Suasana gala premiere film Hit N Run di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat (30/5/2019)
Suasana gala premiere film Hit N Run di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat (30/5/2019) Screenplay Films
FILM INDONESIA

Persaingan film-film Lebaran

Persaingan film-film Lebaran tahun ini dianggap paling ketat karena semua punya materi bagus. Diharapkan masing-masing bisa menembus sejuta penonton.

Bene Dion Rajagukguk tak bisa menyembunyikan rasa deg-degan menjelang press screening film Ghost Writer di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (28/5/2019).

Untuk pertama kalinya ia mendapat kepercayaan menyutradarai film panjang. Bahkan pria berusia 29 ini mengaku kurang tidur belakangan ini.

“Setiap kali kepikiran filmnya mau tayang, saya jadi enggak bisa tidur,” ujarnya kepada Beritagar.id.

Menjalankan peran sebagai sutradara sebenarnya bukan hal baru untuk Bene. Ia sudah melakoninya dalam beberapa episode Cek Toko Sebelah the Series.

Pun demikian, tetap saja menyutradarai film meninggalkan kesan berbeda. Tambah lagi saat mengetahui film dari skenario buatan Nonny Boenawan, salah satu peserta kelas skenario besutan Ernest Prakasa, mengisi slot tayang saat libur Lebaran mulai 4 Juni.

“Awalnya saya sempat ragu dan meminta jadwal penayangan film ini jangan pas Lebaran lah. Atau kalau mau tetap jalan, jangan saya yang jadi sutradara. Hal-hal seperti itu sempat saya kemukakan. Tapi Ernest berhasil meyakinkan saya,” ungkap Bene.

Ernest pula yang meyakinkan Chand Parwez, pemilik StarvisionPlus, agar memberi Bene kepercayaan menggarap proyek yang dibintangi Tatjana Saphira dan Ge Pamungkas ini.

“Pak Parwez bilang ini film komedi keluarga yang sangat cocok untuk momen Lebaran. Sejak awal gue percaya dengan materi ceritanya. Unik dan segar. Bersama Bene dan Pak Parwez, gue yakin ide ceritanya Nonny bisa jadi sesuatu,” terang Ernest yang juga menduduki kursi produser.

Jika sejumlah studio di Hollywood, Amerika Serikat, menjadikan liburan musim panas sebagai momentum merilis film-film andalan mereka, Indonesia memiliki libur Lebaran.

Diakui Catherine Keng, Corporate Secretary Cinema 21, Lebaran dan akhir tahun adalah periode ketika masyarakat banyak meluangkan waktu menonton ke bioskop. Penghujung tahun yang didahului Natal juga merupakan masa liburan.

“Lebaran dan akhir tahun itu ibaratnya masa panen penonton film Indonesia. Jika pada hari-hari biasa orang nonton dua film dalam tiga bulan, saat Lebaran orang bisa nonton empat film dalam sepekan,” ujarnya saat mengadakan media gathering sekaligus buka puasa bersama para wartawan di Roemah Kuliner, Metropole XXI, Jakarta Pusat (15/5).

Liburan, terutama di kota-kota besar, menjadikan akses ke bioskop yang kebanyakan berada di dalam pusat-pusat perbelanjaan jadi lebih menghemat waktu. Jalanan menjadi lebih lengang dari hari-hari biasanya.

Berbekal angpau dari orangtua, anak-anak juga punya lebih banyak anggaran untuk menonton film di bioskop.

Tak heran jika setiap Cinema 21 mengadakan pertemuan tahunan bersama sejumlah rumah produksi yang aktif merilis film, beberapa produser ada yang langsung menandai momen Lebaran dan akhir tahun sebagai jadwal rilis filmnya masing-masing.

“Lebaran adalah fiesta-nya warga Indonesia setelah 30 hari berpuasa. Tambah lagi dengan adanya libur panjang. Industri hiburan apa pun pasti diuntungkan jika musim liburan tiba, termasuk film,” kata Wicky V. Olindo, produser Screenplay Films, saat kami temui di gala premiere film Hit & Run di Lamoda Cafe, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat (30/5).

Pencapaian film-film Lebaran dan akhir tahun yang menjadi masa panen penonton film Indonesia
Pencapaian film-film Lebaran dan akhir tahun yang menjadi masa panen penonton film Indonesia | Teks & olah data: Aghnia Adzkia dan Nur Cholis / Desain: Danil Aufa

Sebagai musim liburan, tak heran jika banyak rumah produksi yang mengantre ingin mengisi slot jadwal Lebaran, juga akhir tahun.

Dari olah data Beritagar.id merujuk situs web filmindonesia.or.id, tercatat ada sekitar 84 film Indonesia yang tayang saat Lebaran dan akhir tahun sejak 2007 hingga 2018.

Film yang masuk hitungan ini adalah yang perilisannya saat libur Lebaran (sepekan sebelum dan setelah Idulfitri), dan akhir tahun yang bermula dari pekan kedua terakhir Desember.

Berdasarkan daftar 15 film Indonesia peringkat teratas dalam perolehan jumlah penonton setiap tahun, terdata jumlah penonton 56 dari total 84 film pengisi libur Idulfitri dan akhir tahun. Penyusunan infografik di atas berasaskan ketersediaan data tersebut.

Hal ini yang menyebabkan data jumlah penonton akhir tahun 2008 kosong. Sebab tidak ada satu pun film yang dirilis pada periode tersebut berhasil menduduki peringkat top 15.

Secara umum, mengacu hanya pada data judul film yang berhasil masuk daftar 15 besar film terlaris setiap tahun, momen libur menjelang Idulfitri lebih banyak menarik jumlah penonton film dibandingkan periode akhir tahun.

Jumlah penonton film-film yang tayang Lebaran sebanyak 34,98 juta, sementara yang tayang saat akhir tahun tercatat 30,26 juta.

Sebaran genre terbanyak yang dihadirkan dalam periode tersebut adalah drama, menyusul komedi, drama komedi, dan horor. Tren masuknya genre horor ke dalam lis film Lebaran tercipta tiga tahun belakangan.

Terjadi perubahan pola jika melihat pembabakan per tahun. Sejak 2007 hingga 2011, film yang tayang saat libur Lebaran lebih laku ketimbang akhir tahun.

Situasi tersebut berubah drastis pada 2012. Penayangan film Habibie & Ainun menciptakan lonjakan penonton mencapai lebih dari 4,5 juta orang. Brandal-Brandal Ciliwung, Cinta Suci Zahrana, Tanah Surga ... Katanya, dan Perahu Kertas yang menjadi menu Lebaran kala itu mendapat respons yang biasa saja.

Berselang setahun, dipimpin film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang mengantongi 1,7 penonton, perolehan film-film akhir tahun kembali mengungguli deretan film Lebaran yang menyajikan Get M4rried, La Tahzan, dan Moga Bunda Disayang Allah. Ketiga film itu melempem di pasaran. Tak ada satu pun yang berhasil menembus 500 ribu penonton.

Kurun 2014-2018 pengumpul jumlah penonton terbanyak pada dua momen tersebut saling bergantian. Tergantung kekuatan materi film amunisi masing-masing periode.

Pada 2018, lima film libur Lebaran hanya menempatkan Jailangkung 2 dan Kuntilanak. Itu sudah cukup mengungguli perolehan jumlah penonton akhir tahun yang hanya mengetengahkan Milly & Mamet: Ini Bukan Cinta & Rangga arahan Ernest Prakasa.

Bagaimana kondisinya tahun ini? Sungguh pun didominasi komedi dengan segala variannya, menu film Lebaran kali ini cukup menjanjikan.

Selain menyodorkan Ghost Writer dan Hit & Run, hadir pula Kuntilanak 2 (produksi Multivision), Si Doel the Movie 2 (Falcon Pictures), dan Single 2 (Soraya Intercine).

“Saya rasa tahun ini persaingannya paling ketat. Tadi saya sempat mendengar dari kawan-kawan wartawan lain kalau film-film Lebaran tahun ini yang sudah melakukan press screening semuanya bagus,” kata Wicky V. Olindo.

Bagi Ernest, persaingan menyajikan yang terbaik membuat masyarakat berbondong-bondong menonton di bioskop. Imbasnya akan bagus untuk keberlangsungan industri perfilman Tanah Air.

Sesi konferensi pers usai pemutaran film Kuntilanak 2  di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (23/5/2019)
Sesi konferensi pers usai pemutaran film Kuntilanak 2 di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (23/5/2019) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Karena statusnya sebagai momen bergensi, Catherine Keng mengatakan selalu ada “kompetisi kecil” yang tercipta dalam memperebutkan jatah tayang saat Lebaran.

Bentuk kompetisinya bukan hanya berlomba meyakinkan pihak ekshibitor bahwa film mereka pantas untuk mengisi slot tayang Lebaran, tapi juga seberapa kompetitif film-film yang nantinya terpilih ini untuk bersaing satu sama lain.

Wicky mengatakan bahwa keputusan sebuah film akan mengisi jatah tayang saat Lebaran berasal dari ekshibitor, dalam hal ini jaringan Cinema 21 sebagai pemilik layar terbanyak di Indonesia.

“Pihak ekshibitor yang punya hak veto. Kami hanya mengajukan. Kalau di jaringan Cinema 21 ada komite penyeleksi. Lima film yang tayang Lebaran tahun ini mungkin menurut mereka dianggap terbaik. Karena sepengetahuan saya ada lebih dari lima film yang mendaftar,” kata Wicky mewakili Screenplay Films.

Screenplay sudah empat tahun beruntun mengisi jadwal tayang Lebaran. Kurun dua tahun terakhir mereka tercatat sebagai yang terdepan dalam meraup jumlah penonton di antara film-film Lebaran lainnya.

Khusus untuk tahun ini, Screenplay menghadirkan Hit & Run yang mengusung genre action comedy dibintangi Joe Taslim, Yayan Ruhian, Chandra Liow, Jefri Nichol, dan Tatjana Saphira.

“Kami ingin menyuguhkan tontonan hiburan baru. Berkaca dari beberapa film-film Lebaran tahun-tahun sebelumnya, pasti temanya kalau bukan religi, komedi, atau horor. Enggak ada yang mau nekat bikin action,” imbuh Wicky.

Sementara itu, berbekal pencapaian prekuelnya, MultivisionPlus mantap menyuguhkan horor keluarga dalam film Kuntilanak 2 sebagai sajian Lebaran.

“Dalam sekuel ini kami kami tingkatkan semua, mulai dari level keseruannya, keseramannya, hingga skala produksinya. Soalnya kami sudah punya pasar penonton anak-anak. Saatnya merangkul penonton usia lebih dewasa,” kata Amrit Punjabi, produser film Kuntilanak 2, di XXI Epicentrum (24/5).

Masing-masing optimistis bisa menyedot perhatian masyarakat. Falcon dengan sajian andalan Si Doel the Movie 2, melalui bintang utamanya, Rano Karno, bahkan yakin film tersebut minimal bisa menyentuh angka 1,7 juta penonton.

Yayan Ruhian, pemeran Coki dalam Hit & Run, tak kalah yakin. “Film ini diproduksi dengan serius. Melibatkan Iko Uwais Team sebagai koreografi laga. Tambah lagi dukungan bintang-bintang idola seperti Joe Taslim, Chandra Liow, Tatjana, dan Jefri Nichol, saya yakin film ini bakal diterima masyarakat,” katanya.

Persaingan memperebutkan siapa yang jadi menu favorit Lebaran penonton film Indonesia memang selalu ketat.

Hal itu disadari betul oleh Bene yang notabene sutradara debutan. “Kalau gue jujur membuat ekspektasi serendah mungkin, yang penting di antara semua film Lebaran ini enggak yang paling bontot lah. Ha-ha-ha,” ujar Bene.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR