Susanti Dewi (kiri) dan Fajar Nugros saat preskon film Moammar Emka's Jakarta Undercover di Jenja, Cilandak Town Square, Jakarta Selatan (18/1/2017)
Susanti Dewi (kiri) dan Fajar Nugros saat preskon film Moammar Emka's Jakarta Undercover di Jenja, Cilandak Town Square, Jakarta Selatan (18/1/2017)
FILM INDONESIA

Pasutri sehati dalam film

Kecintaan pasangan sineas ini terhadap profesi mereka di dunia film membuat diskusi terbawa hingga ke dalam rumah. Walaupun kerap tercampur dengan kehidupan personal, profesionalisme tetap harus ditegakkan.

Pasangan suami istri alias pasutri yang sama-sama pekerja film bukan hal asing. Sudah sejak dahulu mewarnai perjalanan industri perfilman, termasuk di Indonesia.

Tinggal di bawah atap yang sama sebagai pasangan sineas mengguratkan cerita tersendiri. Obrolan kreatif seputar produksi film meluber hingga ke sudut ruangan keluarga yang paling pribadi.

“Kalau sama istri sendiri enaknya kita bisa lebih leluasa diskusi kapan dan di mana saja. Mau tidur sampai bangun tidur kadang masih men-develop sesuatu untuk film,” ungkap Fajar Nugros saat ditemui Beritagar.id dalam acara jumpa pers film Terbang Menembus Langit di Kuningan City Mall, Jakarta Selatan (25/9/2017).

Hal tersebut tak bisa dilakukan Fajar jika bekerja sama dengan produser lain. Ada waktu dan jarak yang membatasi. Sementara dirinya adalah tipikal sineas yang senang jika ide-ide baru mendadak muncul.

Dengan kehadiran sang istri, Susanti Dewi, sebagai produser di sampingnya, ide tersebut langsung dibicarakan. Jika menemui kata sepakat bisa segera dieksekusi.

Fajar dan Santi hanya salah satu pasutri di Indonesia yang berbagi tugas sebagai sutradara dan produser film. Beberapa nama lain adalah Mouly Surya - Rama Adi (dari Cinesurya) dan Angga Sasongko - Anggia Kharisma (Visinema Pictures).

Pasutri lain yang menjadi sineas bisa bertambah panjang jika menyebut nama sesama penulis naskah andal, Salman Aristo dan Gina S. Noer, duo sutradara Ifa Isfansyah-Kamila Andini, atau Timo Tjahjanto (sutradara)-Sigi Wimala (pemain).

Beberapa dari mereka terkadang mengerjakan film yang sama. Walaupun terpisah proyek berbeda, pasangan tetap menjadi orang pertama yang mendapat bocoran, bahkan ikut memberikan kritik.

Mouly Surya mengenang bagaimana Parama Wirasmo alias Rama Adi meledek skenario Fiksi. Film yang rilis 19 Juni 2008 itu merupakan film panjang pertama yang disutradarai dan naskahnya ditulis oleh Mouly.

“Rama itu orangnya sangat kritis. Pertama kali dia baca skrip Fiksi bikinan gue, dia bilang. ‘Masa gini sih bahasa skrip lo?’ Ha-ha-ha,” tutur pemilik nama lengkap Nursita Mouly Surya kepada Beritagar.id (22/9/2017).

Atas saran Rama, penataan skrip buatan Mouly kemudian diserahkan kepada Joko Anwar yang lebih berpengalaman. Langkah tersebut dimaksudkan agar Mouly punya pondasi yang kuat dan bisa lebih fokus bekerja sebagai sutradara.

Yang terjadi kemudian adalah, Mouly mendapat gelar sutradara terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2008. Hingga saat ini, Mouly masih menjadi satu-satunya perempuan yang pernah membawa pulang Piala Citra kategori sutradara terbaik di FFI.

“Itu sebuah keputusan yang sangat signifikan buat gue. Sampai sekarang Rama masih menjadi kritikus pertama karya-karya gue,” ujar Mouly.

Mouly bertemu Rama pertama kali di rumah produksi milik seorang kawan. Karena sering terlibat dalam proyek yang sama, kadar pertemuan mereka semakin intens sehingga menumbuhkan benih-benih cinta.

Gue waktu itu jadi asisten sutradaranya Rako Prijanto dalam film Merah itu Cinta (2007). Sementara Rama di departemen kamera,” ungkap Mouly.

Dikisahkan Mouly, Rama sebelumnya juga pernah menangani bagian casting dan mengurusi produksi sehingga tahu banyak hal soal produksi film, termasuk bagaimana berpikir dari sudut pandang seorang produser.

Mereka kemudian mendirikan rumah produksi bernama Cinesurya pada 2007. Kelar syuting film Fiksi yang dibintangi Ladya Cheryl dan Donny Alamsyah, sepasang insan ini sepakat menikah.

Film yang mereka hasilkan memang masih bisa dihitung dengan jari sebab baru menghasilkan dua film lain yaitu, Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (2013) dan Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017).

Lain soal jika bicara prestasi. Berderet penghargaan muncul dari tiga film tersebut. Film yang disebutkan terakhir, Marlina, hingga sekarang masih terus melanglang buana.

Pada 29 Juni 2018, Marlina the Murderer in Four Acts --demikian judul internasionalnya-- tayang untuk publik di Toronto, Kanada.

Beberapa hari sebelumnya, film yang membawa pulang banyak trofi dalam ajang festival mancanegara ini telah pula ditayangkan secara terbatas di New York, Amerika Serikat.

Di Indonesia, Marlina yang tayang perdana 16 November 2017 mengumpulkan total 154.596 penonton.

“Bagi kami, jumlah itu sudah sangat menggembirakan,” ujar Rama saat kami temui dalam acara diskusi tentang dunia akting persembahan Peqho Production di Queens Head, Kemang, Jakarta Selatan (13/5/2018).

Rama Adi (kiri) dalam sesi diskusi film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak di Coffee Club, Plaza Senayan (21/11/2017)
Rama Adi (kiri) dalam sesi diskusi film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak di Coffee Club, Plaza Senayan (21/11/2017) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Bekerja dengan pasangan dalam satu bidang yang sama membuat sineas ini harus pintar menempatkan diri. Antara urusan pekerjaan dan rumah tangga tidak boleh campur aduk.

Kenyataannya batasan tersebut sangat susah diterapkan. “Antara personal dan profesional sudah jadi kabur. Mungkin itu enak dan enggak enaknya. Tapi pada sisi lain, gue sih merasa kalau ketiadaan batasan ini menciptakan keterbukaan di antara kami,” kata Mouly.

Rama mengamini bahwa status sebagai pasutri membuat urusan pekerjaan merembet hingga ke dalam rumah tangga mereka. Adu argumentasi mempertahankan idealisme masing-masing tak terelakkan.

“Pokoknya ribet. Ha-ha-ha. Keuntungannya adalah kami enggak sungkan untuk memberikan penilaian jujur apa pun itu,” jawab Rama saat kami temui usai acara diskusi film Marlina di Coffee Club, Plaza Senayan, Jakarta Selatan (21/11/2017).

Masalah pekerjaan yang terbawa masuk sampai ke rumah diakui Fajar memang jadi sesuatu yang berat. Seiring perjalanan waktu, dia dan Santi akhirnya sudah terbiasa.

Perdebatan yang paling sering muncul di antara mereka terjadi pada tahap ide awal cerita. Misal menentukan pemain-pemain yang akan diajak bergabung dalam film yang mereka produksi.

Segala bentuk pilihan yang diajukan tetap berlangsung secara profesional. “Setiap pilihan harus ada alasannya. Enggak bisa satu sama lain harus nurut hanya karena saya adalah suaminya atau karena dia adalah istri saya,” terang Fajar.

Pilihan serupa juga diaplikasikan Angga dan Anggia saat bekerja. “Kalau Anggia kurang optimal bekerja, saya harus objektif melihatnya bukan sebagai istri saya. Begitu juga Anggia, dia harus bisa melihat saya sebagai sutradara saat bekerja, bukan suaminya,” ungkap Angga.

Angga (33) dan Anggia (34) pertama kali berkenalan saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama di Jakarta. Dua siswa ini berbeda sekolah, tapi kursus Bahasa Inggris di tempat yang sama.

Setamat SMP, Angga pindah ke Semarang. Mereka bertemu lagi saat sudah kuliah. Anggia tercatat sebagai mahasiswi di Jurusan Kedokteran Gigi di Universitas Trisakti. Sementara Angga memilih Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.

Kecintaan terhadap film mempertautkan mereka. Saat mendirikan Visinema pada 2008, Angga mengajak Anggia bergabung sebagai penata gaya dalam setiap produksi yang ia kerjakan, mulai dari videoklip musik hingga film layar lebar.

Merasa klop dengan dunia film, plus tak ingin jauh dari pujaan hatinya, Anggia memutuskan fokus sebagai pekerja film.

Sejak Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014) yang ditetapkan sebagai film terbaik di FFI, nama Anggia kerap tercantum sebagai pengisi salah satu kursi produser dalam film-film produksi Visinema. Walaupun film tersebut tidak disutradarai oleh Angga.

Dalam bekerja, pasangan ini cukup fleksibel. Angga tak selalu harus menyutradarai film-film produksi Visinema. Misalnya Wonderful Life (2016), Love for Sale (2018), dan Keluarga Cemara yang dijadwalkan tayang Desember 2018. Ketiga film tersebut disutradarai orang lain.

Angga juga tidak tabu menggarap proyek film produksi perusahaan lain, seperti yang dilakukannya saat mengarahkan film Wiro Sableng milik Lifelike Pictures yang akan rilis Agustus 2018.

Angga Dwimas Sasongko (kiri) dan Anggia Kharisma yang menggendong Rigel saat gala premiere film Filosofi Kopi 2 - Ben & Jody di XXI Epicentrum (6/7/2017)
Angga Dwimas Sasongko (kiri) dan Anggia Kharisma yang menggendong Rigel saat gala premiere film Filosofi Kopi 2 - Ben & Jody di XXI Epicentrum (6/7/2017) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Praktik serupa dilakukan duet Fajar dan Santi sejak pertama mendirikan Demi Istri Production pada Januari 2013.

Nama perusahaan terlintas dalam benak Fajar sebagai pengingat bahwa apa pun yang dikerjakannya semata demi istri dan anak. “Intinya saya bekerja untuk keluarga,” katanya.

Sebagai production service yang produknya bisa berupa tayangan untuk televisi, iklan, maupun film bioskop, Fajar dan Santi bekerja fleksibel.

“Waktu terlibat dalam film Elo Gue End (2012), Santi tahu gue enggak cocok sama ceritanya. Akhirnya Awi Suryadi yang jadi sutradara. Buat kami itu enggak masalah. Waktu bikin Moammar Emka’s Jakarta Undercover (2017), gue tetap ikut pitching. Supaya kesannya tidak nepotisme,” ungkap Fajar.

Santi bisa memproduseri film bersama sutradara lain. Fajar juga bebas menyutradarai film yang yang bukan produksi Demi Istri, seperti kala ia menduduki kursi sutradara Yowis Ben (tayang 22 Februari 2018) produksi Starvision.

Hingga saat ini empat film yang merupakan kerja bareng Fajar sebagai sutradara dan Santi yang memproduserinya telah lahir, yaitu Luntang Lantung (2014), Cinta Selamanya (2015), Moammar Emka’s Jakarta Undercover (2017), dan Terbang Menembus Langit (2018).

Proyek terbaru yang sedang mereka garap saat ini adalah ekranisasi Balada si Roy karya penulis Heri Hendrayana Harris alias Gol A Gong.

Seperti cerita dalam film-film yang mereka hasilkan, pasangan suami istri (pasutri) sineas ini juga tak selalu mulus mengarungi lakon kehidupan.

Pada akhirnya, cinta serta gairah membuat mereka tetap bertahan. Cinta terhadap film, juga gairah untuk memajukan industri perfilman Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR