Pedagang buku di Palasari Bandung sedang menunggu kiosnya, Selasa (2/7/2019).
Pedagang buku di Palasari Bandung sedang menunggu kiosnya, Selasa (2/7/2019). Anwar Siswadi
BUKU

Pamor redup legenda pasar buku Palasari Bandung

Upaya bertahan di zaman digital telah mereka lakoni sejak tiga tahun lalu. Sebagian penjual buku Palasari ramai-ramai berjualan secara online.

Ahmad menenteng keresek hitam. Isinya enam buku baru untuk anaknya yang naik kelas IV Sekolah Dasar. Buku pelajaran tematik keluaran pemerintah itu ditebusnya seharga Rp75 ribu. Tanpa tahu ada korting atau tidak, paket buku itu dinilainya murah.

Selasa siang itu (2/7/2019) ia rela menempuh jarak hampir 80 kilometer pulang pergi. Dengan sepeda motornya ia berangkat dari Ciwidey ke Pasar Buku Palasari, Bandung. "Nggak apa-apa yang penting bukunya dapat," kata lelaki berkacamata itu.

Sebenarnya ia bisa mencari ke toko buku di daerah Soreang yang dekat dari rumah. Tapi ketidakpastian stok bukunya membuat ia harus melancong ke Palasari. "Kalau di sini pasti ada," ujarnya.

Palasari selalu menjadi tujuan warga Bandung dan sekitarnya untuk berburu buku baru maupun bekas. Kawasan ini telah menjadi "legenda" bagi pemburu buku. Beragam genre buku tersedia di kawasan ini dengan harga yang relatif murah.

Palasari awalnya merupakan pasar Inpres yang menjadi tempat relokasi pedagang buku kaki lima di Cikapundung, dekat alun-alun Bandung pada 1980. Di sana mereka menempati lantai dua pasar Inpres yang kosong. "Lantai bawahnya pedagang bahan makanan," ujar seorang pedagang lama.

Saat popularitasnya melejit, pada 1993 terjadi kebakaran besar. Los buku tinggal abu. Bangunan pasar pun dirobohkan. Pemerintah menempatkan pedagang di area parkir pasar sebagai tempat usaha sementara, dan berlanjut sampai sekarang.

Bangkit lagi, para pedagang beralih dari buku antik ke buku-buku pelajaran sekolah dengan harga miring. Namun kebakaran selalu mengintai. Api kembali melumat 60-an kios pada Jumat dinihari, 24 Agustus 2007. "Dari tengah pasar ke utara," ujar seorang pedagang.

Palasari kian berkembang hingga 400 kios buku. Palasarionline bahkan mengklaim sebagai bursa buku murah dan terbesar di Indonesia. Lokasi bangunan itu berada di area parkir belakang los pasar buku sekarang.

Buka setiap hari, pedagang buku membuka kiosnya sejak matahari terbit hingga selewat tenggelam. Selain kendaraan pribadi, ada dua trayek angkutan kota melintasi jalan Palasari. Armada berwarna kuning-hijau rute Ciroyom-Cikudapateuh, serta jurusan Cicaheum-Kebon Kalapa bercat hijau.

Pasar Buku legendaris di Jalan Palasari Bandung berdiri di lahan pemerintah sejak 1980-an, Selasa (2/7/2019).
Pasar Buku legendaris di Jalan Palasari Bandung berdiri di lahan pemerintah sejak 1980-an, Selasa (2/7/2019). | Anwar Siswadi

Penjualan turun

Menjelang tahun ajaran baru sekolah dan kuliah, para pencari buku berseliweran di Pasar Buku Palasari. "Cari buku apa?" Sapaan klasik dari para pedagang di tiap kios itu selalu rajin menyambut. Meski tak berbalas, mereka sudah kebal dengan pelintas yang cuek.

Masalah besar pedagang buku bukan itu. "Penjualan buku tahun ini nyungsep," kata Aceng. Kondisi terparah dirasakannya sejak awal hingga medio 2019 ini. Ada dugaan karena dampak rangkaian puasa, Lebaran, Pemilihan Umum, hingga persiapan sekolah yang menguras kantong warga.

Namun pedagang yang membuka kiosnya sejak 1997 itu menampik. Indikasi menurunnya pembeli buku itu dirasakannya sudah terasa sejak 2011.

Siang itu beberapa orang masih mampir di kiosnya yang berada di depan, menghadap langsung Jalan Palasari. "Ada buku dampak perceraian terhadap anak?" tanya seorang perempuan. "Nggak ada, hukum perceraian sih ada," timpal Aceng.

Setelah itu tiga orang mahasiswa datang bergantian. Mereka menunjukkan sampul sebuah buku teknik lewat layar smartphone, juga contoh buku keperawatan. Seorang mahasiswa lainnya menanyakan buku tentang pertanian. Aceng tak punya barangnya. "Bukunya bagus tapi sudah lama nggak terbit."

Pemasukannya hari itu berasal dari seorang dosen langganan. Ia dan mitranya telah menyiapkan 18 eksemplar buku berjudul Pengantar Pasar Modal karya Irham Fahmi. Mahasiswa berdatangan mengambilnya seraya membayar. "Nggak didiskon Kang?" tanya seorang mahasiswi. Aceng menjawab sudah.

Korting selalu berlaku di setiap transaksi. Kisarannya 20-35 persen dari tempat lain. Ada kerjasama langsung penerbit dan pedagang buku selama ini. Hingga citra Palasari sebagai pusat buku murah terbentuk langgeng.

Ragam bukunya beragam, dari yang baru, best seller, juga kitab antik. Jenisnya dari buku sekolah, kuliah, agama, cabang keilmuan, pengetahuan umum, dan minat khusus. Kedatangan dan kebutuhan buku pembeli membuat pedagang mengelompokkan sendiri koleksi bukunya. Seperti buku sejarah, filsafat, agama.

Ajaibnya, para pedagang hafal judul-judul buku di kiosnya walau tidak semua dibaca, plus harganya. Pun para calo yang dulu berkeliaran, seolah-olah pedagang buku asli. Mereka ikut mencarikan buku dan bertransaksi langsung dengan pembeli yang tak menyangka sedang dilayani makelar. Penjual buku yang tahu praktik itu hanya peduli; para calo membayar buku sesuai harganya.

Pasar buku ini berbentuk rumah besar panjang atau los. Dari nomor plang nama kios diketahui jumlahnya lebih dari 200 unit. Ukuran standard per kios aslinya 1,5 x 2 meter. Sebagian pedagang memiliki kios yang lebih jembar dari hasil penyatuan dua unit.

Rangka dan sekat kios berbahan kayu. Penutupnya rolling door vertikal. Umumnya berwarna kelabu. Deretan kios di bagian depan menghadap ke jalan. Sementara posisi kios buku di dalam pasar saling berhadapan.

Aksesnya membentuk lorong panjang gang sempit selebar satu meter. Ruangnya ada yang terpangkas meja tempat melapis sampul buku dengan plastik, kursi, dan kadang pembeli yang bergerombol di suatu kios.

Sorot matahari yang terhalang atap pasar digantikan lampu. Namun suasana muram masih tercipta. Tumpukan buku yang berbaris rapi di rak maupun di muka kios tak lagi sebanding dengan jumlah pembeli. "Minat baca juga kan turun," ujar Aceng. Beberapa pedagang lain mengatakan hal serupa.

Faktor lain merosotnya pembeli menurut mereka juga terkait teknologi. Buku impor atau lokal kian mudah diakses atau dibeli dalam bentuk e-book. Kebijakan pemerintah terbaru juga membatasi transaksi yang dulu bebas dengan pihak sekolah. "Kami harus punya surat izin usaha," ujar Aceng.

Bertahan di era digital

Upaya bertahan di zaman digital telah mereka lakoni sejak tiga tahun lalu. Sebagian penjual buku Palasari ramai-ramai berjualan secara online. Mereka membuka lapak di dunia maya. Ribuan sampul buku di los mereka foto satu per satu sambil menunggu pembeli, lalu diunggah bersama harganya.

Informasi buku itu mereka titipkan di marketplace atau website sendiri. Ahmad Rafi misalnya membuka lewat Palasarionline. Awalnya ada yang sempat hampir rugi karena ongkos kirim luput masuk hitungan, namun toko buku online tetap dipertahankan. Hasilnya beragam. Ada pedagang yang mengaku hasil penjualannya lumayan, ada juga yang tidak mendongkrak omzet.

Masa keemasan pasar buku itu telah lewat dua dekade silam. Di era 1990-an, para pembeli datang langsung dari penjuru negeri. Kerjasama dengan pedagang juga penerbit buku di kota lain seperti Yogyakarta terjalin. Enaknya, sistem jualan bukunya masih bisa konsinyasi atau baru dibayar pedagang setelah terjual.

Partai buku yang besar misalnya pesanan bank untuk mengisi perpustakaan kantor, kiriman Al-Quran hasil orderan dari para donatur, juga buku-buku pelajaran ke sekolah. Selain itu, penulis baru yang belum punya nama ikut menitipkan karyanya. Minimal sebanyak 25 eksemplar.

Tak hanya gempuran produk digital, keberadaan toko buku indie pun harus menghadapi soal klasik, yaitu minat baca.

Penelitian Central Connecticut State University (CCSU) tentang ranking tingkat literasi negara-negara di dunia (World's Most Literate Nations Ranked) yang dirilis tahun 2016, Indonesia berada pada ranking 60 dari 61 negara.

Minat baca masyarakat Indonesia yang rendah itu beriring dengan tren penjualan toko buku yang terus menurun. Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) mengunggah data riset 2015.

Jumlah eksemplar penjualan toko buku menurun dari tahun 2013 ke 2014. Pada 2013 ada 69,776 juta eksemplar yang terjual dan pada 2014 ada 62,656 juta eksemplar yang terjual.

Di Indonesia diketahui rata-rata hanya sekitar 50 ribu buku terbit tiap tahun. Bandingkan dengan jumlah penduduk sebesar 264 juta per 2017.

Berdasarkan data direktori penerbit buku pada laman Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menunjukkan 90 persen dari seluruh penerbit (264 penerbit) berada di pulau Jawa.

Perpusnas mencatat ada 690 penerbit di seluruh Indonesia. Data ini berbeda dengan versi Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Dalam situsnya, IKAPI mencatatkan ada 1.506 penerbit di seluruh Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR