Warga Balaroa berjalan melalui puing gempa bumi dan likuefaksi di Perumnas balaroa, Kecamatan Palu Barat, Palu, Sulawesi Tengah. Area ini dulunya bernama lonjo yang berarti tanah berlumpur. Penamaan itu sedikit banyak memberi petunjuk potensi likuefaksi.
Warga Balaroa berjalan melalui puing gempa bumi dan likuefaksi di Perumnas balaroa, Kecamatan Palu Barat, Palu, Sulawesi Tengah. Area ini dulunya bernama lonjo yang berarti tanah berlumpur. Penamaan itu sedikit banyak memberi petunjuk potensi likuefaksi. EPA-EFE / Hotli Simanjuntak
MITIGASI BENCANA

Petunjuk bencana dari leluhur

Suku Kaili di Lembah Palu punya petunjuk soal gempa, tsunami, dan likuefaksi. Isyarat datang dari para tetua, menyelip lewat penamaan kampung, kosakata, dan syair.

Dian Eka Nurfiana, 28 tahun, mulai menata ulang kehidupan setelah gempa M 7,5 bersusul likuefaksi dan tsunami menerpa Sulawesi Tengah pada 28 September 2018.

Bersama keluarga, Dian memutuskan balik ke rumahnya di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu. Dia pulang setelah lebih kurang empat bulan tinggal di tenda pengungsi.

Konon minimnya air bersih dan kebersihan jadi masalah di pengungsian. "Di sana, ayah saya diare terus," ucap perempuan yang berprofesi sebagai bidan itu.

Waktu kami ketemu, Minggu (3/2/2019), kampung tempat Dian tinggal masih sunyi. Baru lima keluarga yang memutuskan pulang pasca-bencana.

Beberapa pintu rumah masih tertutup, tanpa penghuni. Di sejumlah dindingnya, tampak orat-oret merah: "I Miss You Kinta" dan "Kinta Tinggal Kenangan".

Para pemilik rumah masih berdiam di pengungsian. Ada pula yang pilih meninggalkan kampung selamanya. "Mereka trauma. Tidak mau tinggal di sini lagi," kata Dian.

Ibu dua anak itu juga harus berdamai dengan trauma. Rasa syukur bikin kuat mentalnya. Bagaimanapun, kata dia, nyawa dan kediamannya telah terhindar dari petaka.

Di kampung itu ada 15 rumah yang berderet dan berhadap-hadapan. Semuanya masih berdiri tegak bahkan setelah katastrofe menunjukkan wajahnya nan bengis.

Itulah Kinta, kampung tua yang selamat dari likuefaksi di Petobo. Hanya puluhan meter dari Kinta, ratusan rumah lumat bersama lumpur setinggi 1,5-2,5 meter.

Dian merupakan generasi keempat yang menghuni Kinta. Dia asli Kaili, etnik mayoritas di Sulteng.

Dalam Bahasa Kaili, ujar Dian, Kinta berarti kampung kecil. Adapun Kamus Kaili Ledo-Indonesia-Inggris (Donna Evans, 2003) mengartikannya sebagai "tanah untuk rumah".

"Kinta dulu hanya rumah-rumah (15 unit) saling berhadapan ini. Tapi lambat laun makin padat."

Dian Eka Nurfiana, warga Kampung Kinta di Petobo.

Sebelum bencana, Kinta masuk wilayah RT 3 RW 1 dan RT 1 RW 3 Kelurahan Petobo, dengan penduduk 429 jiwa.

Kala gempa M 7,5 menghantam, Dian bersama keluarganya berhamburan menuju jalan depan rumah.

Belum lagi kepanikan berlalu, mereka dikejutkan dengan gemuruh bersusul aliran lumpur. Terpaut puluhan meter, mereka lihat lumpur menggulung rumah-rumah.

Beberapa warga Kinta lari meninggalkan kampung. Puluhan yang lain--termasuk Dian--pilih bertahan di jalanan kampung, karena lumpur telah mengepung dari berbagai arah.

Kinta bertuah. Mereka yang bertahan selamat. Sedangkan yang meninggalkan kampung hilang tertelan lumpur.

Warga Kinta lainnya, Sangia Masdjidan, mengaku pernah dengar hikayat kampung tua itu dari orang tua dan neneknya.

Konon para totua (tetua) pilih berdiam di sana karena dianggap sebagai daratan yang aman. Kala itu, area di sekitarnya masih berupa rawa-rawa plus pohon sagu dan kelapa.

Sangia lahir di Kinta pada 1969. Ibu dua anak itu sempat tinggal 15 tahun di Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi. Pada 1984, ia kembali mendiami rumah warisan orang tuanya di Kinta.

Saat balik ke Kinta, Sangia jadi saksi pembangunan Petobo. Dia lihat rawa-rawa di sekitar Kinta ditimbun demi pengembangan perumahan.

Pada 1990, pembangunan Jalan HM Soeharto--yang membelah Petobo--kian menyuburkan permukiman.

Kawasan Petobo, ucap Sangia, diminati karena akses air yang mudah. Buat dapat air, warga cukup gali sumur sedalam empat meter. Sedangkan di Kinta, kedalaman sumur rerata sembilan meter.

"Di situ bekas rawa-rawa, jadi gampang dapat air. Makanya orang suka bikin rumah," kata Sangia.

Kini rumah-rumah itu hilang. Kawasan permukiman lenyap. Alam memaksanya bersalin rupa, tersisa padang lumpur yang telah mengering di bawah terik khas ekuator.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut luas Kelurahan Petobo yang terdampak likuefaksi mencapai 180 hektare.

***

Kiri: Satu sudut Kinta, kampung kecil di Kelurahan Petobo, Palu Selatan, Palu, Sulawesi Tengah, yang selamat dari bencana likuefaksi 28 September 2018. Di ujungnya berbatas langsung dengan area terdampak likuefaksi. Kanan: Sangia Masdjidan di depan rumah kerabatnya di Kinta, Kelurahan Petobo.
Kiri: Satu sudut Kinta, kampung kecil di Kelurahan Petobo, Palu Selatan, Palu, Sulawesi Tengah, yang selamat dari bencana likuefaksi 28 September 2018. Di ujungnya berbatas langsung dengan area terdampak likuefaksi. Kanan: Sangia Masdjidan di depan rumah kerabatnya di Kinta, Kelurahan Petobo. | Ika Ningtyas /Beritagar.id

Perumnas Balaroa terletak di Kecamatan Palu Barat. Kawasan itu terpaut sekitar 10 kilometer dari Petobo. Namun keduanya punya nasib serupa.

Petaka 28 September 2018 membuat area seluas 48 hektare itu amblas lebih kurang tiga meter ke dalam tanah. BNPB pernah rilis citra satelit yang menunjukkan 1.747 rumah di Perumnas Balaroa terdampak likuefaksi.

Balaroa yang terpendam lumpur membangkitkan memori Mohammad Herianto, Ketua Komunitas Historia Sulawesi Tengah, tentang asal-usul penamaan tempat (toponimi).

Semula, ujar Herianto, Balaroa dikenal dengan nama Lonjo atau tanah berlumpur. Kamus Kaili Ledo-Indonesia-Inggris (Donna Evans, 2003) juga muat lema nalonjo dengan makna "tenggelam dalam lumpur".

"Sebelum menjadi permukiman, Lonjo adalah rawa dan kebun sagu," kata Herianto.

Dulu Lonjo jadi daerah yang dihindari warga Gunung Marawola Barat karena takut tenggelam. Bahkan warga yang hendak berjualan ke Pasar Bambaru--sentra ekonomi Palu pada masanya--rela menempuh jarak lebih jauh.

Cerita tentang Lonjo memudar seiring berdirinya Perumnas Balaroa pada era 1980-an.

Memori masa lalu tentang Balaroa (Lonjo) dan Petobo menunjukkan ciri serupa: rawa-rawa, sumber air.

Meski telah diuruk, tanahnya jenuh air. Kala patahan di perut bumi bergeser kencang, air terdesak keluar bersama lumpur hitam atau tanah lempung. Wujudnya serupa bubur yang siap melumat apa pun di atas permukaan tanah. Likuefaksi.

Arkeolog Sulteng, Iksam, menambah perspektif soal toponimi. Dia menyebut kawasan yang terkena likuefaksi (28 September 2018) bukan area hunian Suku Kaili pada masa silam.

Pasalnya, tempat-tempat tersebut dianggap berbahaya. Penandanya bisa ditilik lewat penamaan kampung. Penamaan itu sesuai pula dengan peta tua Sulteng bikinan etnolog Belanda, Albert C. Kruyt (1916).

Peta lawas tersebut menunjukkan wilayah Petobo terbenam lumpur. Petobo, ujar Iksam, termasuk bekas daerah aliran sungai (DAS) Kapopo atau Sungai Nggia purba.

Sedangkan Perumnas Balaroa merupakan DAS Sungai Uwe Numpu. Demikian halnya Desa Jono Oge, Kabupaten Sigi (terdampak likuefaksi seluas 220 hektare) yang merupakan bekas DAS Sungai Paneki.

"Leluhur kami punya aturan adat tentang lingkungan, termasuk melarang tinggal dekat sungai," kata Iksam.

Puluhan tahun terakhir, larangan tak lagi diacuhkan. Era 1980-an hingga 1990-an, Lembah Palu bersolek dengan pembangunan.

Semasa itu pula Palu bersalin status. Mula-mula kota administratif (1978), lalu jadi kota madya (1994). Pembangunan bikin ekonomi bergairah sekaligus menarik minat para perantau dari daerah lain di Sulawesi hingga Jawa.

Pertambahan penduduk tak terhindar. Kawasan permukiman baru dibuka, termasuk pengembangan Perumnas Balaroa dan Petobo.

***

Penyintas gempa dan likuifaksi berjalan di dekat tenda di Kamp Pengungsian Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (19/2/2019).
Penyintas gempa dan likuifaksi berjalan di dekat tenda di Kamp Pengungsian Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (19/2/2019). | Basri Marzuki /ANTARA FOTO

"Goya goya gontiro...
Toka bonga lolio....
Palu, Tondo, Mamboro, matoyomo...
Kamolue melantomo..."

"Goyang-goyang di Desa Ganti (Banawa, Donggala).
Yang melihat ke bawah, orang Desa Kabonga dan Loli Oge.
Palu, Tondo, dan Mamboro, tenggelam.
Tinggal Kayumalue terapung."

Syair berjudul Kayori itu menceritakan peristiwa gempa dan tsunami di Teluk Palu pada 1938. Kayori berjejak dalam ingatan sebagian warga Kayumalue, Kecamatan Palu Utara.

Sastra lisan itu jadi salah satu ekspresi budaya yang didokumentasikan Kelompok Muda Peneliti Hutan (Komiu) dalam dokumen "Policy Brief: Mitigasi Bencana Berbasis Pengalaman Suku Kaili di Lembah Palu".

Selain Kayori, Komiu mencatat beberapa istilah lokal berkenaan bencana di Palu dan sekitarnya--dari pelbagai subetnik Kaili.

Misal, linu atau lingu yang merujuk gempa; Limbotalu dan bombatalu untuk tiga gelombang dari laut (tsunami); Nalodo yang berarti "masuk terbenam", dan kerap dipakai menggambarkan likuefaksi.

Peneliti Komiu, Gifvents Lasimpo, menyebut pengetahuan tersebut diwariskan lewat tutura (cerita) atau motutura (bercerita). Pewarisan bisa berlangsung di sela aktivitas berburu, berkebun, atau jelang tidur.

"Yang menuturkan biasanya ibu atau nenek," katanya.

Gifvents bilang, informasi awal seputar pengetahuan lokal bisa jadi modal pemerintah guna mengidentifikasi riwayat kebencanaan di Sulteng.

"Pengetahuan seputar kampung-kampung tua yang aman dihuni bisa menjadi basis rencana tata ruang wilayah."

Gifvents Lasimpo, peneliti Komiu.

Arkeolog Sulteng, Iksam juga punya pandangan serupa. Sejauh ini, kata Iksam, jejak bencana di Sulteng hanya termaktub lewat catatan kolonial Belanda pada awal abad ke-20.

Padahal, jejak bencana itu sama tuanya dengan usia Pulau Sulawesi. Pun migrasi suku-suku agaknya tak lepas dari kebencanaan.

Iksam menyebut Sulawesi rentan bencana lantaran terbentuk oleh tiga lempeng besar yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik.

Salah satu titik temu tiga lempeng itu adalah Sesar Palukoro, yang panjangnya mencapai 500 kilometer dan membelah Palu dari utara ke selatan.

Palukoro merupakan salah satu patahan paling aktif di dunia. Ia pula pemicu katastrofe 28 September 2018, yang mengakibatkan 4.340 jiwa meninggal dan hilang, sekitar 172 ribu orang mengungsi, serta lebih dari 68 ribu rumah rusak.

Bila balik ke belakang, sejarah kegempaan Palukoro panjang belaka. Ia pernah bergeser dahsyat sekaligus bikin gempa di atas permukaan pada 1828, 1927, 1938, 1968, 1996, dan 2012.

"Pengalaman bencana masa lalu itulah yang melahirkan toponimi dan pengetahuan lain," kata Iksam.

Ihwal toponimi, Iksam kasih contoh lain. Misal, kawasan Kaombona, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikolure, Palu. Kaombona berarti tempat runtuh (tanah runtuh). Penamaan itu merujuk pada fenomena penurunan tanah kala gempa 1938.

Ada pula Desa Rogo, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi. Rogo bermakna hancur. Nama itu diduga berbasis pada pengalaman bencana. Sejarah mungkin sedang berulang, dalam petaka teranyar, ratusan rumah di Desa Rogo roboh.

Sayangnya, ujar Iksam, pelbagai pengetahuan itu sekadar tradisi lisan. Peredarannya juga terbatas pada beberapa subetnik Kaili atau klan tertentu.

Iksam memandang dibutuhkan proses dokumentasi dan penyebarluasan pengetahuan lokal itu sebagai upaya mitigasi bencana.

"Itu juga harus muncul dalam bahan ajar di sekolah. Misal lewat muatan lokal," kata dia.

Adapun Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu, Ansyar Sutiadi, mengatakan pihaknya telah berencana memasukkan pengetahuan lokal tentang kebencanaan dalam kurikulum pendidikan tingkat dasar dan menengah.

"Nanti, sebelum pelajaran utama dimulai, guru memberikan pengetahuan soal daerah-daerah rawan bencana dan mitigasi," kata Ansyar, saat berdiskusi di kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu, pengujung Desember 2018.

Ansyar bersepakat, pengetahuan itu bisa jadi modal generasi penerus untuk hidup berdampingan dengan bencana.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR