Perbekel Desa Bengkala I Made Arpana menunjukkan bahasa isyarat dengan memegang bawah hidung, Rabu (17/4/2019). Bahasa isyarat itu merujuk pada kata pria.
Perbekel Desa Bengkala I Made Arpana menunjukkan bahasa isyarat dengan memegang bawah hidung, Rabu (17/4/2019). Bahasa isyarat itu merujuk pada kata pria. I Made Argawa
PEMILU 2019

Pemilu di kampung bisu

Potret pemilu di Desa Bengkala, Buleleng, Bali. Berdasarkan data KPU yang diolah Lokadata Beritagar.id, jumlah pemilih disabilitas pada Pemilu 2019 yakni 363.200 pemilih.

I Wayan Subentar, 25, duduk dengan tenang di Tempat Pemungutan Suara (TPS) nomor 2 Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali.

Subentar terlihat sama dengan warga lainnya mengenakan kain dan selendang terikat di pinggang.

Beberapa saat kemudian, Subentar mendapatkan instruksi dari petugas TPS berupa gerakan jari memanggil. Seketika Ia bangkit dari kursi dan mendaftar di petugas. Selanjutnya mengambil surat suara.

Tidak ada percakapan antara Subentar dengan petugas TPS. Sesekali Subentar terlihat menatap lama lembar surat suara sebelum pencoblosan.

"Sudah punya pilihan," kata seorang warga Desa Bengkala, Made Pasi Dodo, 52, yang mengartikan bahasa isyarat I Wayan Subentar kepada Beritagar.id, Rabu, 17 April 2019.

Subentar merupakan pemilih penyandang tunawicara alias bisu. Ia terlihat tidak kesulitan dalam menentukan pilihan karena pernah mengikuti sosialisasi Pemilu yang dilakukan oleh KPU Buleleng.

Selain itu, warga Banjar Bengkala Kajanan ini pernah didekati oleh relawan dari salah satu kandidat DPRD kabupaten sehingga sudah punya pilihan. "Sisanya ditentukan di TPS," ujar Subentar dengan gerak tangan.

Sebelum mencoblos I Wayan Subentar sempat mengeluh ke petugas KPPS Desa Bengkala karena tidak mendapatkan formulir C6 atau formulir panggilan untuk memilih.

Dengan menunjukkan KTP elektronik, Ia lantas mendapatkan formulir daftar pemilih KTP sehingga bisa memberikan hak suaranya.

Di TPS 3, masih di desa Bengkala, Cening Sukasti, 49 tahun dengan antusias menunjukkan kelingking kiri telah tercelup tinta. Sama seperti Subentar, Cening Sukasti merupakan penyandang tunawicara.

Ia datang ke TPS 3 Desa Bengkala pukul 09.00 wita. "Datang sendiri ke TPS," kata anak Cening Sukasti, Komang Budiasa, 25 tahun.

Kecuali Komang Budiasa, semua keluarga Cening Sukasti adalah kelompok penyandang tunawicara. Untuk mencoblos saat Pemilu Budiasa mengatakan, keluarganya tidak ada kendala. "Sudah dapat sosialisasi," ujar Budiasa.

Kakak perempuan Budiasa, Ni Made Dadi Astini, 27 tahun bekerja sebagai fotografer di Sanur sengaja pulang untuk mencoblos.

Semua keluarga Komang Budiasa mencoblos saat Pemilu. Selain mendapatkan informasi tentang kandidat melalui relawan dan sosialisasi teknis KPU Buleleng, orang tuanya sering menonton berita di televisi.

Wayan Subentar menunjukkan formulir daftar pemilih KTP, Rabu (17/4/2019). Warga disabilitas di Desa Bengkala ini tidak dapat formulir C6.
Wayan Subentar menunjukkan formulir daftar pemilih KTP, Rabu (17/4/2019). Warga disabilitas di Desa Bengkala ini tidak dapat formulir C6. | I Made Argawa

Desa Bengkala memiliki jumlah pemilih disabilitas tunawicara sebanyak 25 orang. Data tersebut diajukan oleh pihak desa.

Berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dikeluarkan oleh KPU Buleleng, hanya ada dua warga Desa Bengkala masuk daftar disabilitas dan mencoblos di TPS 6.

"Saya juga tidak mengerti, mungkin KPU Buleleng tidak memasukkan data kami," kata Ketua PPS Desa Bengkala Made Widiana.

Hasil rekapitulasi pada pencoblosan Rabu, 17 April 2019 tercatat 17 warga disabilitas Desa Bengkala pada DPT.

Widiana menyebut, saat pelaksanaan pencoblosan diwajibkan untuk memberikan pendampingan pada warga disabilitas. Namun, warga disabilitas di Desa Bengkala rata-rata sudah bisa membaca dan menulis sehingga itu ditiadakan.

"Warga disabilitas sudah berbaur. Warga normal juga banyak yang mengerti bahasa isyarat," ujarnya.

Widiana menceritakan saat pemilihan Gubernur Bali 2018 tujuh warga dari 25 DPT disabilitas Desa Bengkala tidak menggunakan hak suaranya atau golput.

Daftar pemilih tetap di Desa Bengkala sebanyak 2.265 pada Pemilu 2019 dengan delapan TPS.

Proses persiapan Pemilu hingga pencoblosan di Desa Bengkala tidak terlalu berbeda dengan tempat lain. Hanya saja saat sosialisasi melibatkan penerjemah bahasa isyarat.

"Penerjemah sengaja direkrut oleh KPU Buleleng untuk memfasilitasi warga disabilitas," kata Widiana. "Sepenuhnya dilakukan oleh penerjemah kami hanya mengawasi."

Sementara Komisioner KPU Buleleng Divisi Sosialisasi Gede Bandem Samudra mengatakan banyak warga disabilitas tercatat sebagai warga normal.

"Sebagian warga di sana akan tersinggung ketika dikatakan sebagai disabilitas," katanya. "Itu informasi yang saya terima dari PPS dan PPK."

KPU Buleleng telah dua kali mengadakan tatap muka dengan warga di Desa Bengkala termasuk dengan warga disabilitas. Sosialisasi berupa tatap muka itu dilakukan pada Oktober 2018 dan Maret 2019.

Gede Bandem mengatakan, melakukan sosialisasi pemilih, pengenalan surat suara dan apa yang dilakukan saat memilih. "Warga Desa Bengkala malah banyak yang daftar sebagai penyelenggara Pemilu."

***

Subentar, Cening Sukasti dan beberapa warga Bengkala lainnya termasuk pemilih penyandang disabilitas yang memiliki hak sama sebagai warga negara.

Berdasarkan data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang diolah Lokadata Beritagar.id, jumlah pemilih disabilitas pada Pemilu 2019 yakni 363.200 pemilih. Jumlah ini 0,191 persen dari Daftar Pemilih Tetap (DPT), 190.770.329 pemilih.

KPU membagi penyandang disabilitas menjadi lima kategori, yaitu tunadaksa, tunanetra, tunarungu/tunawicara, tunagrahita, dan disabilitas lainnya.

Pemilih tunadaksa adalah pemilih dengan cacat tubuh antara lain pengguna kursi roda, polio kaki/tangan, eks lepra, orang kecil. Pemilih tunanetra adalah pemilih yang tidak dapat melihat.

Adapun pemilih tunawicara adalah pemilih yang tidak dapat berbicara dan tunarungu yang tidak dapat mendengar.

Pemilih tunagrahita adalah pemilih yang memiliki keterbatasan kecerdasan, misalnya mereka berusia 40 tahun lebih tetapi kecerdasan dan perilakunya seperti anak 10 tahun.

Pedoman pemilu bagi penyandang disabilitas terangkum melalui modul ringkas pemilu akses bagi penyandang disabilitas.

Pemilih disabilitas paling banyak yakni daksa, 100.765 pemilih atau 0,053 persen dari DPT, kemudian disusul oleh disabilitas lainnya sebanyak 77.995 pemilih, dan tuna rungu sebanyak 68.246.

Sementara, pemilih grahita dan mental yang diisukan (hoaks) sebanyak 14 juta pemilih. Namun, data yang dihimpun oleh KPU jumlah pemilih grahita dan gangguan mental yang dirawat keluarga dan rumah sakit jiwa sebanyak 54.295 pemilih atau 0,029 persen dari DPT.

***

Besar di tengah keluarga disabilitas dan satu-satunya terlahir normal tidak menjadi persoalan bagi Komang Budiasa. Ia berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dengan kedua orang tuanya dan saudaranya. "Itu adalah bahasa ibu," ujarnya.

Komang saat ini bekerja di toko yang menjual alat elektronik di Singaraja. Ia menceritakan kakek dan nenek dari bapaknya adalah disabilitas. Bapaknya, Nyoman Santia (disabilitas) menikah dengan ibunya Cening Sukasti dan melahirkan empat anak.

Empat anak pasangan Nyoman Santia dan Cening Sukasti semuanya pernah mengenyam bangku sekolah. Komang Budiasa tamat setingkat SMA hingga bekerja.

Kakak perempuannya Ni Made Dadi Astini tamat sekolah setingkat SMA di SLB Singaraja dan saat ini menjadi fotografer. Kakak laki-laki tertua Komang Budiasa, Putu Suara Yasa tamatan sekolah dasar.

"Karena tidak suka dengan teman sekolah, kakak tertua saya berhenti. Saat SD sering diajak mencuri," ujarnya. Saat ini Putu Suara Yasa bekerja di ladang dan beternak.

Dengan modal pendidikan, Komang Budiasa menilai kehidupan keluarganya bisa lebih baik karena bisa mandiri. "Kakak tertua saya sudah menikah dengan perempuan normal, dua anaknya normal. Anak saya juga normal," ujarnya.

Kepala Desa Bengkala I Made Arpana mengatakan, desanya telah memiliki sekolah dasar inklusif sejak tahun 2007. Sekolah tersebut berada di SDN 2 Bengkala.

"Ada BUMN yang berencana membuat sekolah lanjutan inklusif di sini," ujarnya. Pihak desa telah memiliki lahan dan mendapatkan persetujuan warga.

Ia menyebut, banyak siswa lulusan sekolah inklusif di Desa Bengkala ragu ke sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) karena diarahkan ke sekolah luar biasa.

"Kurikulumnya berbeda. Sekolah luar biasa mengajarnya menyeluruh. Sementara, sekolah inklusif mendapat perhatian khusus pada setiap anak," ujarnya.

Made Arpana berharap janji dari sebuah BUMN untuk mendirikan sekolah lanjutan inklusif di Desa Bengkala bisa terwujud. Karena sekolah dasar inklusif yang ada juga digunakan oleh warga dari luar. "Ada sekitar tujuh siswa saat ini, semuanya dari luar wilayah," ujarnya.

Bali termasuk provinsi 10 besar dengan jumlah siswa penyandang disabilitas. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terdapat 3,4 ribu siswa penyandang disabilitas di sekolah khusus di Bali.

Kepala Desa Bengkala I Made Arpana mengatakan, ada 43 warganya yang termasuk kelompok disabilitas. Tak heran, banyak yang menyebutnya kampung bisu. Pekerjaan utama mereka sebagai buruh tani.

Banyaknya warga disabilitas di Desa Bengkala diduga dikarenakan faktor genetik. "80 persen karena genetik. Ada mahasiswa dari Amerika yang meneliti itu," kata Made Arpana.

Made Arpana menyatakan, Saat ini jumlah warga disabilitas di Desa Bengkala mengalami penurunan. Selain itu, jumlah dominannya bergeser dari Banjar Bengkala Kelodan ke Bengkala Kajanan.

Warga disabilitas Desa Bengkala kerap kali dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk memperoleh gelar magister atau doktor. "Sekarang masih ada penelitian dari Jepang dan Kanada," katanya.

Selain meneliti dari faktor kesehatan, obyek penelitian warga disabilitas Desa Bengkala adalah interaksi sosial dan bahasanya. Bahasa isyarat warga Desa Bengkala diambil dari bagian tubuh manusia.

"Untuk menyebut pria, telunjuk ditempel di bawah hidung. Untuk menyebut perempuan memegang dada," kata Made Arpana. "Bahasa isyarat nasional, jika menyebut perempuan, pegang telinga."

Dengan banyaknya masyarakat luar yang datang ke Desa Bengkala diharapkan warga disabilitas bisa lebih terbuka. Serta anggapan jika mereka dikutuk memudar. "Warga disabilitas telah ada sejak desa ini berdiri," kata Made Arpana.

Menurut Arpana, warganya yang masuk kelompok disabilitas aktif dalam kegiatan sosial di Desa Bengkala. Ia menceritakan ada warga disabilitas yang menanyakan tentang formulir C6 kepada dirinya sehari sebelum pencoblosan. "Rasa ingin tahu mereka besar," ujarnya.

Selain itu, warga disabilitas dalam pelaksanaan ritual agama sudah sama dengan warga lainnya, seperti menggunakan babi guling saat upacara tiga bulanan. "Saya dapat undangan warga disabilitas yang upacara tiga bulanan."

Warga disabilitas Desa Bengkala juga memiliki kesenian khas yakni tarian Janger kolok atau para penarinya tidak bersuara. Tarian ini telah ada sejak 1968.

Saat ini dengan pemberdayaan dari desa serta bantuan pihak luar, warga disabilitas Desa Bengkala telah memiliki tiga tarian lain yakni, Jalak Anguci, Baris Babila dan Nandani.

"Justru sekarang warga disabilitas bisa berkontribusi untuk warga normal, ketika tampil di hotel mereka akan dapat bayaran," ujarnya.

Suara penyandang disabilitas mental dan grahita di Pemilu 2019 /Beritagar ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR