Tiga personel DXH Crew (dari kiri), Jow Ariesto Rumbrar, Onesias Urbinas, dan Rocky Haumahu di studio rekaman mereka, di Polimak Karang, Kota Jayapura
Tiga personel DXH Crew (dari kiri), Jow Ariesto Rumbrar, Onesias Urbinas, dan Rocky Haumahu di studio rekaman mereka, di Polimak Karang, Kota Jayapura Kristianto Galuwo/Beritagar.id
MUSIK INDONESIA

Pijar hip hop di Tanah Papua

Hip hop di Tanah Papua tak kalah menggeliat dibandingkan daerah lain di Indonesia. Lewat barisan rima, para rapper memuntahkan aspirasi dan kritik terhadap kondisi tanah kelahiran.

Jalan masuk ke Kampung Yoka, Waena, Jayapura, gelap karena tak ada lampu jalan pada malam hari. Padahal berdekatan dengan jalan raya menuju Bandara Sentani dan pusat perbelanjaan.

Theo Rumansara (28) ditemui Beritagar.id tepat di pintu masuk Kampung Yoka, Sabtu (28/7/2018), sekitar pukul 20.00 WIT. "Hanya jalan kaki saja dari sini. Studio kami ada di rumah kawan saya."

Theo alias E.Z.T. adalah personel grup hip hop Waena Finest. Pria asli Biak ini pernah viral setahun lalu ketika mengaransemen lagu “Dat Stick” milik Rich Brian. Pun beberapa lagu dari Drake, Kendrick Lamar, dan J Cole. Karena fasih berbahasa Inggris ia kerap menulis lagu menggunakan bahasa tersebut.

"SMP dan SMA sekitar tahun 2002 sampai 2007 saya sekolah di International School, Filipina. Kebetulan bapak saya kerja di sana. Setelah lulus saya sempat kuliah di Australia pada 2008," ujarnya.

Cukup dua tahun di Australia, Theo pindah kuliah di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, meski tidak sampai lulus. Sekarang tercatat sebagai pegawai Bank Perkreditan Rakyat Jayapura.

"Studio kami sedang diperbaiki. Kita bicara di atas saja,” katanya saat memasuki halaman luas di depan rumah semi permanen berlantai dua.

Di lantai dua telah menunggu Richard Rumi alias DX MC dan Yohanes Pondayar yang memiliki nama panggung Lil' An.

Richard (25) berasal dari Serui, sementara Yohanes (25) sekampung dengan Theo. "Ada satu kawan lagi namanya Agus Freedom."

Waena Finest berawal dari komunitas The Crossing Hip-Hop Comunity yang terbentuk pada 2009. Komunitas yang terdiri dari beberapa grup hip hop di Jayapura, seperti Why Village, One Street, Rap2W, Fourtenkey, B13, dan Waena Sound ini memiliki markas besar di Waena. Salah satunya di rumah Richard.

"Karakter kami berbeda-beda, style saya lirik English, Richard lebih ke punch line, Yohanes mainnya rima, dan Agus untuk rap cepat," terang Theo.

Waena Finest yang terbentuk sejak 2015 telah menulis sekitar 200an lagu dan merilis tiga album kompilasi yang kebanyakan tertampung di Reverbnation.

Theo juga sedang menyiapkan album bertajuk Broken Paradise. Salah satu lagunya berjudul “Remember Ma Name” yang mengisahkan tiga generasi berbeda di Papua.

"Lagu itu bertipikal multiple storytelling rap. Saya coba menjiwai tiga karakter dengan watak, prinsip, dan kisah masing-masing," katanya.

Selain Waena Finest, ada grup lain yang juga cukup punya nama dalam skena hip hop di Papua, terutama Jayapura. Mereka adalah DXH Crew.

Terbentuk sejak 16 April 2011, grup ini telah melahirkan seratus lebih lagu. Beberapa di antaranya bisa disaksikan melalui YouTube.

“Dulu kami ada sekitar 10 orang. Sekarang tinggal berenam,” kata Onesias Urbinas alias Epo (26) saat ditemui Beritagar.id, sekitar awal Juli 2018, di Polimak Karang, Jayapura.

Menggunakan dialek lokal dalam barisan lirik, misal penggunaan sa (saya), ko (kau), tra (tidak), menjadi ciri khas DXH Crew yang tahun depan berencana merilis album perdana bertajuk Bintang Kejora.

Tiga personel Waena Finest (dari kiri), Richard Rumi, Theo Rumansara, dan Yohanes Pondayar saat ditemui di studio mereka di Kampung Yoka, Kota Jayapura.
Tiga personel Waena Finest (dari kiri), Richard Rumi, Theo Rumansara, dan Yohanes Pondayar saat ditemui di studio mereka di Kampung Yoka, Kota Jayapura. | Kristianto Galuwo/Beritagar.id

Sejarah hip hop di tanah Papua bermula sekitar 2005 ketika muncul kelompok bernama Star East asal Timika. Grup lainnya adalah Peace Melanesia, Antrabes, Black Nation, dan Black Gangsta.

Kemunculan beberapa kelompok itu membuat kancah hip hop di Papua, khususnya Jayapura, menjadi ramai dan tak kalah dengan geliat hip hop di wilayah-wilayah lain Indonesia.

Bahkan sejumlah grup hip hop di Papua sempat solid dalam satu komunitas besar pada 2015. Lantaran ego, mereka bubar dan memilih ‘jalan mikrofon’ masing-masing.

Alasan perpecahan itu karena tak ada lagi sosok pemersatu seperti Ibe Antrabes yang mampu meredam ego para rapper.

Sekarang jika ada satu komunitas yang mengadakan acara hip hop, pasti komunitas yang lainnya menolak ikut. Begitu juga sebaliknya.

Untuk merekatkan kembali hubungan yang kini tercerai-berai, Epo bersama kawan-kawannya menginisiasi Black Kasuari Papuan Awards 2018, ajang penghargaan untuk para rapper di Papua dan Papua Barat.

“Ada sekitar 400-an penyanyi hip hop di Papua dan Papua Barat. Penghargaan ini baru pertama diadakan. Kami sedang mengumpulkan data dan akan menyeleksinya. Semoga menjadi wadah bagi para rapper di tanah Papua bisa satu dan terus berkarya,” harap Epo.

Seperti halnya rapper kulit hitam di Amerika Serikat --tanah kelahiran hip hop-- yang kerap mengolah rima dan susunan kata untuk menyemburkan protes perihal segala ketimpangan yang terjadi, para rapper asal Papua juga lantang menyuarakan hal serupa.

Misal lagu “Mutiara” ciptaan Epo yang dinyanyikan oleh Shesnie R.E.P. Lirik lagu yang hanya diiringi ketukan tifa itu mengkritisi soal eksploitasi sumber daya alam di Papua.

Phapin MC yang bernama asli Mardvin Wairata, 26, juga menggelontorkan lirik protes dalam lagu “72” yang rilis setahun lalu menjelang perayaan kemerdekaan Republik Indonesia.

Kandungan lirik lagu itu menyinggung soal kasus kejahatan Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua, rasisme, ekspansi kelapa sawit, penjarahan sumber daya alam, kelaparan, akses jurnalis asing yang dibatasi, serta minimnya fasilitas kesehatan dan pendidikan.

"Lagu itu liriknya berisi kegelisahan saya, karena selama 72 tahun Indonesia merdeka, Papua terus diabaikan," tegas Phapin yang sempat mendapat teror karena membawakan lagu tersebut.

Apakah ia gentar? Tidak. Menjelang perayaan hari kemerdekaan RI ke-73, Phapin telah menyiapkan kado sebuah lagu berjudul “Tuan Tanah”.

"Lagu itu seri lanjutan dari 72," tambahnya kepada Beritagar.id saat kongko di salah satu kafe di Waena, Jayapura (27/7).

Mengolah lirik berisi kritik bukan mainan baru bagi rapper asal Maluku yang hijrah ke Papua sejak 2013 itu.

Lagu pertama yang ditulisnya bahkan sudah memuntahkan kritikan. "Kepala desa kami bikin aturan yang melarang remaja-remaja keluar malam. Sa dan teman-teman bikin lagu yang liriknya menolak aturan itu."

Ingin mendengarkan lirik protes yang lebih menohok? Simak lagu “Ayat” milik Rand Slam.

Kami mimpikan guru engkau kirimkan tentara,

Kami inginkan buku engkau pilihkan senjata,

Dan serahkan emas mereka jangan serakah,

Biar Papua merdeka di tanah punya mereka.

Lagu tersebut awalnya berangkat dari keprihatinan terhadap kasus yang menimpa Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, mantan gubernur DKI Jakarta.

"Terlepas Ahok suka menggusur rumah warga. Bayangkan hanya karena kebencian, padahal ucapannya menurut saya tidak masalah. Tapi, demo besar-besaran dibikin untuk membuat dia (Ahok) sampai dipenjarakan. Isu ras, suku, dan agama juga sangat kental dari kasus itu," ujar Randi Ismail, nama asli Rand Slam, yang hijrah ke Jakarta sejak 2010.

Ketika boyongan ke Bandung untuk kuliah, Randi bertemu kembali dengan Jaya Wijaya Nababan alias Joe Million, kawan lamanya sesama rapper asal Papua. Mereka berdua sepakat membentuk Super Flava pada 2012 yang menghasilkan dua album mixtape.

Randi Ismail alias Rand Slam ketika ditemui di salah satu kafe di Waena, Kota Jayapura.
Randi Ismail alias Rand Slam ketika ditemui di salah satu kafe di Waena, Kota Jayapura. | Kristianto Galuwo/Beritagar.id

Randi mulai bersolo karier lewat album mixtape bertajuk Kosakata pada 2016. Bersama Sutarjo Kusni Dharma alias Senartogok di bangku produser, pria kelahiran 22 Februari 1992 itu kemudian melepas Johan EP berisi tujuh lagu bertepatan dengan perayaan ulang tahunnya yang ke-25.

Tak lama berselang ia akhirnya bisa merampungkan perilisan album penuh perdananya yang bertajuk Rimajinasi.

Perilisan album itu tak bisa dilepaskan dari sosok Herry Sutresna alias Ucok, salah satu alumni kelompok rap Homicide paling disegani asal Bandung.

Randi mengaku dimodali Ucok untuk membeli 500 keping CD Pro. "Dari 500 keping, yang sudah terjual 400 keping. Per keping harganya Rp50 ribu. Lumayanlah, berawal dari modal enam jutaan," ungkapnya.

Album Rimajinasi juga mendapat hasil tinjauan positif dari media seperti Rolling Stone Indonesia, Vice Indonesia, dan Warning Magazine.

Keandalan merangkai suku kata menjadi beragam rima membuat nama Rand Slam jadi salah satu rapper asal Papua --selain Joe Million-- paling harum di kancah musik hip hop Tanah Air saat ini.

Pun demikian, Randi yang tetap memantau perkembangan hip hop di Papua mengharapkan datangnya gelombang lain dari para rapper asal negeri Bintang Kejora.

"Banyak musisi hip hop atau rapper di Papua yang bagus-bagus. Seperti DXH Crew, ada Waena Finest, Phapin MC, Rider BHC, LA Nation, dan masih banyak lagi. Videoklipnya juga keren-keren di YouTube," pujinya.

Satu hal yang disayangkannya dari tumbuh kembang hip hop di Papua adalah iklim kebersamaan yang merenggang. Masing-masing komunitas cenderung mengeksklusifkan diri. Masih terkotak-kotak.

"Selera pasti beda-beda. Itu tra pa-pa (tidak apa-apa). Tapi tetap harus saling support. Kalaupun mau dissing, kasih rame di panggung. Selesai manggung, lanjut ngomong tentang musik, atau mungkin bicara tentang peluang-peluang. Kalaupun ada masalah selesaikan dengan bertemu langsung," jelasnya.

Randi mencontohkan keragaman genre di Bandung yang akur, meski berada dalam satu komunitas yang terdiri dari aliran punk, metal, dan hip hop.

“Komunitas ibarat brotherhood. Apalagi Bandung, influence musiknya kebanyakan dari punk. Jadi mau pogo dan hancur-hancuran di gigs, setelah itu biasa lagi. Saya saja ketika ada teman punk bikin gigs pasti hadir. Begitu juga sebaliknya."

Walaupun kini menetap di Bandung, Randi mengaku ingin tetap membantu musisi hip hop dari Papua agar bisa dikenal lebih luas.

"Kami siap dan terbuka membantu bagi siapa yang mau merilis album fisik. Saya juga mulai bekerja sama bikin lagu bareng. Sekarang rencananya akan bikin lagu dengan Phapin MC. Semoga bisa juga kerja sama dengan kawan-kawan lain seperti DXH Crew, Waena Finest, dan lain-lain," pungkasnya.

PHAPIN MC - 72 (OFFICIAL MUSIC AUDIO) CHINATOWN /PHAPIN MC CHINATOWN
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR