Seorang anak pencari suaka menangis di pangkuan ibunya di trotoar dekat kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (17/9/2019).
Seorang anak pencari suaka menangis di pangkuan ibunya di trotoar dekat kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (17/9/2019). Aditya Pradana Putra / Antara Foto
PENGUNGSI

Para pencari suaka belum kehilangan harapan pada Indonesia

Sejumlah pengungsi pencari suaka berusia belia menegaskan tak pernah kehilangan harapan. Mereka terus berharap bisa hidup normal dan layak, meski di negeri orang.

Panas matahari sedang terik-teriknya, ditambah ingar-bingar suara kendaraan yang lalu lalang dan memadati Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, membuat Fahriya Ali (19) mengeryitkan dahinya. Wajah yang memerah terkena sorotan matahari ditutupi ujung kerudungnya.

Dia memandang ke arah Menara Ravindo di Jalan Kebon Sirih Kav 75, Jakarta Pusat, tempat United Nations High Commisioner for Refugees atau Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) Indonesia berkantor.

Remaja bermata coklat ini tersenyum ramah saat reporter Beritagar.id Graceldis Loanardo dan Rommy Roosyana menghampiri. Ketika ditanya apakah apakah bisa berbahasa Indonesia, pengungsi asal Afghanistan ini menjawab bisa. "Saya bisa bahasa (Indonesia)," ujarnya, Rabu (18/9/2019).

Fahriya mengaku telah 2 tahun 2 bulan di Indonesia, dia bisa berbahasa Indonesia dari hasil berinteraksi dengan banyak orang. "Saya bisa (bahasa Indonesia) sendiri, tidak ada yang mengajari. Karena sering ngobrol dengan orang yang menggunakan bahasa," jelasnya.

Bersama dua orang tua dan dua saudaranya, dia mengisahkan, sengaja meninggalkan negara asalnya Afganistan lantaran perang yang terus berkecamuk.

"Mungkin (semua orang) tahu, lihat di news, posisi negara kami setiap hari perang. Karena itu, tidak ada orang yang mau tinggal in our own country (di negeri kami sendiri)," tutur Fahriya, sambil memasangkan masker di wajahnya.

Dia mengaku, dirinya dan semua pengungsi mencintai negara asal mereka. Namun karena terus-menerus didera peperangan, mereka memilih pergi mencari tempat aman untuk bertahan hidup.

Fahriya Ali, pengungsi asal Afghanistan saat diwawancara reporter Beritagar.id Graceldis Loanardo di trotoar sekitar kantor UNHCR Indonesia, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (18/9/2019).
Fahriya Ali, pengungsi asal Afghanistan saat diwawancara reporter Beritagar.id Graceldis Loanardo di trotoar sekitar kantor UNHCR Indonesia, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (18/9/2019). | Rommy Roosyana /Beritagar.id

"Kalau ada kesempatan untuk sekolah (lagi) saya mau jadi dokter. Yang important (penting) itu education (pendidikan). Kalau (negara) Indonesia kasih izin, kami ingin sekolah. Kalau selesai sekolah kami bisa bekerja dan tidak di jalanan (seperti ini)," harapnya.

Ditanya kenapa memilih Indonesia sebagai tujuan pengungsian, dia mengungkapkan, Indonesia dijadikan tujuan para pengungsi asal Afganistan karena mayoritas warganya muslim.

Harapan serupa diungkapkan Malika Rezaie (14). Remaja bermata kebiruan ini mengaku belum bisa berbahasa Indonesia. Dia menceritakan, mengungsi dari Afghanistan ke Indonesia bersama delapan orang keluarganya dengan menaiki pesawat.

"Kami membutuhkan tempat untuk hidup dan uang untuk melakukan sesuatu)," ucap Malika dalam bahasa Inggris.

Bagi mereka, setiap hari adalah perjuangan untuk tetap hidup. Namun, mereka tak pernah kehilangan harapan untuk bisa mengubah kehidupan. Seperti yang dilakukan sejak sepekan lalu, mereka memilih berkemah di trotoar kawasan Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Hal itu dilakukan sebagai upaya memperjuangkan hak mereka kepada UNHCR. "Kami bukan hanya ingin dilindungi, kami juga ingin hidup normal layaknya (sebagai) warga negara," harap Malika.

Dikembalikan ke Kalideres

Setelah menginap berhari-hari di trotoar Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, para pengungsi pencari itu dikembalikan ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (18/9) sore.

Saat beberapa pengungsi sedang berbincang dengan Beritagar.id, tiba-tiba datang puluhan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan beberapa orang anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Mereka meminta para pengungsi bersiap-siap dan mengemas barang-barangnya.

Selang beberapa menit, datang dua unit Bus TransJakarta di seberang tempat para pengungsi berkumpul. Tanpa ada penolakan, para pengungsi langsung mengemasi barang masing-masing.

Dibantu para anggota Satpol PP, mereka menyeberang jalan untuk menaiki bus. Para pengungsi pencari suaka itu langsung diangkut menuju Rudenim Kalideres sekitar pukul 15.45 WIB.

Malika Rezaie (kedua kiri) pengungsi asal Afghanistan dibantu para petugas saat dipindahkan dari Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, dikembalikan ke Rumah Detensi Imigrasi Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (18/9/2019).
Malika Rezaie (kedua kiri) pengungsi asal Afghanistan dibantu para petugas saat dipindahkan dari Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, dikembalikan ke Rumah Detensi Imigrasi Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (18/9/2019). | Rommy Roosyana /Beritagar.id

Tak lama, terlihat Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (Pemprov DKI) Jakarta, Taufan Bakri yang mengenakan kemeja putih dipadu celana biru kehitaman di depan kantor UNHCR Indonesia.

Kepada Beritagar.id, Taufan menyebut para pengungsi diangkut dengan dua bus untuk dikembalikan ke Rudenim di Kalideres, Jakarta Barat. "Enggak tahu sampai kapan (di Rudenim), yang pasti jangan di sini. Mereka tiduran di sini, nggak layak ya. Kami sengaja pindahkan ke sana, kasihan," terangnya.

Dia menambahkan, pihaknya masih bernegosiasi dengan sejumlah pemangku kepentingan. Di antaranya UNHCR, Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) hingga Kementerian Luar Negeri.

Menurut Taufan, Pemprov DKI mestinya bertindak tegas dalam menyelesaikan masalah pencari suaka. Namun lantaran alasan kemanusiaan, tambahnya, DKI memberi kelonggaran kepada para pengungsi.

Jumlah pengungsi pencari suaka yang dipindahkan dari Kebon Sirih ke Rudenim Kalideres, terang Ketua Organisasi Selaras dan Peduli Kasih (Selasih) Ratih Novitasari, sebanyak 52 orang. Sebagian besar berasal dari Afganistan, lainnya dari Pakistan dan Irak.

"Total yang ada di Rudenim sekarang 512 orang. Sebelumnya 460 orang ditambah tadi (dari Kebon Sirih) 52 orang," sebut Ratih di Rudenim Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (18/9) sore.

Para pengungsi yang dibawa dari Kebon Sirih itu sebelumnya memang tinggal di Rudenim Kalideres. Tapi mereka memilih keluar dari sana lantaran fasilitas seperti air dan listrik tidak mencukupi. Sempat tersebar kabar fasilitas tersebut dihentikan lantaran adanya protes dari warga akan kehadiran imigran.

"Intinya keberatan ada pengungsi, tapi gak semua. Alasannya mengganggu aktivitas sekolahan, aktivitas jalanan, alasannya bau lah apa lah, kebersihannya gak dijaga," ucap Sukarta, anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang ditugaskan menjaga para imigran di Rudenim Kalideres oleh Dinas Sosial Pemprov DKI Jakarta.

Tak hanya itu, sejak akhir Agustus, Pemprov DKI Jakarta menghentikan bantuan dalam bentuk sebagian air dan listrik, serta makanan kepada para pengungsi yang tinggal di sana. Seperti menarik genset yang menjadi sumber listrik di sana.

Kendati demikian, masih banyak pengungsi yang memilih untuk bertahan.

Bantuan tak memadai

Para pengungsi itu dibekali Rp1 juta tiap orang dari UNHCR untuk bertahan hidup dan mencari tempat tinggal baru setelah keluar dari Rudenim pada awal bulan lalu. Belum diketahui apakah uang itu akan diberikan tiap bulan atau hanya sekali itu saja.

Jumlah tersebut amat sedikit untuk bisa bertahan hidup. Apalagi di Jakarta yang serba mahal. Para pengungsi itu juga tidak bekerja, jadi tak ada penghasilan tambahan.

Akhir Agustus lalu, UNHCR memberikan bantuan biaya kontrak rumah/kos kepada 400 pengungsi yang dinilai rentan. Uang untuk itu didapat dari dana corporate social responsibility (CSR) beberapa perusahaan yang diberikan kepada UNHCR.

Urusan pengungsi asing yang mencari suaka ini menjadi rumit. Di satu sisi ada persoalan kemanusiaan, namun di sisi lain ada masalah hukum antarbangsa. Indonesia belum meratifikasi Konvensi Pengungsi 1951 sehingga tak berkewajiban menampung dan memberi suaka.

Di Indonesia, sebagai tempat transit, mestinya UNHCR yang mengurus mereka. Namun urusan verifikasi pemohon suaka itu tak mudah. Beberapa negara makmur yang diharapkan bisa memberi suaka mulai menutup diri, misalnya Australia. Pencari suaka bisa bertahun-tahun di Indonesia untuk menunggu kepastian.

Berapa banyak pengungsi dan pencari suaka yang datang ke Indonesia? (Data bisa disimak dalam infografik di bawah.)

Menilik Perpres Nomor 125 Tahun 2016, pemerintah pusat melalui Rumah Detensi Imigrasi meminjam tempat yang ditetapkan oleh pemerintah daerah sebagai tempat penampungan sementara bagi pengungsi.

Penampungan sementara sedianya mesti layak dan dekat dengan fasilitas air bersih dan kesehatan, ada pemenuhan kebutuhan makan, minum, dan pakaian, serta akses ke tempat ibadah.

Beri kesempatan mencari kerja

Jaringan Advokasi Pengungsi dan Pencari Suaka Indonesia (JAPPSI) mendesak pemerintah untuk lebih fleksibel memberikan tempat tinggal dan akses mencari kerja bagi para pencari suaka di Indonesia.

"Ketika pemerintah lebih fleksibel ke hak mereka mendapatkan penghidupan, akan membantu mereka dan pemerintah. (Kemudian) pemerintah tidak harus mengeluarkan anggaran untuk mendukung mereka karena, asumsinya, mereka sudah bisa hidup sendiri,” ujar Anggota JAPPSI, Shaffira D Gayatri, kepada Beritagar.id, Kamis (5/9).

Menurutnya, pemerintah bisa memberikan batasan waktu yang lebih lama agar pencari suaka dapat tinggal di selter (Rudenim) dan mencoba mencari uang untuk bertahan hidup. Beberapa dari mereka bisa menjadi pengajar bahasa atau berdagang dengan menjual makanan khas negaranya.

"(Perizinan untuk bekerja) di sektor informal dan khusus seperti bekerja di restoran akan jauh lebih baik daripada tidak diberikan akses ke pekerjaan sama sekali. Ujung-ujungnya mereka akan berkontribusi ke ekonomi," jelas Shaffira.

Dia memaparkan, terdapat setidaknya 14 ribu pencari suaka di Indonesia yang tengah transit menuju negara lain. Dari jumlah tersebut, hanya 8.500 pengungsi yang difasilitasi oleh International Organization for Migration (IoM). Alhasil, sekitar 6.500 lainnya kesulitan untuk bertahan hidup. Mereka adalah kelompok yang paling rentan.

Dengan keberadaan pengungsi pencari suaka menurut Shaffira, pemerintah tidak lagi bisa menutup mata. Selama ini, para pengungsi berdiam dan cenderung bersembunyi di kawasan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Aktivitas para lelaki pengungsi pencari suaka di Rudenim Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (18/9/2019) sore.
Aktivitas para lelaki pengungsi pencari suaka di Rudenim Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (18/9/2019) sore. | Rommy Roosyana /Beritagar.id

"Dengan situasi politik global, mereka hidupnya akan semakin sulit di sini. Karena mereka tidak bisa balik ke negaranya dan tidak mendapatkan settlement di negara lain,” tandasnya.

Dia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan langkah kebijakan jangka panjang yang memberikan kesempatan pengungsi agar mandiri dan tidak bergantung kepada organisasi internasional.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR