Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta. Masjid ini dulu menjadi sarang penyebaran ajaran radikal.
Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta. Masjid ini dulu menjadi sarang penyebaran ajaran radikal. Anang Zakaria / Beritagar.id
LAPORAN KHAS

Ngaji filsafat biar tak sesat

Di masjid inilah, 40 tahun silam, sekelompok anak muda yang memimpikan berdirinya Negara Islam Indonesia mendeklarasikan Darul Islam (DI) Yogyakarta.

Pengajian tak biasa itu berlangsung awal Februari 2017 silam. Berbeda dengan kebanyakan bandonganngaji massal ala pesantren- yang menjadikan kitab kuning klasik sebagai rujukan, Fahruddin Faiz, sang penceramah, membedah alam pikir Erich Fromm dalam buku “The Art of Loving”.

Fromm, lahir di Jerman tahun 1900, tokoh psikologi sosial dengan pemikiran humanis. The Art of Loving (1956) adalah satu karyanya yang populer mengupas ihwal cinta. “Kita bacanya santai saja Erik pakai ‘K’, nanti lidahmu mlengker,” kata Faiz berpesan.

Jemaah “Ngaji Filsafat” Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta terkekeh. Bagi lidah Indonesia, khususnya Jawa, mengeja Erich sesuai aslinya bukan perkara mudah. “Salah satu kendala belajar filsafat adalah ruwet sebelum melakoni.”

Takmir masjid di Kolombo Gejayan itu memang rutin menggelar pengajian filsafat tiap Rabu malam selama dua jam, dari pukul 20.00-22.00. Temanya pemikiran filusuf dunia, dari Barat hingga Timur. Dari Karl Marx dan Friedrich Nietzsche hingga Al Ghazali dan Ibnu Arabi. Di tangan Faiz, doktor bidang filsafat di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, materi filsafat yang njelimet menjadi ringan dan menyenangkan.

Ia mengawali pengajian dengan mengisahkan biografi singkat sang filusuf. Lalu menjelaskan pokok pemikiran dengan contoh persoalan sehari-hari di sekitar kita. Misalnya cinta monyet yang kekanak-kanakan. Itu cinta tak matang. Sifatnya eksploitatif, berorientasi untung-rugi, dan membutakan.

Bagi Fromm, kata Faiz, cinta yang matang akan menumbuhkan nalar kritis. Bukan membutakan. Cinta buta --pada siapapun dan apapun-- membuat rentan patah hati. “Hati-hati (jangan) patah hati karena tidak ditanggung BPJS," katanya melempar banyolan.

Jenaka jadi senjata mendekatkan filsafat pada jemaah. Dengan cara semacam itulah, konsep “to have or to be” cinta Erich Fromm terjabarkan secara jernih.

Ditemui di kantornya, ruang Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga pada Kamis (7/6/2018), Faiz mengatakan satu-satunya pembeda manusia dengan makhluk lain adalah akal. Tanpa pikiran manusia kehilangan kemanusiaannya. Dan filsafat mengajarkan manusia agar berpikir dengan benar. “Kalau insting, binatang juga punya,” katanya.

Agama, ia melanjutkan, mewajibkan pemeluknya menggunakan akal untuk memahami ajaran. Sebagus apapun isi Alquran, kalau dipahami dalam kerangka pemikiran yang sesat, hasilnya bisa salah.

Ketika membahas pemikiran Friedrich Nietzsche pada November 2016, ia mengibaratkan pemikiran sebagai alat atau senjata. Keduanya hanya berguna jika manusia menggunakan di waktu dan konteks yang tepat. Sendok lebih tepat digunakan makan soto dan sumpit untuk makan mie. “Agama juga begitu, hati-hati kalau salah (memahami) agama yang seharusnya obat bisa menjadi racun,” katanya kala itu.

Maka dalam beragama, wahyu dan akal memiliki posisi sama penting. Tanpa wahyu, akal kesasar. Tapi tanpa akal, wahyu musykil terejahwantah. Untuk merumuskan fiqih misalnya, orang harus paham mantiq. “(Mantiq) itu logika,” katanya.

Islam, ia mengatakan, harus dipahami dalam kerangka ilmiah (scientific), bukan sekadar ideologis. Memahami Islam dalam kerangka ideologis semata justru menghasilkan wawasan sempit. Itu berbahaya.

Pemeluk agama yang berpikiran sempit cenderung eksklusif. Mereka mudah mengafirkan orang lain dan meyakini keislamannya-lah yang paling benar. Siapa pun yang berbeda dengan mereka dicap salah. Padahal, fitrah kehidupan mengandung perbedaan dan keragaman. “Tak mungkin orang hidup itu sama semua,” katanya.

Menurut Faiz, di iklim beragama semacam itulah benih radikalisme dan intoleran menemukan lahan subur. “Maka deradikalisasi itu harus dibangun dari membangun wawasan seluas mungkin,” katanya.

Bekas sarang Islam radikal

Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta merekam jejak sejarah radikalisme di Indonesia. Di masjid inilah, 40 tahun silam, sekelompok anak muda yang memimpikan berdirinya Negara Islam Indonesia mendeklarasikan Darul Islam (DI) Yogyakarta. “Masjid ini dulu dipakai (sarang) gerakan Islamis,” kata mantan Ketua Takmir Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta Muhammad Yasser Arafat, Kamis (7/6/2018).

Seorang wartawan dan peneliti gerakan Islam radikal, Solahudin, dalam “NII sampai JI Salafy Jihadisme di Indonesia” (2011) menulis pada 1978 Abdullah Sungkar, Panglima II Komandemen Wilayah 2 DI Jawa Tengah, tersandung hukum. Dalam ceramahnya di Pesantren Ngadiluwih, Matesih, Karanganyar pada 20 Januari tahun yang sama Sungkar mengajak jemaah menolak Pancasila.

Gara-gara itu aparat keamanan memburunya. Sungkar kabur ke Jombang, Jawa Timur dan menyerahkan kepemimpinan pada Abu Bakar Ba’asyir. Di bawah Ba’asyir, DI Jawa Tengah melebarkan sayapnya. Yang semula berbasis di Solo meluas hingga Yogyakarta.

Orang-orang pertama di Yogyakarta yang berhasil direkrut adalah Tolkah Mansyur dan Yusuf Latief, mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga (kini UIN Sunan Kalijaga). Belakangan, mereka berhasil merekrut mahasiswa lain; di antaranya Fihirudin alias Abu Jibril dan Hasan Bauw.

Setelah dibaiat Ba’asyir di Ngruki, Solo, Yusuf dan kawan-kawan membentuk struktur DI Yogyakarta. Rapatnya pada awal Mei 1978 di Masjid Sudirman. Dalam pertemuan itu, Hasan Bauw terpilih sebagai pimpinan. Yusuf dan Mulyono menjadi wakilnya.

Struktur baru ini getol menjaring anggota baru melalui pengajian-pengajian di Masjid Sudirman. Peserta pengajian yang aktif didekati, diajak berdiskusi lebih intens tentang gagasan Negara Islam Indonesia.

Metode itu ampuh merekrut anggota. Banyak mahasiswa dan masyarakat umum bergabung. Beberapa nama jadi kader militan. Sebut saja Bambang Sispoyo, Panglima Komandan Daerah Yogyakarta dan Nuri Suharsono, Staf KW 2 DI Jateng.

Pada 10 November 1978 aparat menciduk Sungkar di Peterongan, Jombang. Sepekan kemudian Ba’asyir ditangkap. Kedua peristiwa itu membuat jaringan DI Yogyakarta murka. Mereka menyusun serangan pada pemerintah, di antaranya rencana pembunuhan Presiden Soeharto saat meresmikan pemugaran Candi Borobudur.

Rencana itu gagal. Orang DI di Yogyakarta ditangkapi.

Tahun 1980 paska penangkapan, DI Yogyakarta meregenerasi organisasi. Ada dua tokoh yang berperan mengonsolidasikan gerakan mereka. Muchliansyah, pemuda asal Kalimantan mahasiswa Universitas Islam Indonesia, dan Irfan S. Awwas, adik kandung Fihirudin. Untuk menghindari penangkapan, mereka bernaung di bawah Badan Koordinasi Pemuda Masjid (BKPM) dan aktif di Himpunan Angkatan Muda Masjid Sudirman Yogyakarta.

Menurut Solahudin, kedua orang itu sekaligus membawa corak pemikiran Ikhwanul Muslimin dalam DI. Mereka menerapkan metode usroh dalam perekrutan.

Yasser mengatakan, di masjid Sudirman dulu, para anggota DI itu menggelar pengajian dan mengelola kegiatan seperti dirinya dan takmir saat ini. “Tinggalnya ya di sini, seperti kami sekarang,” katanya.

Masjid Sudirman terletak di tengah kampung perkotaan Yogyakarta. Masjid ini berada di bawah naungan Yayasan Asrama dan Masjid Kolombo. Selain masjid, yayasan ini juga membawahi lembaga pendidikan sekolah.

Beda dulu, beda sekarang. Takmir berganti, gagasan radikalisme agama dan intoleran di masjid ini sudah terkikis. Islam marah berganti Islam ramah. “Kami ingin menyudahi radikalisme di sini, itu masa lalu Masjid Sudirman,” kata Yasser. Lagi pula, “masyarakat tak nyaman dengan Islam seperti itu.”

Ngaji Filsafat Masjid Sudirman Yogyakarta.
Ngaji Filsafat Masjid Sudirman Yogyakarta. | Anang Zakaria /Dok. Masjid Sudirman

Dari masjid dengan cinta

Corak kelompok Islamis terkikis ketika ia bergabung menjadi takmir pada 2005. Saat itu, Yasser mahasiswa semester VII Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. “Saat itu sudah ada teman (takmir) yang salawatan, kalau ada warga meninggal di sini juga bikin tahlil dan selamatan,” katanya.

Lahir di Langkat 30 September 1983, Yasser akrab dengan Islam tradisi sejak kecil. Ia pernah nyantri di Deli Serdang dan Darul Rahman Jakarta asuhan KH. Syukron Makmun. Namanya pernah menjadi perbincangan setelah membaca Alquran dengan langgam Jawa pada peringatan Isra Mikraj di Istana Negara, 15 Mei 2015. Penampilan itu memicu kontroversi. Di satu sisi ada Islam “Timur Tengah” dan di sisi lain ada Islam “Nusantara”.

Pada 2013, penggemar lagu Slank itu terpilih jadi ketua takmir. Sementara fiqih dakwah ala kaum Islamis berjamuran di banyak masjid, ia melihat ada ruang kosong dalam wilayah keberagamaan di masyarakat. “Ruang kosong itu akal sehat,” katanya.

Upaya merawat nalar dilakukan dengan mengembalikan nilai kemanusiaan dalam tradisi beragama. Orang ngaji bercelana jins rombeng tak masalah. Rambut gondrong kalau tak suka berkopiah pun tak apa.

Cara itu membuat masjid tak eksklusif. Ia bercerita, pernah suatu kali ada pendeta ikut Ngaji Filsafat. Untuk menghormati muslim, ia datang berpakaian rapi lengkap dengan peci di kepala. “Padahal takmirnya pakai kaus oblong,” kata Yasser tertawa.

Masjid pun bukan tempat terlarang bagi budaya. Bahkan sebelum ada Ngaji Filsafat, Masjid Sudirman sudah rutin menggelar pengajian serat Jawa di bawah asuhan budayawan Herman Sinung Janutama. Sejumlah kajian tematik lain juga digelar. Di antaranya Ngaji Paskakolonial dengan narasumber Dr. Katrin Bendel dan Ngaji Al-Quran dalam kacamata sosial bersama Muhammad Al-Fayyadl.

Toh, kegiatan masjid tak melulu pengembangan pemikiran. Masjid Sudirman juga menjadi tempat belajar membaca Al-Quran, pengajian fiqih, tadarus kitab suci, dan peringatan hari besar Islam. Aktivitas itu tersegmentasi sesuai usia; dari anak-anak, remaja, pemuda, dan dewasa.

Jumlah jemaah pun berkembang. Dari belasan di awal, kini ratusan orang.

Ngaji Filsafat ketika digelar pertama kali pada 21 Maret 2013 hanya didatangi 10-20 orang. Tapi kini pesertanya mencapai 200 orang. Mereka bahkan datang dari luar Yogyakarta. Masyarakat juga bisa menyimak pengajian ini melalui jagad maya. 193 episode Ngaji Filsafat berformat audio (beberapa video) lengkap dengan slide terekam di website Masjid Sudirman.

Pada suatu hari ada seorang lelaki asal Tegal datang bersama keluarganya. Pada Yasser, ia mengatakan kenal Ngaji Filsafat setelah berselancar di mesin pencari dan berkali-kali mengikuti pengajian lewat rekaman.

Faiz punya cerita serupa. Seorang kawan di Palu pernah menelepon untuk minta izin memutar rekaman di depan khalayak. Ternyata di sana sang kawan menggelar pengajian. Penceramahnya, rekaman suara. “Santrinya ngumpul mendengarkan rekaman,” katanya.

Tradisi merawat nalar itu berlangsung hingga berganti takmir. Ketua Takmir Mohammad Ariq Nazar mengatakan masjid adalah tempat ibadah sekaligus membangun peradaban. “Islam itu bukan urusan ubudiyah saja,” katanya.

Lelaki 25 tahun lulusan UIN Sunan Kalijaga itu menjadi ketua takmir sejak dua tahun lalu. Tapi perkenalannya dengan Masjid Sudirman berlangsung sejak SMA. “Kakak saya dulu takmir di sini,” katanya.

Rekrutmen takmir berlangsung melalui dua pintu. Perkawanan atau kekerabatan dan pendaftaran terbuka. Pelamar harus melalui sejumlah proses, di antaranya wawancara. Selain mengukur pemahaman keilmuan agama, proses ini sekaligus bisa menyingkap mazab calon takmir.

Ia mengingat pada 2011 ketika baru jadi takmir, ada mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta yang memiliki kecenderungan pada pemikiran radikal dan intoleran mendaftar calon takmir. Alih-alih menolak, panitia rekrutmen justru menerima. Ternyata keputusan itu dipilih untuk mendialogkan gagasan Islam toleran pada pendukung gerakan radikal. “Sekarang dia lebih terbuka pada perbedaan,” katanya.

Ritus keagamaan di Masjid Sudirman, kata Ariq, mempertahankan tradisi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Meski demikian, dalam perekrutan takmir tetap mengakomodir calon yang tak berafiliasi pada kedua organisasi itu. “Karena masjid milik umat Islam semua,” katanya.

Hingga 2013, Yasser menambahkan, Masjid Sudirman bahkan menjadi langganan Hizbut Tahrir Indonesia menggelar kegiatan. Mulanya takmir mengizinkan, tapi kemudian tampak gelagat mereka ingin menguasai masjid dan menyebarkan ideologinya. “Lah kok kayak gini, besoknya tak kami kasih (izin) sampai hari ini,” katanya.

Masjid Sudirman pun tak lepas dari cibiran. Salah satunya yang sampai ke telinga Yasser, ada yang ngomong Masjid Sudirman jadi masjid NU. Yasser abaikan saja tudingan itu karena yakin sang pencibir pasti tak pernah salat di masjid Sudirman.

Ia tersenyum lalu berujar, “di sini habis salat wiridan sendiri-sendiri, jumatan azannya sekali, dan salat subuh tak baca qunut.”

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR