Metromini nomor S640 tengah melaju di jalan Jakarta, Senin (6/5/2019) sore. Dahulu, Metromini disebut jalan raya Ibu Kota. Kini, nasibnya tinggal menghitung waktu.
Metromini nomor S640 tengah melaju di jalan Jakarta, Senin (6/5/2019) sore. Dahulu, Metromini disebut jalan raya Ibu Kota. Kini, nasibnya tinggal menghitung waktu. Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
TRANSPORTASI

Metromini, raja jalan raya merindu masa jaya

Metromini sempat menjadi raja jalan raya Ibu Kota. Kini nasibnya, di ujung tanduk. Kesalahan perusahaan dalam mengelola menjadi pangkal masalah.

Halte Perdatam, Kalibata, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (29/4/2019) siang WIB. Jarum jam hendak melangkah menuju pukul 15.00. Cuaca cukup bersahabat, sinar matahari sayup-sayup tertutup gerombolan awan yang berarak.

Penunjuk waktu terus melangkah menuju 15.05, 15.07, 15.10, 15. 13. Kendaraan yang saya tunggu tak jua kelihatan di ujung sana. Padahal, saat itu, berbagai kendaraan ramai berlalu lalang: motor, mobil, mikrolet, Transjakarta, hingga bus bandara.

Sekitar seperempat jam, Si Oranye bernomor S640 tujuan Tanah Abang-Pasar Minggu baru menunjukkan batang hidungnya. Metromini, dialah angkutan yang saya maksud. Si Tua yang sempat menjadi raja jalanan Ibu Kota beberapa dekade silam.

Saat kaki melangkah masuk, suasana tak berubah jauh kala moda transportasi tersebut menjadi andalan saya untuk bersekolah di SMP dan SMA di Jakarta pada awal dekade 2000-an.

Udara di dalam cukup pengap. Suara mesin menderu kencang, berebut tempat dengan ucapan tak jelas antara supir dengan sang kenek--sesekali. Kursinya, memiliki pelindung berbeda-beda.

Di bagian paling belakang, beralaskan besi. Tempat duduk penumpang, fiber berwarna senada dengan kelir bodi bus. Kursi supir, kulit sintetis yang robek di sana-sini. Sedangkan kursi saya, di samping supir, berbahan belundru penuh dengan debu.

Kondisi serupa terlihat di dashboard Metromini. Entah speedometer, penunjuk RPM, atau indikator BBM, semuanya tak berfungsi. Tempat itu biasanya berfungsi untuk meletakkan handuk kecil, uang setoran, dan benda andalan banyak supir: rokok.

Dan semua itu belum banyak berubah sejak lebih dari satu dekade lalu, kecuali handuk yang berganti tisu. Ari Chaniago (51 tahun), sang supir, berulang kali menyeka wajahnya dengan tisu tersebut untuk mengelap keringatnya, walau cuaca tak panas.

Meski kondisi bus tak banyak perubahan, tidak demikian dengan nasibnya. Bila dahulu Metromini menjadi primadona masyarakat Ibu Kota untuk beraktivitas karena tarifnya yang terjangkau, kini mereka mulai ditinggalkan.

"Dulu gampang bawa pulang duit Rp250 ribu. Bisa setengah hari doang. Sekarang, cepek (Rp100 ribu) aja susah banget," kata Ari kepada Beritagar.id, Senin (29/4).

Minimnya jumlah penumpang merupakan konsekuensi dari berkurangnya jumlah pendapatan para supir. Ari berkata, mereka kini lebih memilih menggunakan ojek daring (on-line) atau Transjakarta.

Kopaja tengah mencari penumpang di salah satu sudut jalan M. H. Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (6/5/2019) sore.
Kopaja tengah mencari penumpang di salah satu sudut jalan M. H. Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (6/5/2019) sore. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Hal ini merupakan jawaban dari lamanya saya menunggu Metromini di halte Perdatam tadi. Dahulu, hingga 2014 setidaknya, Metromini masih gampang ditemui. Tiap 5 menit, atau terburuk 10 menit, Metromini akan muncul di depan hidung Anda.

Itulah mengapa julukan raja jalanan tertabal di dirinya, selain karena cara meyupirnya yang kerap ugal-ugalan tentunya. Untuk terakhir, menjadi penyebab banyaknya kecelakaan yang melibatkan Metromini.

Hal lain yang kini tinggal menjadi kenangan adalah keberadaan kenek. Termasuk ungkapan-ungkapan yang terkadang bikin penumpang mengernyitkan dahi mereka.

Salah satu di antaranya, teriakan "rapat" yang menunjukkan ada Metromini lain dengan nomer trayek sama di belakang mereka. "Ha ha. Sudah tidak ada lagi itu. Sudah lebih dari setengah teman-teman saya aja nggak nyupir (Metromini) lagi," ucap Adi.

Sambil menghisap rokok kreteknya, Adi pun berharap mata pencahariannya dapat kembali seperti dekade 2000-an. Dengan kondisi itu, ia mampu menyekolahkan kedua anaknya hingga tingkat SMA.

Sedangkan teriakan "rapat", benturan koin besi dengan kaca kendaraan, atau hanya percakapan dengan kenek pun, menurut Adi, kini tinggal menjadi kenangan.

"Saya pakai kenek (hari ini) karena tidak enak saja kalau nolak. Dia teman, sama-sama nyari uang buat makan," kata Adi. "Biasanya juga saya sendiri."

Nasib serupa dialami saudara Metromini, Kopaja. Dolar Manulang, supir Kopaja 502, lebih memilih tak menggunakan keneknya dalam menjelajahi Jakarta saban hari.

"Tidak menggunanakan kenek saja cuma bisa bawa (kenek) pulang Rp100 ribu. Kalau bawa, berapa duit saya bawa pulang nanti," kata Dolar kepada Beritagar.id, Selasa (29/4). "Nama saya mahal ya? Tapi nasib saya gini-gini aja. Ha ha."

Sama seperti Adi, menurut Dolar masa keemasan kendaraannya terjadi pada dekade 2000-an. Saat itu, ia bisa bawa pulang sekitar Rp250 ribu sehari. Jumlah yang terhitung besar.

"Sekarang, udah pendapatan kecil, harga makan semakin tinggi. Beda banget sama dulu," katanya. Ia berharap, mata pencahariannya dapat bertahan di tahun-tahun mendatang. Meski demikian, Dolar sadar bahwa keberadaan Kopaja kini tinggal menghitung hari.

"Katanya, sehabis lebaran sudah tidak ada lagi (Metromini dan Kopaja)," ucapnya.

Ucapan Dolar tak salah--meski tak sepenuhnya benar. Deru Metromini dan Kopaja, atau kendaraan jenis bus berukuran sedang, memang tengah "dimatikan" secara perlahan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta.

Adalah Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2014 tentang Transportasi yang menjadi "media pembunuh" angkutan legendaris di Jakarta tersebut. Pasal 51 ayat (2) poin b menyebutkan, "Masa pakai kendaraan umum bermotor mobil bus sedang paling lama 10 tahun".

Dan, Metromini yang saat ini mengaspal di jalan Jakarta umurnya sudah lebih dari ketentuan tersebut. Misalnya, mobil milik Adi umurnya sudah 24 tahun. Sedangkan Dolar, lebih muda, meski lebih dari 10 tahun. "Tahun 2000-an," kata Dolar.

Perda itu mulai berlaku setahun setelah beleid tersebut ditandatangani oleh Joko Widodo pada 28 April 2014. Nyatanya, hingga 2016, peraturan tersebut seperti diindahkan oleh para pemilik Metromini dan Kopaja, khususnya nama pertama disebut.

Oleh karena itu, pada 2016, Pemda DKI membuat kebijakan baru. Yakni, bagi setiap pemilik bus sedang yang ingin memperpanjang izin operasi dua armadanya harus memusnahkan satu bus, alias 2+1.

Kebijakan tersebut kemudian kembali berubah setahun kemudian. Yaitu, tiap satu bus yang memperpanjang izin operasi, harus memusnahkan satu bus lainnya, atau 1+1. Toh nyatanya, hingga akhir 2018, jumlah Metromini di Jakarta masih cukup banyak.

Dalam data yang kami peroleh dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta, saat ini jumlah Metromini masih 313 armada yang beroperasi di Jakarta. Sedangkan Kopaja lebih dari 600 unit.

Sebenarnya, Pemda DKI tak serta-merta memusnahkan bus-bus seperti Metromini atau Kopaja tanpa memberikan solusi. Pemda mempersilahkan para pemilik armada untuk gabung dengan PT Transjakarta dalam program Jak Lingko.

Sayangnya, kondisi internal PT. Metromini, badan usaha yang membawahi Metromini, mengalami beberapa bermasalah.

Pertama, meski bentuknya Perseroan Terbatas (PT), PT Metromini dikelola laiknya koperasi, alias produksi berupa bus dimiliki individu. Lainnya, konflik dualisme kepengurusan melanda perusahaan sejak awal 1990-an hingga 2016.

Hal inilah yang membuat keberadaan Metromini hari ini, lebih sedikit ketimbang Kopaja (lihat grafik). Perusahaan yang menaungi armada Kopaja telah bergabung dengan PT Transjakarta sejak 2015.

Soal senjakala Metromini dan Kopaja "jadul", Shafruhan Sinungan, Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta, menyebut itu merupakan keniscayaan. Pasalnya, kondisi armada yang ada, sudah tidak memenuhi kriteria sebagai moda transportasi massal modern.

"Mereka kan tidak ber-AC, tidak nyaman. Jadwalnya juga tidak pasti. Belum gambaran negatif mereka (sering ugal-ugalan di jalan). Inilah alasannya," kata Shafruhan kepada Beritagar.id.

Seorang kenek tengah berusaha mencari penumpang saat bus Kopaja melintas di salah satu sudut jalan DKI Jakarta pada Senin (6/5/2019) sore WIB.
Seorang kenek tengah berusaha mencari penumpang saat bus Kopaja melintas di salah satu sudut jalan DKI Jakarta pada Senin (6/5/2019) sore WIB. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Bagi Shafruhan, pihaknya bukan tidak memperjuangkan keberadaan angkutan-angkutan jadul tersebut. Perpanjangan waktu pemberlakuan Perda No. 5/2014 yang seharusnya setahun setelah dibuat hingga hari ini, adalah buah dari negosiasi Organda dengan Pemda.

Masalahnya, khusus armada Metromini, proses peremajaan armada berjalan lambat. Konflik dualisme kepengurusan PT. Metromini yang berlarut-larut dan pengelolaan perusahaan seperti koperasi, membuat pemilik tak sigap menghadapi perubahan.

"Jadi masalah ini bukan kepada supir, tapi pemiliknya. Mereka sulit mengubah mindset bisnis transportasi saat ini," katanya.

Kini, orang-orang seperti Adi dan Dolar tadi hanya bisa berpasrah. Andai pun para pemilik akan bermigrasi dan melebur dalam PT. Transjakarta, hal tersebut belum tentu menjadi jalan keluar.

Adi mengatakan, jika izin operasi mobilnya tak diperpanjang, ia lebih memilih balik ke kampungnya di Medan, Sumatra Utara. Sedangkan Adi, "Saya lebih pilih narik angkutan kecil. Di situ (Transjakarta) nggak jelas juga penghasilannya," katanya.

Adi Chaniago (atas) dan Dolar Manulang (bawah) tengah mengendarai busnya di salah satu jalan di DKI Jakarta pada Senin (29/4/2019) siang WIB.
Adi Chaniago (atas) dan Dolar Manulang (bawah) tengah mengendarai busnya di salah satu jalan di DKI Jakarta pada Senin (29/4/2019) siang WIB. | Andya Dhyaksa /Beritagar.id

Bus dan taksi listrik

Ketinggalan zaman. Mungkin, itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan keberadaan Metromini atau Kopaja seperti yang dikendarai Adi dan Dolar. Usianya uzur, kondisi interior tak nyaman, hingga waktu keberangkatan tak jelas adalah beberapa tolok ukurnya.

Toh di Jakarta, sudah banyak moda alternatif modern yang dapat menggantikan keberadaan mereka. Didahului dengan keberadaan Transjakarta, lalu wajah baru Commuter Line, lantas saat ini ada MRT, dan tak lama lagi LRT pun akan beroperasi.

Di luar moda transportasi tersebut, kini Pemerintah DKI Jakarta juga akan menyediakan moda transportasi masa depan. Yakni dalam wujud bus listrik Transjakarta. Pada Senin (29/4/2019) pekan lalu, Gubernur Jakarta, Anies Baswedan, telah menguji coba bus listrik ini.

Pada momen tersebut, ada tiga bus listrik pabrikan Tiongkok, BYD, yang diujicoba. Rencananya, bus ini akan diujicoba selama enam bulan ke depan dengan rute sekitar Monumen Nasional, Jakarta Pusat, begitu proses administratif usai.

"Secara administratif sekarang masih dalam proses. Mudah-mudahan bulan Juni-Juli (2019) itu selesai. Kemudian bisa beroperasional," kata Anies kepada wartawan.

Bukan hanya bus Transjakarta saja kendaraan listrik yang bakal mengaspal di Jakarta. Demikian pula dengan transportasi umum lainnya, yakni taksi. Untuk yang satu ini, Blue Bird menjadi pionirnya.

Blue Bird telah berinvestasi hingga Rp40 miliar untuk 30 armada pertamanya yang dibeli dari BYD (tipe e6 A/T) dan Tesla (Model X 75D A/T). Mulai bulan ini, taksi Blue Bird listrik sudah mulai bisa digunakan oleh masyarakat Jakarta.

Tiga bus listrik melintas saat diuji coba di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (29/4/2019). Pemprov DKI Jakarta bersama PT TransJakarta dan PT Bakrie & Brother Tbk menyelenggarakan uji coba bus listrik yang bertujuan untuk memastikan penggunaan kendaraan listrik sebagai alat transportasi umum di Jakarta.
Tiga bus listrik melintas saat diuji coba di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (29/4/2019). Pemprov DKI Jakarta bersama PT TransJakarta dan PT Bakrie & Brother Tbk menyelenggarakan uji coba bus listrik yang bertujuan untuk memastikan penggunaan kendaraan listrik sebagai alat transportasi umum di Jakarta. | Aprillio Akbar /Antara Foto
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR