Penampilan penyanyi Didi Kempot disela-sela Pagelaran Wayang Kulit di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (2/8/2019). Pagelaran wayang kulit dalam rangkaian ulang tahun Kemerdekaan Indonesia ke-74 dengan lakon Kresna Jumeneng Ratu.
Penampilan penyanyi Didi Kempot disela-sela Pagelaran Wayang Kulit di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (2/8/2019). Pagelaran wayang kulit dalam rangkaian ulang tahun Kemerdekaan Indonesia ke-74 dengan lakon Kresna Jumeneng Ratu. Puspa Perwitasari/Antara Foto
MUSIK INDONESIA

Nelangsa jiwa dalam tembang Jawa ala Didi Kempot

Mayoritas lagu Didi Kempot bernuansa patah hati seperti ditinggal pergi, rindu atau cinta tak sampai, mengingat kenangan mesra, hingga perselingkuhan.

Fotografer Beritagar.id, Wisnu Agung Prasetyo, buru-buru membuka pintu hotel Luminor di kawasan Pecenongan, Jakarta Pusat, pada Sabtu lalu (3/8/2019). Sekejap, ia melongok dan mencari sosok the Godfather of Brokenheart, Didi Kempot.

Wisnu bertugas memotret Lord Didi--sapaan akrab sang maestro--kala itu, sekaligus bertemu idola masa kecilnya sejak 24 tahun yang lalu. Mukanya tegang dan sumringah. Hatinya membuncah.

Sosok Lord Didi tak sulit ditemukan: rambutnya panjang keriting terikat. Kalung melingkar di lehernya dan cincin menghiasi jari manis di tangan kanannya.

“Mas, saya fan Mas Didi Kempot,” sapa Wisnu sembari mengulurkan tangan kepada junjungannya yang disambut dengan tawa renyah oleh Lord Didi.

Kesan pertama buat Wisnu: “Dari depan, kelihatan sudah mulai tua.” Wajar. Wisnu mengenal wajah Didi Kempot dari album lagu CD puluhan tahun lalu. Belakangan, Wisnu hanya menikmati potret idolanya dari video di YouTube.

Lagu Didi Kempot mewarnai hari-harinya sejak masih berseragam merah putih. Kini, tembang Jawa sang idola menghiasi aplikasi pemutar musik Spotify di ponselnya. Tak ayal, Wisnu hafal paling tidak 30 tembang yang didendangkan anak budayawan Ranto Edi Gudel itu.

“Lagu yang paling mengena itu ‘Tanjung Mas Ninggal Janji’. Itu bagus. Waktu itu saya sedang fase mellow, saya pernah ditinggal perempuan,” ungkap Wisnu diiringi tawa.

Ra kroso setaun kowe ninggal aku (Tidak terasa setahun kamu meninggalkanku)
Ning Pelabuhan Tanjung Mas kene (Di Pelabuhan Tanjung Mas ini)
Biyen aku ngeterke kowe (Dulu aku mengantarkanku)
Ning Pelabuhan Semarang kene (Di Pelabuhan Semarang ini)Aku tansah ngenteni kowe (Aku menunggumu)

Begitulah cuplikan tembang tersebut. Wisnu bukan satu-satunya Sobat Ambyar, kelompok fans Lord Didi, yang terpikat dengan makna lirik lagunya Didi. Langgam Jawa yang sarat nestapa dan nelangsa terasa dekat dengan para kaum Sad Bois dan Sad Girls.

Tim jurnalis data Beritagar.id menyelami kisah percintaan pada 133 lirik lagu Didi Kempot dari mulai "Cidro" yang dibuat sejak 1986 hingga "Pamer Bojo" yang dirilis pada 2019. Beragam kisah bermunculan: patah hati, kasmaran, sampai yang membangkitkan semangat untuk para anak sekolah, TNI dan prajurit, serta topik lainnya.

Pedihnya ingkar janji

Terkadang, kita lupa kalau jatuh cinta itu terdiri dari dua kata: jatuh dan cinta. Yang sedang mabuk asmara, ya mesti harus bersiap untuk patah hati. Apalagi, kalau perasaan sudah terlalu dalam dan jauh. Sembuhnya bisa lama dan tangis pun berlarat-larat.

Bermusik atau sekadar mendengarkan lagu bisa jadi alternatif terapi yang mujarab buat sebagian orang. Bagi Didi Kempot, lagu jadi medium menyalurkan ekspresi dan perasaannya.

Tapi, tak semua kisah cinta yang ada di lagu Didi Kempot ini berdasarkan kisah nyatanya. Toh, hanya satu kali sang maestro benar-benar ditolak. Itu pun bukan oleh sang pacar tetapi keluarganya. Makanya, lahirlah lagu "Cidro" yang berarti cedera.

"Saya cuma sekali ditolak yang mengenaskan, sekitar 1986. Itu yang menginspirasi lagu ‘Cidro’," ungkap Didi Kempot saat ditemui wartawan Beritagar.id, Andya Dhyaksa, di Hotel Sahid Jaya, Solo, Jawa Tengah, Selasa (30/7/2019).

Dari 113 lagu Didi Kempot, 77 di antaranya bercerita soal patah hati. Ingkar janji ditinggal pergi atau dibohongi menjadi topik yang paling sering jadi inspirasi sang maestro, sejumlah 44 lagu.

Lagu bertema ingkar janji sarat akan kata seperti “lara ati”, “ninggal”, “lungo”, dan tentu, “ingkar janji.” Penggalan cuplikan lagu “Cidro” berikut menggambarkan bagaimana rasanya ditinggal pergi sang kekasih.

Gek opo salah awakku iki (Lantas apa salahku ini)
Kowe nganti tego mblenjani janji (Kamu tega mengingkari janji)
...
Aku nelongso mergo kebacut tresno (Aku nelangsa karena terlanjur cinta)
Ora ngiro saikine cidro (Tak menduga sekarang cedera)

Tembang “Lintang Ponorogo” juga menggambarkan perginya sang kekasih tanpa kabar.

Janjine lungane ra nganti suwe-suwe (Janjinya pergi tidak lama)
Pamit pirsa ora nganti sore (Pamit menonton tidak sampai sore)
Janjine lungane ra nganti suwe-suwe (Janjinya pergi tidak lama)
Nganti kapan tak enteni sak tekane (Sampai kapan kutunggu datangmu)

Dalam hits mutakhir yang tak kalah tenar, “Pamer Bojo” lagi-lagi menggambarkan pedihnya dibohongi.

Cidro janji tegane kowe ngapusi (Mengingkari janji, teganya kamu berbohong)
Nganti seprene suwene aku ngenteni (Sampai sekarang lamanya aku menunggu)
Nangis batinku nggrantes uripku (Menangis batinku, merana hidupku)

Selain ditinggal pergi atau dibohongi, ada pula lagu bernuansa rindu atau kasih yang tak sampai (14 lagu), atau sekadar mengingat kenangan mesra saat di mabuk asmara (12 lagu). Kata “kangen”, “tresno”, “kelingan”, “pengen” juga menghiasi tembang-tembang tersebut.

Inspirasi Didi Kempot juga bernuansa perselingkuhan (7 lagu). “Tresno” muncul dalam langgam perselingkuhan sebagai wujud bagaimana rasa cintanya dikhianati.

Tumbuh dan besar di bawah keluarga yang tak utuh membuat Didi Kempot lebih peka dan sensitif. Kedua orang tua Didi Kempot berpisah sejak usianya 1,5 tahun.

“Saya dididik ibu dengan tangisan. Itulah inspirasi menulis lagu-lagu sedih dari situ. Tapi untuk bagaimana hidup kokoh atau tangguh, bapak yang mengajarkan. Jangan pernah menyerah,” ujar Didi.

Didi Kempot tengah berpose untuk Beritagar.id di hotel Luminor di bilangan Jakarta Pusat, Sabtu (3/8/2019) siang WIB.
Didi Kempot tengah berpose untuk Beritagar.id di hotel Luminor di bilangan Jakarta Pusat, Sabtu (3/8/2019) siang WIB. | Wisnu Prasetyo Agung /Beritagar.id

Sudut kota dan terminal

Didi tinggal bersama sang ibu di Ngawi, Jawa Timur sementara ayahnya tinggal bersama dua kakaknya di Solo, Jawa Tengah.

Ingin mengabadikan dua kota tersebut dalam lirik lagu, ia menciptakan tembang “Dalan Anyar” yang berlatar Terminal Kertonegoro, Ngawi untuk sang ibunda dan “Stasiun Balapan” di Solo untuk sang bapak. Nuansa kesedihan perselingkuhan dan perpisahan jadi inspirasi lagu tersebut.

“Saya melihat pengalaman orang-orang di sekitar. Misalnya lagu 'Stasiun Balapan'. Sewaktu saya tinggal di jalan sering melihat orang mengantar kekasihnya di sana,” ungkap Didi.

Dari 77 lagu patah hati, cerita di sudut-sudut kota muncul paling sering (5 lagu) kemudian di kawasan sekitar gunung atau pegunungan (4 lagu), dan terminal (3 lagu).

Lagu “Pom Bensin” bercerita seluk beluk sudut kota Solo dan sekitarnya.

Saking Solo Tugu Lilin menggok ngiwo (Dari Solo, Tugu Lilin belok ke kiri)
Neng Juwiring mbiyen kowe karo sopo (Di Juwiring, dulu kamu sama siapa)
Pom bensin Daleman sing dadi kenangan (Pom bensin Daleman yang jadi kenangan)
Naliko wong loro ngiyup kodanan (Ketika berdua berteduh dari hujan)

Ada pula pelabuhan, pasar, pantai, dan jembatan yang masing-masing sebanyak dua lagu. Sungai dan stasiun juga jadi pelengkap kesedihan di segala penjuru.

Dua pelabuhan yang menjadi inspirasinya: Tanjung Mas, Semarang dan Tanjung Perak, Surabaya. Tapi, tajuk dendang ini berbeda. Tanjung Mas lebih bernuansa kesedihan patah hati ditinggal pergi, sementara Tanjung Perak menggambarkan keriaan, bermain bersama kawan.

Setiap lokasi punya makna sendiri. Tapi, tak melulu kisah di dalamnya adalah nyata adanya. Seperti lagu “Parangtritis”, kata Didi: “Itu khayalan-khayalan saja. Dan kebetulan di sana tempat ngumpul seniman-seniman juga. Termasuk Banyu Langit, di Wonosari, Yogyakarta.”

Didi Kempot berhasil mengukir apa yang dia lihat dan rasakan--tentu seperti kebanyakan orang--lewat tembang Jawa. Tangisan, nelangsa, nestapa berhasil diraciknya jadi dendang enak didengar.

Bagaimana dengan kamu, Sad Bois dan Sad Girls? Apakah mau terus berlarut jadi kaum yang nelangsa?

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR