Pekerja menyelesaikan pesanan alat peraga kampanye sejumlah calon anggota legislatif (Caleg) dari berbagai partai politik peserta Pemilu 2019 di Kemayoran, Jakarta, Jumat (28/9/2018).
Pekerja menyelesaikan pesanan alat peraga kampanye sejumlah calon anggota legislatif (Caleg) dari berbagai partai politik peserta Pemilu 2019 di Kemayoran, Jakarta, Jumat (28/9/2018). Muhammad Adimaja / Antara Foto
PEMILU 2019

Musim atribut kampanye di Pasar Senen

Hangat tahun politik 2019 sekarang menjadikan pasar tua ini sebagai etalase paling lengkap untuk barang kebutuhan kampanye di Indonesia.

Pengap dan sesak. Itulah kesan pertama ketika menginjakkan kaki di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Kamis siang itu, 10 Januari 2019, cuaca sedang panas-panasnya.

Saat Beritagar.id memasuki bangunan berlantai dua di Blok V ini, rasa pengap menyergap. Nyaris tak ada ruang kosong karena setiap sudut terisi barang dagangan.

Setiap pengunjung pun akan disambut sapaan penjaga toko begitu menaiki tangga. "Cari apa, Kak. Boleh dilihat-lihat dulu mau pesan apa."

Ada beragam barang tersaji di pasar yang dibangun pada 1735 oleh arsitek Belanda Yustinus Vinck ini. Barang bekas, pakaian olah raga, sampai deretan barang untuk keperluan kampanye untuk pemilihan umum dapat dengan mudah dijumpai di pasar ini.

Dari beragam barang yang ada, alat peraga dan bahan kampanyelah yang paling mencolok. Aneka warna sebagai identitas partai plus wajah para calon anggota legislatif berserak di setiap kios.

Merah, kuning, hijau, dan biru menghias pasar yang dulunya hanya buka setiap Senin ini. Semua warna dan logo partai lengkap di sini. Wajah calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin serta pesaingnya Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pun ada di setiap sudut.

Pasar Senen memang dikenal sebagai pusat belanja berbagai atribut kampanye bagi partai politik dan politikus yang ingin memperkenalkan dirinya kepada masyarakat.

Hangat tahun politik 2019 sekarang menjadikan pasar tua ini sebagai etalase paling lengkap untuk barang kebutuhan kampanye di Indonesia. Tinggal sebut saja. Kalender, kaos, poster, baliho, ikat kepala, sampai gantungan kunci dapat dengan mudah ditemukan di Pasar Senen.

Denyut Blok V pun seperti tersedot untuk kepentingan kampanye menjelang pesta demokrasi lima tahunan ini. Ada pekerja yang sedang melakukan penyablonan di baju dan poster.

Di sudut lain, terlihat tumpukkan kartu nama dan lembaran kalender 2019 di setiap meja kios. Kartu nama dan kalender siap dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia.

"Pesanan bermacam-macam, tetapi yang paling banyak baju. Topi, kalender, gantungan kunci, dan poster juga banyak yang pesan," kata Reza, pemilik Toko Setia Adhi kepada Beritagar.id.

Reza membanderol baju dengan aneka wajah dan tulisan mulai dari harga Rp11 ribu sampai 45 ribu. Ia mengaku pernah ada sekali pesanan mencapai 30 ribu baju.

Pesanan ke toko Reza itu mengalir dari berbagai wilayah di Indonesia, tak hanya Jakarta. Meski pesanan tak pernah berhenti mengalir, Reza mengamati jumlahnya tak sebanyak pemilu-pemilu sebelumnya.

Reza memulai usaha jasa sablon dan percetakan sejak 2000, meneruskan usaha orang tua. Ia telah melewati tiga kali Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Pemilihan Legislatif, dan beberapa kali Pemilihan Kepala Daerah.

"Kalau perbedaan lebih banyak pada tahun 2014 sih sama 2007 penghasilannya lebih, dibandingkan tahun sekarang atau tahun kemarin," kata Reza.

Berkurangnya pesanan juga dirasakan oleh pedagang atribut kampanye lainnya, Ibu Juju. Toko Juju berada di satu sudut bagian belakang Pasar Senen, lebih kecil ketimbang milik Reza.

Juju telah berjualan perlengkapan kampanye sejak 20 tahun lalu. Berkali-kali melewati masa kampanye, perubahan itu amat sangat terasa baginya.

"Ya perbedaannya jauh ya, soal kan sebagai pedagang biasanya ramai terus akhirnya kan sepi ya, paling begitu," kata Juju tanpa memperincikan penghasilan sebulannya.

Pekerja menyelesaikan pembuatan atribut kampanye calon anggota legislatif 2019 di Mohan Digital dan Photolab, Empang, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (17/10/2018).
Pekerja menyelesaikan pembuatan atribut kampanye calon anggota legislatif 2019 di Mohan Digital dan Photolab, Empang, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (17/10/2018). | Arif Firmansyah /Antara Foto

Berkurangnya pesanan Reza dan Juju di Pasar Senen terjadi ketika media sosial kian bergeliat di Indonesia. Berbagai survei dan riset menunjukkan penetrasi Internet di Indonesia kian masif sampai ke pelosok daerah.

Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat ada 143,23 juta jiwa (54,68 persen) pengguna Internet di Indonesia pada 2017. Pengguna Internet di Indonesia pun lebih banyak mengakses aplikasi chatting dan media sosial.

Penetrasi Internet yang semakin meluas dengan biaya yang relatif murah menjadikan media sosial sebagai alternatif politikus kian gencar berkampanye pada Pemilu 2019 ini. Digitalisasi media membuat saluran untuk berkampanye semakin bervariasi.

Putu Supadma Rudana, misalnya. Calon anggota legislatif dari Partai Demokrat daerah pemilihan Bali ini menggunakan media sosial sebagai tempat untuk memberi tahu masyarakat kegiatan yang sedang dilakukannya.

Supadma telah mengikuti pemilihan legislatif dua kali, tetap gagal lolos ke Senayan. Ia baru masuk anggota DPR sebagai pengganti pada 24 Agustus 2017 lalu.

Supadma menggantikan I Putu Sudiartana yang diberhentikan karena terdakwa kasus korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) kegiatan sarana dan prasarana penunjang tahun anggaran 2016 Sumatra Barat.

Pada Pemilu 2019, Supadma kembali mencalonkan diri dengan status petahana. Wakil Sekretaris Jenderal DPP Demokrat ini pun memanfaatkan semua media untuk berkampanye, mulai dari poster sampai media sosial.

"Semuanya penting. Masing-masing media kampanye mempunyai strategi sendiri tergantung wilayah dan tempat. Jadi tidak bisa disamaratakan semuanya," kata Supadma kepada Beritagar.id, Rabu (16/1/2019).

Ia mencontohkan, media sosial di Internet seperti Instagram sering dimanfaatkan untuk menjangkau pemilih yang lebih muda. Meski bermain di media sosial, Supadma tetap menganggap media konvensional untuk kampanye penting.

Alat peraga dan bahan bahan kampanye tetap dijajaki. Anggaran terbatas untuk berkampanye membuat Supadma harus lebih memilih dan memilah alat peraga dan bahan kampanye yang paling cocok. Tidak sembarang tempat pasang baliho atau sebar kaos.

Alat peraga konvensional disebar dengan berbagai pertimbangan. Jadi, Supadma bisa memasang papan reklame besar di satu wilayah, tetapi di wilayah lain cukup menggunakan bahan kampanye seperti poster kecil dan kartu nama.

Pakar Komunikasi Politik Universitas Paramadina dan pendiri lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (kedaiKOPI), Hendri Satrio mengatakan setiap partai dan politikus pada dasarnya akan menjajaki dan memanfaatkan semua media kampanye.

Berkaca dari Pemilu 2014, Hendri mengatakan kampanye akan kian marak beberapa pekan sebelum pencoblosan. Pada Pemilu 2019 ini, masa kampanye dimulai pada 23 September 2018 hingga 13 April 2019.

Partai politik dan calon anggota legislatif baru bisa berkampanye melalui rapat umum dan iklan di media massa pada 24 Maret 2019. Pemilu serentak yang akan berlangsung pada 17 April ini masih menyimpan dua-tiga bulan lagi sebelum banjir beragam atribut kampanye.

Aturan tentang kampanye pemilihan umum termuat dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) nomor 28 Tahun 2018 tentang Perubahan atas PKPU nomor 23/2018.

Aturan itu memuat panduan dalam berkampanye di berbagai media, termasuk media sosial. Semua bahan dan alat peraga kampanye seperti di Pasar Senen pun harus mengacu pada peraturan KPU.

Alat peraga dapat berbentuk baliho, billboard, atau videotron; spanduk; dan umbul-umbul. Baliho, billboard, dan videotron paling besar berukuran 4x7meter; spanduk paling besar 1,5x7 meter; dan umbul-umbul, paling besar 5xmeter.

Adapun bahan kampanye dapat berupa selebaran (flyer); brosur (leaflet); pamflet; poster; stiker; pakaian; penutup kepala; alat minum/makan; kalender; kartu nama; pin; dan/atau alat tulis.

Selebaran paling besar berukuran 8,25x21 sentimeter; brosur dengan posisi terbuka berukuran 21x29,7 sentimeter dan terlipat 21x10 sentimeter; pamflet berukuran 21x29,7 sentimeter; poster berukuran 40x60 sentimeter; dan stiker paling besar berukuran 10x5 sentimeter.

"Sekarang masih tiga bulan, Saya yakin nanti mulai Februari atau Maret alat kampanye akan sangat ramai," kata Hendri.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR