Ilustrasi beberapa tokoh dalam film dengan jumlah penonton film terlaris periode 2017
Ilustrasi beberapa tokoh dalam film dengan jumlah penonton film terlaris periode 2017 Beritagar.id / Tito Sigilipoe
FILM INDONESIA

Gairah perfilman Indonesia

Periode 2017, jumlah film panjang Indonesia yang tayang di jaringan bioskop menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Tapi jumlah penonton justru meningkat

Jumlah penonton film Indonesia periode 2016 mencapai 34,5 juta penonton. Terbanyak kurun sewindu terakhir. Segenap insan perfilman kontan bersuka cita merayakan.

Catherine Keng, Corporate Secretary Cinema 21, menyebut jumlah penonton tadi mengatrol pangsa pasar film Indonesia menjadi 32 persen. Meningkat 12 persen dari periode yang sama setahun sebelumnya.

Setelah panen 2008 yang mencatat 34,4 juta penonton (dari 81 film), film-film Indonesia tak pernah lagi berhasil mengumpulkan total lebih dari 30 juta spektator.

Pertambahan jumlah film yang diproduksi setiap tahun tidak serta merta mendatangkan banyak penonton.

Berdasarkan data Cinema 21, terlihat adanya ketaktetapan jumlah penonton yang cenderung menurun:

Beberapa pengamat menyebut penurunan terjadi karena penonton jenuh terus dijejali film formulaik; horor atau komedi bertabur adegan perempuan mengenakan pakaian minim. Logika cerita dan estetika jadi urusan belakangan.

Alhasil kepercayaan penonton terhadap kualitas film Indonesia ikut tergerus. Rumitnya lagi, genre film lain terkena imbas sebab penonton kadung kecewa sehingga memukul rata bahwa semua film pasti sama saja kualitasnya.

Keadaan tadi mulai berubah seiring menyingsingnya fajar 2016. Sejumlah perubahan dilakukan demi meraih kembali simpati penonton.

Jaringan Cinema 21 yang memiliki jumlah layar terbanyak di negeri ini membentuk tim internal. Tugasnya menyeleksi kelayakan --terutama dari segi teknis-- film yang meminta jadwal tayang.

Cara tersebut mau tak mau harus dilakukan demi menjamin kualitas film. Penonton yang sudah rela merogoh kocek dan meluangkan waktu nonton di bioskop harus mendapat tontonan yang tidak membuat mata sakit atau telinga pekak.

Jika penonton terlalu sering dikecewakan dengan sajian tak bermutu, kepercayaan mereka terhadap film Indonesia bisa kembali tergerus. Imbasnya tentu saja ekshibitor --seperti halnya sineas-- juga ikut menanggung rugi.

Film bagaimanapun juga butuh penonton, mengingat sukses komersial sebuah film ditentukan oleh jumlah keterjualan tiketnya di bioskop untuk menutupi biaya produksi dan promosi.

Dari total 42 juta penonton film Indonesia periode 2017, sebanyak 34,9 juta penonton berasal dari 31 film yang dirilis oleh enam perusahaan film
Dari total 42 juta penonton film Indonesia periode 2017, sebanyak 34,9 juta penonton berasal dari 31 film yang dirilis oleh enam perusahaan film | Teks/ilustrasi: Andi Baso Djaya/Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Melanjutkan momentum

Data di atas menunjukkan kondisi perfilman di tanah air kurun 2017 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Total 116 film yang tayang di jaringan bioskop meraih 42.631.255 penonton.

Berarti rerata film mendapatkan sekitar 367 ribu penonton. Jumlah itu hampir dua kali lipat dengan periode 2016 yang mendatangkan sekitar 191 ribu orang per film.

Jika momentum ini bisa terus ditingkatkan, bukan tak mungkin jumlah penonton film Indonesia menembus 50 juta penonton dalam setahun.

Peran enam perusahaan produksi film dalam mendulang penonton sepanjang 2017 patut menjadi catatan. Mereka adalah Rapi Films (eksis sejak 1968), Soraya Intercine (1982), Starvision (1995), MD Pictures (2003), Falcon (2010), dan Screenplay (2015)

Gabungan 31 film yang mereka rilis --sendiri maupun kongsi dengan perusahaan lain-- menghasilkan 34.940.082 penonton. Artinya mereka menyumbang sekitar 80% dari jumlah penonton film Indonesia tahun lalu.

MD Pictures pimpinan Manoj Punjabi tercatat paling produktif dengan merilis 10 film sepanjang tahun lalu. Film Ayat-Ayat Cinta 2 jadi yang terlaris karena meraup lebih dari 2,8 juta penonton.

Pada 2016, rumah produksi paling getol memproduksi film adalah Starvision dengan total 8 film.

MVP Indonesia milik Raam Punjabi yang berdiri sejak 1988 sebenarnya juga cukup produktif merilis film. Sepanjang 2017, mereka menghasilkan Jomblo Ngenes, Mooncake Story, Berangkat!, dan 5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies.

Jumlah itu lebih banyak dibandingkan film rilisan Soraya Intercine dan Rapi Films. Pun demikian, empat film milik MVP "hanya" mengumpulkan 299.370 penonton. Sumbangsih terbanyak datang dari 5 Cowok Jagoan arahan Anggy Umbara yang meraup 209.196 penonton.

Tokoh Ibu dalam film Pengabdi Setan sukses mendatangkan lebih dari 4,2 juta penonton. Film ini juga menjadi yang terlaris sepanjang 2017

Teknis dan estetis turut meningkat

Musim bermekarannya bioskop baru --jaringan maupun independen-- tentu menjadi salah satu faktor meningkatnya jumlah penonton film.

Tapi jika berkaca pada pengalaman beberapa tahun silam, pertumbuhan jumlah penonton tidak melulu karena peningkatan jumlah layar.

Kepercayaan penonton terhadap film Indonesia juga tak kalah penting. Faktor ini yang membuat pencapaian 2016 berhasil melampaui kesuksesan pada 2008 dari segi jumlah penonton.

Dan menumbuhkan kepercayaan penonton jelas lebih sulit ketimbang menambah layar atau membangun gedung bioskop baru.

"Kualitas penggarapan dan cerita tahun ini menunjukkan peningkatan. Artinya para produser memberikan produksi film terbaik, di sisi lain penonton turut menunjukkan antusiasme," puji Agus Wijaya Aidi dari Screenplay Pictures di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat (22/12/2017).

Joko Anwar mengamini pernyataan Agus. Sutradara Pengabdi Setan itu melihat industri film Indonesia mengalami pencapaian signifikan sepanjang tahun lalu.

Dari segi bisnis jumlah penonton di bioskop meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sementara dari segi estetis dan teknis juga mengalami kemajuan. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada film-film panjang yang mengikuti festival film di mancanegara, tapi juga film-film mainstream yang ditujukan untuk mengisi selot tayang di jaringan bioskop komersial.

Misalnya Pengabdi Setan yang meraup lebih dari 4,2 juta penonton. Dalam acara Festival Film Indonesia 2017, film itu turut membawa pulang tujuh Piala Citra yang menandakan pencapaian kualitasnya.

Belum lagi keberhasilan film Marlina yang disutradarai Mouly Surya saat terpilih masuk Cannes Film Festival, salah satu festival film paling bergengsi di dunia. Saat tayang di bioskop mulai 16 November 2017, Marlina mengumpulkan 154.596 penonton.

Setuju atau tidak, kehadiran Marlina seolah memutus tabu bahwa film "festival" tidak mampu mendulang lebih dari 100 ribu penonton saat tayang di bioskop.

Pencapaian Marlina dari segi jumlah penonton menumbuhkan asa bahwa apresiasi masyarakat film Indonesia semakin meningkat.

Apresiasi selain bisa ditumbuhkan melalui literasi, diskusi, dan kritik film, juga bisa dilakukan dengan menyuguhkan film-film yang merangsang nalar penonton.

Oleh karena itu, Joko berharap kinerja para filmmaker pada tahun-tahun mendatang terus meningkat. "Agar tidak merusak kepercayaan penonton film Indonesia yang sudah sangat besar ini," tambahnya saat kami temui dalam acara Piala Maya (16/12/2017).

Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk mencapainya. Misalnya dengan terus berinovasi memberikan suguhan berupa ide, gagasan, maupun perspektif yang segar.

"Harapan saya rekan-rekan produser jangan terlalu mudah ikut tren. Karena itu bisa bikin penonton jenuh. Mari memberikan suguhan genre film lain semacam thriller yang masih sangat kurang," tambah Robert Ronny dari Legacy Pictures yang tahun lalu antara lain menghasilkan Kartini.

Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kebanyakan produser membiarkan dirinya hanyut mengikuti tren karena salah kaprah menganggap selera penonton bukan sesuatu yang bisa dibentuk, dipertajam, atau dikembangkan.

Persebaran genre

Melihat penyebaran genre film, drama tetap mendominasi sepanjang 2017 dengan suguhan 47 judul. Menyusul kemudian genre horor (25 film) dan komedi (23). Genre lainnya adalah laga (9), biografi (6), dokumenter dan animasi (2), serta musikal dan petualangan (1).

Pun demikian, penelusuran Lokadata Beritagar berdasarkan data situs web filmindonesia.or.id menghasilkan bahwa genre penghasil penonton terbanyak justru datang dari ranah horor (14.774.740 penonton). Selengkapnya lihat grafik di atas.

Ada lima film horor alias mayoritas bertengger di dasa film Indonesia terlaris sepanjang 2017 dengan kumulatif 12.001.952 penonton. Bahkan Pengabdi Setan produksi Rapi Films yang mencedok 4.206.103 penonton menjadi film terlaris 2017.

Belum pernah sebelumnya mayoritas penghuni tangga film laris berisi film genre horor.

Jika ditarik lebih lebar, sebanyak 25 judul film horor yang tayang di jaringan bioskop berhasil meraup 14.774.740 penonton.

Titimangsa 2016, enam dari 10 berisi film terlaris berisi balutan komedi. Tiada satu pun film horor bertengger dalam daftar. Paling mentok hanya ada The Doll yang mendapatkan 550.252 penonton dan menempati peringkat ke-15.

Sementara dari persebaran genre, drama menelurkan 72 film, disusul horor (18), aksi/laga (16), komedi (13), serta petualangan, animasi, dan thriller yang masing-masing menyumbang satu film.

Pertumbuhan signifikan penonton film-film horor Indonesia tentu tak lepas dari usaha para sineas. Sekuat tenaga mereka mengembalikan maruah film pembangkit rasa seram itu kepada masyarakat penonton film Indonesia.

Selama hampir satu dekade, pecinta horor apriori karena melulu disuguhkan film-film yang justru memunculkan rasa muak dan jengah alih-alih takut karena kerap dieksekusi asal-asalan.

Mencuatnya reputasi film horor pada sisi lain memunculkan kekhawatiran. Sudah bukan rahasia lagi bahwa dalam praktiknya, industri perfilman --di mana saja-- kerap berlomba mendekati ladang yang penuh "madu".

Kasus di atas menimpa jenis film horor. Sadar pangsa pasar horor kembali booming, ramai-ramai rumah produksi dan produser menggarap film sejenis.

Joko Anwar mendapat informasi bahwa periode 2018 ada sekitar 65 judul film horor yang mengantre tayang di jaringan bioskop.

Hingga Februari 2018, enam film horor langsung menyerbu layar bioskop lewat Ghost, Rumah Belanda, Arumi, Syirik, Pai Kau, dan Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati.

Bandingkan dengan periode serupa tahun sebelumnya yang hanya menayangkan The Promise dan Gunung Kawi.

Jika sudah begini, tak ada salahnya menyimak pengingat Chand Parwez, sang pemilik Starvision Plus.

"Produser yang manut saja mengikuti tren sebenarnya membunuh kariernya pelan-pelan. Harus berani memberikan suguhan beda yang menciptakan tren baru," pungkas pria berusia 58 itu.

BACA JUGA