Salah satu sudut ruangan di jaringan bioskop CGV yang menyediakan beragam kudapan dan minuman
Salah satu sudut ruangan di jaringan bioskop CGV yang menyediakan beragam kudapan dan minuman facebook.com/CGV.ID
BISNIS HIBURAN

Musim bioskop bermekaran

Sejak hadir di Indonesia lebih dari satu abad dan mengalami fase kembang kempis, bioskop kini sedang memasuki musim mekar.

Warga Arab Saudi yang menggemari film dan rela menempuh jarak ratusan kilometer untuk menonton di bioskop sedang bersuka cita.

Raja baru mereka, Mohammad bin Salman (32), telah mengizinkan hadirnya bioskop setelah lebih dari tiga dekade absen di tanah Petroleum tersebut.

Kontan para sineas Saudi juga memekik girang. Layar (kembali) terkembang di Arab Saudi.

Film yang akan ditayangkan menyusul kebijakan baru itu adalah The Emoji Movie dan Captain Underpants: The First Epic Movie dalam acara festival film di Jeddah (12-17/1/2018).

Berhubung pembangunan bioskop belum rampung, penayangan kedua film tersebut berlangsung di aula yang dibentuk mendekati gedung bioskop. Tetap ada hamparan karpet merah dan mesin pembuat berondong jagung (pop corn).

Tiket pertunjukan seharga SAR35 (sekitar Rp12 ribu) dan SAR45 (Rp16 ribu) seketika ludes diserbu warga. Ibarat kata, warga Saudi sedang dalam fase bulan madu bersama bioskop.

Fase yang sama juga terjadi di Indonesia saat ini. Tentu saja dengan konteks yang berbeda lantaran kita telah menikmati kehadiran bioskop lebih dari satu abad.

Jika bioskop di Saudi masih menantikan masa pertumbuhannya kembali, kita di Indonesia sedang merasakan musim bioskop sedang bermekaran.

Batavia Schouwburg (Gedung Kesenian Jakarta) yang jadi tempat pemutaran pertama film di Indonesia pada 11 Oktober 1896
Batavia Schouwburg (Gedung Kesenian Jakarta) yang jadi tempat pemutaran pertama film di Indonesia pada 11 Oktober 1896 | /KITLV

Bioskop pertama

Dalam berbagai tulisan, seperti buku "Film Indonesia. Bagian I (1900-1950)", "100 Tahun Sejarah Bioskop di Indonesia", dan "Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa", disebutkan bahwa pemutaran gambar idoep alias film pertama di Hindia Belanda (Indonesia) berlangsung di Kebondjae, Tanah Abang, Batavia, pada 5 Desember 1900.

Fakta berbeda ditemukan Dr. Dafna Ruppin yang tertuang dalam jurnal "The Emergence of a Modern Audience for Cinema in Colonial Java" (2017).

Berdasarkan halaman iklan surat kabar Java-Bode (Utusan Jawa) edisi 9 Oktober 1896, Louis Talbot, fotografer berkabangsaan Prancis yang tinggal di Batavia, telah memutar film pada 11 Oktober 1896. Tempat pemutaran di Batavia Schouwburg (sekarang Gedung Kesenian Jakarta).

Artinya orang-orang di Batavia (Jakarta) telah menikmati film hanya berselang 10 bulan dari pemutaran film pertama di dunia yang digagas Louis dan Auguste Lumiere di Grand Cafe Boulevard des Capucines, Paris, Prancis.

Bioskop kala itu belum eksis. Tempat pemutaran biasanya menyewa gedung atau rumah. Salah satu yang jadi tempat favorit beberapa perusahaan gambar idoep untuk memutar film adalah The Manege Fuchs, di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Pemutaran tak jarang juga berlangsung di area terbuka semisal lapangan dengan konsep bioskop keliling atau gerimis bubar (misbar).

Karena dipakai berkeliling, bangunannya juga bisa dibongkar pasang. Bentuknya seperti bangsal, dinding terbuat dari gedek beratapkan seng. Surat kabar kala itu menyebutnya dengan istilah flying bioscope.

Ambil contoh bentuk The Royal Bioscope yang diusahakan oleh Abdulally Esoofally saat mentas di Surabaya pada 1903.

"Sebuah tenda setinggi 100 kaki dan lebar 50 kaki, disangga oleh empat tiang yang bisa menampung seribu orang," tulis Dafna Ruppin dalam makalah "From Crocodile City to Ville Lumiere: Cinema Spaces on the Urban Landscape of Colonial Surabaya" (2014).

Bioskop menjadi bentuknya yang sekarang alias gedung permanen setelah dianggap sebagai bisnis yang menjanjikan.

Pemerintah Hindia Belanda yang menyadari potensi pemasukan dari bisnis baru ini kemudian membentuk Dewan Kota pada 1907. Tugasnya membuat peraturan baru dan skema perpajakan terkait hiburan publik.

Saat itu bioskop permanen di Batavia sudah ada, antara lain Cine Lumen di Tanah Abang, Thalia Theatre di Mangga Besar, Globe Bioscope di Pasar Baru, Flora Theatre di Pasar Senen, dan Elite Bioscope di daerah Pintu Air.

Maraknya pengusaha yang terjun ke bisnis bioskop di ibu kota melahirkan Batavia Bioscoopen Bond yang kemudian berganti nama jadi Jakarta Bioscoopen Bond. Hal serupa terjadi di kota-kota lain.

Para pengusaha bioskop di seluruh Indonesia kemudian berhimpun dalam satu wadah bernama Persatuan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (PPBSI) pada 10 April 1955.

Setelah itu PPBSI berganti nama jadi Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GAPEBI) dan terakhir mengusung nama Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI).

Bioskop Menteng di Jakarta Pusat yang kini telah dimusnahkan dan berganti jadi kompleks perbelanjaan Menteng Huis
Bioskop Menteng di Jakarta Pusat yang kini telah dimusnahkan dan berganti jadi kompleks perbelanjaan Menteng Huis | /Tropenmuseum

Pasang surut bioskop

Laiknya bisnis lain, bioskop sepanjang perjalanannya juga mengalami fase pasang surut. Menyitir buku "100 Tahun Bioskop di Indonesia (1900-2000)", jumlah bioskop di Hindia Belanda pada 1936 tercatat 225 gedung.

Ketika Jepang datang menjajah kurun 1942-1945, tersisa 52 gedung saja. Banyak bioskop yang tutup lantaran harga tiket mahal (10 sen per lembar alias setara satu kilogram beras).

Film yang diperbolehkan tayang kebanyakan mengandung propaganda alih-alih hiburan. Alhasil warga ogah menonton.

Satu dekade setelah kemerdekaan Indonesia, sebanyak 800 gedung bioskop beroperasi kembali. Hingga medio 60-an, jumlah tersebut menyusut lagi menjadi 350.

Penyebab melorotnya jumlah bioskop pada era itu lantaran gerakan pengganyangan film-film impor dari American Motion Pictures Association Indonesia (AMPAI) oleh Panitia Aksi Pengganyangan Film Imperialis Amerika Serikat (PAPFIAS).

Ibarat kendaraan yang kehabisan bensin, sejumlah bioskop yang tak mendapat suplai film gulung tikar dan beralih fungsi jadi gudang penyimpanan beras atau gedung pertunjukan drama, wayang orang, lenong, ketoprak, dan ludruk.

Ketika tampuk pemerintahan berganti dari Orde Lama ke Orde Baru, kebijakan lawas pun ikut tumbang. Usaha perbioskopan bermekaran lagi seturut terbukanya kembali kran film impor.

Pada 1973, jumlah bioskop di Indonesia meningkat menjadi 587 buah. Kejayaan bioskop di Indonesia terjadi pada 1990. Jumlahnya saat itu mencapai 2.600 gedung dengan 2.853 layar.

Saat perfilman tidur panjang sejak medio 90-an, jumlah bioskop menurun drastis. Tersisa hanya 264 bioskop dengan 676 layar pada 2002.

Berselang lima tahun kemudian, jumlah bioskop meningkat lagi jadi 483 bioskop dengan 959 layar. Lalu menurun lagi jadi 146 bioskop pada 2009. Sungguh fluktuatif.

Patut dicatat, saat ketersediaan gedung bioskop melimpah ruah pertengahan 80-an, Sudwikatmono mendirikan PT Subentra Nusantara dan memperkenalkan konsep sinepleks (sinema kompleks) lewat Cinema21.

Gedung pertamanya terletak di Jalan M.H. Thamrin Kavling 21, Jakarta Pusat, yang sekarang jadi Plaza BII Tower. Sejak itu bisnis bioskop tak lagi sama.

Salah satu ruangan studio di Flix Cinema, Pantai Indah Kapuk Avenue Mall
Salah satu ruangan studio di Flix Cinema, Pantai Indah Kapuk Avenue Mall | /facebook.com/flixcinemaid

Revolusi bioskop

Selama dua dekade, Cinema21 jadi penguasa perbioskopan di Tanah Air. Mereka punya banyak cabang (dikenal dengan istilah bioskop jaringan) dan mendapat pasokan film asing karena para pemilik di belakangnya juga merangkap pengimpor film.

Sementara saat produksi film nasional mampet sepanjang era 90-an hingga awal 2000-an, banyak bioskop independen satu per satu gulung tikar.

Multiplex Grande Boutique Cinema yang serba eksklusif juga tak berdaya menahan laju Cinema21. Pertama buka pada 2002 di Pasaraya, Blok M, Jakarta Selatan, bioskop milik produser Raam Punjabi itu akhirnya tutup sewindu kemudian.

Peta persaingan mulai terbuka lagi seturut munculnya bioskop jaringan lain bernama Blitzmegaplex pada 2006.

Bersamaan dengan itu, di Jember, Jawa Timur, hadir New Kusuma Theatre yang kemudian berganti nama New Star Cineplex. Kini mereka telah membuka cabang di Sidoarjo, Pasuruan, Madiun, Kudus, Jombang, Banyuwangi, Bojonegoro, dan Banjar.

Raam Punjabi yang pernah gagal, hadir lagi mulai 2012 mengusung entitas baru bernama Platinum Cineplex. Konsepnya jaringan bioskop yang menyasar penonton kelas menengah di Baturaja, Bogor, Bitung, Lahat, Magelang, Palopo, Sidoarjo, dan Solo.

Cinemaxx Theater yang berupa jaringan bioskop dengan sokongan Lippo Group menjadi pesaing paling bontot.

Bisnis bioskop yang sekarang semakin ramai merupakan imbas dicabutnya sektor perfilman dari Daftar Negatif Investasi.

Proteksi yang selama ini menghalangi perusahaan asing mengelola sektor produksi, distribusi, dan ekshibisi sekarang terbuka 100%. Distribusi film-film impor juga mengalir lancar ke berbagai bioskop jaringan dan independen.

Menurut data GBPSI, ada 279 bioskop di Indonesia pada 2017 dengan perkembangan layar mencapai 1518.

Dari jumlah tersebut Cinema21 memiliki total 949 layar yang memenuhi 166 bioskop di seluruh Indonesia.

Tahun lalu juga ditandai kehadiran satu pesaing kuat baru. Agung Sedayu Group bersama Flix Cinema resmi hadir di Pantai Indah Kapuk Avenue, Jakarta Utara, dan Grand Galaxy Park, Bekasi.

Tahun ini Flix Cinema berencana hadir di District 8 Lot 28, Sudirman Central Business District (SCBD), dan Mall of Indonesia, dua tempat yang notabene dimiliki Agung Sedayu Group.

"Ke depannya bioskop di mal-mal milik Agung Sedayu Group akan diganti dengan Flix," ujar Nazyra C. Noer, Head of Branding and Marketing Consultant Flix.

Ucapan itu sudah terbukti saat Flix Cinema hadir menggantikan CGV di Grand Galaxy Park Bekasi mulai 8 Agustus 2017.

Ditambahkan Nazyra, Flix Cinema bisa saja melakukan ekspansi di luar "kandang". Hanya saja belum dalam waktu dekat.

Pemain baru lainnya adalah KOTA Cinema Mall yang menawarkan program kepemilikan saham. Cabang pertama hadir di Jati Asih, Bekasi. Selanjutnya mereka akan membuka cabang di Cirebon, Pontianak, Makassar, Batam, Malang, dan Bali.

Lippo Group yang memiliki Cinemaxx juga bergerak cepat. Sejak hadir pada 2014, pelan tapi pasti eksistensi mereka semakin masif.

Target yang dicanangkan adalah menyediakan lebih dari 2.000 layar di 300 lokasi dalam jangka 10 tahun sejak berdiri.

Langkah awal yang dilakukan Lippo sama dengan Agung Sedayu Group. Memastikan jadi tuan rumah di tanah sendiri terlebih dahulu.

Hingga pertengahan Januari 2018, Cinemaxx sudah hadir di 26 kota yang merentang dari Lubuklinggau (Sumatra Selatan) hingga Kupang (Nusa Tenggara Timur).

Jaringan bioskop Cinema21 yang selama ini hanya menyewa di dalam mal mereka harus rela angkat kaki saat masa sewa habis.

Niat memperpanjang kontrak membentur tembok karena Lippo berniat menggantikannya dengan Cinemaxx.

Sebagai anak perusahaan Lippo, Cinemaxx mendapatkan privilese sebagai penyewa utama. Jika di dalam mal-mal milik perusahaan induk kadung diisi oleh jaringan bioskop lain, maka saat masa sewa habis otomatis Cinemaxx jadi yang pertama dan utama sebagai pengganti.

"Kami akan menutup sekitar 100 layar sampai tahun 2019 karena digantikan bioskop Cinemaxx," ujar Catherine Keng, Sekretaris Perusahaan PT Nusantara Sejahtera Raya, dilansir kontan.co.id (18/2/2016).

Pun demikian, Cinema21 bergerak cepat dengan membuka cabang. Sepanjang 2018 mereka akan membuka 21 tempat baru yang terdiri dari 129 layar di seluruh Indonesia.

Blitzmagaplex yang telah berganti nama jadi CGV setelah mayoritas sahamnya dimiliki CJ CGV asal Korea Selatan (Korsel) berencana menambah kuota layar.

Kucuran pinjaman dari Korea Eximbank senilai KRW17 miliar (sekitar Rp212 miliar) membuat CGV berniat menambah 100 layar lagi sepanjang tahun ini.

Perusahaan Lotte Group asal Korsel kabarnya telah mengantongi izin prinsip dari pemerintah Indonesia untuk membuka Lotte Cinema mulai tahun 2018.

Negara lain yang menunjukkan ketertarikan terjun di bisnis bioskop adalah India, Cina, dan Uni Emirat Arab.

Beberapa bioskop independen di luar Jakarta juga mulai bangkit. Tengok misalnya Bioskop88 di Pekanbaru yang punya enam layar. Atau Movimax yang punya dua cabang di Malang. Setiap cabang punya tiga studio.

Menurut Djonny Syafruddin, Ketua GPBSI, digitalisasi teknologi membuat bioskop independen terselamatkan. Kini tak ada lagi cerita harus menunggu lama kiriman film dalam bentuk pita seluloid.

"Karena digital, film main serentak. Mau di Senayan, Pondok Indah, sampai Banjarnegara, sama filmnya. Terjadi revolusi perbioskopan," ujar Djonny.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR