Roy Sunandar berpose di dalam Stadion Kazan Arena pada laga antara Jerman versus Korea Selatan (27/6/2018)
Roy Sunandar berpose di dalam Stadion Kazan Arena pada laga antara Jerman versus Korea Selatan (27/6/2018) Roy Sunandar
PIALA DUNIA 2018

Mewujudkan asa menonton langsung Piala Dunia 2018

Demi merasakan langsung atmosfer Piala Dunia 2018 di Rusia, segenap perjuangan mereka lakukan. Menyisihkan penghasilan, menempuh jarak sekitar 9,304 km, hingga kursus Bahasa Rusia. Mereka adalah pemuja sepak bola.

Turnamen sepak bola Piala Dunia (Pildun) yang berlangsung saban empat tahun sekali memang ibarat magnet.

Ia mampu menarik perhatian banyak orang. Tak hanya melalui layar kaca, tapi juga untuk hadir langsung di stadion.

Sebagai salah satu turnamen olahraga paling akbar di muka bumi, selain Olimpiade, ajang yang diselenggarakan FIFA ini tak hanya kedatangan para suporter dari 32 negara peserta, tapi juga fans dari negara yang tak lolos kualifikasi.

Pada Pildun edisi ke-21 yang berlangsung di Rusia sejak 14 Juni hingga 15 Juli 2018, dari sekian banyak yang hadir secara langsung di sana, ada segelintir penonton asal Indonesia.

Menurut pernyataan resmi FIFA (Federation Internationale de Football Association), lebih dari satu juta orang hadir di Rusia untuk menyaksikan Pildun. Angka itu tercipta saat laga antara Australia menghadapi Denmark di Samara Arena, Samara (21/6/2018).

“Diperkirakan setengah juta penggemar mengunjungi zona penggemar pada hari pertandingan. Sementara sekitar 160 juta orang dari seluruh dunia secara aktif mengikuti turnamen ini di televisi,” ujar Colin Smith, Kepala Kompetisi dan Event FIFA.

Walaupun datang dengan atribut, ras, dan agama yang berbeda, para penggemar sepak bola ini larut dalam satu pesta penuh suka cita.

One life, live it up, 'cause you don't get it twice.” Demikian Nicky Jam melantunkan sebaris lirik lagu “Live It Up” yang menjadi official theme song Pildun 2018.

Tidak ingin melewatkan kesempatan yang datangnya mungkin hanya sekali seumur hidup mendorong Roy Sunandar untuk hadir di Rusia sejak 25 Juni.

Roy, 38 tahun, adalah salah satu mitra Go-Jek. Sudah lama ia memedam asa menyaksikan langsung tim nasional (timnas) Jerman bertanding di Pildun.

“Saya jadi penggemar timnas Jerman sejak usia 15. Waktu itu pemain idola saya Jurgen Klinsmann. Sekarang saya mengagumi Marco Reus,” tulisnya kepada Beritagar.id melalui pesan langsung di Instagram (3/7).

Komunikasi dengan perantara media sosial terpaksa dilakukan karena Roy masih berada di Moskow. Hingga artikel ini terbit, ia bahkan masih berada di sana.

Impian bisa menyaksikan timnas Jerman bermain semakin terbuka setelah ia berhasil mengantongi tiket pertandingan Jerman versus Korea Selatan di Kazan Arena (27/6).

Berbekal tiket seharga Rp4 juta, Roy menggenggam Fan-ID yang kemudian menghasilkan visa gratis. Semua pengurusan dilakukannya secara daring alias online di situs web resmi. Berkat Fan ID pula ia bisa dapat tumpangan kereta jarak jauh ke Kazan secara gratis.

Mewujudkan impian nonton Piala Dunia memang tak gampang. Penggemar klub Persib Bandung itu bahkan menyangka impiannya semu belaka.

Oleh karena itu, dia hanya berharap Indonesia jadi tuan rumah Pildun sehingga tak perlu harus ke luar negeri yang butuh banyak biaya.

Takdir berkata lain. Sejak bergabung jadi mitra Go-Jek mulai pertengahan 2015 yang mengantongi penghasilan lumayan, Roy giat menabung.

“Waktu awal gabung di Go-Jek, dalam sehari saya bisa dapat Rp200 ribu sampai Rp300 ribu. Seiring makin banyaknya driver lain dan juga aplikasi sejenis, pendapatan jadi sedikit berkurang. Tapi saya tetap berusaha menyisihkan minimal Rp1 juta dalam sebulan. Saya narik apa saja, mulai dari Go-Jek, Go-Send, dan Go-Food,” ungkapnya.

Tekadnya memang sekeras baja. Selain rutin menabung, Roy juga kursus Bahasa Rusia hingga level menengah di Pusat Kebudayaan Rusia, Menteng, Jakarta Pusat. Kursusnya seminggu dua kali. Tiap pertemuan berdurasi 90 menit.

Piagam kelulusannya mengikuti kursus ia simpan di Warung Kopi Blizmer di Mampang, Jakarta Selatan.

"Karena dia memang diemnya di sini. Tinggal di sini. Mangkal di sini sih tiap Sabtu dan Minggu doang," ujar Irfan, pemiliki Warung Kopi Blizmer di Mampang, Jakarta Selatan, kepada reporter Elisabeth Sihotang.

Ditambahkan Irfan, Roy awalnya kursus Bahasa Belanda. "Tapi mentok dia. Enggak lulus. Akhirnya Bahasa Rusia."

Kemampuan berbahasa Rusia memudahkannya saat berkomunikasi dengan warga lokal. Rata-rata orang yang ditemuinya merasa senang dan kagum melihat ada orang Indonesia rela jauh-jauh datang.

Untuk keperluan selama menonton langsung Pildun, Roy mengaku menghabiskan dana lebih dari Rp30 juta, masing-masing untuk ongkos pesawat sekitar Rp15 juta bolak-balik, Rp10 juta untuk penginapan, dan Rp5 juta biaya makan. Itu belum termasuk beli tiket pertandingan.

“Semua uang tersebut adalah hasil keringat saya selama jadi mitra Go-Jek. Makanya dalam beberapa kesempatan saya kerap berfoto menggunakan atribut Go-Jek sebagai wujud terima kasih. Saya juga bangga karena Go-Jek adalah aplikasi karya anak bangsa,” sambungnya.

Menginjakkan kaki di Rusia merupakan pengalaman pertamanya ke luar negeri.

Karena hanya membeli satu tiket pertandingan saja, Roy menghabiskan waktu dengan menonton pertandingan melalui layar besar yang terpasang di area fan fest.

Sisanya ia pakai untuk berkeliling Kota Moskow mengunjungi objek-objek wisata di sana.Sesekali ia melakukan siaran langsung di Instagram.

Kegiatan tersebut menjadi pelipur lara karena tim jagoannya terjungkal di babak penyisihan grup.

Roy berencana pulang kembali ke tanah air pada 20 Juli. “Saya ingin berkeliling menghabiskan masa visa saya,” pungkasnya.

Jojo Raharjo (kiri) dan Ivan Garda mengibarkan bendera merah putih di dalam stadion saat berlangsung pertandingan Brasil versus Serbia di Spartak Stadium, Moskow (27/6/2018)
Jojo Raharjo (kiri) dan Ivan Garda mengibarkan bendera merah putih di dalam stadion saat berlangsung pertandingan Brasil versus Serbia di Spartak Stadium, Moskow (27/6/2018) | Jojo Raharjo

Menyaksikan Pildun secara langsung di tempat penyelenggaraannya juga menjadi pengalaman pertama bagi Jojo Raharjo dan putranya, Mikhael Einzel.

Bersama tiga kawan lainnya, yaitu Joaquim Rohi, Rosnindar Raharjo, dan Ivan Garda, mereka menapak di Bandara Domodedovo, Moskow, pada Senin (26/6) sore.

Dengan jarak tempuh sekitar 9,304 kilometer, perbedaan waktu yang empat jam lebih lambat dibandingkan WIB, dan tentu saja cuaca, rombongan asal Indonesia ini malah sumringah alih-alih merasa keletihan.

Atmosfer Pildun terasa sejak di bandara. Para suporter hilir mudik mengenakan jersey negaranya masing-masing. Belum lagi berbagai toko yang menjual aneka suvenir bertema bal-balan.

Warga lokal juga menunjukkan sikap ramah menyambut tamu-tamu yang datang dari berbagai penjuru wilayah di dunia.

Jojo yang bekerja sebagai salah satu staf di Kantor Staf Presiden (KSP) mengaku menyiapkan dana sekitar Rp40 juta untuk keperluan selama di Rusia.

“Di sana bisa hemat karena apartemen murah, makanan murah, dan kami menggunakan transportasi ramai-ramai,” ujarnya saat kami hubungi (13/7).

Alasan utama Jojo memboyong sang buah hati karena ingin menambah wawasan bagi putranya yang masih berumur 10 tahun.

“Saya ingin anak saya meski 10 tahun sudah berwawasan internasional. Jangan seperti bapaknya, umur 25 tahun baru ke luar negeri,” katanya.

Einzel yang dalam Bahasa Jerman berarti satu atau pertama awalnya menolak ikut. Setibanya di Moskow, dia langsung gembira merasakan atmosfer Pildun dan bertemu banyak orang dari berbagai negara dengan ciri khas masing-masing.

Selama di Rusia, Jojo dan Einzhel menyaksikan pertandingan terakhir di Grup E antara Brasil versus Serbia di Spartak Stadium, Moskow (27/6).

Tak hanya larut dalam atmosfer Pildun, mereka juga dengan bangga menunjukkan identitas sebagai orang Indonesia.

Jojo Raharjo dan kawan-kawannya sengaja mengenakan jersey klub-klub Indonesia. Tak lupa mereka membawa bendera merah putih dan mengibarkannya di dalam dan luar stadion.

Tujuan lain pemakaian atribut lokal tersebut agar bisa jadi penanda jika bertemu dengan orang Indonesia lain yang belum mereka kenal.

Simon Nainggolan (mengenakan jersey hijau PSMS Medan) bersama para suporter timnas Argentina menjelang pertandingan versus Prancis di depan Kazan Arena (30/6/2018)
Simon Nainggolan (mengenakan jersey hijau PSMS Medan) bersama para suporter timnas Argentina menjelang pertandingan versus Prancis di depan Kazan Arena (30/6/2018) |

Pengalaman seru lainnya juga dirasakan Simon Nainggolan, terutama ketika menyambangi hotel tempat para pemain Argentina menginap sebelum laga melawan Prancis pada fase 16 besar di Kazan, sekitar 826,6 kilometer dari Moskow.

“Waktu ke hotelnya timnas Prancis, hanya ada sekitar puluhan orang yang menunggu di depan hotel. Begitu saya ke tempat menginapnya kesebelasan Argentina, ada ratusan orang berkumpul. Mereka bernyanyi dan berteriak di depan hotel,” ujarnya saat kami temui di Another Coffe Shop, Gambir, Jakarta Pusat (7/7).

Menurut penuturan Jojo, keberangkatan mereka ke Rusia sangat terbantu oleh kehadiran Simon yang memiliki banyak jam terbang menonton pertandingan sepak bola di mancanegara.

Sebelum berangkat ke Rusia, Simon bahkan sempat menonton partai final Liga Champions antara Real Madrid versus Liverpool di Stadion NSK Olimpiyskiy, Kiev, Ukraina (26/5).

Pemilik jaringan restoran Sarimande ini juga memperlihatkan foto-foto ketika mejeng di depan stadion yang pernah dikunjunginya, beberapa di antaranya adalah Guiseppe Meazza (stadion klub AC Milan dan Inter di Italia), Johan Cruijff Arena (Ajax Amsterdam, Belanda), dan Anfield milik Liverpool di Inggris yang menjadi klub idolanya.

Tak heran jika kemudian ia mendapat kepercayaaan mengurus uang tiket rekan-rekannya yang ingin berangkat. “Akhirnya saya jadi semacam bank gelap mereka. Berapa uang yang masuk, saya kumpul,” ungkapnya.

Mengorganisir rekan-rekannya menonton langsung Pildun di Rusia juga memberikan pelajaran baru. Ternyata sulit mewujudkan rencana semula untuk bisa menonton pertandingan yang sama. Masing-masing ingin menonton partai favoritnya.

“Itu pelajaran yang kami ambil dari pengalaman pertama menonton Piala Dunia. Jika punya kesempatan lagi ke Qatar tahun 2022, bisa dijadikan pelajaran,” ujar pria berusia 48 yang batal menyaksikan Pildun 2014 di Brasil karena berbenturan dengan urusan keluarga.

Bagi Simon, menyaksikan pertandingan sepak bola di luar negeri bukanlah aktivitas liburan untuk memuaskan hobi, tapi proses belajar dan mendapatkan pengetahuan baru.

Saat berada di Rusia, hal lain yang baru diketahuinya adalah betapa warga lokal di sana menyambut ramah para pendatang. “Mereka juga sangat disiplin menegakkan aturan,” sambungnya.

Ia juga baru tahu bahwa penyelenggaraan turnamen sekelas Pildun juga tak lepas dari para calo tiket. Mereka berkeliaran di sekitar tempat penukaran tiket yang letaknya agak jauh dari stadion.

Melalui tangan para calo, Simon membeli empat tiket pertandingan. Pasalnya hanya tiket Jerman kontra Korsel yang berhasil terbeli melalui situs resmi FIFA.

Sementara tiket antara Prancis vs Denmark ia beli dari penonton asal Cina yang menjualnya sebesar $200. Harga resmi yang tertera di tiket sebesar $165. “Awalnya dia jual $300, tapi karena saya tawar-tawar, dia ngasih juga deh,” katanya.

Bagi Simon yang menggemari sepak bola sejak kecil, menonton sepak bola di luar negeri memang perlu usaha keras, tapi bukan tidak bisa diwujudkan oleh siapa saja.

“Asal punya kemauan, bekerja dengan tekun, dan konsisten menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilan, pasti bisa terkumpul kok duitnya.”

Kisah Roy yang hadir langsung di Rusia menyaksikan Piala Dunia adalah bukti. Jika keinginan dibiarkan begitu saja tanpa ada usaha keras untuk mewujudkannya, maka selamanya ia hanya jadi mimpi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR