Proyek patung B.J. Habibie di Gorontalo yang belum tuntas betul, Kamis (10/1/2019). Monumen terbuat dari perunggu. Nilainya lebih dari semiliar rupiah.
Proyek patung B.J. Habibie di Gorontalo yang belum tuntas betul, Kamis (10/1/2019). Monumen terbuat dari perunggu. Nilainya lebih dari semiliar rupiah. Beritagar.id / Franco Dengo
LAPORAN KHAS

Patung perunggu dan jejak singkat BJ Habibie di Gorontalo

Pendirian patung B.J. Habibie di Gorontalo beroleh macam-macam tanggapan. Mantan presiden RI itu punya sejarah di daerah tersebut.

Orang sering kaget dengan hal baru. Apalagi kalau dianggap tidak pada tempatnya. Sialnya, keterkejutan itu tak pilih ruang. Atau waktu.

Warga Gorontalo pun tak masuk dalam kekecualian. Tengok saja pada Desember 2018. Banyak orang konon terkejut dengan kehadiran sebuah patung jangkung. Tingginya tujuh meter. Menyaingi bangunan dua lantai. Punya bobot sekitar empat ton.

Ia terpacak di muka gerbang utama Bandar Udara Djalaludin Gorontalo. Di tengah simpang utama Trans-Sulawesi yang menghubungkan Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Jalan raya yang dari waktu ke waktu senantiasa ramai kendaraan.

"Jujur, saya kaget. Baru tahu kalau ada patung Pak Habibie di sini. Jadi singgah foto dulu lah," ujar Rizky kepada Beritagar.id, Kamis (10/1/2019) sore. "Sebelumnya kan cuma (ada) tugu-tugu kecil gitu".

Rizky penunggang motor. Melaju dari Kabupaten Boalemo, daerah yang berpesisir Teluk Tomini. Tujuannya Kota Gorontalo. Dari lokasi patung, pusat kota Gorontalo berjarak 30 kilometer.

Habibie dia maksud merujuk Bacharuddin Jusuf Habibie. Presiden ketiga Indonesia. Kesohor sebagai B.J. Habibie. Jago urusan pesawat terbang.

Di masa pemerintahan Suharto, dia masyhur sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi. 20 tahun lamanya. 1978-1998. Namanya kembali mengemuka setelah film arahan Faozan Riza, Habibie&Ainun, nampang di bioskop pada 2012.

Bukan cuma Rizky yang bertanya-tanya. Pula Arfandi Ibrahim, 27, warga Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango.

"Kenapa harus Pak B.J. Habibie? Kan masih banyak juga tokoh nasional yang jasanya nyata bagi daerah Gorontalo. Kalau menurut saya, patung Pak Habibie layaknya dibuat di Kabila, Bone Bolango, tempat kelahiran ayahnya. Bukan di (depan) bandara," ujar lulusan Universitas Gorontalo itu.

Dalam hematnya, penempatan itu tak sesuai. Sebab, dia pikir nama Djalaludin Tantu--penerbang TNI Angkatan Udara yang gugur pada masa konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia--sudah pantas sebagai nama bandara.

"Di daerah lain, semua ikon patung bandara sesuai dengan nama bandara. Contohnya Bandara Hasanuddin di Makassar," katanya.

Namun, Yakub Kau, 28, punya suara lain. Dia bilang, monumen itu tak berlebihan. Sebab B.J. Habibie tokoh nasional. Dan dalam nadinya mengalir darah Gorontalo.

"Posisi patung tersebut tidak berada di dalam bandara. Itu berada di persimpangan jalan. Tepat berada di tengah wilayah Provinsi Gorontalo," ujar pendiri sebuah perpustakaan kecil di Gorontalo. Nama perpustakaan itu, Mohammad Hatta. "Sebagai warga Gorontalo, kita sepatutnya bangga".

Yakub benar. Patung perunggu dengan lebar dua meter itu berdiri di luar kawasan. Sekitar 300 meter dari terminal bandara. Wajah patung memasang senyum ramah khas Rudy, panggilan B.J. Habibie. Berkacamata. Dengan mata menyorot ke arah gerbang bandara.

Sudah begitu, patung Rudy tak menanggalkan warna lokal. Di bagian tubuhnya tercetak pakaian Takowa. Baju kerawang khas Gorontalo. Biasa dikenakan para pemegang Tauwa, gelar kehormatan tertinggi bagi seorang pemimpin di Gorontalo.

Bagian kepala berhias peci lonjong berpita emas. Tanda Rudy beroleh gelar Pulanga (gelar adat setempat). Tangan kanannya naik. Membentuk siku. Memegang miniatur pesawat. Dan pesawat mini itu mengarah ke jalur lepas landas Bandara Djalaludin, seolah-olah siap diluncurkan.

Pematungnya asal Yogyakarta. Dua orang. Lutse Lambert Daniel Morin dan Suwardi. Nilai kontrak Rp1,7 miliar.

Rumah lama di Kota Timur, Gorontalo. Di tempat ini keluarga Habibie pernah tinggal. Akan hal B.J. Habibie, di masa lalu dia hanya merasakan ada di rumah ini waktu dikhitan.
Rumah lama di Kota Timur, Gorontalo. Di tempat ini keluarga Habibie pernah tinggal. Akan hal B.J. Habibie, di masa lalu dia hanya merasakan ada di rumah ini waktu dikhitan. | Franco Dengo /Beritagar.id

Pembangunan patung digagas Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie. Dia sepupu Rudy. Ayahnya bersaudara kandung dengan ayah Rudy, Alwi Abdul Jalil Habibie. Tetapi, di luar kebiasaan umum, Rusli memanggil B.J. Habibie dengan sebutan 'Om'.

Untuk mengetahui dalih pemasangan patung, saya menemui sang gubernur di rumah pribadinya di Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, pada Rabu (16/1).

Dalam obrolan malam itu, Rusli menyinggung soal pemilihan figur patung yang sudah melalui proses panjang. Bahkan diseminarkan. Simposium berlangsung pada 24 Oktober 2017.

Seminar tersebut dihadiri pelbagai kalangan. Seniman, sosiolog, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh adat. Proses seleksi tentu berdasar banyak pertimbangan.

Awalnya ada 27 nama diusulkan. Lalu mengerucut menjadi 10. Di antara yang ada dalam lis tersebut adalah B.J. Habibie, Hans Bague Jassin, J.S. Badudu, Thayeb Mohamad Gobel, dan Djalaludin Tantu.

Lewat perdebatan, nama B.J. Habibie mencuat. Tim perumus pun meraih kata akur.

"Setelah terpilih, kami, bersama para tokoh adat, tokoh masyarakat, bupati, dan wali kota, sama-sama datang meminta izin langsung ke beliau (B.J. Habibie) untuk dibuatkan figur patung," ujar Rusli yang berkaos oblong hitam Harley Davidson.

Dia lantas mengutip cerita dari daerah lain. Di Pelabuhan Pare-pare, tulisan besar 'Pare-pare kota kelahiran B.J. Habibie Presiden ke-3 Republik Indonesia' terpasang. Eks tempat tinggal Rudy di daerah itu juga dijadikan museum.

"Di mana-mana, Pak B.J. Habibie itu mengakui sendiri bahwa dia orang Kabila, Gorontalo. Pembuatan patung ini sebagai tanda bahwa kita benar-benar mengakui bahwa beliau adalah orang Gorontalo," kata Rusli.

Jejak B.J. Habibie di Gorontalo

Malam bertambah malam. Kini pukul 22.30. Udara dingin menguasai beranda rumah Rusli. Di tengah malam nan kian larut, pembicaraan kian jauh surut ke masa silam.

Rusli mengisahkan, Alwi Abdul Jalil Habibie, ayah B.J. Habibie, merupakan warga asli Gorontalo. Dia lahir dan besar di sana sebelum merantau ke Bogor untuk menuntut ilmu. Sekolah yang dipilih berfokus pada ilmu pertanian. Hari ini sekolah itu dikenal sebagai Institut Pertanian Bogor (IPB).

"Begitu lulus--saya lupa persis tahun berapa--beliau ditugaskan di Pare-pare. Dipercayakan sebagai ketua salah satu lembaga yang bergerak di bidang pertanian," ujar Rusli.

Pengembaraan itu akhirnya menautkan Alwi dengan perempuan yang kelak dia peristri. "Ketemulah ia dengan jodohnya, Ibu Marini Puspowardoyo, warga Yogyakarta," kata Rusli.

Keduanya menikah dengan adat Gorontalo. Karier Alwi pun setelahnya moncer. Dia pernah menjadi kepala jawatan pertanian di Makassar. Daerah tugasnya meliputi Indonesia bagian timur.

B.J. "Rudy" Habibie masuk Gorontalo untuk kali pertama saat baru menginjak usia belasan. Maklum, dia lahir di Pare-pare, yang jaraknya dari Kota Gorontalo lebih dari 1.200 kilometer. Di sana pun tidak lama. Hanya dalam hitungan hari.

Dia tiba bersama orang tua. Mereka datang dengan kapal, dan berlabuh di Pelabuhan Anggrek, Gorontalo bagian utara.

"Dia (B.J. Habibie) dikhitan di sini, dan pada waktu itu hampir seluruh keluarga Habibie ngumpul. Potret masa kecilnya masih ada tersimpan di Rumah Tinggi, rumah kakek kami," kata Rusli.

Rumah Tinggi dimaksud ada di Kelurahan Tamalate, Kecamatan Kota Timur. Tempat kelahiran ayah Rudy. Rudy pernah berpesan kepada Rusli agar menjadikan rumah itu sebagai museum.

Dua kali saya mendatangi rumah itu. Tapi ditolak. Rupanya tak sembarang orang bisa masuk.

Untuk persiapan kali ketiga ke sana, saya meminta restu lebih dulu dari Gubernur Rusli. Untungnya, dia lalu kasih jaminan.

Meski begitu, saya masih ragu. Setelah sampai di muka Rumah Tinggi, saya cuma berdiri saja di gerbang. Mematung. Padahal garansi dari orang nomor satu di Gorontalo telah saya kantongi.

Salah satu foto yang tergantung di dinding rumah keluarga Habibie di Gorontalo. Di situ terlihat keluarga Habibie sedang bersantai.
Salah satu foto yang tergantung di dinding rumah keluarga Habibie di Gorontalo. Di situ terlihat keluarga Habibie sedang bersantai. | Franco Dengo /Beritagar.id

Tetapi, teriakan seseorang menyadarkan saya. "Masuk saja," katanya, "di dalam ada orang".

Rumah itu didominasi warna kuning gading. Nampak bersih. Kilau cahaya matari terpantul pada tiang-tiang hitam-kecokelatan. Dua lampu klasik menggantung di teras. Di atas kursi-kursi kayu teratur.

Seorang perempuan berdaster menghampiri saya. Dia menanyakan tujuan saya ke rumah itu, dan bergegas mengarahkan saya masuk setelah mendengar nama Rusli Habibie.

Namanya Hana Gabali. Usia 54. Dia menjaga dan mengurusi Rumah Tinggi sendirian sejak suaminya--seorang keturunan keluarga Habibie--meninggal dunia. 20 tahun lalu, Gubernur Rusli memintanya tinggal di situ.

Setelah lulus dari tangga belakang rumah, saya tiba di ruang pertama. Luasnya sekitar 9x4 meter. Dindingnya kayu. Digantungi beberapa foto dan lukisan.

Ruangan itu tersambung dengan lorong yang membimbing kaki untuk bergerak ke ruangan selanjutnya. Ruangan yang bertutup tirai berwarna keemasan dan diapit dua kamar. Di dalam ruangan itu, foto-foto lama menutupi nyaris semua bagian dinding.

"Yang di kanan ini adalah kamar Pak B.J. Habibie bersama orang tuanya," kata Hana mengenai salah satu kamar. "Pintunya terkunci. Tidak ada yang bisa masuk. Kecuali pas Pak B.J. Habibie datang ke sini. Baru dibuka."

Kemudian ruang tamu. Masih didominasi foto. Salah satunya berisi gambar Rudy dan mendiang istrinya, Ainun.

Tiap kali Hana bertemu B.J. Habibie, dia akan mendapat sapaan 'wololo habari' atau 'apa kabar' dalam bahasa Gorontalo. Selain itu, Rudy, kata Hana, juga terikat dengan satu hal.

"Dia sangat suka dengan acar sagela (ikan roa). Kalau dia datang, saya akan masak sebelanga besar khusus untuk dia," ujarnya. "Dia pernah bilang acar saya akan dibawanya sampai ke Jerman".

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR