Salah satu adegan dalam film Dilan 1990 yang dibintangi Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla
Salah satu adegan dalam film Dilan 1990 yang dibintangi Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla Falcon Pictures dan Max Pictures
FILM INDONESIA

Merayakan rekor baru jumlah penonton film Indonesia

Pertumbuhan industri perfilman Tanah Air kembali terjadi. Sepanjang 2018, tercatat sudah lebih dari 50 juta penoton film Indonesia di bioskop.

Untuk pertama kalinya sejak terbangun dari tidur usai pemerintahan Orde Baru runtuh pada 1998, perfilman Indonesia menyentuh angka 50 juta penonton dari total 132 film yang rilis sepanjang 2018.

Merujuk kalkulasi Sigit Prabowo, pemilik akun @bicaraboxoffice yang telaten menganalisis pendapatan film-film yang tayang di bioskop, jumlah penonton film Indonesia tahun kalender 2018 hingga 23 Desember mencapai 51.393.328 tiket.

Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 42,6 juta penonton.

Pada 2016, jumlah penonton film Indonesia menurut data yang disarikan Catherine Keng dari Cinema XXI mencapai 37,2 juta.

Seketika banyak pemangku kepentingan merayakan pencapaian tersebut. Pasalnya jarang sekali film-film kita berhasil mengumpulkan total lebih dari 30 juta penonton.

Catatan menggembirakan serupa itu terakhir kali terjadi pada 2008. Saat itu film seperti Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta menyumbang banyak angka pemasukan.

Khusus 2018, jumlah film yang berhasil memikat lebih dari satu juta penonton juga meningkat. Jika pada 2017 tercatat ada 11 judul film yang menyampai aras satu juta penonton, maka jumlah tersebut meningkat jadi 13 judul kurun 2018.

Ekranisasi Dilan 1990 jadi pemuncak menyusul keberhasilannya mengumpulkan 6,3 juta penonton. Menyusul kemudian Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (3,3 juta penonton), dan Danur 2: Maddah (2,5 juta penonton).

Jumlah tersebut potensial bertambah mengingat Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta & Rangga) garapan Ernest Prakasa hingga artikel ini terbit masih tayang di bioskop.

Sejak 2016 kala mengeluarkan Cek Toko Sebelah, Ernest selalu menghantar film arahannya menyentuh angka jutaan penonton.

Angga Dwimas Sasongko, sutradara dan produser dari Visinema Pictures, lewat cuitan melalui akun Twitter-nya (22/12), menyebut Ernest dengan julukan bankable karena setiap film yang ia tulis dan sutradarai punya konsistensi. “Pendapatannya bertumbuh,” tulis Angga.

Film Asal Kau Bahagia produksi Falcon Pictures yang tayang mulai 27 Desember 2018 juga diprediksi laris oleh sejumlah kalangan pemerhati film Indonesia.

Alasannya karena sumber film termaksud dari lagu berjudul sama milik Armada yang sangat hit. Diperkuat pula oleh Aliando Syarief dan Aurora Ribero, dua bintang muda yang memiliki banyak penggemar setia.

Sementara Rako Prijanto yang sukses dengan Teman tapi Menikah (1,6 juta penonton) berada di belakang layar sebagai sutradara. Jangan lupakan pula keberanian Falcon Pictures menghabiskan dana miliaran untuk berpromosi.

Benar saja, terkumpul 111 ribu penonton setelah hari pertama penayangan Asal Kau Bahagia di bioskop (27/12).

Dengan perolehan penjualan tiket yang semakin meningkat, apakah kualitas film-film kita juga turut meningkat? Sayangnya belum. Penilaian tersebut datang dari sineas Joko Anwar (42).

Peraih dua Piala Citra untuk kategori penulis skenario dan sutradara terbaik itu menilai dari semua film Indonesia yang tayang sepanjang tahun, tak sampai 10 persen yang masuk kategori bagus.

Dari kacamata Joko, ada dua pendekatan untuk menilai film bagus, yaitu berdasarkan teknis dan estetika. Semuanya punya ukuran standar.

Misal untuk menilai aspek estetika bisa terlihat dari pemilihan palet warna yang digunakan. Sementara segi teknis tentu saja menyangkut hal-hal mendasar macam suara atau gambar. Kru bisa mengatur kuat dan lemahnya pencahayaan menggunakan light meter.

“Dua unsur itu dibuat untuk mendukung story telling atau penceritaan yang ada dalam skenario. Bagi aku skenario adalah tulang punggung film,” jelas Joko dalam acara peluncuran trailer film Orang Kaya Baru di CGV, fX Sudirman, Jakarta Selatan (11/12).

Daftar film Indonesia rilisan 2018 yang berhasil meraih lebih dari satu juta penonton
Daftar film Indonesia rilisan 2018 yang berhasil meraih lebih dari satu juta penonton | Sandy Nurdiansyah/Beritagar.id

Tahun anjing tanah menjadi peruntungan bagi genre horor. Pasalnya film-film yang mengedepankan unsur teror dan keseraman ini menjadi primadona penonton di Tanah Air.

Melesatnya popularitas horor menggantikan genre drama komedi yang sempat mendominasi daftar film terlaris pada 2016 silam.

Kurun 2018 tercatat tujuh judul film horor mendarat dalam daftar 13 film yang berhasil membukukan angka lebih dari satu juta penonton.

Film-film tersebut adalah Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (3,3 juta penonton), Danur 2: Maddah (2,5 juta penonton), Asih (1,7 juta penonton), Jailangkung 2 (1,4 juta penonton), Sabrina (1,3 juta penonton), Kuntilanak (1,2 juta penonton), dan Sebelum Iblis Menjemput (1,1 juta penonton).

Bandingkan dengan catatan 2017 yang mencatatkan “hanya” lima film horor sanggup meraih satu juta lebih penonton, yaitu Pengabdi Setan (4,2 juta), Danur: I Can See Ghosts (2,7 juta), Jailangkung (2,5 juta), Mata Batin (1,2 juta), dan The Doll 2 (1,2 juta).

Tren ini masih akan terus berlanjut hingga 2019. Film-film genre horor yang mengantre tayang di jaringan bioskop sudah menumpuk. Ada yang merupakan sisa antrean tahun sebelumnya, tapi belum sempat dapat jadwal, lalu sisanya film-film produksi baru.

Kondisi seperti ini ibarat melontarkan kita satu dekade lampau. Saat itu bejibun film horor memenuhi layar-layar bioskop. Dari sekian banyak film, hanya segelintir yang laik diacungi jempol.

Beberapa film bahkan dibuat asal jadi demi mengikuti tren kala itu. Plus jualan promosi dibintangi Sasha Grey, Maria Ozawa, bla-bla-bla.

Alhasil masyarakat penonton film Indonesia kecewa. Mereka tak acuh dengan film produksi sineas kita. Jumlah penonton hingga tahun-tahun berikutnya jeblok.

Perlahan kondisi membaik sejak dua tahun silam seiring tumbuhnya kepercayaan penonton.

Meskipun saat ini dari segi skala produksi setingkat lebih baik dibandingkan satu dekade lalu, tetap saja tren horor yang terjadi hari mengundang kekhawatiran.

“Kalau disuguhkan horor terus, gue takutnya penonton bosan. Soalnya kita pernah mengalami fenomena seperti ini yang kemudian bikin orang malas nonton film di bioskop,” ungkap Ernest Prakasa saat ditemui dalam konferensi pers film Milly & Mamet di Alegro F-Ktv, Karet Kuningan, Jakarta Selatan (11/12).

Joko Anwar yang sedang mempersiapkan film Gundala menganggap wajar jika genre horor mendominasi layar perbioskopan.

Hanya saja orang di balik kesuksesan Pengabdi Setan itu merasa dari sekian banyak produksi film horor, yang kualitasnya bagus bisa dihitung dengan jari.

Jika terus dibiarkan akan berdampak tidak sehat bagi industri perfilman Tanah Air. Kepercayaan terhadap film Indonesia bisa raib kembali.

“Jangan sampai kita seperti Thailand. Ketika genre horor di sana laris, semua ngikut bikin film horor tanpa diimbangi peningkatan kualitas, lama-lama ditinggalkan sama penonton. Kita jangan sampai seperti itu,” ujarnya.

Laiknya makanan, jika suguhan menu didominasi oleh hal yang sama, akan tiba masa orang bosan.

Penting untuk menyuguhkan variasi tontonan demi menjaga momentum pertumbuhan penonton film Indonesia. Caranya dengan berani memproduksi film-film bergenre lain.

Imbauan itu pula yang disampaikan Cinema XXI melalui surat berkop PT Nusantara Sejahtera Raya Nomor 001/PGM/X/2018 yang ditembuskan kepada Asosiasi Perusahaan Film Indonesia, Asosiasi Produser Film Indonesia, dan Persatuan Produser Film Indonesia.

Menyikapi maklumat dari pemilik layar bioskop terbanyak di Indonesia itu, kalangan sineas terpecah dua pendapat.

Satu sisi mendukung demi terciptanya keragaman dan kesempatan untuk film-film genre lain memperoleh kesempatan tayang. Sementara kubu lain beranggapan sama juga bohong melakukan pembatasan jika genre film lain juga tidak menunjukkan peningkatan kualitas.

Joko Anwar (paling kiri) siap meluncurkan film Gundala untuk penonton film Indonesia pada 2019
Joko Anwar (paling kiri) siap meluncurkan film Gundala untuk penonton film Indonesia pada 2019 | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Akan seperti apa lanskap perfilman Indonesia sepanjang 2019 menarik untuk ditunggu. Tercatat ada beberapa proyek besar nan menjanjikan bakal disuguhkan untuk penonton film Indonesia.

Falcon Pictures akan menggebrak dengan Dilan 1991, My Stupid Boss 2, dan Bumi Manusia yang sempat menyulut banyak percakapan warganet di ranah sosmed.

Genre superhero fiction alias pahlawan super fiksi di Indonesia akan diwakili oleh Gundala arahan Joko Anwar. Penyokongnya adalah Bumilangit Studios, Screenplay Films, dan Legacy Pictures.

Adegan-adegan baku tembak hadir dalam film Foxtrot Six. Sedangkan aksi laga berbalut komedi berjudul Hit and Run telah dipersiapkan Ody C. Harahap dengan Joe Taslim sebagai pemeran utama.

Dari jalur horor, MD Pictures siap dengan amunisi waralaba Danur dalam wujud Danur 3. Pun berbagai proyek kolaborasi dengan Dee Company milik Dheeraj Kalwani.

Genre film horor memang diprediksi masih jadi primadona sejumlah produser hingga 2019. Luna Maya dalam sebuah wawancara pernah mengatakan bahwa Soraya Intercine Films telah berencana menggarap sekuel Suzzanna.

Meskipun belum bersedia membocorkan jadwal rilis, kemungkinan besar lanjutan film tentang sosok ratu film horor Indonesia itu akan tayang 2019.

Hal yang juga patut dinantikan adalah kemunculan dan respons terhadap DreadOut. Pasalnya ini adalah film pertama di Indonesia yang sumber aslinya dari video game, laiknya Resident Evil dan Silent Hill yang lebih dahulu dipindahkan ke layar lebar oleh Hollywood.

Genre biopic juga tampaknya masih punya tempat. Setidaknya dari telah diumumkannya film Susy Susanti: Love All yang dibintangi Laura Basuki.

Teddy Soeriaatmadja juga menyutradarai biografi drama tentang Hoegeng Imam Santoso, mantan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ke-5 yang bertugas dari tahun 1968 - 1971. Teuku Rifnu Wikana terpilih sebagai pemeran utama didampingi Wulan Guritno.

Bagaimana dengan film-film yang mengisahkan perjalanan kelompok musik atau musikus yang tahun lalu sempat diwakili oleh Chrisye (diperankan Vino G. Bastian)?

Meski belum ada pendeklarasian waktu tayang, tapi Falcon sudah mengumumkan akan menggarap film tentang Koes Plus dan Dara Puspita, dua band yang mencapai puncak ketenaran pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an.

Selain itu masih ada Kucumbu Tubuh Indahku (arahan Garin Nugroho), 27 Steps of May (Ravi Bharwani), Ave Maryam (Ertanto Robby Soediskam), If This Is My Story (Djenar Maesa Ayu dan Kan Lume), dan Daysleepers (Paul Agusta) yang sudah sempat tayang perdana dalam 13th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (27/11 - 4/12/2018).

Adu kuat menjadi magnet penarik hati penonton memang bukan hanya terjadi di antara sesama film Indonesia, kompetisi juga datang film-film impor demi memperebutkan kuota layar bioskop yang masih terbatas.

Menurut Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, jumlah layar bioskop kita baru menyentuh angka 1700. Sebagian besar terkonsentrasi di kota-kota besar karena menempati mal atau pusat perbelanjaan. Masih jauh dari kata ideal untuk jumlah negara yang penduduknya lebih dari 250 juta jiwa.

Sebagai perbandingan, pada kurun 1990 kala penduduk Indonesia belum 250 juta, jumlah layar saat itu mencapai 2.853 yang tersebar dalam 2.600 gedung bioskop yang merata hingga ke pelosok daerah, tidak sebatas di ibu kota provinsi.

Apa saja amunisi milik Hollywood yang siap menginvasi bioskop kita sepanjang 2019? Beberapa yang akan menyedot banyak kuota layar, antara lain Infinity War: Endgame, Captain Marvel, Spider-Man: Far From Home, Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw, Annebelle 3, The Lion King, Frozen 2, dan Star Wars: Episode IX sebagai pamungkas pada pengujung tahun.

Untuk dapat bersaing merebut perhatian penonton dengan film-film tersebut, sineas kita harus menyuguhkan tontonan yang tak kalah menarik.

Tentu bukan dari segi unjuk spektakel wah sembari pamer kecanggihan efek spesial atau CGI, tapi dengan pendekatan lain.

Joko pernah mengatakan, hal yang sangat dipersiapkannya saat membuat Gundala adalah development cerita dan karakter para tokoh.

Hanya pada titik itu ia bisa mengejar pencapaian film-film sejenis buatan Hollywood yang ongkos produksinya triliunan rupiah.

“Karena skenario bikinnya di kepala. Imajinasi, kemauan untuk berpikir keras, disiplin. Semua itu enggak butuh bujet besar,” pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR