Ilustrasi orang tua mendampingi anak belajar di rumah.
Ilustrasi orang tua mendampingi anak belajar di rumah. Wahyu Setiawan / Tempo

Pendidikan tanpa penyeragaman

Belajar, harusnya menyenangkan, bukan membebani.

Suatu pagi, seorang guru TK menyuruh anak-anak didiknya menggambar burung. Alma, bocah lima tahun itu dengan malas melaksanakan perintah gurunya.

Sepulang sekolah, ia bertanya pada ibunya.

"Bunda, apakah aku harus menggambar burung kalau aku tak suka burung?"

"Oh, nggak harus. Emang kenapa?" kata Endah, ibunya.

"Aku ingin menggambar ikan."

Percakapan lebih dari setahun lalu itu mengantarkan Alma pada pilihan untuk sekolah di rumah atau homeschooling.

Suasana kelas tak merangsang minat belajarnya. Hanya melihat papan tulis dan buku, tak sesuai dengan gaya belajar Alma. Kini, waktunya ia habiskan dengan belajar di rumah dan mengikuti aktivitas orang tuanya. "Setiap anak itu unik, mereka tak harus diseragamkan dalam sistem," ujar Endah.

Dalam pengamatan Endah, anaknya tak suka keteraturan dalam berbagai sisi. Misal, belajar harus dibatasi waktu dan pola. "Sebab proses belajar tiap orang bisa berbeda," kata dia.

Keseragaman ini juga menjadi alasan Amira memilih homeschooling buat dirinya. Sebab, perempuan yang sudah lulus dari Univesitas Indonesia ini merasa, apa yang ia peroleh di sekolah tidak sesuai dengan di dunia nyata. Misalnya, tentang keseragaman yang sudah membudaya di hampir semua lingkungan sekolah.

Nyatanya, hidup tidak selalu seragam. Sebagai pembelajar, yang ia butuhkan adalah bagaimana ia harus menyikapi perbedaan tersebut. Menilai baik dan buruk tak seperti ciri-ciri yang disebut dalam buku. Sebab banyak hal di dunia pada kenyataanya malah abu-abu.

Homeschooling adalah sekolah rumah. Pada hakikatnya, homeschooling bukan memanggil guru ke rumah. Tapi menempatkan orang tua sebagai guru, menjadikan rumah sebagai tempat belajar, dan hidup sehari-hari sebagai waktu belajar.

Sejarah homeschooling bisa dilacak di Amerika Serikat pada era 1840. Saat itu, 45 persen generasi di Paman Sam bersekolah di rumah atau dididik oleh tutor. Sepuluh tahun kemudian, sekolah umum mulai menemukan bentuknya dan menjadi wajib pada tahun 1918.

Pada era 1960-an muncul pendapat yang mempertanyakan tentang metode dan hasil dari sekolah umum ini. Akhirnya, pada 1980-an sebagian pemerintah negara bagian AS melegalkan homeschooling. Status legal di semua negara bagian baru tercapai pada 1993.

Di Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengakui legalitas homeschooling. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan nomor 129 tahun 2014 tentang Sekolah Rumah menyebut, hasil pendidikan homeschooling diakui sama dengan pendidikan formal dan non formal, setelah mereka lulus ujian standar nasional. Hasil didikan homeschooling juga berhak masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi atapun memasuki lapangan kerja.

Andi Rizki Putra, yang kini telah mengondol gelar Sarjana Hukum, melewati masa SMA dengan homeschooling. "Saya bisa lulus pendidikan SMA hanya dalam waktu satu tahun," ujarnya kepada Koran Sindo.

Kunci kecepatannya untuk lulus adalah pengaturan jam belajar. Dalam waktu enam bulan ia bisa merangkum semua pelajaran SMA yang setara sekolah tiga tahun. Jika normalnya orang biasa menghabiskan waktu belajar dalam sehari delapan jam, Andi bisa tiga kali lipatnya, walau disambi mengerjakan hal lain. "Tipe belajar seperti itu cocok untuk saya karena memang dasarnya saya anak yang hiperaktif," kata Andi.

Dengan homeschooling, anak bisa menyesuaikan kapan waktu ia belajar, apa yang ingin ia pelajari, hingga belajar lewat medium apa. Homeschooling memberi anak kesempatan untuk memilih, dan menyesuaikan pelajaran sesuai bakat dan minatnya. Maka, orang tua bisa memilih fokus yang diminati anaknya. Tak perlu harus mempelajari hal-hal di luar minatnya. Hal-hal umum, tetap harus tahu. Tapi tak harus mendalam.

Menurut Endah, metode yang digunakan adalah campuran antara keinginan bocah dengan pengetahuan umum. Orang tua menyodorkan pengetahuan lewat medium yang disukainya.

Misal, ia suka jajan es krim. Dari es krim ia bisa belajar membaca merek es krim, mengenal mata uang, menghitung uang secara matematis, belajar warna, hingga memahami kandungan isi es krim. Lewat medium film, ia juga banyak belajar membaca, menulis hingga belajar budaya, sampai soal anti korupsi.

Homeschooling membuatnya bisa memadukan beragam jenis pelajaran tanpa perlu membangun sekat yang memisahkan pelajaran di sekolah.

Namun bukan berarti cara itu tanpa kendala. Kendala pertama bisa datang dari orang tua. Menjadi guru 24 jam bukan hal yang ringan dan bisa membosankan. Butuh rasa sabar yang berlebih.

Anak akan mengikuti orang tuanya sepanjang hari dan malam. Seperti umumnya anak-anak, mereka akan bertanya hal-hal di luar dugaan. Orang tua harus siap menjawab, dan ikut belajar. "Bunda, kenapa kita tinggal di bumi, kenapa engga tinggal di planet Mars aja?" tanya Alma suatu kali. Dan pertanyaan itu akan terus menjalar ke mana-mana.

Kendala lain, adalah omongan dari lingkungan sekitar. Tak jarang, anak homeschooling dilabeli 'bocah tak mau sekolah' ataupun 'tak pernah makan bangku sekolah'. Atau malah diselidik, kenapa tak memasukkan anak ke sekolah.

Bahkan, walau sudah meraih ijazah Paket C, Andi juga tetap bertemu kendala. Ibunya, dikepung pertanyaan pertanyaan dari keluarga, tetangga, dan teman-temannya. "Terima saja. Dengarkan, dan iyakan," pesan Aar Sumardiono, orangtua homeschooling bagi ketiga anaknya kepada theasianparent.com.

Pendiri Rumah Inspirasi menyebut, pada akhirnya orang tua yang memutuskan pendidikan seperti apa yang akan kita berikan untuk anak kita. Pada akhirnya orang akan melihat apa yang nanti akan diraih anak-anak. "Jadi, dengarkan saja," kata penulis buku "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" dan "Warna-warni Homeschooling" ini.

Sisi lain yang bisa menjadi kendala adalah sosialisasi. Karena anak belajar di rumah, maka teman-temannya adalah orang yang berada di rumah. Jika pergaulannya hanya seputar rumah, maka wawasan dan pergaulannya terbatas. Maka, anak yang homeschooling, patut diajak sosialisasi.

Misalnya, diikutkan kursus atau kelas sesuai minat anak. Seperti musik, bahasa, melukis, atau olahraga. Bisa juga diajak bermain dengan teman sebayanya, ke tempat kerja orang tuanya, atau ke tempat umum sambil belajar.

Sebab belajar tak kenal tempat dan waktu.

Anak-anak bermain dalam peluncuran Playday Boardgames Anti Korupsi di KPK, Jakarta, Jumat (15/4). Kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk kampanye pemberantasan korupsi di Indonesia dengan menggunakan model permainan,
Anak-anak bermain dalam peluncuran Playday Boardgames Anti Korupsi di KPK, Jakarta, Jumat (15/4). Kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk kampanye pemberantasan korupsi di Indonesia dengan menggunakan model permainan, | Rosa Panggabean /Antara

Setelah menonton film Upin Ipin, Alma bertanya

"Bunda, SPRM itu apa?"

"Kamu tahu dari mana?" Endah bertanya balik.

"Itu dari Upin Ipin."

Setelah mencari tahu lewat laman mesin pencari, Endah tahu SPRM adalah akronim dari Suruhanjaya Pencegah Rasuah Malaysia. Semacam KPK jika di Indonesia. Pertanyaan itu menjalar, rasuah itu apa, korupsi itu apa, dan pertanyaan apa-apa yang lainnya.

Homeschooling menekankan aktivitas sehari-hari menjadi sumber pelajaran anak. Orang tua berperan sebagai pemberi umpan balik yang positif dan memberi contoh keterampilan yang penting. Interaksi orang tua dengan anak adalah hal utama. Orang tua mengikuti minat anak.

Untuk memulai homeschooling, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Aktor pertama dalam homeschooling adalah orang tua. Maka, saat memutuskan memilih homeschooling, orang tua yang harus memulai mengumpulkan pengetahuan tentang homeschooling. Galilah informasi dari teman, klub, milis dan perkumpulan keluarga yang juga menerapkan cara belajar serupa.

Bagi anak yang memang belum pernah mengenyam bangku sekolah, homeschooling bisa diterapkan sejak usia prasekolah. Metode yang digunakan tiap anak bisa berbeda. Praktisi homeschooling, Aar Sumardiono menjelaskan, satu keluarga bisa saja berbeda memakai metode berbeda dibanding keluarga lain.

Ada yang menyesuaikan metodenya dengan aktivitas harian, memakai jadwal harian dan mingguan untuk jam belajarnya. Nah, dengan bertukar ide, menimba pengalaman lain, orang tua bisa menemukan metode belajar yang tepat untuk anak.

Jika Anda sudah memutuskan homeschooling sebelum anak belum pernah mengenyam bangku sekolah, mulailah sejak usia prasekolah. Saat itu, karakter anak masih dapat dibentuk dengan baik. Kunci suksesnya adalah komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak.

Orang tua harus benar-benar tahu apa yang diinginkan si anak. Misalnya soal hobi, kegemaran ataupun minat. Menurut Aar, anak akan lebih fokus mengejar apa yang dia mau pada tingkatan usia selanjutnya.

Endah, menilai, jika dimulai sejak usia prasekolah, orang tua harus memiliki wawasan yang luas. Sebab, anak belum bisa menentukan hobi dan minat. Orang tua harus bisa menghidangkan wawasan dan hal baru buat anak, agar anak tak terkungkung pada pilihannya yang masih sempit. Jika anak sudah memiliki minat, maka orang tua harus mengawal dan mengkuti minat anak.

Siap-siaplah belajar jika minat anak berbeda engan orang tuanya. Orang tua harus mempersiapkan diri dengan juga banyak belajar. Banyak sumber di internet, media sosial, hingga jaringan orang tua yang menerapkan homeschooling.

Lalu, kedua orang tua harus satu persepsi. Putuskan visi dan misi arah pendidikan anak sebelum memutuskan menerapkan homeschooling buat anak. Jika tak menemukan persamaan visi, jangan paksakan anak untuk homeschooling. Kedua orag tua juga harus berjiwa besar. Jika tak mampu menjawab ataupun mengatur jadwal homeschooling, bisa menyewa guru yang menguasai ilmu dan mampu mengelola jadwal.

Bagaimana jika anak sudah pernah sekolah?

Jika ide homeschooling muncul dari orang tua, bicarakan rencana ini pada anak. Dengarkan apa yang menjadi keberatannya. Jika ide homeschooling berasal dari anak, jelaskan konsekuensi homeschooling. Sebab homeschooling bukanlah pelarian dari masalah, bukan berarti bermalas-malas dan bertindak suka-suka. Homeschooling tetap menuntut tanggung jawab anak untuk terus belajar.

Jika memang anak dan orang tua sudah mantap, lakukan proses deschooling. Menurut Aar, deschooling adalah proses penyesuaian. Dari kebiasaan belajar di sekolah yang dipimpin guru dan sangat terstruktur, berubah jadi di rumah, dipimpin oleh diri sendiri dan orangtua.

Homeschooling menuntut komitmen dan inisiatif anak agar berhasil. Pada proses deschooling ini, trauma psikologis dipulihkan, budaya belajar baru mulai ditumbuhkan. Menurut Aar, belajar itu hak, bukan kewajiban. Harusnya, belajar juga menyenangkan, bukan membebani.

Untuk sukses homeschooling, Aar punya tips, seperti dilansir Kompas.com. Pertama, jangan memilih homeschooling karena gaya ataupun mengikuti tren. Sebab, ini akan mempengaruhi masa depan anak. Kedua, orang tua menjadi kepala sekolah. Orang tua bertanggung jawab atas segala proses belajar anak. Entah mengikutkan anak ke kursus, atau mengajarinya sendiri. Kesuksesan anak homeschooling berasal dari orangtuanya.

Ketiga, sebagai konsekuensinya, orang tua juga harus belajar. Baik belajar soal homeschooling atau belajar bidang yang menjadi minat anak. Keempat, bukalah jaringan dengan sesama praktisi homeschooling.

Timbalah pengalaman, galilah informasi, dan berbagi pelajaran. Terakhir, gunakan internet. Ada sumber berlimpah di dunia maya soal homeschooling, dan bidang-bidang yang menjadi minat anak.

Agus Salim bersama istrinya
Agus Salim bersama istrinya | Ed Zoelverdi /Tempo

Dalam urusan pendidikan, segala upaya pembelajaran di luar sekolah acap dikategorikan sebagai pendidikan alternatif. Pengotakan berwarna marjinalisasi ini sehaluan dengan bagaimana kelompok usaha di kalangan miskin perkotaan dikelompokkan ke dalam sektor ekonomi informal pada 1970-an.

Homeschooling atau pendidikan rumah atau sekolah rumah masuk ke dalam kotak alternatif itu. Meski di beberapa negara seperti Brasil atau Turki sistem pendidikan termaksud tidak diakui negara, tapi pemerintah Indonesia lewat Undang-undang No.20/2003 tentang sistem pendidikan nasional menghalalkannya. Tentunya dengan label pendidikan informal.

Meski demikian, tidak beredar data pasti mengenai jumlah pelakon sekolah rumah di Indonesia. Data dari Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena) empat tahun lalu menunjukkan setidaknya 1400 anak di Indonesia terpapar dengan metode ini.

Di negeri yang kerap dijadikan sebagai bandingan, Amerika Serikat, sekitar 2,3 juta orang mengikuti program sekolah rumah. Tingkat kenaikan pesertanya per tahun berkisar antara 2 persen hingga 8 persen.

Keluarga yang memberikan asupan pendidikan rumahan pun tidak bersandar pada sumber pendidikan yang dibiayai pajak atau dana publik lain. Dalam hitungan angka, para pembayar pajak rata-rata mesti menyumbang sekitar USD11.732 per siswa sekolah umum, atau jika dirupiahkan mencapai Rp154,2 juta. Sementara, kebanyakan siswa sekolah rumah tidak membutuhkan topangan. Keluarga pelaksana sekolah rumah pun hanya butuh ongkos USD600 per siswa.

Kalau mau mengadu jebolannya, sekolah rumah tidak bisa didudukkan--meminjam istilah transportasi--di kursi kelas tiga. Sejumlah tokoh yang pernah merasakan jadi siswa maupun pengajar sekolah rumah menggapai kemasyhuran dengan tingkatan bervariasi.

Julian Assange boleh masuk dalam deretan figur termaksud. Juru pemrograman komputer yang namanya mendunia karena mendirikan Wikileaks, situs penyebar informasi bawah tanah, sempat mencicipi pendidikan rumahan. Alasan laku itu, keluarganya kerap berpindah rumah. Dilansir The New Yorker, pada saat usia Assange 14 tahun, mereka telah 37 kali pindah tempat tinggal.

Selain faktor itu, ibunya seorang nonkonformis garis keras (pada usia 17 tahun, sang ibu membakar buku-buku sekolahnya). Ia meyakini bahwa sekolah hanya akan mematikan hasrat seseorang untuk belajar. "Aku tak mau semangat (anak-anak) hancur," ujarnya dikutip laman tersebut.

Sejenak menilik latar belakang itu, laik jika Assange menjalani sekolah rumah. Ia sering mengambil kelas jarak jauh, dan belajar dengan langsung mendatangi guru besar pelbagai universitas. Namun, sebagian besar upayanya diarahkan pada kegiatan membaca mandiri. Dan ia melakukannya dengan keras.

"Saya sering berlama-lama di perpustakaan, melompat dari satu hal ke hal lain, menyuntuki buku yang saya temukan sebagai rujukan, dan saya menelusuri jejak (pikiran mengenai topik termaksud)," ujar Assange. Kepalanya ia jadikan gudang kosakata meski cara mengejanya baru ia pelajari belakangan.

Jenius musik Wolfgang Amadeus Mozart juga produk sekolah rumah. Meski mati muda (35 tahun), namanya terasa abadi karena ia tidak henti-hentinya dibincangkan--tentunya bukan hanya di antara ibu-ibu hamil yang berharap efek musiknya pada perkembangan otak bayi.

Figur yang membuka tabir pengetahuan di hadapannya adalah sang ayah, Leopold Mozart, seorang pemusik profesional sekaligus akademikus. Leopold sendiri seorang violis dan guru berpengalaman. Ia telah menerbitkan buku belajar biola. Lewat tangannya, kecakapan Mozart kecil terbentuk tanpa harus mengenyam bangku sekolah.

Setelah menyadari besarnya bakat bermusik pada Mozart, Leopold mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk mengasah keterampilan bermusik sang anak. Ia pun kerap mengajak Mozart untuk konser ke pelbagai wilayah Eropa.

Perjalanan tersebut memungkinkan Mozart bertemu banyak pemusik unggul serta mengakrabi berbagai gaya bermusik. Namun, tidak hanya mengajari musik, Leopold pun bertanggung jawab terhadap pendidikan Mozart seperti bahasa dan mata pelajaran lain.

Dari dalam negeri, khalayak mafhum dengan ketelatenan Agus Salim--yang terlahir dengan nama Mashudul Haq--menjadi pengajar bagi anak-anaknya di rumah. National Geographic Indonesia menyebutnya sebagai pendidik yang hebat dan jenius Sembilan bahasa termasuk "bahasa kambing".

Lewat laman itu pula diketahui bahwa dalam menggembleng anaknya, Agus Salim tidak pernah menentukan jam belajar dan bermain. Ia selalu mendorong anak-anaknya untuk ingin tahu dan memasok medium pemenuhan keingintahuan kepada mereka: buku.

Sejumlah tokoh besar Indonesia seperti Mohammad Roem dan W.R. Supratman pernah bersaksi bahwa anak-anak Agus Salim sanggup berbicara bahasa Belanda dengan baik.

Seorang wartawan Belanda bernama Jef Last pernah bertanya kepada Agus Salim mengenai kemampuan anak-anaknya fasih berbahasa asing. Padahal, mereka tidak belajar di sekolah.

Tanggapan Agus Salim, "Apakah Anda pernah mendengar tentang sekolah tempat kuda belajar meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum anak-anak kuda ikut meringkik. Begitu pun saya, meringkik dalam bahasa Inggris dan putra saya Islam juga meringkik dalam bahasa Inggris."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR