Keterangan Gambar : Anak-anak Rohingya makan di tenda sementara mereka di Tangkhali, Ukhiya, Bangladesh, Sabtu (16/9/2017). © EPA-EFE / Abir Abdullah

Anak-anak Rohingya berhadapan dengan malanutrisi dan wabah kolera. Mereka pun kehilangan kesempatan bersekolah formal.

Tak berbaju, bercelana jin dengan ritsleting rusak, tanpa alas kaki, kulit legam, kepala botak, dan badan kurus dengan rusuk yang menyembul dari balik kulit.

Tangan kanannya memegang layang-layang. Di tangan sebelahnya tergenggam kayu yang dililit benang.

Muhammad Junaid (7) tertawa lepas bersama kawan-kawannya, sambil berlari membawa layangan di jalan yang membelah pematang sawah di Blok F, Jamtoli, Ukhiya, Bangladesh. Sekilas, momen itu bak cerita dalam novel Kite Runner karya Khaled Hosseini.

Siang itu (26/10/2017), Muhammad Junaid punya kesempatan bermain selepas membantu orang tuanya mendirikan tenda baru, mencari kayu atau ranting untuk memasak, dan mengantre pembagian bantuan makanan.

Anak kelima dari delapan bersaudara itu adalah salah satu saksi kekejaman militer Myanmar yang menyerang kampungnya, Taung Bazar, Maungdaw, Myanmar, pada akhir Agustus silam.

Muhammad Junaid, satu di antara ribuan orang Rohingya--laporan Human Rights Watch menyebut 530 ribu--yang jadi pelarian ke Bangladesh.

Bagi anak-anak pengungsi Rohingya, bermain merupakan kesempatan langka. Pasalnya, tenaga mereka dibutuhkan para orang tua untuk menyokong aktivitas di pengungsian--mulai dari membangun tenda sampai mengantre bantuan.

Banyak dari mereka berada dalam kondisi kurang gizi dan trauma. Mereka juga tak beroleh pendidikan nan layak. Belum lagi menghitung bahaya perdagangan manusia yang turut mengintai, seiring beberapa laporan anak hilang.

***

Darurat kesehatan

Jumat siang (27/10/2017), Zahib Hasan (3) dibawa orang tuanya ke posko kesehatan Indonesian Humanitarian Alliance dan Dompet Dhuafa. Bocah itu dibawa ke posko kesehatan termaksud lantaran mengeluarkan darah saat buang air besar.

Saat tiba di posko, Zahib tak memakai celana, matanya sembab, badannya lemas, dan bibirnya kering. Setelah mengantre, Zahib dapat giliran pemeriksaan kesehatan dari dokter Pradipta Suarsyaf (26).

Zahib, kata ibunya, sudah sebulan terakhir menderita diare. Anak yang lahir di Maungdaw, Rakhine, Myanmar itu bisa lima kali buang air besar dalam sehari.

Demi mendengar keluhan itu, Pradipta mencurigai beberapa kemungkinan penyakit--termasuk dugaan kolera. Ia pun bertanya soal sumber air minum keluarga tersebut.

Ibu Zahib mengaku keluarganya mengonsumsi air langsung dari pompa, tanpa memasak terlebih dahulu. Pradipta tak heran. Itu bukan cerita dan kasus pertama baginya.

"Jarak pompa air dan toilet umum di kawasan pengungsi ini tak lebih dari satu atau dua meter. Belum lagi kedalaman sumur pompa yang tak layak," kata Pradipta, menjelaskan penyebab seringnya kasus diare di kamp pengungsian itu.

Merujuk data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada sekitar 10 ribu kasus diare yang ditemukan di kamp pengungsi Rohingya.

Per November, pemerintah Bangladesh bersama WHO dan sejumlah organisasi nonpemerintah telah mencanangkan program pemberian vaksin kolera kepada 250 ribu anak-anak pengungsi Rohingya--antara usia 1-5 tahun.

"Hampir semua pasien mengalami gangguan pencernaan, ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), dan malanutrisi. Ketiganya sering ditemukan pada anak-anak," kata Pradipta, memerinci kasus kesehatan yang kerap menimpa pengungsi Rohingya.

Malanutrisi memang jadi sorotan di kamp pengungsi Rohingya. Program Pangan Dunia (World Food Program) menyebut sekitar 80 ribu anak pengungsi Rohingya diduga kekurangan gizi.

Konon, distribusi bantuan makanan yang tak merata jadi pemicu kasus malanutrisi. Hal itu terlihat dalam laporan New Age (28 Oktober 2017), harian berbahasa Inggris di Bangladesh.

Merujuk laporan New Age, beberapa keluarga pengungsi kerap mendapat pembagian bantuan berlipat ganda. Sedangkan beberapa keluarga ataupun individu tidak mendapatkan sama sekali.

Anak-anak Rohingya mengantre pembagian makanan, di kamp pengungsian Palonkhali, Cox's Bazar, Bangladesh, Rabu (11/10/2017).
Anak-anak Rohingya mengantre pembagian makanan, di kamp pengungsian Palonkhali, Cox's Bazar, Bangladesh, Rabu (11/10/2017).
© Abir Abdullah /EPA-EFE

Minim Pendidikan

Jelang zuhur, Minggu (29/10/2017), beberapa orang berkumpul dalam sebuah surau di Balaukahi, Ukhiya, Bangladesh. Di antara mereka, ada Syandri Syaban (31) serta beberapa relawan dari Indonesian Humanitarian Alliance.

Imam surau, Akhtar Husain lantas memanggil orang tua dan anak-anak pengungsi Rohingya masuk ke tempat ibadah itu. Yang diundang langsung menghambur masuk dengan riang.

Hari itu, Syaban dan rekan-rekannya membagikan kostum tim sepak bola, PSM Makassar. Anak-anak pun antusias mengenakan kostum merah kebanggaan tim berjuluk Juku Eja tersebut.

Kegiatan itu adalah bagian dari agenda madrasah darurat yang mengambil tempat di surau termaksud. Beberapa madrasah darurat memang dibentuk di sekitar kamp pengungsian, dengan meminjam bangunan surau sebagai pusat kegiatan.

Madrasah darurat hadir untuk melayani kebutuhan pendidikan anak-anak pengungsi Rohingya. Namun, program madrasah darurat lebih berfokus pada bidang agama dan bahasa Arab.

Pun, para pengajarnya adalah sesama pengungsi Rohingya yang kebetulan pernah mengenyam pendidikan agama sewaktu di Myanmar.

Selain madrasah, ada pula sejumlah sekolah darurat yang didirikan UNICEF dan Save The Children di beberapa blok pengungsi.

Adapun Syaban dan rekan-rekannya sedang mencoba mengisi bidang-bidang keilmuan yang belum disediakan madrasah darurat. "Kami pakai surau agar mereka dapat belajar menulis dan berhitung," kata aktivis organisasi muslim, Wahdah Islamiyah itu.

Namun, kerja-kerja mereka kerap menemui kesulitan karena kebanyakan pengungsi Rohingya buta huruf.

"Anak-anak Rohingya tidak mendapat akses pendidikan yang layak, bahkan sebelum mereka mengungsi. Sangat beruntung ketika seorang Rohingya dapat sekolah, apalagi masuk universitas," ujar Syaban.

Merujuk temuan Oxford Burma Alliance, lebih dari 60 persen anak-anak Rohingya--antara usia 5 sampai 17 tahun--tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Pun, 70 persen kepala keluarga tidak pernah mendapatkan pendidikan formal.

Penelitian yang sama menyebut ada pembatasan pendidikan terhadap etnik Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar. Kerusuhan, yang meletup sejak 2012, kian mempersempit kesempatan anak-anak Rohingya beroleh pendidikan.

Terkhusus para pemuda kesempatan meraih pendidikan cukup terbuka. Umumnya, para pemuda melanjutkan sekolah tinggi mereka di Technological University Sittwe, satu-satunya universitas di Rakhine.

Beberapa lulusan universitas ini selamat pula dari tragedi kemanusiaan di Rakhine. Lantaran punya kemampuan Bahasa Inggris, beberapa dari mereka bertugas sebagai penerjemah untuk posko-posko bantuan atau guru-guru di madrasah dan sekolah darurat.

Salah satunya adalah Rofid (27), yang mengajar di salah satu sekolah darurat milik UNICEF--untuk anak usia 4-10 tahun--di Blok F, Jamtoli, Ukhiya, Cox's Bazar, Bangladesh.

"Sekolah kami berusaha mengajarkan bahasa Inggris, membaca, menulis, dan bahasa Myanmar," kata pria lulusan zoology itu, Kamis (2/11/2017).

Sekolah macam ini juga ditujukan untuk menghilangkan trauma anak-anak yang pernah bersemuka tragedi: menyaksikan rumah terbakar, penyiksaan terhadap keluarga atau tetangga, dan menjadi pelarian.

Kegiatan sekolah biasanya dilakukan dalam tiga waktu, yaitu: pukul 9 pagi hingga 12 siang; disambung kegiatan madrasah hingga pukul 2 siang; dan pada sore hari kegiatan bermain. Beberapa sekolah darurat juga melaksanakan kegiatan pada malam hari.

Satu problem tersisa, beberapa kawasan pengungsi belum memiliki sekolah dan madrasah seperti ini. Misal, di kamp tambahan yang terletak di zona Kutapalong-Balukhali--per 10 November 2017, merujuk laporan Inter Sector Coordination Group (ISCG), forum komunikasi organisasi nonpemerintah di Bangladesh.

Anak-anak Rohingya ambil bagian dalam sesi menggambar di sebuah sekolah di dekat kamp Thangkhali, di Cox's Bazar, Bangladesh, Kamis (12/10/2017).
Anak-anak Rohingya ambil bagian dalam sesi menggambar di sebuah sekolah di dekat kamp Thangkhali, di Cox's Bazar, Bangladesh, Kamis (12/10/2017).
© Abir Abdullah /EPA-EFE

***

Muhammad Junaid berlari kencang dengan layangannya menuju ke sebuah puncak bukit.

Di sana, dia bersama kawan-kawannya menangkap angin agar layang-layang mereka bisa menjangkau langit. Dari puncak bukit, terlihat tenda-tenda pengungsian dan antrean manusia berebut bantuan di beberapa posko.

Mencari keriangan, Muhammad Junaid beradu layangan dengan seorang kawannya. Mereka tampak serius, hingga pada satu momen benang layangan Muhammad Junaid putus.

Layangannya menukik ke darat. Beberapa anak berlari meninggalkan bukit menuju arah jatuhnya layangan.

Sedangkan Muhammad Junaid hanya tersenyum, memandang layangannya jatuh.

Catatan redaksi: Penulis, Dhihram Tenrisau, merupakan anggota tim medis Dompet Dhuafa dan Indonesian Humanitarian Alliance di Jamtoli, Ukhiya, Cox's Bazar, Bangladesh. Baca juga laporan lain dari Cox's Bazar, Bangladesh:
  • Stori pelarian pengungsi Rohingya
  • Dokter Indonesia di kamp pengungsi Rohingya
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.