktur menjadi yang paling serius. Ketika Beritagar.id mendatangi Stadion Andi Mattalatta hari itu, hujan baru saja turun. Air menggenangi semua pintu masuk. Tampak kusam dan kurang terawat sangat mudah terasa.

Appi menyadari hal itu. Bahkan berkata kemungkinan stadion tidak akan mampu menampung penonton lagi kedepannya. Dan ini jadi masalah serius dari hitung-hitungan bisnis.

Tapi dengan mempelajari hasil PSM selama tiga tahun terakhir. Ada harapan besar yang menanti.

“Cita-cita saya dari awal ingin membawa kembali kiblat sepakbola itu ada di Makassar,” kata kontestan tunggal Pemilihan Wali Kota Makassar 2018 lalu tersebut.

Ia ingin anak-anak Makassar bersinar dan mampu mengisi bangku tim nasional. Itulah alasan setiap tahunnya PSM mengeluarkan dana besar untuk memberangkatkan satu talenta muda dari Makassar untuk belajar sepakbola di Eropa.

Lewat manajemen yang profesional, PSM berharap tidak hanya disegani di Indonesia. Tapi mampu bersuara di tingkat Asia.

“Kami ingin membangun sistem yang tertata, sehingga siapapun nantinya yang mengelola klub ini sudah ada format yang langsung dipakai,” tegasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR