Landmark Kota Cilegon yang berada di pusat Kota, menjadi simbol kota industri. © Edo Dwi / Beritagar.id Pagar Alam dalam bayang-bayang kopi lampung
KOTA PARA PELANCONG CILEGON

Para pelancong dari Kota Baja

Untuk aktivitas berlibur bersama keluarga, ada di antara mereka menganggarkan tiga juta rupiah per bulan.

Kini, aktivitas pelesiran bukan lagi hal yang mewah. Unggahan foto dan video yang memuat lokasi dan tujuan vakansi di sosial media masyarakat Indonesia menunjukkan tingginya aktivitas itu. Belum lagi dengan maraknya topik liburan dan jalan-jalan yang hampir ada dalam acara televisi nasional.

Terlepas dari fenomena tersebut, terkadang memberikan waktu kepada diri sendiri untuk sejenak berjarak dengan rutinitas harian juga memang dibutuhkan untuk menghindari perasaan tertekan. Pun tak dapat dipungkiri bahwa pelesiran kerap membuat hidup terasa lebih segar setelahnya.

Tren berpelesir seperti ini juga ternyata hinggap dan menjadi bagian dari gaya hidup warga Kota Cilegon saat ini. Selain untuk menghilangkan penat setelah sepekan bekerja di kantor, melancong juga menjadi sarana hiburan bagi warga kota industri ini. Maklum, kesibukan warga kota yang dijuluki Kota Baja ini membuat warga mereka tak dapat menghindari ancaman stres.

Dalam perhitungan yang dilakukan Lokadata, Beritagar.id untuk ajang "Kota Pilihan" 2017 dengan sumber data mikro Survei Ekonomi Nasional (Susenas) BPS 2016, warga Kota Cilegon paling banyak berlibur dibandingkan dengan kota lain. Kemudian diikuti oleh Kota Payakumbuh, Kota Pasuruan, Kota Mojokerto, dan kota lainnya (untuk detail lihat dalam tabel).

Tingginya gejala melancong di Cilegon tersebut bisa disaksikan pada akhir pekan. Rata-rata, warga lebih memilih untuk keluar rumah pada hari Sabtu dan Minggu, baik untuk sekadar berbelanja ataupun keluar kota.

Saat Beritagar.id mengunjungi beberapa perumahan di Kota Cilegon misalnya, suasana lengang terlihat di Metro Cilegon, Jalan Kapten Piere Tendean, Panggung Rawi, Kec. Jombang, Kota Cilegon, Banten. Hanya asisten rumah tangga yang terlihat sedang membersihkan halaman rumah.

Untuk menangkap fenomena melancong di Cilegon, kami pun menemui beberapa warga yang memang rutin dan sengaja menyisihkan waktu serta dana untuk bepergian.

Anyer, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta adalah kota yang menjadi tujuan berlibur favorit sebagian warga Cilegon. Yuli Astuti (32), salah satu karyawan di perusahaan swasta di kawasan Industri Cilegon mengaku punya agenda khusus untuk liburan bersama keluarga.

Yuli warga Metro, Cilegon, Banten mengaku, biasanya dalam sebulan rata-rata ia dua kali menghabiskan waktu melancong keluar kota bersama keluarga. Artinya, dalam satu tahun setidaknya keluarga ini menikmati 24 kali liburan keluarga.

Bandung dan Jakarta menjadi tujuan liburan favorit keluarga Yuli. Sederhana alasannya, "ongkos liburan di dua tempat tersebut relatif murah," katanya. Luar kota selalu menjadi sasaran liburan keluarganya, karena ibu satu anak ini ingin mengajak anaknya keluar dan memiliki waktu berkualitas bersama keluarga setelah lima hari berkutat di kantor.

"Kalau ke Bandung biasanya kita Jumat sore sudah berangkat. Minggu siang kita pulang lagi ke Cilegon supaya tidak terlalu malam sampai," ujarnya. Saat ke Bandung, Yuli tak pernah absen untuk mampir ke Lembang.

Tak sekadar berkeliling di sekitar Bandung dan Jakarta, sesekali Yuli pun singgah ke luar negeri. Namun untuk urusan yang satu ini, ia tak memungkiri bahwa lebih sering untuk urusan pekerjaan. "Biasanya kalau ke luar negeri ada sponsorship," tukasnya.

Senada dengan Yuli, beberapa warga Cilegon lain yang kami temui juga mengaku memiliki frekuensi bepergian yang tinggi, Muhammad Rois Rinaldi (29), warga Jalan haji Abdullah, Kelurahan Citangkil, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, salah satunya.

Rois mengaku tak kurang dari 20 kali perjalanan ia lakukan dalam kurun waktu setahun, baik untuk destinasi domestik maupun internasional. "Kalau ke luar (negeri) aku paling sering ke Singapura dan Malaysia. Selebihnya perjalanan domestik di Pulau Jawa," ujar lelaki yang aktif di Dewan Kesenian Kota Cilegon ini. Setidaknya dari 80 persen perjalanan yang dilakukan didapat Rois secara cuma-cuma.

Namun, sekali waktu Rois mengatakan ada juga perjalanan yang dibiayai dari kantong pribadi. Ia lebih sering mengunjungi museum dan perpustakaan di luar kota. "Tujuan lebih didominasi kegiatan sastra aja. Kalau di luar kegiatan saya paling ke museum-museum bersejarah dan perpustakaan," ujarnya.

Rois mengatakan perjalanan yang sering ia lakukan lebih pada napak tilas sejarah. Tidak ada alokasi khusus pembiayaan untuk perjalanan pribadi. "Kalau ada uang jalan, kalau nggak ada ya lebih baik di rumah saja," tuturnya. Setidaknya, ia harus menyisihkan Rp1 juta untuk sekali jalan.

Berbeda dengan Rois yang lebih sering menikmati bepergian gratis, Yuli mengaku untuk kegiatan liburannya bersama keluarga, ia sengaja menyisihkan dari uang tunjangan yang ia dan suaminya dapatkan. "Kalau untuk bujet trip saya nggak pakai gaji pokok, pakai tunjangan yang lain. Kebetulan suami juga ada tunjangan jabatan. Biasanya sekali jalan kami memerlukan Rp3 juta untuk biaya penginapan dan makan," ujarnya.

Jika ditaksir, dari 24 kali perjalanan yang ia lakukan dalam setahun, setidaknya Yuli dan suami harus menyisihkan anggaran Rp72 juta hanya untuk liburan.

Alokasi dana liburan yang juga tak sedikit dikeluarkan oleh Isma Fitria (32), wanita asal Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon. Setelah berumah tangga, ia kini bermukim di Jalan MT Haryono, Binjai Utara, Kota Binjai, Sumatera Utara menemani sang suami yang ditugaskan kantornya. Tersebab itulah, kini Isma bolak-balik Medan-Cilegon.

Setidaknya, tiga bulan sekali Isma selalu menyempatkan pulang ke Kota Cilegon. Anyer menjadi tujuan favorit keluarganya saat mereka pulang kampung. "Anak saya nggak bisa kalau nggak nginjek pasir laut. Makanya saya sempatkan untuk ke Anyer. Lebaran tahun ini ke Kelapa Tujuh, sebelum ditutup," tuturnya.

Sebagai informasi, kawasan wisata Pantai Kelapa Tujuh diketahui menjadi salah satu tempat yang ditutup pada Agustus 2017 lalu sebagai dampak pembangunan unit 9 dan unit 10 PT Indonesia Power berkapasitas 2.000 megawatt.

Bicara masalah biaya pulang kampung ke Cilegon, Isma mengatakan setidaknya setiap kali ia ke Cilegon menghabiskan biaya Rp7 juta. Artinya, dalam setahun Isma mengalokasikan bujet Rp28 juta untuk mengunjungi kampung halamannya di Cilegon.

Daya tarik Cilegon bagi warganya

Bagi Yuli, bukan tanpa alasan ia memilih untuk mengajak keluarga pelesir keluar kota dibandingkan dengan mengunjungi objek wisata di kotanya. Menurut Yuli, wisata di Cilegon, khususnya wisata alam masih sangat kurang.

Selain itu, Yuli juga melihat kurangnya promosi dari pihak Dinas Pariwisata setempat dan sikap pengelola tempat wisata yang kerap mengabaikan kenyamanan pengunjung. Padahal banyak tempat wisata yang bisa jadi tujuan wisatawan lokal.

Di wilayah Merak, kata Yuli banyak wisata yang bisa dikunjungi, seperti Pulau Merak Besar, Gunung Batur, Kemudian Gunung Pengobelan, Watu Lawang, Kampung Nelayan, Cikerai. Pengelola tempat wisata yang cenderung cepat menaikkan tarif dan abai terhadap kebersihan fasilitas umum, menurutnya juga menjadi faktor lain yang membuat wisatawan lokal kapok berkunjung kembali ke tempat wisata di Cilegon.

Landmark Kota Cilegon yang berada di pusat Kota, menjadi simbol kota industri.
Landmark Kota Cilegon yang berada di pusat Kota, menjadi simbol kota industri.
© Edo Dwi /Beritagar.id

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cilegon Tb Heri Mardiana mengakui objek wisata alam di Kota Cilegon masih terkendala beberapa persoalan, salah satunya adalah masalah infrastruktur yang dapat membuat masyarakat lebih mudah menjangkau tempat wisata.

"Pantai kita nggak punya. Tapi kita coba gali tempat lain yang berpotensi dan dijadikan sebagai wisata alam, seperti Situ Rawa Arum, kita akan berbenah. Kemudian daerah Merak, kemudian ada juga daerah Cikerai desa wisata di sana," ujarnya.

Mardiana mengatakan bahwa untuk wilayah Cikerai pihaknya baru akan melakukan sosialisasi ke masyarakat. Rencananya, kawasan itu akan dijadikan Desa Wisata. "Namanya saja Desa Wisata, harusnya memang ada penerimaan dari masyarakat sekitar, supaya mereka bisa menerima kunjungan dari wisatawan luar. Syukur-syukur masyarakat mau rumahnya dijadikan homestay," kata dia.

Lokasi lain yang juga bisa dijadikan potensi wisata saat ini, lanjut Mardian, yakni Rawa Arum yang terletak di Kecamatan Gerogol, Kota Cilegon. "Kendalanya satu, tidak ada jalan masuk ke sana. Padahal, kalau sudah ada akses jalan bisa kita kemas jadi wisata air," tuturnya.

ARTIKEL TERKAIT

Melimpah kendaraan, melimpah pendapatan

Melimpah kendaraan, melimpah pendapatan

Jumlah kendaraan yang melimpah berbanding lurus dengan pajak yang diterima daerah. Hingga 2017, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 138 juta, untuk semua jenis kendaraan yakni, mobil penumpang, mobil bis, mobil barang hingga sepeda motor.

Penjualan mobil akan terus melambat

Penjualan mobil akan terus melambat

Dalam pertumbuhan ekonomi yang melambat dan kondisi jalan tak layak benar-benar mengempaskan penjualan mobil sepanjang 2011-2017. Masa-masa perlambatan yang terus berlanjut, namun setahun terakhir menunjukkan harapan.

Sokongan wisata zona super prioritas

Sokongan wisata zona super prioritas

Untuk mempercepat realisasi pariwisata sebagai motor ekonomi nasional, status super prioritas disematkan pada lima kawasan. Bagaimana sokongan sektor pariwisata nasional pada PDRB?

10 Wilayah yang bergantung pada wisata

10 Wilayah yang bergantung pada wisata

Sepuluh wilayah yang Pendapatan Asli Daerahnya bergantung pada sektor wisata malah daerah yang jarang terdengar. Walau tetap ada wilayah yang kadung “genetisnya” identik dengan pariwisata.