Alain Compost bertemu para pelatih gajah di Way Kambas, Lampung, saat melakukan ekspedisi ke lokasi itu dua tahun lalu.
Alain Compost bertemu para pelatih gajah di Way Kambas, Lampung, saat melakukan ekspedisi ke lokasi itu dua tahun lalu.
ALAIN COMPOST

Merayakan 40 tahun karier: touring ke pelosok Indonesia

Alain Compost merayakan 40 tahun karier profesional di Indonesia dengan ekspedisi bermotor. Berkampanye untuk kelestarian lingkungan.

Alain Compost tiba di Indonesia pada 1975. Tahun yang sama dengan berakhirnya Perang Vietnam. Setahun usai Peristiwa Malari pecah di Jakarta.

Usianya waktu itu 23. Kini, lebih dari 40 tahun setelah kedatangan itu, dia masih berdiam di negeri ini.

Padahal persiapan ke Asia Tenggara tak matang. Maklum, cuma lihat brosur promosi wisata. Bermodal informasi lembaran itu dia hengkang dari Prancis--negeri tumpah darahnya--dan sempat menclok di Malaysia. Beberapa bulan saja.

Namun, sial buatnya. Malaysia tak sepadan dengan harapan. Maklum, Alain Compost hengkang dari Prancis untuk lihat banyak satwa liar. Lantas diabadikan jadi foto-foto elok. Tetapi, di Malaysia dia hanya beroleh sedikit.

Seorang kawannya kemudian menyarankan Sumatera. Dia menurut.

Lalu, dengan peralatan fotografi seadanya, dia tiba di Medan. Lalu beranjak ke Bohorok, Langkat. Masih di Sumatera Utara. Lalu bekerja di kawasan pemeliharaan dan perlindungan orangutan.

Lalu sisanya tercatat dalam sejarah. Lestari.

Karya-karya fotonya tercetak di media-media berkelas. Paris Match. National Geographic. BBC Wild Life. Figaro. Untuk menyebut sejumlah di antaranya.

Foto paling dikenang mungkin tentang badak bercula satu. Dijepret di Ujung Kulon, Jawa bagian barat, pada 1986. Foto yang menjulangkan namanya.

Alain Compost mengerjakan film pula. Gambar bergerak. Dokumenter. Masih tentang alam liar. Menjadi kamerawan. Sejak awal 1990-an. Melengkapi titel fotografer yang dia pikul.

Dia juga menahbiskan diri sebagai konservasionis. Hal yang "jadi semacam satu duty," ujarnya kepada Beritagar.id, Selasa (4/12/2018), di rumahnya di kawasan Desa Cijeruk, Bogor, Jawa Barat.

Upaya pemeliharaan dan perlindungan lingkungan itu masih berlangsung sampai sekarang. Salah satu wujud laku itu, memberikan penyuluhan kepada masyarakat. "Kasih semangat ke mereka," dan membikin "mereka peduli".

Merayakan 40 tahun tinggal dan bekerja di Indonesia

Di lemari kamar kerjanya, Compost memajang selembar uang kertas nominal Rp20.000. Emisi 1992. Gambar burung cendrawasih di sisi depan uang itu dibuat berdasar atas fotonya.

Alain Compost di Ketambe, Aceh Tenggara. Di tempat ini terdapat pusat penelitian orangtua tertua di Taman Nasional Gunung Leuser. Pernah disambangi aktor film, Leonardo DiCaprio dan Adrien Brody.
Alain Compost di Ketambe, Aceh Tenggara. Di tempat ini terdapat pusat penelitian orangtua tertua di Taman Nasional Gunung Leuser. Pernah disambangi aktor film, Leonardo DiCaprio dan Adrien Brody. | Alain Compost

Sementara, di halaman depan rumah, terparkir motor bertenaga listrik. Pabrikan Amerika Serikat. Keluaran Zero Motorcycles.

Dengan motor itu, Compost menapak tilas karier profesionalnya selama di Indonesia. Juga bakti sebagai manusia. Kerja mendokumentasikan wajah alam liar. Ke daerah-daerah yang pernah disambanginya.

"Motor sponsor. Dari National Geographic. Saya dapat grand. USD25.000. Tadinya mau beli Kawasaki Versys 600. Tapi karena idenya konservasi, saya ambil (Zero)," katanya.

Sudah motor listrik, bukan baru pula. Itu dua tingkat pertimbangan terhadap lingkungan. Compost dapat motor itu dari satu penyalur di Jakarta. Bekas percobaan patroli polisi.

Angka di odometer baru 1.500 km. Harga lebih murah. Diakuisisi pada 2016.

Pada tahun sama, Compost memulai ekspedisi napak tilasnya. Medan kota tujuan pertama. Kota mula-mula yang dia jejaki waktu tiba di Indonesia lebih dari 40 tahun lalu. Kota yang memperkenalkan dialek Melayu pada lidahnya.

Sekitar 90 km dari Medan itu, di Bohorok--sebuah kecamatan di Kabupaten Langkat--Alain Compost berhenti. Ke sana turis biasa datang untuk mengamati orangutan. Daerah itu masih termasuk Taman Nasional Gunung Leuser.

"Saya sudah pernah shooting di sana , tahun 1975. Kan kita terima orangutan untuk direhabilitasi. Belum ada tempat karantina. Orangutan datang terus-terusan saja. Dan sekarang masih begitu. Enggak ada perubahan. Berarti, orangutan terus-terusan ditangkap, dibunuh. Kalau anaknya diselamatkan, berarti ibunya sudah dibunuh," katanya melukiskan kondisi lebih dari 40 tahun lalu dan setelahnya.

Bohorok sekarang menjadi ruang konflik satwa liar dan manusia. Bahkan harimau sumatera dikabarkan pernah menyerang ternak warga. Di sana Alain Compost memberikan penyuluhan tentang isu lingkungan.

Setelah itu dia beralih ke Batu Katak. Masih dalam lingkaran Bohorok. Pakai motor. Lalu lanjut jalan kaki masuk hutan. Lima hari perjalanan ke dalam rimba, lima hari waktu tempuh ke luar. Dia menuju sumber air mengandung garam atau mineral-mineral. Tempat binatang-binatang liar datang.

Sialnya, lokasi dimaksud kena longsor. Mengeruhkan air. Menghilangkan prospek kedatangan hewan.

"Tapi karena sudah lama tidak masuk hutan," ujarnya dengan bahasa Indonesia lancar, "saya jadi menikmati betul-betul. Jadi nostalgia. Malam-malam cari ikan. Ikan jurung. Ke sana untuk pengalaman saja. Buat bahan bicara".

Dari Bohorok, Alain Compost mengarah balik ke Medan. Lewat Brastagi. Mampir pun ke lokasi konservasi orangutan di Sibolangit.

Kemudian dia berlanjut ke Kutacane, Aceh. Gerbang utama Taman Nasional Gunung Leuser. Butuh dua hari perjalanan dari Medan. Lama. Karena motor harus setop beberapa kali. Isi ulang baterai. Tersebab bawa bekal lumayan berat, tenaga motor cepat pula terisap.

Dan menurutnya, satu problem motor listrik di Indonesia ada di sektor pemulihan daya. Belum banyak titik di pelbagai provinsi dialiri setrum. Padahal, recharging tak terlampau sulit. Asal cukup aliran. Minimal dari sumber 900 watt.

Di Aceh saja dia sempat mesti bersiasat. Waktu baterai motornya sudah sekarat. Dibantu warga setempat, dia terpaksa ambil listrik langsung dari jaringan di jalan.

Bunga terbesar di dunia. Rafflesia arnoldii. Diabadikan saat di Batu Katak, Langkat, Sumatra Utara.
Bunga terbesar di dunia. Rafflesia arnoldii. Diabadikan saat di Batu Katak, Langkat, Sumatra Utara. | Alain Compost

Selain isi ulang baterai, Alain Compost sering rehat karena kelelahan. Mungkin terdesak usia. 66 jelas tak lagi muda. Sudah begitu, jalan tak selalu mulus. Kisaran jarak 100 km sudah bikin badan tak nyaman.

Karena panggilan pekerjaan, Compost ambil jeda dua bulan usai tuntas di Kutacane. Setelah melalui break itu, dia melaju ke Batang Toru, Tapanuli Selatan. Di sana dia menitipkan motor kepada seorang warga. Pak Bambang. Sebab, dia harus rehat lagi.

"Dia baik sekali. Padahal rumahnya kecil. Rumah kayu. Motor saya jadi tempat tidur kucing," katanya sembari tertawa.

Waktu bisa memulai lagi ekspedisi, Alain Compost sebenarnya berniat ke Gunung Kerinci. Perhitungan akan daya baterai jadi pertimbangan. Jarak dari Batang Toru ke sana terlalu jauh. Sementara, kekuatan maksimal baterai hanya 200 km. Itu kalau tak mengusung beban tambahan seperti logistik.

Motor pun digeber langsung ke Lampung. Ke Taman Nasional Way Kambas. Lokasi yang kesohor dengan gajah-gajah. Perjalanan makan waktu empat hari. Karena banyak berhenti. Dia hanya jalan ketika langit terang. Menghindari malam yang menyimpan banyak begal.

Di Way Kambas, Alain Compost pernah merekam aktivitas pelatihan gajah pada awal 1990-an. Waktu itu, katanya, gajah-gajah yang dijinakkan didapatkan langsung dari sana.

Namun, pelatihnya datang dari Thailand. Bersama gajah-gajah terlatih dari negeri tersebut. Saat di Way Kambas, orang Thailand itu tak menangkap gajah dengan bius. Tapi jerat. Setelah kena jebakan, gajah berumur tanggung diikatkan ke gajah dewasa asal Thailand. Lalu ditarik.

Alain Compost pernah mengikuti perjalanan tim Thailand itu dari negeri asalnya ke Indonesia. Lewat Penang, Malaysia. Menyeberang ke Dumai, Riau. Lantas berlanjut pakai truk ke Lampung.

"Orang Thailand waktu itu sangat brutal sama binatang. Gajahnya dipukul. Berdarah. Sekarang sih sudah lebih baik. Lebih gentle," ujarnya.

Saat di Lampung itu pula dua dekade lalu, Compost menemukan gajah muda terperosok ke lubang. Di Kabupaten Waykanan.

"Saya lihat petugas enggak berani lewat karena ada gajah ngamuk. Saya curiga, lalu masuk ke hutan," katanya.

Hari masih siang. Suasana tak ramai. Di dalam hutan rapat, tiba-tiba Alain Compost menemukan tanah luas. Sudah rata diinjak-injak. Di dekatnya terdapat lubang. Di situ sang anak gajah terjerumus.

Alain Compost bertemu dengan seorang warga di Way Kambas
Alain Compost bertemu dengan seorang warga di Way Kambas | Alain Compost

Induknya coba mengeluarkan anaknya, tapi tak kuasa. Kekalutan sang induk memuncak kala menyadari ada manusia melintas. Yakni petugas yang dimaksud Alain Compost di muka. Sang induk marah karena hanya ingin melindungi anaknya.

Tanpa lama menunggu, Compost bergegas ke pusat pelatihan gajah. Meminta pertolongan. Beberapa petugas lantas menyusul bersama gajah terlatih.

"Anak gajah itu dikeluarkan dan dikasih nama Compost. Tapi saya dengar dua tahun kemudian dia mati karena infeksi. Ada virus yang suka menyerang anak gajah dan sampai sekarang belum ketemu cara pencegahannya," ujarnya.

Selepas Lampung, pria plontos itu meneruskan perjalanan ke Taman Nasional Ujung Kulon. Ujung barat Pulau Jawa. "Tempat paling bersejarah untuk saya," katanya. Dia masuk kampung. Membagikan pengetahuan dan pengalaman kepada warga.

Dari Desa Taman Jaya, Kecamatan Sumur--daerah yang mengalami dampak terparah tsunami Selat Sunda pada Desember 2018--Alain Compost berjalan kaki. Lebih dari 20 km. Menembus hutan. Dia berkawan seorang pemandu wilayah.

"Saya mengunjungi beberapa tempat. Putar film tentang badak. Kata orang sana, baru kali ini ada orang ambil waktu untuk putar film badak," ujarnya.

Tiga puluh dua tahun lalu, kerja kerasnya diakui dunia. Hasil jepretan langka. Atas binatang langka. Foto badak bercula satu.

Alain Compost waktu berhari-hari untuk menemukan hewan tersebut. Tapi, dia sabar. Teguh hati. Tubuhnya sempat jadi saksi ketelatenannya. Badan berkulit putih itu dilumuri tahi badak. Demi menutupi bau manusia.

Ketika itu, baru Alain Compost yang sukses merekam gambar satwa pemalu itu dengan baik. Tapi bukan yang terakhir. Beberapa kali dia masih melakukan lagi. Bahkan, dalam sehari saja dia pernah bisa bertemu badak bercula satu.

"Perjuangan betul itu dapatnya. Bertahun-tahun," ujarnya mengenai pengalaman 'berburu' badak jawa itu berpuluh tahun lalu.

Pertanyaan sejuta dolar

Meski ekspedisi untuk memperingati 40 tahun karier dan kehidupannya di Indonesia belum lagi berlanjut, Alain Compost tak berhenti mengajukan pertanyaan sulit itu: apakah aktivitasnya mengampanyekan lingkungan itu berarti?

Alain Compost setelah usai memberikan penyuluhan bagi para siswa sebuah SMA Plus di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Alain Compost setelah usai memberikan penyuluhan bagi para siswa sebuah SMA Plus di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. | Alain Compost

"Dilema saya adalah, apa yang saya lakukan itu berguna atau tidak? Karena skopnya (kecil). Kunjungi tempat-tempat terpencil. Satu kampung, atau komunitas. Apakah ada perubahan? Saya kira enggak. Mungkin kalau dilakukan terus-terusan, bertahun-tahun, bisa (ada perubahan). Sebab, masalah eksploitasi besar-besaran bukan di tangan kita," katanya.

Lingkungan alami tak hanya terancam oleh perusahaan besar. Tapi warga setempat. Yang kian terpapar persaingan karena peningkatan jumlah penduduk. Yang memasang jerat-jerat penjebak di hutan-hutan konservasi. Perangkap yang ujungnya tak memilih mangsa.

Menurut hemat Compost, masyarakat harus dilibatkan dalam upaya perlindungan dan pemeliharaan lingkungan. Sebab, mereka yang langsung berhadap-hadapan dengan alam liar.

Dia mencontohkan kawasan konservasi burung maleo di Sulawesi. Di sana, komunitas setempat dilibatkan dalam perlindungan satwa.

"Mereka rasa memiliki. Mereka bangga ada burung maleo di tempat mereka. Itu lebih kuat untuk jangka panjang. Untuk kontinuitas, masyarakat penting sekali," ujarnya.

Kadang, Compost merasa audiensnya hanya bersemangat karena melihat dia--orang asing--berbicara bahasa Indonesia dengan fasih. Hiburan belaka.

"Tapi saya mencoba mendekati masyarakat dan kasih semangat ke mereka. Padahal, ngomong sama orang sebenarnya saya juga enggak suka," katanya. "Dan problemnya, yang harus kita tanam bukan pengetahuan. Tapi perasaan. Masalah itu lebih susah".

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR