Petani Kopi menjemur kopi hasil panen sebelum dijual ke pengusaha kopi. © Firmansyah / Beritagar.id Para pelancong dari Kota Baja Tak ada kata 'sakit' bagi warga Kota Sorong
KOTA JURAGAN PAGAR ALAM

Pagar Alam dalam bayang-bayang kopi lampung

Kopi dan teh merupakan dua komoditas andalan Pagar Alam, Sumatera Selatan. Terletak di kaki Gunung Dempo memungkinkan menjadi tempat yang subur kedua tanaman ini.

Khusus untuk kopi, popularitas kopi lampung jauh lebih dikenal daripada kopi dari Pagar Alam. Sebanyak 7 ton per hari saat musim panen kopi didistribusikan ke Lampung. Pada 2014 Pagar Alam mampu menghasilkan 7.465 ton kopi.

Besarnya jumlah produksi kopinya justru membuat nama Pagar Alam kian tenggelam. Kondisi ini tak lepas dari petani dan pengusaha kopi Pagar Alam yang masih menjadikan Lampung sebagai tujuan penjualan setelah panen.

Dalam catatan Disperindag dan UKM Pagar Alam terdapat 15 orang pengusaha besar atau juragan kopi di Pagar Alam, ditambah puluhan juragan kecil lain. Jika 15 pengusaha besar mengirimkan 7 ton kopi ke Lampung, artinya, sebanyak 105 ton kopi pagar alam mengalir ke Lampung dalam satu hari.

"Ini memang masalah kami, kopi dari Pagar Alam banyak dijual ke Lampung dengan cap 'kopi lampung'," papar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Saidi Amrullah kepada Beritagar.id (8/11/2017). Kondisi inilah yang kemudian membuat kopi Pagar Alam tenggelam.

Secara terpisah, hal ini juga diamini oleh pencicip kopi profesional (Q-Grader) tersertifikasi Adi W. Taroepratjeka. Ia mengatakan, agar kopi dari Pagar Alam lepas dari bayang-bayang cap 'kopi lampung' perlu penanganan yang serius terkait kualitas produksinya.

"Sebenarnya, kopi Pagar Alam punya potensi, namun bila tidak ada niatan untuk memperbaiki kualitas, hanya akan dikenal sebagai bagian dari 'kopi lampung'," terang Adi kepada Beritagar.id (27/10/2017).

Produk kopi hasil pengolahan kelompok usaha kecil menengah dipajang di hotel, tempat wisata, dan toko.
Produk kopi hasil pengolahan kelompok usaha kecil menengah dipajang di hotel, tempat wisata, dan toko.
© Firmansyah /Beritagar.id

Manto, juragan kopi skala kecil yang mempekerjakan tiga orang karyawan, menyebutkan setiap hari ia menjual kopi petani ke Lampung. Di Lampung, kopi pagar alam bercampur dengan kopi bengkulu, kopi jambi, dan kopi lahat yang kemudian diolah lagi secara modern.

Hasil olahan campuran kopi dari berbagai daerah di Sumatera Selatan ini kemudian diekspor ke Arab Saudi, Amerika Serikat, Kairo dengan dilabeli kopi asal Lampung.

Sebagai pengusaha kecil, Manto berharap pemerintah dapat membuka keran ekspor kopi langsung dari Pagar Alam ke beberapa negara importir kopi. Cara ini, menurut Manto, dapat meningkatkan harga jual kopi yang jauh lebih tinggi.

"Kalau pemerintah bisa buka keran ekspor kami petani dan tauke tentu akan senang karena harga pasti jauh lebih tinggi ketimbang harus jual ke Lampung," ujar Manto menjelaskan.

Pemkot Pagar Alam saat ini sedang menyiapkan koperasi untuk menampung hasil kopi petani untuk langsung dijual ke luar negeri atau ekspor. Sementara itu, kopi kemasan produk UKM diakui Saidi sudah ada, namun masih dalam jumlah terbatas.

Menggaungkan nama kopi pagar alam

Dewan Pertimbangan Tetap, Asosiasi Kamar Dagang Kopi Pagar Alam (Asdinkopa), Eko Sujianto, mengisahkan kopi memiliki cerita panjang di Pagar Alam. Wilayah Pagar Alam ujarnya, 60 persen merupakan perkebunan kopi.

Infrastruktur jalan menuju perkebunan yang sudah baik dengan kondisi diaspal tidak serta merta dapat memberikan untung besar kepada petani. Dengan luas kepemilikan kebun rata-rata per petani satu hingga 10 hektare, rasanya bukan hal mustahil bagi mereka untuk bisa mendapat untung besar dari lahannya.

Namun faktanya, petani kopi di Pagar Alam, menurut Eko, masih terbelenggu kemiskinan. Jika pada musim panen seharusnya petani bisa meraup untung setelah penantian panjang, namun nyatanya yang sering terjadi adalah harga kopi mengalami penurunan.

Nahas, ketika masuk musim panen para petani harus menerima harga kopi di kisaran Rp18 ribu per kilogram, sedangkan harga normalnya berkisar antara Rp22 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram.

Selain dipermainkan dari sisi harga, menurut Eko, saat ini petani juga belum maksimal melakukan perawatan perkebunan kopi secara baik, seperti pengaturan jarak tanam, perawatan batang, perawatan ranting, dan pembersihan rumput. Semua aspek harus diperbaiki agar kopi menghasilkan panen maksimal.

Kurang terawatnya kebun kopi yang dilakukan oleh petani tentu saja menghasilkan produksi yang minim, belum lagi musim hujan berkepanjangan mengakibatkan hasil panen terus berkurang tiap tahun. "Kebun kopi jarang dirawat, kalaupun dirawat sekadar dilihat agar batang kopi tidak lari saja dari kebun," ujarnya berkelakar.

Eko menegaskan Pagar Alam harus melakukan revolusi penanaman dan pengelolaan kopi dengan cara meninggalkan kebiasaan penggunaan pestisida, panen hanya dilakukan untuk kopi merah, pengolahan kopi bubuk berstandar internasional, pengemasan, hingga membangun akses pasar.

"Selama pola tanamnya masih sebagai tanaman komersial, dengan tingkat cacat yang masih tinggi, rasa kopi pagar alam pasti akan tersamar sehingga susah dibedakan dari robusta daerah lain. Selain itu, harus ada juga yang berani memperbaiki pascapanen dan melakukan diferensiasi produk," ungkap Adi ketika ditanya kemungkinan apakah kopi pagar alam bisa berdiri sendiri tanpa bayang-bayang 'kopi lampung'.

Adi menambahkan, mestinya petani kopi Pagar Alam bisa belajar lewat kasus kopi dari Kepahiyang Bengkulu, yang lokasinya di seberang gunung. Saat ini kopi itu, menurut Adi, mulai memiliki reputasi bagus karena diolah dengan lebih baik.

Petani menjual kopi ke pengumpul
Petani menjual kopi ke pengumpul
© Firmansyah /Beritagar.id

Menghadapi kondisi demikian, menurut Eko, saat ini Asosiasi Kamar Dagang Kopi Pagar Alam sedang melakukan pendampingan terhadap 9 kelompok tani dengan anggota 45 orang per kelompok.

Pendampingan dimulai dari pemberlakuan tanaman hingga akses pasar berstandar internasional. Hasil pendampingan Asosiasi Kamar Dagang Kopi Pagar Alam secara intensif dan terukur membuahkan tiga perusahaan kopi berkelas internasional membeli hasil panen kopi petani itu.

"Ada tiga perusahaan kopi kelas internasional yang membeli hasil kopi petani dampingan kita. Setiap bulan dua ton kopi petani mereka beli dengan harga tinggi," paparnya. Eko mengklaim, petani kopi binaannya kini menjadi pemasok untuk Excelso, Starbucks, dan Kopi Tiam.

Kebijakan pemerintah kota

Terkait dalam usaha menjamin harga kopi petani di Pagar Alam, Saidi Amrullah mengatakan, Pemkot Pagar Alam melakukan sejumlah terobosan, seperti menyediakan Sistem Resi Gudang dan memangkas sistem perizinan usaha.

Sistem Resi Gudang (SRG) digunakan untuk menampung panen kopi petani yang berkualitas. Petani dapat menitipkan hasil panen di SRG dengan harga terkendali. Kopi yang masuk ke SRG merupakan kopi terbaik setelah melewati uji mutu.

"Jadi, kalau harga sedang tinggi, petani bisa menjual kopi yang dititipkan ke mana saja," jelasnya.

Dari sisi dukungan pendanaan dan modal program SRG didukung oleh Bank Sumsel, Business Development Center (BDC), dan koperasi setempat yang bisa membuat petani lebih mudah mendapatkan akses pinjaman.

Menurut Saidi Amrullah, petani yang menitipkan kopi di SRG bisa mengakses pinjaman ke Bank Sumsel dengan bunga 0,5 persen per bulan. Acuan pinjaman yang digunakan adalah resi gudang yang terkoneksi ke Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bapeti).

Pemerintah Kota Pagar Alam juga menerapkan kebijakan lain yang dapat mendongkrak pertumbuhan UKM. Keberadaan UKM diperlukan untuk mewadahi pengolahan dan pengemasan kopi.

Kepala Bidang Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Pemerintah Kota Pagar Alam, Haidir Ramli menyebutkan terdapat 1.651 kelompok UKM di daerah itu yang bergerak di berbagai usaha dan jasa.

"Mayoritas masih aktif dan menyerap tenaga kerja minimal tiga orang per UKM. Sebagian besar bergerak di sektor jasa termasuk pengelolaan kopi," kata Haidir Ramli.

Menurut Haidir Ramli, sejak pemerintah daerah Kota Pagar Alam memberlakukan pelayanan perizinan terpadu, pertumbuhan usaha kecil di Pagar Alam mulai menggeliat.

Dalam perhitungan Lokadata, Beritagar.id untuk pemeringkatan "Kota Pilihan" 2017, untuk persentase penduduk berusaha sendiri, lebih dari enam belas persen penduduk Kota Pagar Alam berstatus sebagai pengusaha.

Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan Kota Gunungsitoli, Kota Baubau, dan kota lainnya secara persentase. Oleh karena itulah, Pagar Alam keluar sebagai pemenang untuk kategori Kota Juragan.

Dari jumlah pengusaha yang ada saat ini, bukan tidak mungkin juga kalau angka ini akan terus meningkat bila diikuti langkah nyata dan perbaikan sistem regulasi oleh Pemerintah Kota Pagar Alam dalam menumbuhkan iklim usaha.

"Kalau dahulu perizinan harus melibatkan banyak dinas, namun saat ini urusan perizinan cukup dilakukan di satu instansi, yakni Dinas Perizinan dan Tenaga Kerja," ungkapnya.

ARTIKEL TERKAIT

Di bawah kuasa televisi

Di bawah kuasa televisi

Adakah senja kala media cetak dan radio? Bisa jadi, meski keduanya tetap menjadi pilihan masyarakat Indonesia. Keberadaan radio dan media cetak senantiasa ada di bawah bayang-bayang televisi.

Tiongkok hari ini, Jepang masa lalu

Tiongkok hari ini, Jepang masa lalu

Zaman dan rezim berubah, nilai impor Tiongkok ke Indonesia saat ini seperti membalik nilai impor Jepang 29 tahun silam.

Dongeng dari negeri agraris

Dongeng dari negeri agraris

Label negara agraris bukan sekadar julukan. Pertanian pernah jadi motor penting perekonomian Indonesia. Kini, generasi muda mulai terjun dalam pertanian dengan berbagai inovasi. Semoga gelar negeri agraris tak jadi dongeng.

Menghamba pada batu bara

Menghamba pada batu bara

Walau dianggap sumber energi fosil paling nista dan mematikan, jumlahnya melimpah dan murah ketimbang sumber energi lain. Nahasnya, hampir seluruh negara dunia masih menghamba pada batu bara.

40 Kali Jakarta-Makkah

40 Kali Jakarta-Makkah

Setelah 74 tahun merdeka, negara punya jalan aspal setara 40 kali jarak Jakarta–Makkah. Atau 20 kali jarak Jakarta–New York. Atau delapan kali keliling bumi.

Rapor merah tamatan sekolah

Rapor merah tamatan sekolah

Ada 4,4 persen penduduk di atas 15 tahun tidak atau belum bersekolah, meskipun trennya terus menurun dari tahun ke tahun.