Simulasi tsunami di Padang, Sumatra Barat, Indonesia, 21 Maret 2014.
Simulasi tsunami di Padang, Sumatra Barat, Indonesia, 21 Maret 2014. EPA / Zulkifli
MITIGASI BENCANA

Padang: Bertumbuk momok megathrust Mentawai

Megathrust Mentawai bisa bikin gempa berkekuatan M 8,8. Sejarah kegempaannya juga menunjukkan jejak tsunami di Kota Padang.

Sirene menyalak dari mobil Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang. Seketika kepanikan membekap Ulak Karang Utara, kawasan pesisir di Padang Utara, Kota Padang, Sumatra Barat.

Ratusan siswa meninggalkan sekolah, berhamburan ke jalan. Mereka bergegas menuju Tempat Evakuasi Sementara (TES) Ulak Karang di Jalan Sumatra, berjarak sekitar 700 meter dari bibir pantai.

Shelter tsunami itu didesain untuk bisa menampung empat ribu orang. Namun, kali ini, hanya diisi ratusan siswa dan guru.

Situasi darurat itu merupakan bagian dari skenario simulasi tanggap tsunami yang digelar BPBD Kota Padang dan Forum Pengurangan Resiko Bencana Sumatera Barat, Sabtu pagi (9/2/2019).

Simulasi dirasa perlu, mengingat ancaman gempa dan tsunami dari segmen megathrust (patahan raksasa) Mentawai--turunan zona subduksi Sumatra. Lebih-lebih, segmen itu sudah kirim bahaya.

Pada pekan pertama Februari 2019, walau tak berpotensi tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengabarkan gempa beruntun dari segmen tersebut.

Dua di antaranya punya kekuatan dahsyat: M 6 (2 Februari) dan M 6,1 (5 Februari).

Pemerintah pusat turut berjaga. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, dan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, bertolak ke Padang dan Mentawai selepas gempa beruntun.

Kedua pembesar ikut urun rembuk dalam Rapat Koordinasi Mitigasi Bencana di Padang, Rabu (6/2/2019). Rapat juga diikuti sejumlah ahli, termasuk Danny Hilman Natawidjaja, peneliti Geoteknologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Danny bukan orang baru dalam riset gempa di Sumatra. Dia beroleh gelar doktor dari California Institute of Technology, pada 2003, lewat disertasi yang berfokus pada kegempaan di barat Sumatra.

Dalam rapat di Aula Kantor Gubernur Sumatra Barat, Danny menyebut peristiwa kegempaan yang terjadi pada awal Februari sebagai sinyal waspada. Pasalnya, pelepasan energi dari satu segmen bisa memicu yang lain.

"Kalau dia (segmen) penuh energi, maka bisa terpicu. Misalnya, hanya tiga bulan setelah Aceh (Desember 2014), di Nias lepas (Maret 2015)," ujar Danny.

Dalam catatan kontemporer, segmen megathrust Mentawai pernah bikin gempa M 8,5 (2007) dan M 7,8 (2010). Gempa tersebut, ucap Danny, tidak menghancurkan semua segmen--hanya sebagian di sisi selatan.

Segmen yang tersisa itu diprediksi bisa memicu gempa hingga M 8,8. Akan tetapi, perihal momen datangnya gempa, masih jadi teka-teki kosmos.

"Bisa tiga bulan atau 30 tahun mendatang. Selama kita masih hidup, atau mungkin anak kita, bakal menyaksikannya," kata Danny.

***

Bangunan Tempat Evakuasi Sementara (TES) atau shelter Tsunami Ulak Karang di Padang, Sumatra Barat.
Bangunan Tempat Evakuasi Sementara (TES) atau shelter Tsunami Ulak Karang di Padang, Sumatra Barat. | Febrianti

Malam, 10 Februari 1797, sekitar pukul 22.00, segmen megathrust Mentawai membawa lindu ke permukaan bumi.

Guncangan berlangsung selama satu menit. Kekuatannya mencapai M 8 dan memicu tsunami. Air laut melibas kampung Air Manis di Padang Selatan.

Rumah-rumah ambruk. Retakan sebesar 8-10 sentimeter muncul di permukaan. Sebuah kapal milik Inggris terbawa gelombang ke darat. Sekitar 300 jiwa melayang, termasuk orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri dengan memanjat pohon.

Lindu beriring tsunami kembali terjadi pada 24 November 1833. Tanah bergoyang lima menit di Bengkulu dan tiga menit di Padang. Besaran gempa mencapai M 8,8. Tsunami juga menghantam Padang--lantaran minim catatan dampak bencana tak terperinci.

Sejarah kelam bisa berulang sebab gempa punya siklus. Adapun para ahli menaksir daur lindu megathrust Mentawai berkisar 200-300 tahun.

Mitigasi bencana jadi wajib belaka. Lebih-lebih, berbilang abad setelah dua tsunami lawas, Kota Padang tumbuh jadi teritori paling besar di pesisir barat Sumatra.

Kini hampir satu juta jiwa tinggal di Kota Padang. Pun, lebih dari 550 ribu orang mendiami wilayah pesisir. Merekalah yang bersemuka kemungkinan bencana gempa dan tsunami sewaktu-waktu.

Meski momok tsunami mengintai, Kota Padang cuma punya tiga shelter tsunami atau TES. Bangunan itu terletak di Kecamatan Koto Tangah dan Padang Utara.

Tiap TES hanya bisa menampung empat ribu orang. Kondisinya pun kurang terawat. Misal, TES Ulak Karang, yang jadi tempat simulasi para siswa dan guru pada Sabtu (9/2/2019).

Di lantai 5, terlihat perkakas pembangkit listrik tenaga surya tak lagi utuh. Baterainya hilang. Kabel dan lampu raib. Sirene tak bisa berfungsi.

Beberapa sisi dinding terlihat corat-coret jejak vandalisme. Air untuk keperluan MCK juga tak tersedia. Situasi itu bikin warga sekitar enggan memanfaatkan TES.

"Kalau gempa, tidak pernah ke sini. Tapi dibawa orang tua mengungsi naik motor ke Lubuk Minturun. Enggak tahu ini gedung untuk apa," kata Riki, seorang siswa peserta simulasi tsunami. Padahal, rumah Riki hanya berjarak 500 meter dari TES Ulak Karang.

"Kalau malam tidak ada listrik. Gelap. Bagaimana kami naik ke atas (shelter) kalau ada tsunami?"

Halimar, warga Ulak Karang Utara, tentang shelter tsunami.

Butuh percepatan mitigasi

Kepala Bidang Kebencanaan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Padang, Hendri, menyebut TES Ulak Karang belum melewati proses serah terima--dari BNPB kepada Pemkot Padang.

Konon situasi itulah yang bikin TES Ulak Karang terbengkalai, meski pembangunannya telah rampung setahun lalu.

"Bila sudah serah-terima, anggaran pemeliharaan bisa ditanggung Pemkot Padang. Kami tidak bisa berbuat apa-apa," ujar Hendri.

Dia juga mengakui jumlah shelter tsunami di Padang masih kurang. Dengan lebih dari 550 ribu jiwa yang terancam tsunami, dibutuhkan setidaknya 100-300 shelter.

Sejauh ini, selain tiga TES, pihaknya meilirik 72 gedung perkantoran serta hotel yang potensial dijadikan shelter tsunami. "Kami sedang menunggu rekomendasi para ahli soal bangunan-bangunan itu. Apakah kuat untuk shelter?" ujarnya.

Selain itu, kata Hendri, BPBD Kota Padang juga terus mengelar simulasi dan edukasi kebencanaan.

Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana Sumatera Barat, Syaifullah Khalid, menyebut proses simulasi serta edukasi gempa dan tsunami harus jadi "menu utama" bagi warga Padang.

"Simulasi dan sosialisasi harus rutin. Tidak seperti saat ini, saat ada gempa, langsung simulasi, besok lupa lagi. Padahal ancaman di depan mata," kata Syaifullah.

Pandangan perihal ancaman megathrust Mentawai datang pula dari Ade Edwar, Koordinator Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatra Barat.

Dia bilang megathurst Mentawai masuk kategori seismic gap yang menyimpan energi besar.

"Seismic gap artinya daerah jarang gempa atau yang sudah lama tidak mengalami gempa besar. Energinya bisa sangat besar," kata Ade. "Wilayah paling terancam tsunami adalah Kota Padang. Permukimannya banyak di zona merah tsunami."

Ade mengatakan ancaman bencana itu telah didukung oleh pelbagai riset dari para ahli. "Ancaman megathrust Mentawai itu nyata. Para ahli sudah sepakat. Sekarang, kita harus fokus pada mitigasi," ucapnya.

Ade pun mengingatkan salah kaprah seputar gempa dan tsunami. Menurutnya, awam kerap memandang lindu besar sebagai pertanda tsunami. Padahal tsunami bisa dipicu gempa berkekuatan sedang dengan durasi lama (lebih dari 60 detik).

"Publik harus punya pengetahuan untuk mengambil tindakan berdasarkan tipe gempa dan durasinya. Inilah pentingnya edukasi kebencanaan," kata dia.

Ihwal kesiapsiagaan bencana, Ade menaruh harapan pada Tim Percepatan Mitigasi Gempa dan Tsunami Sumatera Barat yang baru dibentuk. Konon keberadaan tim tersebut akan melancarkan koordinasi antar-instansi dalam isu mitigasi.

Tim tersebut, kata Ade, harus mengambil sejumlah langkah strategis, misal, mengoptimalkan gedung-gedung potensial sebagai shelter tsunami.

"Gedung yang potensial sebagai shelter bisa dikembangkan. Misalnya, sekolah, masjid, atau kantor, terutama di lokasi yang butuh shelter. Ini langkah percepatan karena tidak butuh pembebasan lahan," ujarnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR