Mural Engeline yang dibuat Komunitas Djamur, Bali
Mural Engeline yang dibuat Komunitas Djamur, Bali Luh De Suriyani / untuk Beritagar.id

Perjalanan kasus pembunuhan Engeline

Lahir 19 Mei 2007 di sebuah klinik bidan di Canggu, Kabupaten Badung, Bali, jasad Engeline Megawe ditemukan dalam kondisi mengenaskan pada 10 Juni 2015.

Bocah perempuan Engeline ditemukan meninggal dalam kondisi penuh luka terkubur di halaman belakang rumahnya, 10 Juni 2015. Dokter forensik memperkirakan ia dibunuh sekitar 3 minggu sebelumnya. Jelang ulang tahunnya ke-8.

Dua terdakwa pelaku pembunuhan, yakni terdakwa utama Margriet Megawe (60), ibu angkatnya sudah dituntut seumur hidup pekan lalu. Terdakwa lainnya, Agus Tay Hamda Tay (26), pekerja di rumah Margriet dituntut 12 tahun penjara karena disebut membantu Margriet mengubur dan menyembunyikan aksi keji ini.

Lahir 19 Mei 2007 di sebuah klinik bidan di Canggu, Kabupaten Badung, Bali, Engeline Megawe adalah nama yang diberikan orang tua angkatnya Margriet Megawe dan Douglas Scarborough. Suami kedua Margriet yang warga negara Amerika Serikat ini, meninggal pada 2008 silam. Engeline dijadikan anak angkat ketika berusia 3 hari, dengan dokumen pengangkatan anak hanya dari notaris.

Kedua orang tua kandungnya, Hamidah dan Rosyidi menyerahkan hak asuh karena alasan tidak mampu mengasuh. Saat itu keduanya bekerja di sebuah proyek konstruksi di Bali. Penyerahan bayi Engeline adalah hari pertemuan terakhir bagi orang tuanya, sampai mereka mendengar peristiwa tragis ini.

"Semua keluarga tidak tahu Hamidah punya anak yang diasuh orang lain," kata Sani, saudara perempuan Hamidah. Keluarganya mengaku baru ngeh setelah polisi mencari orang tua kandung Engeline ke Banyuwangi, kampung halamannya.

Sehari setelah kuburan anak perempuannya ditemukan, Hamidah terlihat histeris di kamar jenazah RSUP Sanglah. Rosyidi juga datang setelah dicari polisi. Keduanya sudah berpisah saat Hamidah mengandung anak ketiga, adik perempuan Engeline. Kini, Hamidah punya anak keempat dengan suami kedua.

Saat melahirkan Engeline, Hamidah masih remaja sekitar 15 tahun. Bisa jadi pernikahan dini ini berdampak pada penyerahan hak asuh Engeline. Ketika itu ia sudah punya anak pertama berusia sekitar 1,5 tahun.

Legalitas pengangkatan Engeline oleh Margriet ternyata bermasalah. Dalam UU disebutkan anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan.

Pengangkatan anak itu wajib dicatatkan dalam akta kelahiran, dengan tidak menghilangkan identitas awal anak. Penetapan pengadilan dan akte kelahiran Engeline, tak dimiliki Margriet.

Menurut rencana, sidang lanjutan kasus ini akan berisi pledoi atau pembelaan Margriet Megawe, pada 15 Februari 2016. Keesokan harinya pada 16 Februari adalah pembelaan dari Agus. Setelah sidang lanjutan berupa jawaban Jaksa Penuntut Umum dan bantahan serta tanggapan kedua belah pihak, sidang vonis akan digelar pada 29 Februari 2016.

Salah satu poster pencarian Engeline (tertulis Angeline) yang saat itu dinyatakan hilang
Salah satu poster pencarian Engeline (tertulis Angeline) yang saat itu dinyatakan hilang | Istimewa

Dilaporkan hilang dan menuai dukungan

Keriuhan di dunia maya dimulai ketika banyak sekali seliweran informasi kehilangan Engeline yang dibuat keluarga Margriet pada 16 Mei 2015. Sebuah Facebook Page dibuat dengan nama "Find Angeline: Bali's Missing Child".

Di halaman ini banyak poster pengumuman pencarian Engeline (awalnya ditulis Angeline) dan doa bersama, bekerja sama dengan lembaga Safe Childhood. Keluarga banyak menyebar foto-foto Engeline yang sedang tersenyum, ceria, sedang makan, bermain, dan lainnya. Sebuah gambaran bahagia tentang Engeline dan keluarganya.

Media terus melaporkan kasus yang diklaim penculikan oleh keluarga Margriet. Sampai beberapa media menulis ada dugaan diculik penjual gas, perempuan, dan lainnya.

Beberapa pejabat juga datang ke Bali karena didesak sejumlah lembaga perlindungan anak. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yambise, datang ke rumah korban namun tak berhasil bertemu penghuni. Yohana lalu mendatangi sekolahnya. Yohana minta kepolisian memeriksa rumah korban.

Lamanya pengungkapan kasus ini membuat Kepala Sekolah SD 12 Sanur, sekolah Engeline dan para guru berinisiatif mencari balian (semacam dukun) untuk diteropong secara batin dan tak kasat mata. Istilahnya dalam bahasa Bali, meluasin. Hasilnya, Angeline disebut masih ada di sekitar rumah.

Ketut Ruta, Kepala Sekolah Engeline dan beberapa guru mulai menyebut keanehan siswanya. Misalnya sering terlambat masuk sekolah, rambut kusut, bajunya bau tahi ayam, dan pendiam.

Sekolah mengaku kesulitan berkomunikasi dengan ibu angkatnya karena jarang terlihat. Sekolah juga sudah memutuskan Angeline naik kelas 3 walau tak ikut ulangan akhir karena hilang. Namun dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian yang cukup baik serta perilakunya di sekolah.

"Tujuannya, kalau Engeline ketemu, dia ada motivasi sekolah lagi. Biar tidak malu kalau tidak naik kelas," ujar Ruta.

Akhirnya polisi menemukan jenazah Engeline di belakang rumahnya. Ia dikubur di dekat kandang ayam, terbungkus kain putih, dan memeluk boneka. Unit forensik Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar yang memeriksa jenazah Engeline menyatakan, korban sudah meninggal sekitar 3 minggu. Artinya sejak dilaporkan diculik.

"Usia jenazah dilihat dari pembusukannya. Penyebab kematian hantaman benda tumpul di kepala yang menyebabkan pendarahan otak," jelas Ida Bagus Alit, salah satu ahli forensik yang bertugas di RSUP Sanglah.

Ada luka memar di kepala, wajah, dan sundutan rokok di punggung. Kemungkinan ada penyiksaan sebelumnya oleh pelaku. Juga ada bekas lilitan tali di leher mendiang Engeline.

Pada hari jenazah ditemukan, Kapolda Bali saat itu, Irjen Pol Ronny Sompie, menyatakan sudah menangkap Agus, mantan pembantu Margriet. Pria ini disebut mengaku membunuh dan menganiaya korban. Penetapan menjadi tersangka sangat cepat, hanya beberapa jam setelah polisi menemukan jenazah korban.

Namun sejumlah lembaga perlindungan anak, kelompok pengacara terus mendesak Kapolda menemukan pembunuh yang sebenarnya.

Pada 18 Juni, Haposan Sihombing, pengacara yang ditunjuk polisi mendampingi tersangka Agus menyampaikan informasi mengejutkan. Menurutnya, Agus menuding Margriet sebagai pelaku. Agus mengaku diancam dan dijanjikan sejumlah uang jika mau mengaku.

Serangkaian pemeriksaan dengan alat tes kebohongan pun dilakukan dalam pemeriksaan Agus dan Margriet yang akhirnya juga ditetapkan sebagai tersangka. Hotma Sitompoel, pengacaranya mengatakan tudingan Agus adalah fitnah.

Selama penyelidikan dan pemberkasan kedua tersangka, gelombang simpati pada kasus Engeline terus muncul. Tak sedikit pejabat mengirim karangan bunga di depan rumah korban dengan nama atau partai politiknya. Seruan penghentian kekerasan pada anak juga terus dibuat.

Forum Anak Daerah (FAD) Bali misalnya menyampaikan tiga butir pertanyaan dan tuntutan agar perlindungan tak hanya di atas kertas dan seremonial belaka. Sejumlah gugatan mereka di antaranya: "Banyak peraturan seperti UU, Inpres, Perda, dan lainnya, kami bertanya sejauh mana implementasinya di lapangan?"

Wali kota dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar pun membentuk Pokja Perlindungan Anak di tingkat desa dan sekolah-sekolah. Pengurus desa diminta aktif melaporkan situasi anak-anak di sekitarnya ke P2TP2A untuk ditindaklanjuti.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Denpasar juga membuat diskusi dan refleksi dampak pemberitaan kasus Engeline. Luh Gede Yastini, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali, meminta media tak menuliskan detail kronologi kekerasan yang terjadi karena sangat berdampak pada anak-anak dan orang tua yang mengikuti kasus ini.

"Mereka ketakutan. Media juga harus melindungi korban dan keluarganya dari trauma," ujarnya.

Seniman juga merespons dengan membuat mural dan patung. Di sebuah jalan di Kota Denpasar ada mural dengan wajah Engeline dan anak-anak lain bertuliskan "not for sale". Komunitas Djamur menggambar sosok Engeline berbaju garis-garis putih biru, memeluk boneka beruang, dan sepasang sayap di punggungnya.

Ada juga seniman patung Made Supena berpameran dengan judul "Solitude to The Childs", menampilkan instalasi sosok-sosok bayi yang menggambarkan penelantaran.

Suasana sidang pembacaan tuntutan untuk terdakwa kasus pembunuhan Engeline, Margriet Megawe, 4 Februari 2016 di Pengadilan Negeri Depasar, Bali
Suasana sidang pembacaan tuntutan untuk terdakwa kasus pembunuhan Engeline, Margriet Megawe, 4 Februari 2016 di Pengadilan Negeri Depasar, Bali | Luh De Suriyani /untuk Beritagar.id

Pasal berlapis untuk Margriet

Tak hanya proses pencarian korban dan penyidikan yang berlangsung hiruk pikuk. Sebelum sidang perdana pun sempat dipenuhi ketegangan. Pengacara Margriet awalnya mengajukan praperadilan menggugat status tersangka oleh kepolisian Bali.

Sidang ini mendorong sebuah ormas memobilisasi massanya untuk membela Polda Bali. Hakim akhirnya tak meloloskan tuntutan pengacara Margriet, yang ditetapkan sebagai tersangka utama pada Minggu, 28 Juni 2015.

Sidang perdana kedua terdakwa, Margriet dan Agus, dilaksanakan 22 Oktober 2015 di Pengadilan Negeri Denpasar. Empat bulan setelah penemuan jenazah Engeline. Saat itu Margriet dijerat pasal pembunuhan berencana dan penelantaran anak.

Setelah tiga bulan proses persidangan dengan puluhan saksi memberatkan dan meringankan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyampaikan tuntutannya pada 4 Februari 2016 lalu. Sidang itu dipimpin Ketua Majelis Hakim, Edward Harris Sinaga.

Tim JPU dikomando Purwanta Sudarmaji memulai pembacaan tuntutan dramatis itu. "Kesimpulannya Engeline dibawa lari perempuan berambut panjang. Ini hanya tertulis di pikiran terdakwa dan diteruskan pada orang lain. Sebuah drama yang sederhana dan sangat mungkin terjadi jika diyakini tanpa intuisi dan investigasi," paparnya.

Menurut pemaparan JPU, jenazah korban ditemukan terkubur di kandang ayam belakang rumah dalam keadaan luka di tubuhnya. Senang bisa ditemukan, namun berubah kecewa karena tewas mengenaskan.

"Si cantik Engeline ditemukan tanpa daya, banyak bekas luka, terkubur dengan memeluk bonekanya. Engeline berusia 8 tahun, tak berdaya dan masih jauh pikiran ambisi. Butuh perhatian, kasih sayang. Yang terjadi sangat bertentangan dengan kebutuhan dan haknya. Harus mendapat perlakuan sadis yang mengakibatkan kematian. Dapatkah kita membayangkan dan mencoba merasakan Engeline?," urai JPU.

JPU secara bergantian lalu membacakan pembuktian dakwaan berlapis untuk Margriet. Jaksa mendakwa Margriet dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, dan tiga pasal dari UU No. 35/2014 tentang Perlindungan Anak (Perubahan atas UU No. 23/2002). Ketiga pasal dimaksud yaitu Pasal 76 I jo Pasal 88; Pasal 76 B jo Pasal 77 B; dan Pasal 76 A huruf a jo Pasal 77.

Dalam fakta persidangan berturut keterangan saksi sebanyak 30 orang, termasuk kedua anak perempuannya, Christine dan Yvonne Caroline. Ada pula kedua orang tua kandung Engeline, Rosyidi dan Hamidah, dan saksi lainnya antara lain Anneke Wibowo, Nyoman Masni, Ketut Ruta, Sri Wijayanti, dan Putu Karyani.

Selain itu ada pendapat ahli yakni dokter forensik dan psikiater seperti IB Alit, Dudut Rustyadi, Agung Wijaya, Lely Setyawati, dan aktivis perlindungan anak Seto Mulyadi.

Penuntut membuktikan dakwaan primer dengan unsur barang siapa, dengan sengaja, direncanakan terlebih dahulu, dan merampas nyawa orang lain.

Terdakwa menyatakan sehat rohani mengikuti jalannya persidangan dan lancar menjawab pertanyaan. Menanggapi ahli dan menerangkan barang bukti. Dijelaskan psikiater, terdakwa berkepribadian psikopatik dan impulsif tapi cakap melakukan tindakan hukum dan bisa mempertanggungjawabkan aksinya. Unsur barang siapa menurut jaksa terbukti.

Unsur dengan sengaja dijabarkan dengan sejumlah keterangan saksi dan barang bukti. Sekurangnya pada 12-16 Mei 2015, ada keterangan yang menyatakan ancaman dan kekerasan pada korban. Agus mendengar teriakan Engeline kesakitan, dan luka dekat muka, hidung, mulut.

Saksi Agus Tay mengatakan korban habis dipukul terdakwa Margriet. Pasangan penghuni kos di rumah Margriet, Susiani dan Handono, juga melihat Engeline kerap bekerja keras memelihara puluhan ayam.

Margriet Megawe saat menjalani sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali (4/2/2016)
Margriet Megawe saat menjalani sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali (4/2/2016) | Johannes P. Christo /Tempo/STR

Unsur direncanakan dijabarkan dengan sudah menentukan waktu, alat, dan cara membunuh. Sudah terpikirkan dampak dan menghindari orang tahu. Tak penting apakah dalam kondisi tenang atau emosional.

Pemilihan tempat, alur, alibi, dan lahan dipaparkan JPU. Tempat dilakukan di rumah tertutup pagar, walau ada penghuni kos. Dilakukan di dalam kamar terdakwa dengan menutup pintu. Pemilhan waktu, pada 16 Mei 2015, pukul 16.00 WITA.

Data forensik ponsel Margriet dan anak perempuannya juga dijadikan bukti tentang tekanan psikologis pelaku saat itu. Misalnya pada 13 Mei terdakwa kirim SMS ke Yvonne, anak Margriet dari pernikahan pertamanya. Kalimatnya kira-kira berbunyi, "Jadikah transfer duit untuk bayar cicilan listrik, motor, juga pegadaian dan kalung paling lambat 15 Mei."

Dibalas tiga kali dengan kalimat yang bunyinya kira-kira, "Terserah kalau mama anggap aku atau gak. Daripada berantem terus kan lebih baik tak komunikasi, mama tak tahu listrik disegel, gajiku 9 juta, belum untuk mama, mobil. Mama kan lebih sayang sama harta, bawa mas mama sampai tua".

JPU pun menilai terlihat jelas ada kemarahan hebat di antara mereka karena masalah kehidupan sehari-hari. Kemarahan itu lalu dilampiaskan terdakwa kepada korban.

Disebut direncanakan karena sudah ada ancaman sebelumnya. Terdakwa sudah mempertimbangkan waktu yang tepat, menguburkan, sampai membuat alibi penculikan. Kesimpulan dokter forensik, lambung kosong korban berarti tak dapat asupan makan 12-24 jam sebelum kematiannya.

Motif pembunuhan ini disimpulkan JPU bisa karena ekonomi atau harta. Almarhum suami kedua terdakwa, Douglas, mewarisi rumah dan tanah di Jakarta, Balikpapan, Pekanbaru, Canggu-Bali, dan tanah sewa di Jl Sedap Malam, tempat tinggal terakhir Margriet dan lokasi penemuan jenazah korban. Harta bergerak juga atas nama terdakwa.

Akte pengangkatan anak pada 2007 di notaris, dibuat pada 24 Mei 2007 antara ayah kandung Engeline, Achmad Rosyidi, dengan pihak kedua Margriet Christina Megawe. Akte itu menyebut, "...telah mengangkat anak perempuan (Engeline) tersebut sebagai anaknya yang sah, dengan maksud dan tujuan untuk menjadikan anak tersebut sebagai ahli warisnya di kemudian hari..."

Dari pemeriksaan tes kebohongan atau poligraf, hasil tes Margriet tak bisa dianalisis. Terdakwa disebut melawan pertanyaan sehingga tak stabil. JPU menyebut subjek membela diri atau takut terjadi sesuatu.

Sebaliknya Agus yang mengaku mengubur jenazah korban hasil poligrafnya 90 persen alias relatif jujur. Ia berhenti bekerja di rumah Margriet pada 26 Mei, dan siap diperiksa polisi. Keterangannya disebut berubah-ubah karena masih berharap terdakwa memenuhi janji memberikan Rp200 juta dan takut pada ancaman dibunuh.

Pelanggaran UU Perlindungan Anak dinyatakan terbukti. "Untuk membiayai kehidupannya terdakwa jual ayam, mengandalkan simpanan dan bantuan kedua anaknya. Terdakwa mendidik korban sejak kelas 1 SD untuk merawat ayam sehingga jadi 200 ekor. Engeline kasih makan minum ayam kalau tidak tak dapat makan," baca JPU.

Korban pernah memberi makan minum ayam sampai malam. Juga pernah dihukum jika ayam atau kucing peliharaan terdakwa tak ada. Ini disebut penyalahgunaan anak untuk kepentingan ekonomi.

Penelantaran anak juga dinilai terbukti. Meski diangkat anak dan diberikan nama oleh terdakwa, belum ada ketetapan pengadilan atas hak asuh. Juga belum dibaptis dengan alasan belum 18 tahun.

Selain itu ada perlakuan diskriminatif sehingga menghambat fungsi sosialnya. Korban disebut sering tidak masuk kelas karena mengurus ayam. Berangkat ke sekolah sendiri. Tak ada waktu bermain dengan teman sebaya, dan kurang gizi.

"Terdakwa terbukti bersalah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana dan melakukan eksploitasi ekonomi pada anak. Menempatkan dan melibatkan perlakuan salah, penelantaran, memperlakukan anak secara diskriminatif," papar JPU.

Yang memberatkan, menurut JPU, adalah perbuatan sangat sadis. Korbannya anak, terdakwa tak mengaku bersalah dan mengakui perbuatannya. Tak ada hal yang meringankan sehingga Margriet dituntut penjara seumur hidup.

"Yang mulia, saya minta keadilan seadilnya. Saya tak pernah bunuh Engeline anak saya tapi dituduh membunuh," jawab Margriet ketika diminta pendapatnya oleh ketua majelis hakim Edward Sinaga. Tim pengacaranya menuding tuntutan JPU imajiner.

Agus Tay Hamda May saat menjalani sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali (22/10/2015)
Agus Tay Hamda May saat menjalani sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali (22/10/2015) | Johannes P. Christo /Tempo/STR

Plintat-plintut keterangan Agus

Agus Tay Hamda May dituntut hukuman 12 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum yang dipimpin Ketut Maha Agung. Dalam persidangan yang digelar Selasa, 2 Februari 2016, Agus tidak didakwa sebagai pembunuh Engeline. Dia disebut terbukti membiarkan tindakan kekerasan terhadap Engeline hingga menyebabkan kematiannya.

"Terdakwa membiarkan kekerasan hingga korban meninggal. Tidak melaporkan perbuatan Margriet dan tidak memberikan pertolongan terhadap Engeline," kata Maha Agung di Ruang Sidang Cakra, Pengadilan Negeri Denpasar. Agus lolos dari ancaman Pasal 340 tentang Pembunuhan Berencana, dan Pasal 338 tentang Pembunuhan.

Tindakan Agus dinilai memenuhi Pasal 76C juncto Pasal 80 ayat 3 UU No. 35/2014 tentang Perlindungan Anak serta Pasal 181 KUHP. Pasal 76 C itu berbunyi: "Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap Anak".

Pasal 80 UU Perlindungan Anak tentang ancaman hukuman bagi pelanggar pasal 76C. Ayat (3) pasal tersebut menyatakan, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan/atau denda paling banya Rp3 miliar, jika korban (anak) meninggal dunia.

Adapun Pasal 181 KUHP, berbunyi: "Barang siapa mengubur, menyembunyikan, membawa lari atau menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan kematian atau kelahirannya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah".

Sidang pembacaan tuntutan untuk Agus Tay dipimpin Ketua Majelis Hakim, Edward Harris Sinaga. Tuntutan jaksa untuk Agus yang asal Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur itu, setebal 162 halaman. Agus, telah ditetapkan jadi tersangka pada hari yang sama kuburan Engeline ditemukan.

Sekilas tentang riwayat Agus bisa dilihat pada BAP (Berita Acara Perkara) pertamanya sebagai tersangka pada 10 Juni 2015. Agus menyatakan pertama kali ke Bali pada 2008 dan bekerja di tempat pemotongan ikan. Pada 2010 ia mulai bekerja di toko kayu di Denpasar selama sepuluh bulan. Selanjutnya, ia jadi tukang bangunan.

Ia baru bekerja pada keluarga Margriet sejak 23 April 2015, di kediaman yang juga tempat tinggal mendiang Engeline, Jl. Sedap Malam No. 26 Denpasar. Seorang teman yang bekerja di sebuah toko meubel di Denpasar yang membawanya bekerja di kediaman Margriet tersebut.

Saat ditanya apakah benar melakukan pembunuhan terhadap Engeline, saat itu Agus menjawab: "Iya benar, saya memang telah melakukan pembunuhan terhadap Engeline." Ia juga mengaku melakukan pembunuhan tersebut pada Sabtu, 16 Mei 2015, sekitar pukul 13.00 WITA di depan kamarnya.

Mengenai motifnya, Agus mengaku jengkel karena disebut "tidak becus bekerja" oleh Margriet. Hal itu, menurut Agus, disampaikan Engeline kepadanya, dan langsung membuatnya marah. Selain itu, ia juga mengaku membunuh Engeline karena menolak saat akan disetubuhi.

Namun banyak pernyataannya tak konsisten. Awalnya Agus bilang pembunuhan dilakukan di depan kamarnya, tapi saat ditanya tentang kronologi kejadian, ia bilang di dalam kamar meski pintu tak terkunci. Plintat-plintut keterangan Agus nampak dalam delapan BAP atasnya, dua di antaranya sebagai tersangka tunggal.

Pengakuan paling menggemparkan, saat ia bilang pembunuhan dan pemerkosaan Engeline atas perintah Margriet. Keterangan Agus dalam BAP per 13 Juni 2015 tersebut menyatakan, Margriet awalnya menjanjikan uang Rp200 juta agar Agus tutup mulut soal penyiksaannya terhadap Engeline.

"... Ibunya (yang dimaksud adalah Margriet) menjanjikan kepada saya akan memberikan uang sebesar Rp200 juta asalkan saya tidak menjelaskan kepada Yvonne bahwa ibunya pernah memukuli anaknya (Engeline) sampai berdarah pada 16 Mei 2015...," demikian penggalan keterangan Agus dalam BAP tersebut.

Saat ditanya apa tujuan Agus melakukan pembunuhan, kali ini ia mengaku karena dijanjikan uang Rp200 juta yang ia sebut bisa cair pada 24 Mei 2015. Namun, menurutnya, uang itu tak pernah ia terima. Agus juga menyatakan, awalnya ia mengaku menjadi pelaku pembunuhan agar Margriet tak terlibat. Ia berharap bisa menerima uang yang dijanjikan.

Keterangan Agus masih berubah-ubah, misalnya soal lokasi pembunuhan. Belakangan ia mengaku pembunuhan terjadi di kamar Margriet. Dia pun kemudian mengaku hanya membantu mengambil boneka, membungkus dengan seprei, dan menguburkan korban.

Meski keterangan Agus dalam BAP tak konsisten, setelah menjalani persidangan jaksa menyebut hal yang memberatkan Agus adalah membiarkan kekerasan yang dilakukan Margriet terhadap korban hingga meninggal dunia.

"Terdakwa tidak berusaha memberikan pertolongan kepada korban Engeline," papar jaksa saat membacakan tuntutan pada Agus.

Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa Agus belum pernah dihukum dan menyesali perbuatannya. Terdakwa juga dinilai jujur dan terus terang selama persidangan. Agus yang kelahiran 19 Juni 1990 juga dinilai masih muda sehingga masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Kuasa hukum Agus, Haposan Sihombing, menyatakan pihaknya sepakat Agus terbebas dari Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dan Pasal 338 tentang Pembunuhan. Namun menegaskan tidak sepakat dengan pengenaan Pasal 76 C jo 80 UU Perlindungan Anak yang digunakan jaksa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR