Perkakas sehari-hari yang sangat dekat dengan peradaban manusia, alat makan berbahan nikel.
Perkakas sehari-hari yang sangat dekat dengan peradaban manusia, alat makan berbahan nikel. Günter / Pixabay
INVESTASI TIONGKOK

Nikel dalam keseharian

Nikel ada di kehidupan sehari-hari. Kandungannya bisa ditemukan dalam sendok-garpu, baterai beragam gawai, hingga komponen pesawat terbang.

Mulai dari sendok-garpu di meja makan, bohlam lampu pijar, baterai untuk beragam gawai, hingga komponen pesawat terbang, tak luput dari kandungan nikel. Nikel yang bersifat reaktif terhadap oksigen tetapi tidak mengalami korosi, punya peranan penting dalam industri baja.

Karakteristiknya yang luwes, membuat nikel setidaknya digunakan dalam lebih dari 300.000 produk. Mulai dari kebutuhan industri logam, militer, transportasi, dirgantara, kelautan, arsitektur, hingga dalam proyek-proyek pembangunan.

Dalam banyak produk itu, nikel digunakan sebagai bahan pelengkap, yang dicampur dengan jenis logam lain, atau sebagai logam utama. Campuran nikel dengan krom dan besi misalnya, menghasilkan baja tahan karat yang biasa disebut baja nirkarat (stainless steel).

Sekitar 65 persen nikel dunia digunakan sebagai bahan campuran besi untuk membentuk stainless steel.

Campuran nikel dengan tembaga dan besi (Ni, Cu, Fe) bernama monel, digunakan untuk membuat instrumen transmisi listrik. Nikrom (Ni, Fe, Cr) biasa digunakan sebagai kawat pemanas, dan alniko (Al, Ni, Fe, Co) digunakan untuk membuat magnet.

Nikel juga jadi campuran untuk membuat Palinit dan Invar, paduan nikel dengan koefisien muai setara gelas. Campuran ini digunakan sebagai kawat listrik yang ditanam dalam kaca. Itulah yang biasa digunakan dalam bohlam lampu pijar.

Dalam gawai elektronik, nikel juga punya peran. NiCad atau nickel cadmium, dikenal sebagai bahan pembuat baterai. Untuk produk yang terakhir disebut, nikel bersaing dengan lithium. Bisa jadi, dalam beberapa hal, nikel sedikit tertinggal.

Baterai Lithium (Lithium-ion battery) bisa berukuran lebih kecil, lebih mudah digunakan, dan lebih aman bagi lingkungan daripada baterai berbasis nikel. Meski dengan ukuran dan daya yang sama, batere lithium bisa bertahan lebih lama.

Di sisi lain, pemanfaatan nikel bukan tanpa risiko. Penambangan nikel yang mencemari perairan di sekitar kawasan pertambangan melalui aliran sungai, bisa berdampak pada ekosistem laut. Terutama karena Ni berasosiasi dengan logam berat yang lain, seperti tembaga (Cu), arsenik (As), besi (Fe), dan platina (Pt).

Logam berat tersebut dapat membentuk ikatan dan masuk ke dalam tubuh organisme laut dan bersifat racun. Selain itu, logam berat dapat menyebabkan muatan padatan tersuspensi (MPT) meningkat, dan bisa menyebabkan penurunan kualitas perairan.

Fakta singkat nikel
Fakta singkat nikel | Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Posisi Indonesia dalam industri nikel dunia

Sifat multiguna Nikel membuatnya menjadi komoditas logam strategis. Nikel berpotensi menghasilkan nilai tambah yang sangat besar, bila dilakukan pengolahan di dalam negeri. Mengekspornya sebagai bahan mentah, menghilangkan banyak peluang yang dapat diperoleh.

Kementerian Geologi Amerika Serikat menghitung, dalam dua tahun terakhir produksi nikel Indonesia terus meningkat. Pada 2015, jumlah produksi nikel Tanah Air mencapai 130 ribu metrik ton. Naik sekitar 29 persen lebih pada 2016, menjadi 168.500 metrik ton.

Selain Indonesia, produksi nikel dunia juga banyak disumbangkan Filipina. Pada 2015 memproduksi nikel sebanyak 554 ribu metrik ton dan pada 2016 mencapai 500 ribu metrik ton. Kemudian disusul Rusia yang jumlah produksinya di bawah atau setengah dari produksi Filipina.

Meski dengan dengan jumlah produksi nikel jauh di bawah Filipina, jumlah cadangan nikel Indonesia tak beda jauh dengan Filipina. Cadangan di Indonesia diprediksi mencapai 4,5 juta metrik ton, berselisih 300 ribu metrik ton dengan Filipina.

Sebagai catatan, istilah cadangan dalam laporan Kementerian Geologi AS tersebut tidak termasuk seluruh potensi kandungan nikel di bumi Indonesia. Cadangan dimaksud, adalah sumberdaya nikel yang dinilai telah memiliki nilai ekonomis bila dikelola oleh industri.

Dalam konteks ini, cadangan nikel terbanyak dimiliki Australia yang jumlahnya mencapai 19 juta metrik ton. Kemudian Brasil dengan perkiraan cadangan nikel mencapai 10 juta metrik ton, dan Rusia dengan perkiraan cadangan mencapai 7,6 juta metrik ton.

Dari sisi pengguna, Tiongkok menjadi konsumen utama nikel dunia sejak 2013 hingga tahun lalu. Pada 2013, Tiongkok menyerap 51 persen produksi nikel dunia, dan Eropa sebanyak 19,5 persen. Pada 2016, serapan Tiongkok bahkan mencapai 56 persen.

Adapun menurut Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), sumber daya nikel Indonesia diperkirakan mencapai 2.633 juta ton ore (bijih), dengan cadangan sebesar 577 juta ton ore. Sumberdaya ini tersebar di Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua dengan kandungan unsur nikel rata-rata 1,45 persen.

Menurut pelaku industri nikel Indonesia, Yudhi Santoso, logam jenis nikel adalah salah satu jenis logam masa depan. Apalagi dengan tingginya permintaan baja dunia dan berkembangnya teknologi baterai saat ini.

Menurutnya, investasi dan eksplorasi nikel di negara-negara Asia Tenggara cukup beralasan, lebih dari setengah kebutuhan nikel dunia diserap oleh Tiongkok. Selain itu juga terkait kualitas dan biaya produksi.

"Kualitas nikel kita salah satu yang terbaik di dunia, jadi cukup beralasan jika Tiongkok berkepentingan dengan nikel kita. Kedua, jarak tempuh lebih dekat, Tiongkok bisa saja ambil nikel dari Benua Afrika, namun hitungan biaya pengirimannya lebih mahal, karena jauh," kata Yudhi saat ditemui Beritagar.id, Rabu (17/1/2018).

Yudhi menilai saat ini, kebutuhan nikel Tiongkok lebih banyak digunakan untuk campuran pembuatan baja tahan karat. Selain itu untuk kebutuhan campuran dengan jenis logam kobalt sebagai bahan paduan untuk baterai.

"Saya melihat Tiongkok, ke depan mereka akan menggunakan nikel untuk kebutuhan baterai mobil listrik yang saat ini semakin maju. Alasannya cukup mudah, Tiongkok atau negara manapun sulit mengejar Jepang dalam hal teknologi otomotif konvensional saat ini," ujarnya.

Secara angka, jumlah ekspor bijih nikel Indonesia ke Tiongkok semakin meningkat sejak 2006 hingga 2013. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), puncak tertinggi ekspor nikel Indonesia pada 2013, mencapai 64.802.857 ton atau senilai US $1.685.247.

Namun angka-angka tersebut berubah drastis sejak 2014. Dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2014 tinggal 4,16 juta ton ekspor nikel. Hal ini karena diberlakukannya peraturan larangan ekspor mineral dalam bentuk mentah/ore per Januari 2014, sesuai Undang-undang No. 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara (Minerba).

Ada keharusan pengolahan bijih nikel menjadi produk yang bernilai tambah. Dengan mengolah bijih nikel menjadi feronikel, misalnya, harganya dapat meningkat dari US $55 per ton menjadi US $232 per ton, atau memberikan nilai tambah sekitar 400 persen.

Selain itu, berdirinya smelter sebagai industri pengolahan nikel, dapat memberi tambahan pemasukan bagi negara sebesar 300 persen, ketimbang mengekspor nikel hasil tambang dalam bentuk mentah.

Merujuk data yang sama, terdapat enam negara utama tujuan ekspor nikel Indonesia, antara lain Jepang, Tiongkok, Australia, Swiss, Yunani, dan Ukraina. Dari keenam negara tersebut, Tiongkok negara yang mendapat pasokan nikel terbanyak, 58,60 juta ton, atau sekitar 96 persen total ekspor Indonesia saat itu.

Yudhi berharap, agar pemerintah bisa mengelola cadangan nikel Indonesia dengan lebih baik dan lebih menguntungkan bagi negara. Terutama dengan model investasi pengelolaan dan pengolahan nikel.

Bagi Yudhi, dengan melihat perusahaan-perusahaan Tiongkok dalam kerja sama penambangan nikel dalam sepuluh tahun terakhir bisa dijadikan pelajaran, "Terutama perancangan nilai bagi hasil yang bisa dapatkan oleh negara harus makin naik setiap tahunnya."

Baca artikel lain dalam Laporan Khas Beritagar.id, "Cengkeraman naga di Celebes".
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR