Keterangan Gambar : Sanro gigi, Daeng Hafid, berpose di depan kamera untuk Beritagar.id. Ia punya pamor sebagai ahli gigi yang dapat mencabut gigi “tanpa berdarah”. © Beritagar.id / Muh. Farid Wajdi

Di Makassar, para sanro (dukun) gigi mengobati pasien dengan baca-baca mengandung selawat.

Sudah dua hari Arifuddin Bala (25) mengalami sakit gusi. Sebelumnya, mahasiswa master dari Southern Illinois University, Amerika Serikat itu mencabut giginya di dokter gigi. Meski sudah minum obat pemberian dokter--antibiotik dan pereda rasa sakit--tetapi sakit gusinya tak jua hilang.

Padahal, dua pekan lagi, Arief--sapaan Arifuddin Bala--akan bertolak ke AS. Lantaran takut sakit di negeri "Paman Trump", Arief memilih berobat ke sanro, sebutan untuk pengobat tradisional di Sulawesi Selatan.

Dalam buku Manusia Bugis karya Christian Pelras, sanro diasosiasikan sebagai dukun atau pawang. Aktivitasnya berhubungan dengan dunia arwah dan hal-hal metafisik. Umumnya, sanro menggunakan mantra atau dalam istilah lokal disebut baca-baca.

Berbekal informasi dari rekannya, Arief mendatangi rumah seorang sanro gigi, Kamariyah Daeng Anne (46), di Jalan Biring Romang, Daya, Makassar, Jumat siang (23/6).

Beritagar.id bertemu Arief di rumah Kamariyah. Kala itu, tiada senyum di wajah Arief, yang lebih sering terlihat meringis seolah menahan sakit.

Setelah menunggu beberapa menit, Kamariyah menghampiri Arief. "Maaf saya tidak dapat olo-olo' (sejenis kecoa)," kata Kamariyah.

Ia lantas mempersilakan pasiennya itu duduk di kursi plastik tanpa sandaran, dan mulai memijat bagian pipi yang sakit. Mulutnya komat-kamit, hanya ucapan basmalah yang terdengar jelas. Sesekali, bibir Kamariyah menguncup beriring tiupan napas ke pipi Arief.

Kamariyah adalah seorang ibu rumah tangga. Perempuan kelahiran Galesong Utara, Kabupaten Takalar ini adalah istri dari seorang tukang ojek, Abdul Daeng Matuju. Ia memiliki garis keturunan pengobat dari nenek dan ibunya.

Neneknya, Daeng Paneng merupakan sanro beken pada era 1970-an di Ujung Pandang--nama lawas Makassar. Neneknya mewariskan kemampuan pengobatan gigi kepada ibunda Kamariyah, Daeng Ngunggi. Selanjutnya, kemampuan itu diteruskan kepada Kamariyah.

Dari lima bersaudara, hanya Kamariyah yang bisa mengobati sakit gigi. Ia menyadari kemampuannya tujuh tahun silam, tatkala salah seorang anaknya mengeluh sakit gigi. Merujuk petuah ibunya, Kamariyah lantas menggunakan olo'-olo' yang dioleskan ke pipi anaknya sambil merapal baca-baca.

Anaknya sembuh, dan cerita kemampuan Kamariyah mulai didengar tetangga. Sejak itu, ia kerap diminta mengobati para tetangga yang sakit gigi.

Cerita kesaktiannya kian meluas lewat ujaran mulut ke mulut. Pasiennya pun berdatangan dari berbagai latar profesi dan wilayah di Sulawesi Selatan. Dari Kabupaten Maros (utara Makassar) hingga Kabupaten Gowa (selatan Makassar).

"Kebanyakan pasienku warga sini. Banyak juga mahasiswa," ujar Ibu empat anak ini.

Kamariyah Daeng Anne, saat mengobati salah seorang pasiennya di rumahnya, Jalan Biring Romang, Daya, Makassar.
Kamariyah Daeng Anne, saat mengobati salah seorang pasiennya di rumahnya, Jalan Biring Romang, Daya, Makassar.
© Muh. Farid Wajdi /Beritagar.id

Setelah beberapa menit duduk dan mendapat pijatan di pipi, wajah Arief mulai berseri. "Enak mi?" tanya Kamariyah. Dibalas anggukan kecil dari lelaki penerima beasiswa Fulbright itu.

Kamariyah lantas mengambil sebuah botol air mineral yang dibawa Arief. Mulutnya kembali komat-kamit, disusul tiupan napas ke air di dalam botol.

Arief, yang penasaran, mulai bertanya mengenai teknik dan metode pengobatan Kamariyah. Beberapa kali pemuda asal Kabupaten Sinjai itu bertanya mengenai keterlibatan "ilmu hitam" dalam praktik tersebut. Berulang kali pula Kamariyah menampik.

Kamariyah mengaku tak menggunakan "sesuatu di luar agama". Isi baca-baca, kata Kamariyah, hanya selawat berpadu bacaan surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlas.

Lepas pengobatan, Arief merogoh saku celana dan memberikan selembar uang.

"Tidak usah," tolak Kamariyah. Menerima tarif memang tidak lazim bagi seorang sanro.

Perihal baca-baca dan kebiasaan tak menerima tarif itu, komentar datang dari peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar, Muhammad Irfan Syuhudi.

Menurut Irfan, sanro memang punya kebiasaan pengobatan yang dilakukan dengan membaca ayat atau doa tertentu. "Bahkan saat tahapan mengambil daun dari pohon--atau mengambil bahan pengobatan lainnya-- mereka sudah mulai baca-baca," kata Irfan.

Christian Pelras, dalam buku Manusia Bugis, berkesimpulan selawat dalam baca-baca para sanro merupakan hasil akulturasi tradisi pra-Islam dan Islam. Tujuan baca-baca adalah meningkatkan energi vital (sumange') yang menjadi inti kehidupan.

Ihwal tarif, Irfan menyebut sanro memang menitikberatkan pada aspek sosial dan pengabdian. Konon, beberapa sanro juga mapan secara ekonomi. Bila pun tak mapan, para sanro tak memakmurkan diri lewat kemampuan pengobatan.

"Beberapa sanro malah memberikan uang kepada keluarga pasien yang tidak mampu," ujarnya. Jikalau ada sanro yang memasang tarif khusus, tawar menawar juga tetap terbuka.

Tempat praktik Daeng Hafid di daerah Antang, Kecamatan Manggala,  Kota Makassar.
Tempat praktik Daeng Hafid di daerah Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar.
© Muh. Farid Wajdi /Beritagar.id

Takbir berkumandang pada Minggu malam (24/6), masyarakat tengah bersuka menyambut Idul Fitri.

Lain halnya Sabaruddin (40). Pekerja bangunan ini mengalami rasa sakit pada gigi geraham. Ia pun mendatangi sanro gigi, Abdul Hafid alias Daeng Hafid (49).

Berbeda dari Kamariyah, Daeng Hafid pasang tarif atas kemampuannya. Ia buka praktik di sebuah gudang beratap seng, yang masuk area Blok X Perumnas Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar. Di perumahan itu, Daeng Hafid punya pamor sebagai "ahli cabut gigi tanpa berdarah".

Kemampuan itu didapat dari ayahnya, Daeng Mubing, yang menggabungkan kemampuan metafisik warisan leluhur dengan metode medis konvensional--seperti menggunakan tang guna mencabut gigi. Selain itu, Daeng Hafid juga bisa membuat dan memasang gigi palsu.

Kira-kira setengah jam Sabaruddin menunggu di lokasi praktik, hingga datanglah sebuah mobil Avanza putih.

Dari dalam mobil, turun seorang lelaki berambut panjang dengan wajah ditumbuhi berewok . Lelaki itu menutup kepala dengan peci putih, badannya yang tambun hanya berbungkus singlet, dan dari balik celana jinnya terselip badik (senjata khas Bugis-Makassar). Ia adalah Daeng Hafid.

Sabaruddin menjadi pasien pertama pada malam itu. Di ruang praktik, Sabaruddin duduk di sebuah kursi plastik.

Persis di bawah kursi tersedia baskom untuk membuang air kumur pasien. Tak jauh dari baskom tersebut ada wadah berisi tumpukan gigi bernoda darah yang jadi tempat kerumunan lalat. Di satu sisi ruangan juga tampak meja kaca berisi beberapa tang gigi dan botol air mineral.

"Ini yang sakit Daeng," ujar Sabaruddin, sembari menunjuk satu area di mulutnya. Daeng Hafid mengintip ke dalam mulut dibantu penerangan senter kepala. Sekali tengok, ia langsung menunjuk tiga gigi geraham yang mesti dicabut.

Daeng Hafid lantas menuang air ke gelas plastik. Setelah itu, tangannya--tanpa handscoon --menancapkan jarum suntik, yang terisi 1 ml pehacaine--obat anestesi (pembiusan).

Tanpa sesi tanya jawab untuk mengetahui kondisi pasien (anamnesa) atau proses pengukuran tekanan darah, Daeng Hafid percaya diri bisa mengatasi masalah pasiennya.

Dengan gegas moncong tang memeluk satu gigi geraham di rahang bawah. Sekali tarikan gigi berlubang itu tercabut bersama akarnya. Hal yang sama terjadi pada dua gigi lain. Menariknya, Daeng Hafid menggunakan tang rahang atas untuk mencabut gigi di rahang bawah.

Setelahnya, ia memberikan Amoxicillin dan Asam Mefenamat kepada pasien. "Kalau dua atau tiga gigi dicabut, saya kasih dua butir. Kalau lebih sebelas gigi, saya kasih satu papan," ujar lelaki yang memiliki enam anak ini.

Apa yang dilakukan Daeng Hafid selintas hampir mirip dengan tindakan medis konvensional yang dilakukan dokter gigi. Pembedanya, dokter gigi mendapatkan kemampuan itu dengan bersekolah, sedangkan Daeng Hafid lewat "warisan".

"Air ini saya dapatkan dari mimpi bertemu almarhum ayah, dari akar pohon beringin di kampung."

Daeng Hafid

Jauh sebelum buka praktik, Daeng Hafid sekadar mengikuti ayahnya, Daeng Mubing, yang berpraktik keliling dari kampung ke kampung. Pengalaman itulah yang menuntunnya belajar.

Ia mulai berani menangani pasien ketika mendapat mimpi pada peringatan 40 hari meninggalnya sang ayah.

Dalam mimpinya, sang ayah menunjukkan lokasi air dari pohon bertuah. Konon, air itu bisa menghilangkan rasa sakit kala pencabutan gigi. "Dari akar pohon beringin di kampung," ujar lelaki asal Malakaji, Kabupaten Jeneponto itu.

Pada mimpi yang sama, Daeng Hafid diwariskan satu set tang gigi kepunyaan sang ayah. Ia juga mengaku, ayahnya sempat memberi petunjuk untuk meminum kubangan air kumur serta darah pasien yang mengalami pembengkakan parah, bernanah, dan trismus (tidak dapat membuka mulut). "Setelah minum itu, saya merasa semua pasien sama."

Pembeda lain adalah metodenya yang terbilang berani. Daeng Hafid berani mencabut hingga 20 gigi dalam satu kunjungan. Konon, hal itu bisa dilakukan tanpa pendarahan hebat. Ia juga berani mencabut gigi pasien saat bengkak atau nyeri hebat melanda.

Bila bertemu pasien macam itu, lazimnya, seorang dokter gigi akan menolak pencabutan dan memberikan obat analgetik atau antibiotik untuk mengurangi sakit dan bengkak.

"Saya pernah ingin cabut gigi saya yang sakit, tapi dottoro (dokter) menolak untuk mencabut karena bengkak. Saya kemudian ke Daeng Hafid, tidak sampai lima menit tercabut dan tidak sakit," kata Sabaruddin.

Daeng Hafid juga punya baca-baca warisan leluhurnya. Sama seperti Kamariyah, Daeng Hafid menyebut baca-baca itu mengandung kalimat selawat. Saat ditanya ihwal detail baca-baca, lelaki yang sudah 20 tahun membuka praktik itu menolak memberi tahu. "Kalau diberitahu kepada orang lain, saya bisa mati," katanya.

Namun, ia sempat menyebut selawat itu berhubungan dengan permohonan izin untuk mencabut gigi kepada "yang punya tanah". Dalam hal ini, "tanah" dianggap sebagai asal manusia dan kehidupan. "Juga kepada pemilik darah, kulit, dan rambut," ujarnya.

Metode nyentrik lain yang dilakukan Daeng Hafid adalah pemberian ballo--minuman beralkohol khas Sulawesi Selatan--kepada pasien yang fobia terhadap jarum suntik. "Kalau sudah teler mi. Tidak narasa mi (terasa) kalau dicabut giginya," katanya berkelakar.

Dengan segala keunikan itu, tempat praktik Daeng Hafid nyaris tak pernah sepi. Dalam semalam, ia bisa melayani 10-20 pasien. Terkadang, ada pula pasien yang memintanya datang ke rumah.

Tarif cabut gigi yang dipatok Daeng Hafid juga jauh di bawah harga jasa dokter. Sekali cabut, ia hanya memungut Rp40 ribu. Padahal, dokter gigi di kota Makassar rerata pasang tarif Rp150 ribu.

"Kadang kalau tidak cukup uangnya, ya biar mi semampunya. Kadang-kadang juga pasien kasihkan jagung, buah, atau beras (hasil bumi)," katanya.

Daeng Hafid mencabut gigi rahang bawah menggunakan tang gigi rahang atas.
Daeng Hafid mencabut gigi rahang bawah menggunakan tang gigi rahang atas.
© Muh. Farid Wajdi /Beritagar.id

Minggu (25/6), beriring ucapan selamat Idul Fitri, Beritagar.id menghubungi Sabaruddin dan Arief guna menanyakan kondisi mereka usai berobat ke sanro gigi.

Arief mengaku rasa sakit gusinya sempat hilang pada siang hari usai ditangani Kamariyah. Akan tetapi, pada malam hari, rasa sakitnya kambuh. "Saya minum panadol lagi," keluhnya. Arief pun mengaku heran, sebab dirinya sudah beberapa kali berobat ke sanro gigi di kampungnya dan selalu berhasil.

Kondisi itu berbeda dengan Sabaruddin, yang tak punya keluhan apa pun setelah tiga giginya dicabut Daeng Hafid.

Perbedaan hasil itu berhubungan dengan "kecocokan" antara pasien dan sanro. Hal itu disampaikan Muhammad Basir (55), dosen antropologi Universitas Hasanuddin.

"Kesembuhan juga didorong hubungan antara sanro dan pasien, harus ada prinsip saling percaya meski secara keilmuan cenderung irasional," tutur peneliti sanro ini.

Basir mengatakan, sebagian masyarakat Indonesia memang masih percaya hal-hal irasional dalam kesehatan. Hal itu berbeda dengan kecenderungan masyarakat di kebudayaan Barat yang lebih saintifik.

Pernyataan Basir tak berlebihan, bila merujuk riset yang menyimpulkan 40 persen warga Indonesia memercayakan kesehatannya kepada pengobatan alternatif--termasuk sanro.

Pemerintah sebenarnya telah mengatur peranan pengobat tradisional dan alternatif dalam UU No. 36 Tahun 2009. Perizinan pengobatan tradisional juga diatur sesuai Keputusan Menteri Kesehatan No.1076/Menkes/SKVII/2003, yang mewajibkan pengobat tradisional punya Surat Izin/Terdaftar Pengobat Tradisional (SIPT/STPT). Namun, jarang sekali sanro yang mengantongi surat itu.

Standar medis juga sering jadi sasaran kritik untuk para sanro gigi.

"Sanro seharusnya memiliki pengetahuan tentang prinsip infeksi-silang, jumlah maksimal gigi yang dicabut, dan hingga pengetahuan tentang anestesi," kata drg. Ardiansyah S. Pawinru (38), Sekretaris Umum Pengurus Wilayah Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Sulawesi Selatan dan Barat.

Meski demikian, Ardiansyah tak menampik bila sanro memiliki kemampuan pengobatan. Pasalnya, ia pernah melihat keluarganya sembuh setelah dirawat sanro, lengkap dengan praktik baca-baca.

Adapun praktik baca-baca bagi sebagian orang dianggap bertentangan dengan agama, sebab lekat dengan klenik dan syirik. Namun, pandangan agama Dewan Penasihat GP Ansor Sulsel, Mahmud Suyuti, justru berkebalikan.

Menurut Suyuti, dokter menjadikan obat sebagai wahana penyembuhan. Sedangkan sanro--jika muslim--bisa saja menjadikan bacaan Alquran sebagai azimat pengobatan. "Yang haram itu tukang nujum seperti: tukang tebak-tebak nasib atau misalnya nomor togel," kata dosen hadis di UIN Alauddin ini.

Senada dengan Suyuti, Basri menuturkan satu pandangan soal tuah para sanro, "Dunia ini tiada yang rasional tanpa kehadiran yang irasional."

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.