Rabu sore (27/9/2017), Persipura Mania menyaksikan tim kesayangannya melawan PSM Makassar di Stadion Mandala, Jayapura.
 © Bismo Agung Sukarno / Beritagar.id

Penganut agama merah hitam

Pengabdian mereka pada Persipura berasal dari dua hal: sejarah dan harga diri.

Kendati panas menaungi Jayapura, seribuan orang tetap berkerumun di pinggir jalan dan sebuah taman. Berseragam, bawa bendera dan segala macam atribut merah hitam. Mereka adalah Persipura Mania.

Taman itu Taman Imbi, yang di tengahnya berdiri patung Yos Sudarso. Mereka selalu kumpul di taman tersebut sebelum Persipura main. "Ini wujud dukungan kami," kata Fajaruddin Cikoa, salah satu Persipura Mania.

Rabu sore itu (27/9/2017), Persipura melawan PSM Makassar di Stadion Mandala. Kami turut dalam rombongan--yang kemudian konvoi dengan sepeda motor menuju stadion. Iring-iringan mengular sampai satu kilometer. Raungan knalpot bercampur dengan yel-yel: "Bantai, bantai, bantai, bantai PSM, bantai PSM sekarang juga," teriak mereka.

Fajaruddin kecanduan atmosfer seperti itu. Menurutnya ada perasaan ajaib saat menyaksikan Persipura. Diandaikannya, menonton ke stadion laksana ibadah. "Tak peduli di mana mereka (Persipura) bermain," katanya saat kami temui.

Pria berusia 44 ini sudah dianggap pahlawan di sana. Publik Jayapura menahbiskannya sebagai ikon suporter pada 2005. Ciri khasnya di tribune adalah pakai mahkota bulu cenderawasih dan jubah Rama Aiphama.

Ia menghadiri pertandingan pertamanya pada 1994 ketika Persipura lawan PKT Bontang. Pertandingan itu meninggalkan bekas baginya. Ia ingat harus menumpang truk untuk bisa ke stadion, kemudian menyelinap ke tribune tanpa bayar. "Kalau sekarang ya bayar ha-ha," ujarnya.

Suatu hari ia pernah bergegas meninggalkan kantor. Ia menyerahkan kunci rumah kepada sang istri--sembari berpesan agar menjaga anak-anaknya. Fajar, sapaannya, minta izin ke istri untuk pergi dinas ke luar kota. Dinas itu jelas karangan, karena begitu sampai di Jawa ia malah nonton bola.

"Pas kembali ke Jayapura, saya ribut dengan istri he-he," kata Fajar.

Kota Jayapura memang rumah bagi Persipura Mania. Slogan populer di sini: pertandingan Persipura sama dengan pertarungan harga diri. "Klub ini adalah identitas dan kebanggaan kami," Fajar menambahkan.

Tetapi, di Jayapura, identitas sebagai pendukung lebih diutamakan daripada identitas lokal. Sebab, banyak juga di antara mereka dari luar Jayapura, seperti Makassar dan Jawa. "Saya dari Makassar, tapi saya cinta Persipura," kata Fadli Muhammad Faisal, Wakil Ketua Persipura Mania.

Sejarah memang mengungkap bagaimana Jayapura menerima identitas berbeda. Ada dua etnis yang paling banyak kami temui di Jayapura, yaitu Bugis-Makassar dan Jawa. Mereka berkutat di sektor ekonomi sebagai pedagang dan sopir angkutan. Orang sana menyebutnya teksi.

Dalam buku Amber dan Komin, Studi Perubahan Ekonomi di Papua, diketahui kalau orang Bugis sudah datang pada 1960an ke Jayapura. Buku itu ditulis oleh Akhmad Kadir seorang dosen antropologi di Universitas Cendrawasih.

Menurut Fadli, menjadi pendukung itu tak cuma persoalan geografi atau warisan generasi ke generasi. "Menjadi Persipura Mania itu sama saja belajar hargai perbedaan dan bagaimana kita mengabdi," tuturnya.

Bagi Lydia Mofu, anggota Persipura Mania lain, pengabdiannya pada Persipura berasal dari dua hal: sejarah dan harga diri. Ayahnya kebetulan juga pemain Persipura zaman dulu dan pernah bertugas jadi wasit. Kecintaan pada klub membuatnya kadang meninggalkan pekerjaan.

"Kalau Persipura main, pekerjaan harus ditinggalkan," kata Lydia, yang merupakan pegawai negeri sipil. Hal itu disepakati oleh Nona Waymuri, anggota yang lain.

Persipura Mania. Fajaruddin Cikoa (kiri) dan Ferdinandus. Rabu (27/9/2017) di Jayapura, Papua.
Persipura Mania. Fajaruddin Cikoa (kiri) dan Ferdinandus. Rabu (27/9/2017) di Jayapura, Papua.
© Bismo Agung Sukarno

Fanatisme Persipura Mania memang mengakar. Bisa dipastikan, tiap kali Persipura bertanding, mereka selalu hadir di tribune. Jangankan di kandang, di seberang pulau pun mereka jabanin--sampai berminggu-minggu lamanya.

Ongkos kadang ditanggung sendiri. Sering juga harus menjual barang berharga, misalnya motor--seperti yang dilakukan Sefnat Suparli Adjoh, anggota Persipura Mania. Hasil penjualannya-- seharga Rp5 juta--dibagi dua olehnya: separuh buat keluarga, separuh lagi untuk ongkos pergi.

Sesampai di kota tujuan, perjalanan pun tak terus menyenangkan. Demi klub, mereka tak segan tidur beralas kain bendera fan di pinggir jalan. Bahkan mereka pernah jual ikan dan ayam bakar untuk modal pulang atau pergi.

Begitulah kecintaan mereka kepada klub. Apa pun yang mustahil, kata Sefnat, tiba-tiba menjadi mungkin. "Kami enggak pernah menyerah dan selalu menemukan cara untuk memberi semangat kepada klub," kata Fajar menimpali pendapat Sefnat.

Karena loyalitas tadi, mereka ini pernah berada di hampir semua stadion besar di Indonesia, menelusuri kota-kota bersejarah--sambil membentangkan bendera Persipura Mania. "Kalau merasa sebagai mania, ya wajib hadir di tribune," ujar Fajar.

Tetapi ikut pertandingan tandang kadang mengundang risiko. Mereka pernah terlibat perkelahian dengan suporter lain. Ferdinandus bercerita, dirinya pernah bertarung sendirian dengan belasan pendukung tim lain di Jakarta, belasan tahun lalu.

Ia mengaku menghancurkan hidung lawan dan beberapa lagi roboh kena hantam pukulan hook-nya--yang menyasar perut. "Itu saya lakukan karena terpojok dan dikeroyok," tutur bagian keamanan Persipura Mania ini.

Pria berusia 35 ini mengklaim memenangi pertarungan itu. Wajar, dia adalah atlet tinju. Tulang pipinya menonjol dan rahangnya lebar. Tampak seperti sudah melewati seribu perkelahian. Tetapi kalau bicara, Ferdinandus ini lembut sekali. "Sekarang sudah tertib, kami berteman baik dengan pendukung mana saja," katanya.

Rabu sore(27/9/2017), Persipura Mania menyaksikan tim kesayangannya melawan PSM Makassar di Stadion Mandala, Jayapura.
Rabu sore(27/9/2017), Persipura Mania menyaksikan tim kesayangannya melawan PSM Makassar di Stadion Mandala, Jayapura.
© Bismo Agung Sukarno

Persipura Mania diklaim Fajar telah melalui masa kekerasan. Dahulu, hampir semua pertandingan berujung panas. Apalagi ketika derby atau melawan klub satu pulau. Lemparan botol, bentrok fisik--sampai jumlah ekstra polisi adalah pemandangan biasa di stadion. "Kami banyak belajar dari masa lalu, sudah lebih dewasa," kata Ferdinandus.

Belakangan, Persipura Mania memang dikenal baik dan jarang rusuh. Mereka punya aturan ketat untuk beberapa hal. Misalnya karcis, yang wajib dibayar para anggota.

Bila ada yang nekat, maka anggota lain menegur. Demikian juga saat di tribune. Para Mania saling mengingatkan tak berbuat onar. "Jika keterlaluan, ya akan diusir," kata Wilson Samosadra, Ketua Persipura Mania.

Komando kemenangan di Liverpool

Dimulai dari satu orang yang yel-yel. Lalu menyebar ke kiri dan kanan tribune. Dalam sekejap, ribuan orang bergabung menyuarakannya dengan keras. "Orang bilang kita ini kesurupan. Demi Persipura apapun kan ku lakukan," begitu nyanyi mereka.

Pertandingan dimulai pukul setengah empat sore, di bawah matahari yang ganas. Atmosfernya tegang karena Persipura belum jua menjebol gawang PSM--sampai turun minum. Banyak yang mulai menggelengkan kepala dan meluapkan kemarahan.

"Hei babi hutan, jangan pura-pura sakit kau," teriak salah satu fan kepada penyerang PSM Makassar Titus Bonai. Tibo, panggilan pemain itu, dianggap menyebalkan karena berlama-lama duduk di lapangan setelah dijegal bek Persipura.

Kemudian, ada satu pria yang mengangkat ayam hidup-hidup ke udara. Ayam itu dioyak-oyaknya, tapi tidak sampai mati. Hanya simbol. Dia mengarahkan ayam itu ke suporter PSM yang ada di tribune utara--dengan maksud meledek. Julukan PSM adalah Ayam Jantan dari Timur. "Ke laut saja kau ayam," teriak pria tersebut.

Sore itu, Persipura Mania mengumumkan kehadiran mereka di stadion melalui bendera, yel-yel, memukul drum dan kadang mengintimidasi tim lawan. Sepanjang pertandingan, mereka bernyanyi, tertawa, marah dan pada akhirnya mulai menjadi sangat vokal ketika pemain Persipura bermain buruk.

"Kami perlu terus bernyanyi di tribune, agar pemain itu bermain dengan gairah, kemudian menang," kata Wilson.

“Di tribune hanya ada satu agama, dan itu adalah Persipura Mania”

Armin (Persipura Mania)

Sependapat dengan Wilson, Fajar juga memandang fan memiliki pengaruh besar ke performa Persipura. Keduanya punya hubungan timbal balik. Sebab itu, sejak 2005 dibentuk Komando Kemenangan atau disingkat The Comen's--yang merupakan bagian dari Persipura Mania.

Wilson mengatakan, The Comen's tak berusaha untuk mendidik suporter lain tentang bagaimana mendukung tim. Mereka hanya ingin menunjukkan bahwa ada cara efektif untuk membangkitkan semangat pemain, bukan cuma bersorak-sorai ketika gol saja. "Cara mendukung itu yang dipimpin oleh para The Comen's di tribune," katanya.

Persipura Mania, yang berdiri pada 2003, memiliki struktur hierarki dan elemen. Sama seperti kegiatan keorganisasian, mereka memiliki ketua hingga bendahara. Yang tercatat sampai kini, ada 18 elemen pendukung yang menjadi sayap mereka. Di antaranya Black Eagle Dok IX, Fanggaisawa, Samba APO, termasuk The Comen's.

The Comen's menempati tribune timur Stadion Mandala. Tribune yang membelakangi laut itu disebut Tribune Liverpool. Konon penyebutan Liverpool itu disematkan usai terjadi kerusuhan di Stadion Mandala beberapa tahun silam.

Kala itu penonton menerobos pagar. Mirip kejadian Tragedi Heysel tahun 1985 ketika Liverpool melawan Juventus. Banyak penonton terluka, dan untuk memperingati kejadian itu, para Persipura Mania menamai Tribune itu Liverpool. "Ini tribune suci. Kalau enggak baju merah, enggak boleh bergabung," kata Armin, Persipura Mania.

The Comen's selalu dipimpin oleh pembawa acara (konduktor) atau seperti capo dalam Ultras. Biasanya konduktor mengatur nyanyian, yel-yel (chants) atau koreografi di tribune. Agar komunikasi dengan Persipura Mania lain mudah, konduktor itu memakai megafon di tribune. "Yang jelas, di tribune itu hanya ada satu agama, dan itu adalah Persipura Mania," tambah Armin--penanggungjawab bagian perlengkapan.

Pengaruh Persipura Mania telah begitu meresap di Jayapura. Hal itu tampak dalam ruang publik. Ada grafiti dan juga stiker di beberapa tempat tertentu seperti tembok tempat parkir, taman atau rumah. Kami tak melihat eksistensi ideologi suporter lain seperti Ultras atau Casual seperti yang terjadi di Bandung atau Palembang.

"Kami ini tidak mengasingkan Ultras, karena memang enggak berkembang di Jayapura, beda dengan di Jawa," kata Wilson.

Peluit panjang berbunyi. Kedudukan tak berubah. Persipura dan PSM sama-sama gagal mencetak gol. Kerumunan di tribune Liverpool pun terdiam. Suasana muram, langit juga mulai temaram. Inilah Jayapura, tempat para pemeluk agama merah hitam. Yombex.

Heru Triyono
Penulis Bincang

BACA JUGA