Nezar Patria, 47 tahun, Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, saat berpose untuk Beritagar.id di kantornya pada Rabu (9/5/2018). Pada dasawarsa 1990-an, Nezar aktif bergerak sebagai aktivis penentang rezim kediktatoran Soeharto.
Nezar Patria, 47 tahun, Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, saat berpose untuk Beritagar.id di kantornya pada Rabu (9/5/2018). Pada dasawarsa 1990-an, Nezar aktif bergerak sebagai aktivis penentang rezim kediktatoran Soeharto. Bismo Agung / Beritagar.id
20 TAHUN REFORMASI

Nezar Patria dan reformasi rasa kecewa

Nezar patria pernah bergabung dengan organisasi ekstrakampus yang dimusuhi Orde Baru. Usai Reformasi, dia memilih menjadi wartawan.

Nezar Patria tak mengira bakal diculik aparat rezim diktatorial. Saat hari sial 20 tahun silam itu menyergah, usianya belum lagi 28. Rasa sedih dan terpukul datang menusuk. Maut berkelebat di benak.

"Waktu diambil, enggak ada yang tahu. Batin juga waktu itu merasa bahwa apa yang ditakutkan terjadi. Seperti melihat mendung dan menduga apakah hujan atau tidak, dan kamu merasakan ini hujan betul datang. It happens," ujarnya, Rabu (9/5/2018), tentang malam 13 Maret 1998.

Ingatan mengenai gambar-gambar terperinci penyiksaan terhadap "anak-anak Korea Selatan, anak-anak di Palestina, anak-anak di Filipina yang melawan Marcos" yang pernah dibacanya sontak berebut ke permukaan. Semua gambar melulu memproyeksi kesakitan.

"Kalaupun disikat, dieksekusi, yang enggak sakit gimana caranya. Yang cepat aja. Mungkin ditembak. Tapi, katanya (kalau ditembak) 10 detik masih terasa (sakit). Kalau disayat-sayat, itu sakit banget. Lamunannya kadang-kadang begitu," katanya.

Dia dan tiga rekannya--Mugiyanto, Petrus Bima Anugrah, Aan Rusdianto--baru tinggal 10 hari di lokasi penculikan, yakni lantai dua Rumah Susun Klender, Jakarta Timur. Mereka semua anggota Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) yang usai Peristiwa 27 Juli 1996 diburu aparat.

Kisah tentang momen penculikan tersebut kekal dalam kesaksian tertulis. Nezar mengetik kesaksian itu dengan komputer jinjing yang dipinjamkan aktivis KontraS, mendiang Munir Said Thalib, setelah dilepas dari bui .

Pada 7 Juni 1998, dia menyiarkan testimoni itu kepada khalayak dalam acara jumpa pers di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Testimoni berisi kronologi penculikan dan detail penyiksaan. Proses ambil-paksa yang tak bertele-tele tereka gamblang. Begitu pun raga para penculik: empat pelaku merangsek ke kamar; empat orang tak dikenal yang memakai penutup kepala; empat oknum yang lantas menggeretnya--juga Aan--ke arah jip ber-AC.

Empat yang lantas diketahui merupakan bagian dari Tim Mawar, Komando Pasukan Khusus.

Borgol meringkus tangan mereka. Kain hitam, mata mereka. "Musik diputar cukup keras" hingga menafikan telinga dua sejawat itu untuk membikin sketsa mental lalu-lintas di jalan.

"Ada kepasrahan yang luar biasa," kata pria kelahiran Sigli, Aceh, pada 1970 itu mengenangkan. "Betul-betul enggak berdaya. Sambil membayangkan semoga ada keajaiban, mukjizat-mukjizat. Semoga Soeharto besok mati. Semoga Soeharto besok tumbang dan semua ini berhenti".

Faktanya, Soeharto baru saja ditetapkan sebagai presiden dalam Sidang Umum Majelis Permusyarawatan Rakyat (SU MPR) pada 10 Maret 1998. Itu kali ketujuh dia memimpin Indonesia. Jika tak mundur pada 21 Mei 1998, Soeharto kelak memerintah hingga 2003.

Nezar Patria karenanya hanya bisa "berdoa dan berzikir". Selama dua hari mendekam dalam bilik penganiayaan, tubuhnya niscaya berkali-kali memproduksi dan menyimpan rasa sakit.

Dan mungkin, residu nyeri pada tubuh itu tinggal hingga bertahun-tahun berikut. Keadaan yang sungguh lumrah, mengingat model penganiayaan yang diterima. Berikut secuil etape penyiksaan itu, seperti terimbuh dalam testimoni:

"Sebuah benda terasa menempel di betis dan paha saya, dan sebuah aliran listrik yang cukup kuat menyentak seluruh sendi tubuh saya. Saya berteriak "Allahu akbar!" sambil menahan rasa sakit yang luar biasa. Aliran listrik itu menyerang bertubi-tubi, sehingga tubuh dan kursi yang saya duduki bergeletar. Saya merasa sebuah tendangan keras menghantam dada saya hingga saya terjengkang ke belakang dan kursi lipat tempat saya duduk jadi ringsek."

Pada Ahad (15/3/1998), rangkaian penyiksaan "di tempat X", lokasi yang dia istilahkan sebagai "kuil penyiksaan Orde Baru", bangunan yang lantas diketahui terletak di Cijantung, dihentikan.

Dia cuma alpa nasib rekan-rekannya seperti Mugiyanto, Aan, dan juga Herman Hendrawan yang juga diculik dan dibawa ke lokasi penyekapan.

Bahkan, nama disebut terakhir hingga kini masih hilang. Bagi Nezar, Herman--pun Petrus Bima Anugrah--merupakan dua orang yang paling akrab dengannya di antara korban penculikan lain yang tak kunjung kembali. Keduanya dari Universitas Airlangga, Surabaya.

Dari Cijantung, Nezar Patria menempuh episode baru. Dia dijebloskan ke sel isolasi di markas Kepolisian Daerah Metro Jaya. Pihak berwenang mengenainya dugaan tindak pidana subversi. Di sana, tubuhnya tak lagi menerima aniaya.

"Sel di basement. Blok buat penjahat-penjahat kelas berat kayak pembunuh, perampok. Tapi, di sel sebesar itu, kami ditempatkan sendirian," ujar pemimpin redaksi The Jakarta Post sekaligus anggota Dewan Pers itu.

Kamar prodeonya diimpit sel-sel bromocorah. Tapi, di situ tahanan politik dianggap berkasta tinggi. Perasaan segan pelan-pelan terbit dalam diri tahanan lain.

Rasa hormat baginya mewujud dalam bentuk sapaan rutin, walau cuma kata "permisi". Bahkan, orang di sebelah sel Nezar, yang dikurung setelah "menusuk seorang anggota TNI hingga meninggal", pernah mengangsurkan kepadanya makanan tentengan dari pembesuk.

Pada dasawarsa 1990-an, Nezar Patria, 47 tahun, aktif bergerak di pelbagai organisasi mahasiswa. Saat aparat rezim Suharto menculiknya pada Maret 1998, dia menjabat Sekretaris Jenderal Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID).
Pada dasawarsa 1990-an, Nezar Patria, 47 tahun, aktif bergerak di pelbagai organisasi mahasiswa. Saat aparat rezim Suharto menculiknya pada Maret 1998, dia menjabat Sekretaris Jenderal Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). | Bismo Agung /Beritagar.id

"Saya buka nasi bungkus hangat itu. Isinya semur jengkol. Di daerah saya, enggak biasa itu, jengkol atau pete. Tapi, setelah saya cicipi, rasanya kayak kentang. Itu makanan terenak yang pernah saya makan di sel itu. Ha-ha-ha," katanya.

Dia bilang dunia di penjara terbalik-balik, "yang kita kira jahat, kok jadi baik. Yang kita kira baik, kok jahat". Persis puisinya yang berjudul "Di Video Game", ditulis pada 2013: Hidup hanya sehimpun piksel/baik dan jahat bertukar tempat/dengan akhir tak minta dikenang.

Setelah dua bulan mengendon dan kurang sebulan sebelum dibebaskan, Nezar Patria mendengar lagu "Gugur Bunga" diputar radio. Firasatnya mengatakan ada mahasiswa mati. Dugaan itu tak salah. Konfirmasi lelayu diberikan penjaga blok sel.

Air matanya sontak meleleh.

Lebih dari sepekan kemudian, radio yang sama melantangkan kabar lain. Kali ini, berita pengunduran diri Soeharto. Perasaan Nezar Patria campur aduk. "Aku sih penginnya ada di situ (bareng mahasiswa), karena itu (Soeharto tumbang) justru yang sudah lama ditunggu-tunggu," ujarnya.

Zaman bergerak

Jalan yang kelak memandu Nezar Patria berhadap-hadapan langsung dengan wajah rezim yang berhias kekerasan bermula pada 1989.

Pada tarikh itu, Aceh mulai dikenai status Daerah Operasi Militer (DOM) oleh pemerintah pusat. Kebijakan tersebut merupakan respons atas kampanye Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menuntut kemerdekaan dari Indonesia.

Nezar bilang, Aceh tak nyaman. Kekerasan di mana-mana. Masyarakat gelisah. Bahkan, dia pernah diminta seorang tetangga untuk melepas kaus oblong bertulis "Texas A&M University" hanya karena ada akronim A&M, yang dapat dibaca sebagai Aceh Merdeka.

"Tapi, kami enggak pernah tahu bagaimana cerita sebenarnya. Semua orang takut," ujarnya.

Merasa butuh semacam lompatan, di tahun itu pula dia bertolak ke Yogyakarta--kota yang dipilih semata karena dia terpukau penulis-penulis berdomisili di sana, termasuk Emha Ainun Nadjib.

Di kota itu, dia berkuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM). Di kota itu pula Nezar akhirnya tahu banyak tentang apa yang sesungguhnya terjadi di tanah kelahirannya.

Dari udara kesultanan ke udara kesultanan. Waktu membuktikan situasi Yogyakarta lebih pas bagi Nezar belia untuk menajamkan olah pikir dan membangun kecakapan berorganisasi.

Dengan serta-merta, dia bergabung ke sejumlah perkumpulan kemahasiswaan seperti Jemaah Shalahuddin UGM (1990-1991) dan Biro Pers Mahasiswa Filsafat UGM, Pijar (1992-1996). Dia juga mengikuti Kelompok Studi Plaza (Fisipol UGM).

Perjumpaan dengan banyak orang dan gagasan lantas membawanya ke ranah aktivisme politik. Segalanya diawali pertemuan dengan Andi Munajat, sosok penting yang membangun gerakan demokrasi di Yogyakarta. Andi berjasa dalam pendirian kelompok ekstrakampus progresif, Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), cikal bakal Partai Rakyat Demokratik (PRD).

"Dia orang unik, tidur di Sekretariat Kampus. Selalu bawa tas kecil isi peralatan mandi. Dia yang bilang ke saya, 'Jangan cuma baca buku aja, bergerak dong. Semua orang bisa baca buku, tapi dunia ini berubah'," katanya tentang tokoh Pijar tersebut.

Pada 1993, Andi Munajat merupakan Sekretaris Jenderal SMID hasil rapat kerja di Yogyakarta. Setahun kemudian, posisi itu diduduki Fernando Manulang. Nezar Patria kebagian menempati pos strategis tersebut pada 1996.

Usai Orde Baru jatuh, Nezar Patria memilih menjadi wartawan. Dia pernah bekerja untuk Tempo, VIVA.id, dan CNNIndonesia. Kini, dia pemimpin redaksi di media berbahasa Inggris di Jakarta, The Jakarta Post.
Usai Orde Baru jatuh, Nezar Patria memilih menjadi wartawan. Dia pernah bekerja untuk Tempo, VIVA.id, dan CNNIndonesia. Kini, dia pemimpin redaksi di media berbahasa Inggris di Jakarta, The Jakarta Post. | Bismo Agung /Beritagar.id

Dari kacamata pergerakan mahasiswa saat itu, SMID menjadi semacam jawaban atas tidur panjang gerakan mahasiswa menyusul kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) yang diluncurkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef, pada akhir dekade 1970-an.

"Waktu itu suasananya sangat politis, sangat intelektual. Ada gairah, ada sesuatu. Dan itu semua dirasakan oleh semua mahasiswa. Mulai '90 lah, auranya sudah aura gerakan, bahwa kita harus membuat sesuatu," ujar Nezar.

Orde Baru, menurutnya, "mulai menuju pembusukan diri". Masyarakat kian terdidik, tapi belum tentu bisa mendapatkan posisi strategis tersebab maraknya kronisme. Kritik ditampik dengan tangan besi. Di kemudian hari, sejumlah media berpengaruh seperti Tempo, Detik, dan Editor dibredel.

Lalu, "titik balik menuju gerakan yang lebih serius--karena taruhannya, demokrasi atau mati," ujar Nezar, adalah kerusuhan 27 Juli 1996 yang dikenal dengan akronim Kudatuli.

Pada tanggal itu, kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia yang dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri diambil alih secara paksa oleh pendukung Soerjadi. Pendudukan dibantu aparat kepolisian dan TNI.

Peristiwa itu membuahkan kerusuhan di sejumlah kawasan di Jakarta Pusat. Beberapa kendaraan dan gedung terbakar. Pemerintah mengumumkan PRD dalang kerusuhan. Ketua umumnya saat itu, Budiman Sudjatmiko, ditangkap.

"Sejak itu, kami masuk DPO (daftar pencarian orang) dan mulai bergerak dengan syarat-syarat underground. Ganti KTP. Nama ganti. Ada banyak nama. Di tiap kota beda-beda," katanya.

Saat menjadi buron salah satu pemerintahan terkuat Asia, Nezar Patria putus kontak dengan orang tuanya. Jika ingin berinteraksi dengan mereka, dia memakai perantaraan Siti Murtiningsih, perempuan yang sekarang menjadi istrinya.

"Selama dua tahun itu (1996-1998), boleh dibilang ketemu (Siti) mungkin cuma dua-tiga kali waktu saya ke Jogja. Atur pertemuan di mana, gitu. Itu pun cuma sebentar. Enggak sampai satu jam," ujarnya.

Reformasi: kekecewaan

Nezar Patria memilih menjadi wartawan usai melewati tahun-tahun penuh gejolak, dan tonggak bersejarah bernama Reformasi.

Dia pernah bekerja di D&R, berkarier di majalah Tempo, ikut mendirikan VIVAnews.com (kini, VIVA.id), dan turut mengawal CNNIndonesia.com.

Pada 2008-2011, dia ketua umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI), organisasi profesi jurnalis yang berdiri pada 1994 sebagai perlawanan komunitas pers Indonesia atas kezaliman rezim Soeharto.

Setelah bebas dari tahanan pada 1998, Nezar Patria menanggalkan jubah aktivisme dengan kepala dingin, seraya tetap menyimpan pelbagai jurus politik yang direngkuhnya ketika bergiat di lapangan. Pada titik tertentu profesinya, jurus-jurus itu justru berguna.

"Meliput politik, kita kayaknya lebih tahu jeroannya gimana. Secara instingtif, kita juga lebih terasa mana yang palsu atau genuine," ujarnya. Sudah begitu, intuisi untuk melihat peristiwa tertentu juga lebih tajam. "Apakah ini rekayasa, apakah ini genuine. Dengan cepat, kita bisa menciumnya," katanya.

Sebentar lagi, dia mungkin bakal dicap penyair. Sebab, buku kumpulan puisinya hendak dilempar ke pasar.

Berbekal pengalaman sebagai aktivis dan jurnalis, Nezar Patria berani berkata bahwa saat ini Reformasi justru membawa "lebih banyak kekecewaan," di luar perubahan berharga dalam sejumlah ihwal, semisal, "kebebasan pers" atau "kebebasan berpolitik".

Putra Sjamsul Kahar, pemimpin umum Serambi Indonesia, itu mengungkai satu problem yang hingga kini masih kuat menjerat Indonesia: ketimpangan.

"Apa gunanya kebebasan kalau jurang antara mereka yang bisa mengakses keberlimpahan besar. Sementara kelompok lain untuk bisa kesehatan yang baik aja susah. Anak-anak stunting masih banyak di Indonesia timur. Air bersih susah. Akses ke pendidikan jomplang," kata Nezar.

Selain itu, sebagai masalah lain, dia memandang kian banyak orang yang hari demi hari kian menjauh dari logika hidup bersama sebagai "sebuah nasion, sebuah bangsa Indonesia".

"Kok sekarang sama yang berbeda itu semakin tajam perbedaannya, kebenciannya. Saya khawatir masa sekarang ini justru lebih buruk keadaannya dari, misalnya, sebelum merdeka dan masa-masa Orde Lama dan Orde Baru," kata figur yang bisa menangis saat mendengar lagu "Indonesia Raya" itu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR