Sri Muhayati, anak pertama Muhadi, memperlihatkan foto kenangan bergambar kedua orang tuanya, Sabtu (23/9/2017).
Sri Muhayati, anak pertama Muhadi, memperlihatkan foto kenangan bergambar kedua orang tuanya, Sabtu (23/9/2017). Anang Zakaria / Beritagar.id

Nestapa di balik gedung tua

Sebuah gedung tiga lantai di pusat kota Yogyakarta jadi saksi penyiksaan kaum komunis. Merekam ketegangan kepentingan negara dan kuasa modal.

Pikiran Hartiti (80) membuncah tiap kali melintasi pasar Kranggan Yogyakarta. Kenangannya segera tertuju pada Hartanto Simin, suaminya, yang tak pulang sejak 52 tahun silam.

Pertemuan terakhir mereka berlangsung di awal November 1965 di gedung berlantai tiga di seberang pasar. Warga sekitar Kranggan, juga orang Yogya, mengenalnya sebagai gedung Jefferson. "Seorang pemuda datang ke rumah ngasih tahu suami saya diperiksa di sana," katanya, Selasa (3/10/2016).

Sebulan paska meletus Gerakan Satu Oktober (Gestok) di Jakarta, tentara memburu anggota dan simpatisan komunis di penjuru Jawa. Mereka yang tertangkap dipenjara di berbagai lokasi. Di Yogyakarta, tempat penahanan itu ada di kantor Corps Polisi Militer (dulu di Gondolayu), kantor polisi di Ngupasan (kini Markas Polresta Yogyakarta), Benteng Vredeburg dan Lapas Wirogunan.

Simin ditangkap 26 Oktober 1965 ketika usianya 33 tahun. Ia seorang masinis yang bertugas di Dipo Traksi Yogyakarta dan menjabat ketua Serikat Buruh Kereta Api, organisasi yang dekat dengan PKI. Bersama tiga rekan kerjanya, dua masinis dan seorang teknisi listrik, ia digelandang ke kantor CPM sebelum dijebloskan ke Wirogunan.

Sebulan setelah suaminya ditangkap tentara, Hartiti diciduk polisi. Waktu itu, usianya 28 tahun dan menjabat Wakil Ketua Gerakan Wanita Indonesia Ranting Pringgokusuman. Tahun 1970, ia baru dibebaskan dari penjara Bulu, Semarang.

Berbekal informasi dari pemuda yang sama sekali tak dikenalnya, Hartiti datang ke Jefferson. Ia beruntung hari itu. Penjaga gedung, seorang tentara tua, memperbolehkannya menemui Simin.

Ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Pakaian dan sedikit makanan diberikan pada Simin sebagai bekal di dalam penjara. Simin membalasnya dengan sebuah pesan agar Hartiti menjaga keempat anak mereka.

"Aku sudah berikan padamu mesin jahit, carilah makan dengan itu," katanya mengenang.

Hartiti tak menyangka itulah pertemuan terakhirnya dengan Simin.

Esok hari, ia datang ke pasar dan memelototi tiap truk yang datang ke Jefferson berharap suaminya muncul. Berhari-hari ia menanti, Simin tak kembali. "Saya sampai jadi kere pasar Kranggan," katanya.

Hingga suatu hari, ia bertemu Subarjo, rekan Simin sesama masinis yang juga ditangkap tentara, di gedung itu. Subarjo, lanjut dia, mengabarkan Simin tak lagi bisa ditemui karena diterungku di sel khusus di Wirogunan. "Dia bilang Simin baik-baik saja, saya tak perlu khawatir," katanya.

Toh, nalurinya berkata lain. Tapi lidahnya keluh tak kuasa bertanya panjang lebar. Ia hanya mampu menitipkan ketela dan gula Jawa pada Subarjo dan berharap Simin menerimanya.

Di waktu yang sama, ia mendengar jerit orang kesakitan dari dalam Jefferson. "Perasaan saya tambah tak karuan," katanya.

Gedung Jefferson terletak di Jalan P. Diponegoro Yogyakarta. Ketika prahara politik meletus 1965, gedung yang semula berfungsi sebagai perpustakaan itu beralih fungsi menjadi tempat interogasi dan penyiksaan kaum komunis.
Gedung Jefferson terletak di Jalan P. Diponegoro Yogyakarta. Ketika prahara politik meletus 1965, gedung yang semula berfungsi sebagai perpustakaan itu beralih fungsi menjadi tempat interogasi dan penyiksaan kaum komunis. | Anang Zakaria /Beritagar.id

***

Gedung kusam itu hanya berjarak 140 meter dari Tugu Yogyakarta. Cat putih yang mewarnai jendela dan sebagian dindingnya terkikis di sana-sini. Pagar besi di balkon beranjak usang.

Selasa 3 Oktober 2017 siang, sebuah gerobak angkringan terparkir di halamannya. "Kalau mau tahu dalamnya gedung lihat saja dari teras," kata Wasinem (61), pedagang kaki lima di depan gedung Jefferson.

Meski berumah di Gondolayu, perempuan itu lebih banyak menghabiskan waktu di Jefferson. Sehari-hari ia berdagang nasi, mi instan, dan kopi di trotoar. Jika malam tiba, ia tidur di teras gedung. Sesekali, ia menyapu halaman Jefferson agar tak kumuh.

Jefferson kini kosong tak berpenghuni. Pintu gedung terkunci. Sebelum mangkrak, gedung itu berkali-kali beralih fungsi. Pernah jadi kantor tentara, entah dari kesatuan apa, lalu berubah jadi markas Polisi Jalan Raya.

Terakhir kepemilikan gedung jatuh ke Soemadi Wonohito. Di tangan bos surat kabar Kedaulatan Rakyat itu, gedung itu pernah jadi markas distribusi koran, kantor produksi busana dan sarang walet. "Sama Wonohito saya dikasi Rp400 per bulan untuk ongkos jaga," katanya.

Sejak pertama kali berjaga di gedung itu, banyak orang menyebut di sinilah dulu orang-orang komunis menjalani penyiksaan. Beragam kisah seram tentang gedung itu beredar.

Wasinem bahkan kerap merasakan sendiri pengalaman menakutkan di sana. Baginya, itu biasa. "Yang menakutkan itu nyamuknya, kalau malam banyak sekali," katanya.

Sri Muhayati (76), mantan aktivis Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), pernah berkali-kali dibon ke Jefferson.

Polisi meringkus Muhayati pada 19 November 1965 dari rumahnya. Dua hari sebelumnya, 17 November 1965, ayahnya, Muhadi, seorang anggota PKI ditangkap tentara.

Muhayati sempat berpindah-pindah penjara. Pernah di Ngupasan, Gondolayu, dan terakhir hingga bebas ia dipenjara di Ambarawa dan Bulu Semarang.

Ia mengatakan sebelum meletus prahara politik 65, gedung itu adalah perpustakaan sumbangan United States Information Services (USIS). Nama Jefferson, yang kini melekat di gedung itu, berasal dari nama Presiden Amerika ke-3 Thomas Jefferson.

Hartiti mengatakan pada 1964, saat ia pertama kali tinggal di Yogyakarta, gedung Jefferson sudah ada. Ketika sentimen anti-neokolinialisme bergelora di Indonesia, orang-orang kiri merebut dan menguasai gedung itu. "Terus (1965) diambil alih tentara," katanya.

Sejak itulah gedung ini menjadi pusat interogasi dan penyiksaan. Muhayati mengatakan pernah melihat seorang tahanan berusia tua dikerjai habis-habisan petugas pemeriksa. Tahanan itu disuruh menaiki gagang sapu dan berkeliling seperti penari kuda lumping. Berikutnya, petugas memukuli punggungnya dengan balok kayu.

Hukuman itu berlaku untuk tahanan lelaki maupun perempuan.

Meski berkali-kali dibon ke Jefferson, Muhayati dan Hartiti mengaku tak pernah mengalami penyiksaan. Muhayati bahkan mendapat perlakuan istimewa dari penjaga, dibelikan sebungkus nasi gudeg.

"Sampai sekarang saya menyesal kenapa tak minta dipertemukan dengan bapak," kata Muhayati.

Belakangan, Muhayati mendapat kabar bapaknya dieksekusi di Wonosobo sepekan setelah lebaran tahun 1966.

Tak semua penjaga kejam pada tahanan. Deborah Oni Ponirah (69) mengatakan pernah diselamatkan penjaga dari amukan interogatornya. "Dia mau menelanjangi saya," katanya, Sabtu (23/9/2017).

Oni berontak dan berteriak. Seorang penjaga "baik hati" mendadak masuk ke ruangan pemeriksaan dan mendekapnya. "Jangan, ini anak-anak," katanya menirukan perintah petugas tua itu.

Oni ditangkap pada 25 November 1965 gara-gara aktif berkesenian di kampung. Usianya 17 tahun dan tak tahu-menahu tentang PKI dan komunisme. Tapi nyatanya, ia tetap menjalani pemenjaraan selama 14 tahun.

Keluar dari penjara pada 1979, Oni berusaha mencari tahu nama dan keberadaan petugas itu. Ia ingin mengucapkan terimakasih. "Tapi tak pernah ketemu," katanya.

***

Sejarawan asal Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Baskara T. Wardaya menempatkan Gestok dalam kerangka ketegangan perang dingin. Paska perang dunia II, Amerika (kapitalisme) dan Uni Soviet (sosialisme) berlomba meluaskan pengaruhnya di negara baru merdeka, termasuk Indonesia.

Untuk mendukung perluasan pengaruh, kata dia, Amerika membangun pusat-pusat informasi (USIS) di sejumlah kota di Indonesia. Di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Tujuannya menyebarkan informasi positif tentang Amerika. "Termasuk di Yogya ada perpustakaan itu," katanya ditemui di kantornya, Pusat Studi Demokrasi dan Masyarakat, Selasa (3/10/2017).

Pada era 1960an ketika gelombang anti-neoimperalisme membesar di Indonesia, gedung-gedung Amerika direbut kelompok kiri dan pendukung Soekarno. Termasuk gedung Jefferson yang dianggap representasi Amerika.

Presiden Amerika John F. Kennedy (menjabat 1961-1963) dikenal sangat anti-komunis tapi pro Soekarno. Bagi Kennedy, menurut Baskara, komunisme tak akan tumbuh subur di Indonesia jika rakyatnya sejahtera. "Dia ingin menghabisi komunisme dengan cara meningkatkan taraf hidup orang Indonesia," katanya.

Tahun 1963 Kennedy terbunuh. Kebijakan Lyndon B. Johnson, penggantinya, terfokus pada Great Society. Program peningkatan pendidikan dan relasi rasial antara kulit hitam dan putih itu lebih banyak tertuju pada dalam negeri. Perhatian luar negeri, termasuk ke Indonesia, pun lepas.

Di waktu yang yang sama, ada seorang bekas Direktur CIA, Allen Dulles yang memiliki hubungan erat dengan pengusaha raksasa Rockerfeller. Sejak lama, Rockerfeller mengincar kandungan emas Papua dan selalu terhambat oleh kebijakan Soekarno. Maka dalam strategi Dulles, Soekarno harus disingkirkan dan kelompok kiri pendukungnya wajib dihabisi.

Di Yogyakarta, ia mengatakan, gedung Jefferson adalah simbol ketegangan itu. Bangunan itu merekam jejak persilangan ide dan kepentingan yang berujung pada tragedi kemanusiaan di Indonesia.

Keluarga Muhadi. Tentara menangkap Muhadi pada 17 November 1965. Dua hari kemudian, istri dan anak pertamanya diringkus polisi. Empat dari tujuh anaknya dikeluarkan dari sekolah.
Keluarga Muhadi. Tentara menangkap Muhadi pada 17 November 1965. Dua hari kemudian, istri dan anak pertamanya diringkus polisi. Empat dari tujuh anaknya dikeluarkan dari sekolah. | Anang Zakaria /Beritagar.id

Dendam tidak, lupa jangan

26 Februari 1966, lebaran lewat dua hari di Yogyakarta. Sebuah truk memasuki pelataran Benteng Vredeburg. Seorang tentara turun dengan secarik kertas berisi daftar nama tahanan di tangan. Sri Muhayati, seorang aktivis CGMI berusia 21 tahun yang terpenjara di sana penasaran.

Seorang penjaga mengizinkannya melihat nama-nama tahanan yang tercatat di kertas itu. Dari Dari 22 nama, ada satu nama yang membuatnya terbelalak. "Ada nama bapak saya," kata perempuan yang kini berusia 76 tahun itu mengenang, Jumat (22/9/2017).

Bapaknya, Muhadi, adalah anggota PKI yang dibekuk tentara pada 17 November 1965. Dua hari berikutnya, 19 November 1965, giliran Muhayati dan ibunya, Musriah, ditangkap polisi.

Truk itu, kata dia, semula berangkat membawa 22 tahanan komunis dari Wonosobo ke Yogyakarta. 20 lelaki dan 2 perempuan. "Yang laki-laki dicemplungkan ke Luweng Grubuk (Gunungkidul), yang perempuan dimasukkan penjara Wirogunan," katanya.

Dalam perjalanan pulang, truk mampir ke penjara Wirogunan lalu singgah di Benteng Vredeburg. Tujuannya, mencari 22 tahanan asal Yogya yang akan dibawa Wonosobo.

Muhayati ingat, tahanan asal Wirogunan dibariskan di halaman benteng sembari menanti penjaga mencari tahanan asal Vredeburg yang akan dibawa ke Wonosobo. Suasana mencekam. Para tahanan ketakutan. Mereka tahu, dalam situasi seperti itu nama tahanan yang dipanggil pasti mengalami nasib buruk.

Ia ingat, ada seorang tahanan perempuan yang namanya terpanggil mengalami stres berat. Namanya Tubirah, seorang tokoh Gerwani. Saking takutnya, Tubirah sampai terkencing-kencing. Bolak-balik ia ke kamar mandi. "Tapi justru karena itu akhirnya ia selamat," kata Muhayati, mengisahkan.

Petugasnya jengkel. Tubirah ditinggal.

Kenangan lain dari Muhayati adalah pertemuan dengan bapaknya. Inilah pertemuan pertama setelah 4 bulan terpisah. Muhadi tampak kurus. Sebelum masuk penjara, bobot veteran perang dengan pangkat terakhir kapten itu mencapai 74 kilogram. Tapi hari itu, anjlok jadi 57 kilogram. Muhayati melihat celana bapaknya diikat taplak meja agar tak melorot.

Tak banyak kata terucap dari mulut Muhadi. "Bapak cuma pesan, jaga ibumu," katanya.

Itulah pertemuan terakhir Muhayati dengan bapaknya. Kelak, 34 tahun setelah hari itu, ia mendapati tulang belulang Muhadi dalam kuburan massal sedalam satu meter di hutan kecil di Wonosobo.

***

Hutan Situkup Desa Dempes Kecamatan Kaliwiro, Wonosobo November 2000. Teka-teki kuburan massal itu terungkap setelah Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 membongkar sebidang tanah di bawah dua pohon kelapa. Tulang belulang dan tengkorak manusia ditemukan tumpang tindih terkubur.

Dari sekian banyak tulang, ada sebuah tulang lengan dan kaki yang membuat perasaan Muhayati berkecemuk dahsyat. Antara senang dan sedih bercampur tak karuan. "Bapak saya pernah jatuh lengannya patah. Pernah juga main bola kakinya patah," katanya.

Kisah pembongkaran makam itu bermula dari catatan bekas aktivis Gerwani Wonosobo Wardiyati alias Bu Kabul. Dalam masa pemenjaraannya, ia sempat dipekerjakan sebagai tukang bersih-bersih kantor tentara. Pada suatu hari, ia menemukan catatan 21 nama tahanan PKI asal Yogyakarta yang dihabisi pada 3 Maret 1966 di sebuah hutan kecil.

"Rekonsiliasi Kultural Tragedi 1965", sebuah buku yang diterbitkan Masyarakat Santri untuk Advokasi Rakyat (Syarikat) pada 2016, mencatat kerangka manusia itu ditemukan dalam posisi telungkup. Selain menemukan tulang belulang, tim juga menemukan proyektil peluru, cincin kawin, sisir, kain dan lencana pegawai negeri.

Menurut Muhayati, dari penggalian itu juga ditemukan sebuah kancing celana jins. "Itu punya pak Ibnu Santoro," kata dia. Ibnu adalah dosen UGM Yogyakarta. Ia baru seminggu pulang dari Amerika sebelum akhirnya tertangkap dan dipenjara. "Kalau bukan dari Amerika, tak mungkin ada kancing jins itu."

Dari sekian kerangka yang ditemukan, ada satu tulang belulang perempuan. Tak salah lagi, itu milik Sri Muwarni, aktivis Gerwani Yogyakarta, yang namanya juga disebut dalam catatan Wardiyati.

Muwarni pernah menjabat anggota DPRD Gotong Royong DIY. Pada 26 Oktober 1965, namanya tercatat dalam 14 anggota DPRD-GR DIY asal Fraksi-PKI yang dipecat pimpinan dewan. Dalam dokumen yang didapat Beritagar.id, selain Muwarni juga ada Marlan dan Sudibyo. Dalam catatan Wardiyati, Marlan dan Sudibyo termasuk dalam 21 orang PKI yang dieksekusi di hutan Situkup.

Muhayati bisa sedikit lega. Ia bisa menemukan kembali bapaknya meski hanya tulangnya saja. Tapi tidak bagi Hartiti. Kubur Simin tak pernah terungkap keberadaannya. Keluar penjara tahun 1970, ia pulang ke Purworejo untuk menjemput keempat anaknya yang diasuh mertua.

Usia Hartiti kini 80 tahun. Mengalami pemenjaraan hingga tahun 1970. Tak pernah berhenti mengharap menemukan kubur suaminya, Simin.
Usia Hartiti kini 80 tahun. Mengalami pemenjaraan hingga tahun 1970. Tak pernah berhenti mengharap menemukan kubur suaminya, Simin. | Anang Zakaria /Beritagar.id

Saat itu, ia berkisah, ibu mertuanya (ibu kandung Simin) mengabarkan pernah mendapat kiriman sepucuk surat dari anaknya. Isinya singkat, "Ibu saya nitip anak-anak karena saya sudah mau sowan pangayunaning pangeran".

Surat itu dikirim Simin melalui Karsiman, pamannya, atau sepupu ibunya. Pada masa hidupnya, Karsiman adalah tentara yang berdinas di Wonosobo.

Di hutan Situkup, sebenarnya ada dua kuburan massal. Pembongkaran tahun 2000, hanya mampu mengungkap identitas jasad di satu kuburan. "Yang satu lubang kan belum diperiksa," kata Hartiti.

Ia mengatakan peristiwa kelam masa lalu itu tak membuatnya mendedam pada siapa pun. Tapi ada satu orang yang dibencinya, Presiden RI kedua Soeharto. "Karena itu biangnya, kalau yang lain kan diperintah," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR