Nia Damayanti, 43 tahun, mantan aktivis 'Reformasi' Surabaya, saat berpose untuk Beritagar.id di Jalan T.B. Simatupang, Jakarta Selatan, Senin (7/5/2018).
Nia Damayanti, 43 tahun, mantan aktivis 'Reformasi' Surabaya, saat berpose untuk Beritagar.id di Jalan T.B. Simatupang, Jakarta Selatan, Senin (7/5/2018). Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo
20 TAHUN REFORMASI

Nia Damayanti: ''tak lakoni ae''

Nia Damayanti aktif bergiat menentang pemerintahan Soeharto yang alergi kritik. Setelah Reformasi, dia memilih menjadi buruh.

Dia sepertinya tekun menerjuni pertarungan alot. Mulai sejak belia saat menentang pemerintahan otoriter, hingga masa berumah tangga ketika bersinggungan dengan penyakit yang mendera pasangan hidupnya.

Bagi orang-orang yang mengikuti perjalanannya, ada tanya lazim mengemuka: bagaimana bertahan?

Nia Damayanti, 43 tahun--perempuan tulen Madura, lama tinggal di Surabaya, sekarang menetap di Jakarta--dengan dialek Suroboyoan mendengus, "tak lakoni ae!"

Dia melontarkan pernyataan itu di kedai donat milik Johnny Andrean cabang Cilandak Town Store, Jakarta Selatan, sambil mengudap yoghurt beku, Senin (7/5/2018).

Pengunjung mengisi rata-rata kursi di beranda kedai yang menghadap ke Jalan T.B. Simatupang. Tapi, dia tak canggung menceritakan pengalaman sewaktu terlibat pengorganisasian unjuk rasa buruh dan masuk daftar buruan aparat.

"Waktu itu aku organizer PPBI," ujarnya memetik akronim Pusat Perjuangan Buruh Indonesia, onderbouw Persatuan Rakyat Demokratik (titel PRD sebelum menjadi partai).

PPBI satu dari sejumlah serikat buruh independen yang terbentuk pada masa kekuasaan Presiden Soeharto. Sejarawan Robert Cribb dan George Kahin dalam Kamus Sejarah Indonesia menyebut PBBI "lebih radikal" dari Serikat Buruh Merdeka Setiakawan yang berumur pendek dan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia.

Pada 1 Mei 1995, organisasi itu menggelar perayaan Hari Buruh di Jakarta dan Semarang. Itu peringatan Hari Buruh kali pertama yang terjadi di masa Orde Baru.

Para aktivis yang pada 1998 diambil paksa oleh tangan kekuasaan, beredar di Semarang saat itu. Mereka Petrus Bima Anugrah dari SMID Surabaya; Aan Rusdianto dari SMID Semarang; dan Nezar Patria dari SMID Yogyakarta. Di antara ketiganya, Petrus Bima masih hilang.

SMID kependekan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi. Ia bisa dikata cikal bakal Partai Rakyat Demokratik (PRD).

"Saya waktu di Semarang cuma peserta," kata Nia Damayanti mengenai aksi barusan. Tetapi, itu sudah cukup bikin dia dikejar aparat.

Ia ingat kondisi mulai panas waktu demonstrasi dibubarkan dan aparat mulai melakukan pengejaran. Dia dan beberapa rekannya refleks kabur. Mereka memburu sebuah mobil bak terbuka yang tengah melaju.

"Enggak tahu tenaga dari mana. Saya lompat ke mobil (itu). Nggandol kalau istilah orang Surabaya," ujarnya.

Meski lolos di Semarang, dia tak dapat berkelit dari kegarangan jepitan alat negara di Surabaya pada 1996. Penyebabnya kompleks. Tapi, intinya, dia dicari karena aktivitasnya di organisasi ekstrakampus.

Pada 8 Juli tahun itu, ribuan buruh dari belasan perusahaan di Tandes, Surabaya, yang diorganisasi PPBI melangsungkan mogok kerja. Aksi tersebut berujung penangkapan dan pemenjaraan Ketua Umum PPBI, Dita Indah Sari.

Di tahun sama, pecah peristiwa Kudatuli, akronim masyhur Kerusuhan 27 Juli. Dalam Kudatuli, kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia yang dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri diambil alih oleh pendukung Soerjadi. Pendudukan bersalut kekerasan ditopang personel kepolisian dan TNI.

Bentrokan lalu berlanjut kerusuhan di sejumlah kawasan di Jakarta Pusat. Beberapa kendaraan dan gedung terbakar. Pemerintah mengumumkan PRD dalang kerusuhan. Budiman Sudjatmiko, ketua umumnya waktu itu, ditangkap.

Nia Damayanti diambil di rumah orang tuanya. "Posisi waktu diambil (aparat), 9 September 1996. Waktu awalnya saya ketangkap, enggak terlalu heboh. Tapi, begitu mereka tahu saya sentral informasi" pada aksi Tandes, "habis saya," katanya.

Ketua RT setempat menyambangi rumah itu saat senja. Sang tamu diterima ibundanya. Dia menanyakan ihwal Narendro Hariosetyawan, suami Nia Damayanti.

"Ibu saya sense-nya udah jalan. Dia bilang, Rendro udah pergi ke Jakarta sore itu. Lalu, (Ketua RT) tanya apa ada saya. Di belakangnya (Ketua RT) berdiri Letnan Budi. Letnan Budi itu yang menangkap hampir semua aktivis di Surabaya," ujarnya.

Pasangan itu baru menikah Januari 1996. Sang suami masuk daftar pencarian orang karena punya peran penting di SMID. Hasil rapat kerja organisasi itu di Yogyakarta pada 1993 menetapkannya sebagai kepala Departemen Organisasi dan Jaringan. Dia ditugaskan ke Surabaya pada 1994.

"Saya ketemu dia tahun '94 akhir. Dia orang pertama yang di-deploy permanen," ujar Nia Damayanti.

Narendro yang sebenarnya masih di dalam rumah, meminta istrinya tinggal. Dia bilang, "Saya saja yang pergi," begitu Nia Damayanti menirukan.

Tetapi yang diminta menggeleng. "Kalau kamu yang pergi," kata Nia Damayanti, "kamu enggak akan kembali".

Nia Damayanti didampingi ibunya saat ditangkap. Sang ibu belakangan membujuk para penjemput untuk membolehkan anak keduanya itu mampir ke klinik Pusura (Putra Surabaya). Dia khawatir asma anaknya kambuh di lokasi penahanan. Karena itu, dia merasa perlu menemui dokter keluarga.

Selain itu, kata Nia Damayanti, langkah itu merupakan taktik pula agar penangkapannya disaksikan orang banyak.

Nia Damayanti (43), mantan aktivis Reformasi 1998 yang giat mengorganisasi demonstrasi buruh semasa berkuliah di Universitas Airlangga, Surabaya. Foto diambil di Jalan T.B. Simatupang, Jakarta Selatan, Senin (7/5/2018).
Nia Damayanti (43), mantan aktivis Reformasi 1998 yang giat mengorganisasi demonstrasi buruh semasa berkuliah di Universitas Airlangga, Surabaya. Foto diambil di Jalan T.B. Simatupang, Jakarta Selatan, Senin (7/5/2018). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Setelah itu, Nia tiba di "Kantor Bakorstanas Den Inteldam V Brawijaya, dekat kantor Golkar Jawa Timur".

"Di sana, serah terima. Saya melewati interogasi demi interogasi. Sampai hari kedua saya masih bisa bertahan bahwa suami saya bukan siapa-siapa. Tapi, akhirnya ketahuan juga kalau suami saya aktivis," ujarnya.

Tidak banyak yang Nia Damayanti ingat mengenai lokasi penyekapannya, kecuali bahwa ruangan itu "agak nyaman karena jadi tempat meeting komandan".

Tidak ada kekerasan fisik atau pelecehan seksual. Namun, intimidasi tetap berlangsung. Verbal, dan simbolis. Satu bentuk intimidasi adalah pamer pistol oleh interogator.

Pengacaranya, Trimoelja D. Soerjadi--advokat bersahaja yang kesohor lewat kasus pembunuhan buruh Marsinah, pun kasus Basuki Tjahaja "Ahok" Purnama--sempat disodorkan pistol pula. Insiden itu terjadi ketika sang pembela melakukan pendampingan.

Selama dalam tahanan, Nia tetap dipantau orang tuanya. Tiap hari. "Saya selalu menunjukkan diri di jendela waktu mobil ayah saya kelihatan," katanya.

Dia dibekap selama dua pekan. Selama dipingit itu, dia ditanyai mengenai keberadaan aktivis SMID, Herman Hendrawan dan Sardiyoko. Bahkan, ada tuduhan bahwa dia mendanai PRD semata karena "suka ngasih makan" keduanya.

Namun, dalam hematnya, tekanan paling sulit ditanggungkan justru berkenaan dengan pengetahuannya mengenai hal tertentu. Apalagi saat para interogator mulai intens menanyakan perihal Herman, aktivis yang akhirnya diculik dan hingga kini masih raib.

"Beberapa hari sebelumnya, saya sempat kontakan sama Herman. Karena sama suami saya, saya tahu dia perginya ke mana. Saya depresi itu," ujarnya mengenai sosok yang merekrutnya untuk bergabung dengan SMID.

Beban semacam itu membuatnya teringat akan seloroh Wilson B. Nurtias dari Solidaritas Perjuangan Rakyat Indonesia untuk Maubere (SPRIM) pada suatu forum akbar. "Udah coy," kata Nia menirukan Wilson, "kalau lu diinterogasi enggak kuat, pura-pura gila aja supaya enggak keluar (informasi)".

Dia mengamalkan jurus itu. Nia Damayanti--yang tengah hamil muda--membiarkan dirinya larut dalam stres. Dunianya lantas terbalik. Menurut rekan tahanan, dia sudah mulai berlari-lari di atas meja sambil berteriak. Kata-kata yang berhamburan dari mulutnya pun melulu dalam bahasa Inggris.

Trauma di ruang itu masih tersimpan hingga kini. Dia menyadarinya saat menonton Laut Bercerita, film pendek arahan Pritagita Arianegara hasil adaptasi dari novel berjudul sama karya Leila S. Chudori.

Pada sebuah scene yang menggambarkan bagaimana sang tersekap menghitung hari lewat perantaraan house music, Nia Damayanti tiba-tiba menangis histeris. "Itu kan sudah bertahun-tahun lalu. Zaman segitu kalau udah dengar suara house music dari mobil, itu tandanya jam tiga pagi. Dan itu kita istirahat. Tidur," katanya.

Sekeluar dari tahanan, Nia Damayanti dikenai wajib lapor. Dia juga harus merelakan janin di rahimnya gugur. Persis saat suaminya berulang tahun pada 5 Oktober. Kondisi demikian membuat dirinya kehilangan teramat banyak. Dia lantas memutuskan meninggalkan dunia aktivisme.

Bahkan waktu rekan-rekannya di PRD memutuskan untuk melakukan konsolidasi pada 1997 dan membujuknya bergabung kembali, Nia Damayanti menolak.

"Sudahlah, aku memutuskan jadi istrinya Rendro aja," jawabnya.

Darah aktivis

Tak ada yang pernah menduga dia bakal menjadi demonstran.

Sebelum terjun sebagai aktivis prodemokrasi, Nia Damayanti rajin menjajal kontes kecantikan. Satu yang dia ingat, ajang Putri Rimo, dengan sponsor Toserba Rimo. Selain itu, dia pun bergiat di marching band.

Pun begitu, darah aktivisme kadung mengalir di tubuhnya. Ayah dan ibunya jebolan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bahkan, sang ayah pernah menjadi Ketua Komisariat HMI di Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) pada dasawarsa 1960-an--dilanjutkan dengan menjadi anggota Dewan Pengurus Wilayah.

Nia Damayanti dan suami, Narendro Hariosetyawan. Keduanya bertemu saat menjadi aktivis. Mereka menikah pada Januari 1996, dan dikaruniai dua anak.
Nia Damayanti dan suami, Narendro Hariosetyawan. Keduanya bertemu saat menjadi aktivis. Mereka menikah pada Januari 1996, dan dikaruniai dua anak. | /Nia Damayanti

Maka itu, waktu masuk di Jurusan Ilmu Komunikasi (Unair) "yang anak-anaknya terkenal hedon", Nia sempat mengikuti latihan dasar kepemimpinan (LK-1) HMI. "Bisa dibayangkan itu (perasaan orang tua), anaknya keluar dari HMI masuk SMID," katanya.

Namun, dia mengaku menjadi istri aktivis tidak lebih ringan. Apalagi pada paruh pertama 1998. Sejak bom tak sengaja meledak di rumah susun kawasan Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, pada Januari, Nia Damayanti mesti menghadapi interogator lagi. Padahal, tahun sebelumnya dia sudah tak terikat wajib lapor.

Pangkal masalah adalah penangkapan Agus "Jabo" Priyono, ketua PRD sekarang, di TKP. Soalnya, ujar Nia Damayanti, "kalau enggak salah, kartu nama suamiku ada sama Jabo. Saya waktu itu sedang hamil besar. Tujuh bulan".

Saat anaknya lahir pada 17 April 1998, para agen intelijen tak henti mengawasi tempat tinggalnya. Mereka agaknya berharap Narendro pulang dan menjenguk istri serta putra pertamanya.

Pada 18 April, waktu Nia Damayanti masih di rumah sakit, 40 motor mengepung kediaman itu. Dua mobil Isuzu Panther memuntahkan 15 orang yang menerjang ke dalam rumah. Tapi, Narendro tak kembali. Dia baru bertemu si jabang bayi lima bulan setelah hari kelahiran

Setelah Soeharto mundur

Soeharto menyatakan mundur pada 21 Mei 1998. Nia Damayanti tak pernah berpikir sang masinis Orde Baru akan minggir secepat itu. Tapi, waktu massa mulai turun ke jalan pada Mei dan gelembung huru-hara membesar, dia yakin Soeharto bakal turun.

Dalam perkembangan lain, dia girang Narendro pulang. Tetapi, di sisi lain, Nia Damayanti juga gundah. Sebab, dua kawan dekatnya--Herman dan Petrus Bima--masih hilang tak tentu rimba.

Dia menampakkan kesedihan itu di hadapan kami. Ketika mengenangkan nama disebut terakhir--yang kerap ditulis Bimo Petrus--air matanya jatuh.

"Dia pernah bilang, kamu harus sehat, bayimu juga. Nanti kalau anakmu lahir, aku yang cariin sekolah buat anakmu. Kita kirim anakmu ini ke sekolah paling bagus di Jakarta. Makanya anakmu harus sehat otaknya, supaya pintar," katanya menirukan pesan Bimo.

Berbilang tahun sedari pesan emosional tersebut, Nia Damayanti melunasi janji untuk menjaga kesehatan diri dan anaknya. Kini, putra sulungnya itu belajar di Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya. Sementara, anak keduanya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas di Jakarta.

Dia dan Narendro meniti karier sebagai buruh, golongan yang dulu acap kali mereka bela. "Kami tidak ingin mencari uang dari politik. Karena kami bukan pengusaha, ya jadi buruh, jadi pekerja," ujar perempuan yang menjadi relawan Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Pemilihan Presiden 2014.

Kakinya sudah pernah menginjak beberapa perusahaan. Terakhir, sebuah lembaga internasional. Masa kerjanya di sana memasuki tahun ke-13.

Per 2013, dia sepenuhnya menjadi penyokong ekonomi keluarga. Pasalnya, kesehatan sang suami mulai tergerus. Narendro terkena autoimun multiple sclerosis (MS). Penyakit itu telah memicu dua kali mengalami amnesia, yakni April 2015 dan Mei 2017.

"Suami saya amnesia pertama," kata Nia, "ingatannya berhenti di tahun 1998. (Pada) amnesia kedua, (ingatannya) berhenti pada tahun dia berumur 17 tahun".

Penyakit itu akhirnya memaksa Narendro duduk di kursi roda.

"Dia dulu ngasih buku ke saya, Bumi Manusia," ujar Nia tentang buku karya Pramoedya Ananta Toer. Di dalam buku itu terselip surat cinta dalam bentuk disket DOS. Isi surat itu kira-kira: kedewasaan tidak jatuh dari pohon, tapi mesti dicari, demi bisa bersikap dan menyikapi hidup.

"Saya bersyukur karena tidak menyia-nyiakan masa muda saya" ujar Nia Damayanti, "I did it all, bukan cuma buku, pesta, cinta. Tapi, buku iya, pesta iya, cinta iya, berjuang juga iya".

BACA JUGA