Wendi Putranto (kanan) mewakili Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan menyerahkan sikap resmi mereka kepada Anang Hermansyah (4/2/2019)
Wendi Putranto (kanan) mewakili Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan menyerahkan sikap resmi mereka kepada Anang Hermansyah (4/2/2019) Andi Baso Djaya/Beritagar.id
RUU PERMUSIKAN

Mereka terusik karena RUU Permusikan

Bukan madu yang ditawarkan RUU Permusikan, tapi racun yang dapat membunuh kreativitas musikus.

Restoran W&S Bottleshop di mal Cilandak Town Square, Jakarta Selatan (4/2/2019), ramai dipenuhi para praktisi musik. Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan jadi penyulutnya.

Saya tiba sekitar pukul 10.00 WIB, sesuai jadwal yang tertera di undangan. Ketika sampai, belum terlalu banyak orang yang hadir. Ruangan masih lowong.

Adib Hidayat, Editor in Chief Billboard Indonesia, ketika melihat saya memelototi buklet pemberian Koalisi Seni Indonesia (KSI) langsung menepuk pundak saya.

"Serius amat sih," katanya tersenyum. Kami bersalaman. Saya menduduki kursi yang masih banyak kosong.

Pemandangan itu berubah seiring bergeraknya jarum jam. Satu per satu bermunculan. Total jenderal 200-an orang. Kebanyakan adalah orang-orang yang berkecimpung di dunia musik.

Mereka yang datang, antara lain musikus, teknisi studio musik, pemilik label musik independen, manajer band, akademisi musik, penyelenggara konser, perwakilan musisi jalanan, hingga penulis cum pengamat. Ramai betul. Mereka terusik oleh munculnya RUU Permusikan.

Ada yang akhirnya memilih duduk menyandar di meja bartender. Atau menempati kursi di area boleh merokok yang terletak di luar ruangan. Agar tetap bisa menyimak jalannya diskusi, pintu kaca yang jadi pembatas sengaja dibuka.

Para personel Gigi, seperti Armand Maulana, Dewa Budjana, dan Thomas Ramdhan terpaksa duduk di sofa belakang yang dihalangi sebuah meja panjang.

Drummer mereka, Gusty Hendy, memilih berdiri agak ke depan bercampur dengan rekan musisi lainnya. Hal yang sama dilakukan kebanyakan orang.

Saya berdiri bersandar dinding, bersisian dengan Arian Arifin (vokalis Seringai), Adyth Nugraha (gitaris Disinfected), Revan Bramadika (drummer Rajasinga), John Paul Ivan (mantan gitaris Boomerang), solis Danilla Riyadi, dan belakangan bergabung Angga Dwimas Sasongko (sutradara/produser dan pendiri Visinema Music).

Alhasil ruangan tengah yang menjadi area diskusi penuh sesak. Glenn Fredly dari Kami Musik Indonesia (KAMI) yang membuka diskusi mengaku kaget melihat keramaian di hadapannya.

Pun Anang Hermansyah, salah satu narasumber mewakili anggota DPR RI dari Komisi X yang ruang lingkupnya meliputi pendidikan, olahraga, dan sejarah.

Sebagai musisi yang menjadi anggota legislatif, Anang pula yang menginisiasi pembuatan undang-undang tentang musik. Itu terjadi Maret 2015 alias setahun setelah duduk sebagai anggota dewan. Awalnya dari Kaukus Parlemen Anti Pembajakan.

"Hari ini adalah momen yang luar biasa. Kita bisa hadir dan ramai. Sungguh melampaui ekspektasi saya," ujar Anang yang juga vokalis kelompok Kidnap Katrina.

RUU Permusikan menjadi ramai karena terkandung banyak masalah di dalamnya. Paling awal dan sering mendapat sorotan adalah pasal-pasal yang bertujuan mengebiri kebebasan berkarya musisi.

Penafsirannya pun sangat lentur laiknya karet sehingga potensial digunakan untuk mengkriminalisasi musisi.

Tak hanya itu, belakangan ditemukan pula kejanggalan dalam penyusunan naskah akademik RUU ini. Tulisan dari laman blogspot dijadikan salah satu acuan.

Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan alias KNTL RUUP yang terdiri dari ratusan praktisi musik kontan menolak.

"Jangan sampai ini disahkan jadi undang-undang. Karena hanya akan menghina kecerdasan musisi Indonesia," tegas Wendi Putranto, manajer kelompok Seringai dan mantan jurnalis musik, yang datang sebagai juru bicara KNTL RUUP.

Rentang waktu perjalanan RUU Permusikan yang diinisiasi Anang Hermansyah
Rentang waktu perjalanan RUU Permusikan yang diinisiasi Anang Hermansyah | Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Hanya ada sedikit kemungkinan mengapa banyak musisi mendatangi sebuah tempat. Biasanya karena menghadiri ajang pemberian apresiasi musik, atau jika ada penyelenggaraan konser amal.

Kali ini berkumpulnya mereka bukan untuk dua urusan tersebut. Tak ada undangan khusus pula yang mampir ke pangkuan sebagai penyulut mendatangi sebuah acara. Semua yang hadir karena keinginan sendiri.

Ruang sunyi yang jadi zona nyaman mereka tinggalkan sejenak demi merespons sebuah rancangan produk kebijakan politik, tak lagi hanya memberikan sokongan lewat akun media sosial masing-masing.

Pemandangan seperti itu yang terpampang ketika mendatangi diskusi RUU Permusikan. Undangannya hanya tersebar melalui media sosial.

Dari kalangan musisi, yang memenuhi ruangan berasal dari lintas usia dan genre musik. Dasawarsa 70-an jadi punya wakil seturut keberadaan Benny Soebardja (vokalis dan gitaris Giant Step) dan Candra Darusman (kibordis Chaseiro).

Era 80-an diwakili Rafika Duri yang setibanya di ruangan langsung disambut Rieka Roeslan dan Lisa A. Riyanto, dua penyanyi dari era 90-an. Mereka duduk menempati kursi bagian terdepan.

Lalu muncul lagi Andien, penyanyi pop jazz yang mulai berkiprah pada dasawarsa 2000-an. Dengan cekatan Lisa mempersilakannya duduk di deretan kursi mereka. Tak ingin melewatkan momen, mereka langsung melakukan swafoto bersama alias wefie.

Saya juga sempat melihat sekilas kehadiran Eva Celia. Penyanyi yang baru saja melepas single "A Long Way" ini bisa dibilang mewakili generasi milenial.

Hadir pula Ratna Listy, sang pelantun lagu-lagu keroncong dan dangdut. Syaharani yang konsisten di jalur jazz juga mencolok mata dengan warna rambutnya yang pirang berpadu baju lengan panjang merah.

Sandy Andarusman saat baru datang dan melihat Rere langsung berjabatan tangan. "Gila, kita pada ngumpul semua di sini. Rasanya seperti Lebaran," ujar Sandy saat memeluk kawan lamanya itu.

Mereka berdua telah berkecimpung di industri musik Indonesia sejak era 1980-an. Hingga sekarang konsisten di jalur musik rock. Sandy awalnya tergabung bersama U’camp dan kini bersama Pas Band. Sementara Rere tercatat sebagai pendiri Grass Rock.

Tidak berselang lama, melihat ada beberapa drummer lain hadir, Sandy bersama Rere mengajak Webster Manuhutu (Saint Loco), Gusti Hendy (Gigi), dan Konde (Samsons) foto bareng.

Melalui akun Instagram miliknya, Rere mengunggah foto tersebut dan menuliskan kapsi "kalau gak gini, gak kumpul".

Walaupun timbul kisruh akibat RUU Permusikan ini, juga silang pendapat dari kalangan yang mendukung, menolak, dan yang belum --atau bahkan tidak-- mengambil sikap sekalipun, ada efek positif yang bisa diambil.

"Momen kemarin itu menyatukan kita semua. Itu yang harus kita syukuri," ujar Marcell Siahaan, 41 tahun, saat kami temui di Lawless Burgerbar, Kemang, Jakarta Selatan (6/2).

Penyanyi dan drummer lulusan ujian advokat 2011 yang diselenggarakan Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) itu melihat, selama ini harus diakui masih banyak musikus yang kurang perhatian dan peduli dengan perundang-undangan.

"Nah ketika ini mencuat, pada akhirnya mau enggak mau kita harus memikirkannya. Soalnya menyangkut bukan soal kita doang, tapi juga anak, cucu, dan generasi berikutnya," ujarnya.

Berbekal pengetahuannya di bidang hukum tersebut, Marcell berjanji akan ikut membantu perjuangan rekan-rekannya di Koalisi Nasional untuk membatalkan RUU Permusikan.

Diskusi RUU Permusikan yang diselenggarakan KNTL RUUP turut menghadirkan Prof. Tjut Nyak Deviana Daudsjah (ketiga dari kanan) dan Ketua YLBHI Asfinawati (kiri)
Diskusi RUU Permusikan yang diselenggarakan KNTL RUUP turut menghadirkan Prof. Tjut Nyak Deviana Daudsjah (ketiga dari kanan) dan Ketua YLBHI Asfinawati (kiri) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

"Momen ini semoga meruntuhkan sekat di antara kami semua. Enggak ada lagi yang namanya musisi independen, major label, akademisi, atau praktisi. Karena kita semua ingin mewujudkan satu tujuan bersama," kata Endah Widiastuti dari kelompok Endah N Rhesa yang bergabung dalam KNTL RUUP.

Saya menemui Endah yang ditemani suaminya, Resha Aditya, dalam konferensi pers dilanjutkan sesi diskusi yang diselenggarakan KNTL RUUP di Selatan Cafe, Kemang (6/2).

Mereka berdua memang sangat perhatian dengan RUU ini. Saking aktif dan seriusnya, pasutri ini tak ragu memundurkan jadwal perilisan album terbaru Endah N Rhesa. "Menunggu semua ini kelar," ujar Rhesa.

Diakui Endah, belakangan ini perhatian dan waktu mereka banyak tersita. "Semua bekerja keras menyiapkan Daftar Inventarisasi Masalah versi kami untuk RUU ini. Jadi kurang tidur karena setiap hari bekerja 19 jam," ungkapnya.

Endah melanjutkan, bahwa untuk menyusun DIM, mau tak mau ia harus melihat dan mengkaji lagi undang-undang yang sudah ada terkait industri musik. "Jadi belajar bersama dan berkomunikasi lagi."

Hal serupa juga dilakukan Arian Arifin. Saat kami wawancara di Lawless Burgerbar (6/2), vokalis Seringai itu juga mengkaji kembali isi UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan bersama rekannya sesama musikus, Kartika Jahja.

Beberapa pasal dalam RUU Permusikan sebenarnya termaktub dalam UU Pemajuan Kebudayaan yang mengatur musik sebagai salah satu bagian dari seni.

Semisal pasal 6 dan 7 dalam RUU Permusikan. Sudah diatur lebih terperinci dalam UU Pemajuan Kebudayaan pasal 30-34, 43, dan 44.

Bahkan semangat dalam UU Pemajuan Kebudayaan justru lebih mendukung musisi dan pekerja musik. Pada sisi lain, RUU Permusikan justru membatasinya.

Pasal-pasal lainnya juga sudah ada dalam Undang-Undang Hak Cipta dan Undang-Undang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam.

Sementara tata kelola industri rekaman di Indonesia yang tadinya justru diharapkan masuk dalam RUU Permusikan justru tak diatur terperinci.

Inisiatif menyelenggarakan berbagai diskusi adalah sisi positif lain yang ditimbulkan RUU Permusikan.

Kesadaran-kesadaran itu muncul dari berbagai daerah. Tak berselang lama setelah KAMI dan KSI mengadakan bedah tuntas RUU Permusikan di Cilandak Town Square, daerah-daerah lain juga menggelar acara diskusi.

Bali, misalnya. Menggelar dialog musik yang isinya mengkaji kompetensi RUU Permusikan di ISI, Denpasar (4/2). Pesertanya terdiri dari para akademisi, seniman, praktisi, dan mahasiswa musik.

Setelah itu menyusul Bandung yang diinisiasi Bumiayu Creative City Forum (5/2), Medan (7/2), Surabaya (8/2), Garut (8/2), Yogyakarta (8/2), Cianjur (9/2), Bogor (10/2), lalu Malang (16/2). Daftar masih akan bertambah panjang jika harus dituliskan semuanya.

Perihal diskusi tersebut kemudian diwarnai perdebatan karena adanya beda pilihan, yang juga melebar hingga ke linimasa, merupakan hal wajar. Biasa saja. Di situ letak indahnya kebebasan bersuara sebagai sebuah ekspresi.

"Tolong jangan dibesar-besarkan sehingga esensinya justru terlupakan," kata Wendi Putranto saat menutup diskusi yang berlangsung setelah KNTL RUUP mengadakan konferensi pers.

Esensi tersebut adalah keinginan mewujudkan satu tujuan bersama demi kesejahteraan musisi dan tata kelola industri musik Indonesia yang lebih baik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR