Diperkirakan ada lebih dari 300 media daring asal Indonesia, dan terus tumbuh hingga saat ini. Semua bermula ketika internet tumbuh.

Siapa yang pernah membayangkan internet akan menjadi seperti sekarang ini. Cepatnya pertumbuhan media massa di ranah daring (dalam jaringan - online), membuat media-media konvensional mulai waspada.

Secara global, kehadiran internet bahkan mulai menggeser dominasi media cetak. Meski belum benar-benar mati, beberapa perusahaan media cetak ternama di dunia mulai berpaling ke ranah daring.

Sebut saja kisah Newsweek, majalah mingguan asal Amerika Serikat yang telah terbit sejak 1933, sempat hiatus mencetak majalah pada 2012 dan beralih sepenuhnya ke digital. Belakangan, pada 2014 mereka terbit kembali dalam bentuk cetak, meski oplahnya terbatas setelah dibeli taipan media digital, International Business Times, pada 2013.

Fenomena ini tak diduga sebelumnya oleh para pelaku media. 20 tahun silam, John Murrell, Online Editor Mercury Center yang diterbitkan koran San Jose Mercury News, tak percaya media daring bakal bisa bersaing dengan media cetak. Mercury Center adalah media cetak pertama yang tampil daring di Amerika Serikat, mulai tayang sejak 1993.

Menurut Murrel saat itu, ada dua perbedaan mendasar antara koran cetak dan daring. "Koran cetak pasti lebih murah, mudah dibawa (portable), serta bagian-bagiannya bisa dipisah-pisahkan. Bahkan ada lelucon, online melalui komputer tidak dapat dibawa ke kamar kecil seperti yang bisa dilakukan oleh suratkabar," katanya seperti dikutip Harian Kompas (22/10/1995).

Menjamurnya media daring, menurut jurnalis senior asal AS, Jeff Jarvis (2008), bukan karena media cetak buruk, melainkan karena dunia digital lebih menggiurkan. Selain persoalan kecepatan, atau kemudahan dalam penelusuran, ongkos distribusi yang jauh lebih murah membuat media daring lekas jadi favorit.

Di Indonesia, fenomenanya mungkin tak ekstrem laiknya di Amerika Serikat. Anggota Dewan Pers, Muhammad Ridlo Eisy, dalam sebuah berita di Antaranews (10/2/2015) menilai, "Pembaca di Indonesia masih dalam masa peralihan ke media online sehingga produk media cetak masih bertahan".

Semua bermula ketika internet tumbuh

Internet mulai digunakan untuk kepentingan komersial di Indonesia terhitung sejak 1995. Dalam laporan Onno W. Purbo dkk. berjudul "Computer Networking in Indonesia: Current Status and Recommendations for its Developments" terbitan 1996, diperkirakan ada 20 ribu pengguna internet pada 1995. Hanya 42 persen yang memanfaatkannya untuk komersial, atau kurang dari 10 ribu pengguna.

Pada 2014 lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menyatakan, pengguna internet di Indonesia telah mencapai 82 juta orang, atau peringkat ke-8 di dunia. Awal 2015, APJII bekerja sama dengan PusKaKom Universitas Indonesia (UI) merilis, pengguna internet hingga akhir 2014 mencapai 88,1 juta, atau sekitar 34,9 persen dari total jumlah penduduk.

Artinya, dalam kurun waktu nyaris dua dekade, pertumbuhan internet Indonesia berjuta-juta kali lipat. Lalu bagaimana pertumbuhan media daring di Indonesia?

Lembaga analis dan pemantauan seketika (real time monitoring) media daring, Indonesia Indicator, mencatat ada 337 media di seluruh Indonesia dan terus bertambah, menghasilkan sekitar 2,1 juta berita.

Perkembangan media daring Indonesia terekam dalam publikasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, berjudul Media Online: Pembaca, Laba, dan Etika yang ditulis kedua awaknya, J. Heru Margianto dan Asep Syaefullah.

Dalam publikasi itu disebutkan, media pertama yang tercatat hadir di internet adalah Republika Online (ROL - republika.co.id). Menurut laman profilnya, media ini tayang dua tahun setelah Harian Republika terbit, tepatnya pada 17 Agustus 1995.

Republika Online diterbitkan menyambut era konvergensi media saat itu. Populernya internet, meski masih terbatas, menyebabkan konten media tak melulu hanya teks dan foto, namun bisa mencakup multi media. Republika, tak mau ketinggalan dalam perkembangan tersebut.

Media daring yang diresmikan peluncurannya oleh Presiden ke-2 RI, Suharto, ini juga ingin menjangkau pembacanya di mancanegara. Republika mengklaim, pembaca dari Malaysia dan Arab Saudi sudah menjadikannya sebagai rujukan seputar berita Islam di Indonesia. Karenanya, mereka mengincar pembaca yang lebih luas.

"Nah, ehmm.. latar belakangnya, kan kalo koran itu mempunyai kemampuan edar yang terbatas... Nah, yang di luar negeri juga nggak bisa, cuma sampai Malaysia dan Arab Saudi. Nah, kebetulan ada teknologi yang canggih, maka dari itu Republika online muncul," ujar perintis Republika Online, Slamet Riyanto (2010).

"Tujuannya adalah untuk melayani pembaca yang tidak dapat dijangkau oleh koran. Oleh sebab itu yang kita gunakan Republika Online. Jadi koran itu kita pindahkan ke internet. Terus yang kedua supaya penyebaran informasi kita luas. Kalo tadi cuma sirkulasi manual, maka kalo Republika Online bisa sampe luar negeri. Selain itu, banyak juga mahasiswa kita di luar negeri baca Republika Online, karena bagi mereka Republika Online koran Islam, gitu kira-kira..." lanjutnya.

Ilustrasi perwajahan media online
Ilustrasi perwajahan media online
© Istimewa

Tak lama setelahnya, Kompas versi internet diperkenalkan dengan nama Kompas Online (kompas.co.id), pada 14 September 1995. Menurut penjelasan di laman situs tersebut, Kompas Online pada awalnya hanya berperan sebagai edisi internet dari Harian Kompas. Barulah pada 1998, Kompas Online berubah menjadi Kompas.com

Menurut tulisan di Harian Kompas edisi 22 Oktober 1995 oleh Rene L. Pattiradjawane --jurnalis senior Kompas yang menjadi penggagas lahirnya Kompas Online-- versi daring media ini bertujuan, "...membawa pembaca surat kabar ke jenis informasi dan komunikasi perseorangan yang baru di masa depan..."

Rene juga menulis, "Ada pertimbangan kecepatan mengakses berita-berita Harian Kompas untuk para pembaca di luar Pulau Jawa, mengingat sistem transportasi yang tidak memungkinkan Kompas tiba pada pagi hari di wilayah- wilayah luar Pulau Jawa."

Selain itu, Kompas juga sudah mempertimbangkan globalisasi informasi. Para pembaca setia di manca negara akan kesulitan berlangganan Harian Kompas. Meskipun bisa berlangganan, belum tentu bisa memperoleh koran Kompas pada hari yang sama karena jarak yang terlalu jauh.

Artinya, baik ROL maupun Kompas Online, awalnya sama-sama hadir di internet sebagai versi digital dari koran masing-masing.

Kemunculan Tempo Interaktif pada 6 Maret 1996 di alamat tempointeraktif.com, agak berbeda. Menurut redaktur Tempo.co (nama baru tempointeraktif.com), Widiarsi Agustina, yang ditulis dalam laporan AJI, tempointeraktif.com bukan versi daring dari Majalah Tempo yang dibredel pada 1994.

Situs berita yang awalnya menerbitkan beragam wawancara dan profil tokoh ini, menurut laman profilnya, merupakan upaya Tempo untuk tetap menghadirkan berita-berita terbaru selama majalah mingguan Tempo dilarang terbit.

Setelah Majalah Tempo kembali pada Oktober 1998, dan harian Koran Tempo terbit pada 2001, Tempo versi daring ini tetap tayang hingga saat ini.

Di antara periode tersebut, sebenarnya ada pula media-media daring lain yang sempat terbit. Di antaranya adalah Bisnis Indonesia yang online pada 2 September 1996, dan Harian Waspada di Sumatera Utara yang meluncurkan Waspada Online (waspada.co.id) pada 11 Juli 1997.

Lalu pada 1998, lahirlah Detikcom

Detikcom dibidani Agranet Multicitra Siberkom (Agrakom), yang berdiri sejak Oktober 1995. Nama Agrakom penting disebut, karena perusahaan penyedia jasa konsultasi, pengembangan, dan pengelolaan web ini punya peran dalam pengembangan beberapa situs media besar di Indonesia saat itu.

Berbeda dengan media daring yang tayang sebelumnya, Detikcom (detik.com) lahir bukan oleh media yang sudah terbit dalam versi cetak. Penggagasnya adalah empat sekawan di balik Agrakom: Budiono Darsono, Yayan Sopyan, Abdul Rahman, dan Didi Nugrahadi. Tayang untuk pertama kalinya pada 9 Juli 1998.

Uniknya, konsep awal Detikcom sempat ditawarkan kepada media lain yang merupakan klien Agrakom. Menurut penuturan Abdul Rahman, konsep yang digagas Budiono Darsono itu adalah sebuah media baru yang mengoptimalkan internet, mampu memberikan informasi secepat mungkin, tak seperti koran yang harus ditulis, disunting, dan dicetak sebelum terbit.

Abdul yang juga mantan wartawan Tempo, menyebutnya sebagai Timeline, penyajian berita bersambung ala breaking news stasiun televisi berita seperti CNN, atau yang biasa diterapkan pada kantor-kantor berita.

Pemicu lain yang melahirkan Detikcom, adalah situasi sosial politik di Indonesia pada 1998 yang sedang panas. Gerakan Reformasi yang juga dipantau media internasional, menjadi sumber berita yang nyaris tak ada habisnya. Budiono, sebelumnya pewarta di Tabloid Detik, tergugah untuk membuat laporan cepat lewat internet.

Budiono dkk pun mengeksekusi sendiri gagasan tersebut. Situs beralamat di detik.com inipun muncul dengan format berita baru. Dalam ingatan para pendiri, Budiono menulis berita yang bersumber dari televisi, atau dari siaran radio agar Detikcom bisa terbit. Jika Budiono sedang keluar kantor, maka Detik tidak bisa memperbarui beritanya.

Demi kecepatan menerbitkan berita, Detikcom kemudian memang tidak selalu mengikuti pakem baku jurnalistik, melengkapi berita dengan unsur 5W + 1H. Cukup dengan 3W: What, When, dan Where, informasi disajikan untuk pembaca. Pemutakhiran informasi dilakukan melalui artikel berikutnya.

Namun konsep inilah yang membuat Detikcom saat itu melenggang nyaris tanpa saingan. Masih menurut Abdul Rahman, Detikcom sempat melewati rekor kunjungan situs Kompas Online pada Agustus 1999.

Dalam catatan Kompas, sebulan setelah Detikcom tayang di internet, kunjungannya mencapai 15.000 klik per hari. Satu tahun kemudian, jumlah pembacanya melesat menjadi 50.000. Pencapaian yang luar biasa mengingat jumlah pengguna internet saat itu.

Detikcom layak disebut sebagai pelopor media daring di Indonesia, bahkan di dunia. Capaian tersebut tak mungkin diabaikan dari catatan sejarah perkembangan media daring Indonesia.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.