Teknisi pesawat dari Garuda Maintenance Facility (GMF) melakukan perawatan dan perbaikan mesin pesawat City link di Hanggar GMF Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (26/5/2019). Dengan dilakukannya perawatan rutin seluruh pesawat dan laik terbang, maskapai Garuda Group siap untuk mengantarkan para pemudik ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran.
Teknisi pesawat dari Garuda Maintenance Facility (GMF) melakukan perawatan dan perbaikan mesin pesawat City link di Hanggar GMF Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (26/5/2019). Dengan dilakukannya perawatan rutin seluruh pesawat dan laik terbang, maskapai Garuda Group siap untuk mengantarkan para pemudik ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran. Muhammad Iqbal / Antara Foto
LEBARAN 2019

Pangkas keterlambatan penerbangan atau sanksi sosial menunggu

Sriwijaya Air dan Aisrasia Indonesia dua maskapai dengan tingkat OTP buruk. Sedangkan tiga bandara menjadi raja telat. Ujung-ujungnya, pihak maskapai yang kena timpuk.

Jelang libur lebaran 2019 tiba pada awal Juni ini, satu kabar bagus datang ke meja manajemen Lion Air. Untuk kali pertama dalam tiga tahun terakhir, maskapai berlogo Singa Oranye itu membukukan catatan apik dalam hal on-time performance (OTP).

Sebelumnya, pada kuartal pertama dua tahun terakhir, catatan ketepatan waktu Lion Air tak pernah lebih dari angka 66 persen, yakni 64,6 persen di 2017 dan 65,3 persen di 2018. Catatan itu dibukukan dalam rerata jumlah penerbangan sekira 49.200.

Namun, untuk saat ini, catatan OTP mereka di dalam periode sama berubah cukup drastis, mencapai 85,7 persen. Artinya, hanya 14,3 persen saja Lion Air mengalami delay dalam kuartal pertama tahun ini.

Angka tersebut tentu menjadi modal apik bagi Lion Air demi menghadapi libur lebaran 2019. Setidaknya hal itu diungkapkan oleh Corporate Communications Strategic Lion Air, Danang Mandala Prihantoro.

"Ini tantangan bagi kami untuk mempertahankan kinerja ke level ketepatan waktu," kata Danang kepada Beritagar.id, Senin (27/5/2019).

Tantangan, sepertinya menjadi kata yang tepat. Pasalnya, konsistensi Lion Air dalam menghadapi libur lebaran masih memiliki kabar kurang sedap. Itu yang dicatat Official Airlines Guide (OAG), sebuah lembaga konsultan penerbangan asal Inggris.

Pada musim lebaran tahun lalu, Mei-Juni, Lion Air tak masuk dalam sekitar 380 maskapai dengan catatan OTP terbaik versi OAG. Pun, pada 2017, catatan keterlambatan mereka terhitung tinggi.

Dari sekitar 19.000 penerbangan pada periode Mei 2017, 31,30 persen di antaranya mengalami keterlembatan. Catatan tersebut membaik jelang libur lebaran yang jatuh pada 25 Juni, dengan tingkat keterlambatan "hanya" 18,40 persen.

Sekadar catatan, OTP bukanlah dalam pengertian delay yang jamak dimengerti banyak masyarakat Indonesia. OAG membagi OTP ke dalam dua kategori.

Pertama, OTP keberangkatan (take off pesawat) dengan penilaian kepada bandara. Kedua, OTP kedatangan (arrival), dengan penilaian kepada maskapai. Semakin besar persentasenya, semakin tinggi jumlah keterlambatan.

OAG mengukur ketepatan maskapai dalam bentuk OTP sebagai pesawat yang tiba atau berangkat dalam waktu kurang dari 15 menit dari jadwal.

"Kami optimistis mampu meningkatkan layanan dari OTP ini. Kami selalu berkoordinasi dan komunikasi sesuai standar operasional prosedur bersama pihak terkait," kata Danang.

Sebenarnya catatan keterlambatan Lion Air ini bukanlah yang terburuk dari tujuh maskapai Indonesia yang terdaftar di OAG pada musim lebaran tiga tahun terakhir. Setidaknya, ada empat maskapai lain yang membukukan keterlambatan lebih parah.

Keempat maskapai tersebut ialah Sriwijaya Air, Airasia Indonesia, Airasia Indonesia X, dan Garuda Indonesia. Untuk dua nama yang disebut pertama, memiliki performa keterlambatan terparah.

Pada libur lebaran tahun lalu, catatan keterlembatan Sriwijaya Air berada di angka 42,8 persen dari total 8.163 penerbangan dalam periode tersebut. Artinya, hampir 4.000 penerbangan Sriwijaya pada Juni 2018 menglami keterlambatan kedatangan.

Setali tiga uang dengan Sriwijaya Air, Airasia Indonesia juga cukup buruk soal OTP. Sepanjang Juni 2018, hanya 60,1 persen saja penerbangan yang membukukan catatan waktu tepat. Sedangkan 39,9 persen lainnya, telat.

Beritagar.id mencoba menghubungi pihak Airasia Indonesia untuk mengetahui strategi mereka dalam memperbaiki catatan OTP tadi. Namun, permintaan wawancara kami kepada CEO Airasia Indonesia, Dendy Kurniawan, akhir bulan lalu belum mendapat respons.

Persentase keterlambatan maskapai dan bandara dalam tiga tahun terakhir.
Persentase keterlambatan maskapai dan bandara dalam tiga tahun terakhir. | Danil Aufa /untuk Beritagar.id

Di sisi lain, Garuda Indonesia juga memiliki catatan OTP yang tak bagus-bagus amat. Dalam catatan OAG, sepanjang libur lebaran 2016 dan 2017, catatan OTP terbaik maskapai plat merah itu hanya berada di angka 74,6 persen, yakni Juni 2016.

Sedangkan pada Juli 2016, Mei dan juni 2017, catatan OTP terbaiknya mentok di angka 69,2 persen (lihat data di atas). Beruntung, pada libur lebaran 2018 catatan OTP mereka membaik, dengan "hanya" 12 persen keterlambatan Mei 2018 dan 13 persen di bulan selanjutnya.

Toh, membaiknya catatan waktu tersebut tak membuat mereka puas. Untuk libur lebaran tahun ini, Garuda Indonesia Group menargetkan dapat meraih rata-rata tingkat ketepatan waktu terbang hingga 90 persen.

"Guna merealisasikan target itu, kami mengatur semua kru baik di kabin maupun darat agar tetap terhubung dan mendapatkan informasi akurat. Selain itu, dibutuhkan sistem penjadwalan yang ketat dan termonitor," ucap VP Corporate Secretary Garuda Indonesia, M. Ikhsan Rosan kepada Beritagar.id via WA, Selasa (28/5/2019).

Menghadapi banyaknya catatan negatif OTP maskapai tersebut, sepertinya Direktorat Jenderal Perhubungan Udara pada Kementerian Perhubungan RI, merasa yakin level keterlambatan bakal terpangkas.

Musababnya, dalam kuartal pertama 2019, rerata OTP maskapai di Indonesia meningkat, dari 78,88 persen di 2018, menjadi 86,29 persen. Meningkatnya catatan OTP tersebut, disinyalir sejumlah kalangan, disebabkan mahalnya harga tiket pesawat beberapa bulan terakhir.

Namun, "pengawas lalu lintas udara" itu yakin, turunnya Tarif Batas Atas (TBA) per pertengahan Mei ini tak akan memengaruhi OTP pesawat.

Pasalnya, menurut Dirjen Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti, ada korelasi antara TBA dengan OTP. Salah satu komponen biata yang dapat memberikan kontribusi terhadap penurunan TBA adalah efektivitas operasional pesawat di bandara.

"Dengan peningkatan OTP, dapat memberikan kontribusi terhadap efisiensi pengoperasian pesawat udara," ucap Polana kepada wartawan, termasuk Beritagar.id, pada pertengahan bulan lalu.

Senada dengan pemerintah, pengamat penerbangan nasional, Alvin Lie, melihat catatan waktu ketepatan maskapai di Indonesia membaik dari waktu ke waktu. Hal ini, kata Alvin, bisa dilihat dari catatan keterlambatan kedatangan tiap maskapai, yakni hanya sekitar 30 persen.

Ini modal bagus, menurut Alvin. Namun, ada catatan mengapa tiap maskapai mampu mencapai angka tersebut. Alvin mengatakan, biasanya tiap perusahaan memperpanjang jangka waktu penerbangan.

Jadi, misal dari Jakarta hingga ke Yogyakarta bisa ditempuh 40 menit. Nantinya tiap maskapai akan menulis lebih dari sejam. "Hal ini dilakukan agar tiap maskapai mampu memenuhi ketentuan OTP," kata Alvin kepada Beritagar.id.

Namun, Avin memahami mengapa tiap perusahaan penerbangan melakukan langkah demikian. Musababnya, dalam beberapa tahun terakhir, jumlah permintaan pesawat terbang melonjak drastis. "Kepadatan traffic di beberapa bandara memang memengaruhi OTP," katanya.

Penumpang mengambil bagasi di Bandara Adisutjipto, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (28/5/2019). Bandara tersebut merupakan salah satu bandara dengan jumlah PT Angkasa Pura I (Persero) memprediksi jumlah penumpang mudik Lebaran 2019 di Bandara Adisutjipto Yogyakarta yang menggunakan angkutan udara akan mengalami penurunan 19,7 persen dibandingkan tahun 2018.
Penumpang mengambil bagasi di Bandara Adisutjipto, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (28/5/2019). Bandara tersebut merupakan salah satu bandara dengan jumlah PT Angkasa Pura I (Persero) memprediksi jumlah penumpang mudik Lebaran 2019 di Bandara Adisutjipto Yogyakarta yang menggunakan angkutan udara akan mengalami penurunan 19,7 persen dibandingkan tahun 2018. |

Tiga bandara raja telat

OTP bukan soal maskapai saja sejatinya. Seperti yang telah disebut di atas, soal keterlambatan waktu penerbangan, tanggung jawab bukan berada di tangan maskapai. Akan tetapi, lebih kepada bandara.

Untuk hal terakhir ini, ada tiga bandara yang sepertinya laik mendapuk sebagai raja telat. Ketiganya adalah Bandara Soekarno-Hatta (Jakarta), Bandara Adisutjipto (Yogyakarta), dan Bandara Husein Sastranegara (Bandung, Jawa Barat).

Dalam tiga tahun terakhir, 2016-2018, ketiga bandara tersebut selalu nyantol di lima besar bandara yang paling sering telat. Jika lebih dikerucutkan lagi, Adisutjipto menjadi yang teratas, dengan dua kali menduduki peringkat, yakni pada 2016 dan 2017.

Tiga tahun lalu, sebanyak 1.038 dari total 2.157 (48,10 persen) penerbangan dari Bandara Adisutjipto mengalami keterlambatan saat musim lebaran. Setahun berselang, angkanya semakin parah dengan membukukan 54 persen keterlambatan dari 2.651 penerbangan.

Catatan tersebut membaik pada 2018, di mana "hanya" 40 persen Adisutjipto membuat keterlambatan penerbangan. Dan tahun ini, bisa jadi angka tersebut semakin membaik. Pasalnya, Bandara Yogyakarta International Airport di Kulon Progo, Yogyakarta, sudah mulai beroperasi, sehingga beban Adisutjipto terdistribusi.

Menurut Alvin, soal keterlambatan bandara disebabkan banyak hal. Mulai dari perilaku penumpang, cuaca, hingga kepadatan lalu lintas bandara. Pun, masa libur seperti lebaran atau Natal dan akhir tahun, menjadi penyebab lain mengapa tidak sedikit bandara sulit meraih OTP.

"Biasanya di waktu-waktu libur, permintaan naik. Hal ini membuat tiap maskapai mengambil kebijakan extra flight. Inilah yang membuat lalu lintas di bandara utama semakin padat," kata Alvin.

Momen liburan yang panjang memang kerap dimanfaatkan para maskapai untuk membuat kebijakan extra flight. Namun, Alvin mengingatkan bahwa mereka juga harus memperhatikan performa OTP.

Memang, menurut Alvin, tidak ada sanksi dari pemerintah terhadap perusahaan penerbangan yang kerap melakukan keterlambatan. Akan tetapi, hukuman akan datang dari masyarakat.

"Jadi memang keterlembatan ini bakal memberi sanksi sosial kepada maskapai. Entah akan dikritik di media sosial, akan ditinggalkan penumpang ke depannya, dan lain-lain," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR